Melakukan hubungan satu malam dengan wanita yang tak ia kenal. Hingga merenggut kesucian tanpa peduli dengan Isak tangis penolakan.
"Aku mohon jangan buang benihmu di rahimku!"
"Beruntunglah aku masih berbesar hati terhadapmu!"
Tapi di saat Bastian mulai mencari keberadaan wanita itu, dia harus menerima kenyataan jika wanita yang ia perkosa telah sah menjadi istri dari Ayahnya.
Akankah Bastian terima dengan pernikahan mereka?
Atau justru nekat berhubungan dengan Ibu Tirinya?
Ig weni0192
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon weni3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
"Terkutuk kamu wanita sundeel!" Sentak Bara yang tiba-tiba menyerang.
"Kinara!"
Tubuh Kinara terpental setelah Bara melemparnya dengan membabi buta. Bastian kalah cepat dengan gerakan Bara yang sudah termakan emosi dan amarah. Dia yang sempat terpaku tak kuasa menahan Bara yang tiba-tiba menyerang.
Dada Bastian bergemuruh cepat, melihat Kinara meringis kesakitan dengan memegang perutnya. "Sayang....."
"Sakit Tian..... perut aku....hiks hiks...." Kinara mencengkeram tangan Bastian dengan kuat, perutnya tak dapat menahan rasa kesakitan yang teramat kuat.
Bara semakin mengepalkan kedua tangannya saat mendengar panggilan sayang Bastian pada Kinara. Rahangnya mengeras dengan tatapan tajam menghunus keduanya. Apa lagi saat ini ia melihat jelas Bastian memeluk Kinara dengan kekhawatiran yang besar.
"Kita kerumah sakit sekarang!" Bastian hendak meraih tubuh Kinara namun gagal saat tiba-tiba pukulan Bara membuatnya terpental.
Bugh
Bugh
Bugh
Keduanya terlibat saling pukul, Bara sudah gelap mata sampai tak sadar akan hubungan keduanya. Bastian memang marah namun ia tak membalas pukulan Bara dengan keras, ia sadar dirinya pun salah dan telah mengkhianati Papahnya. Hingga Bastian tersungkur di dekat ranjang dengan ujung bibir yang luka.
"Anak kurang ajar kamu! tidak tau di untung! banyak perempuan di luar sana tetapi kamu malah memilih jalaang macam dia! pengkhianat kamu Tian! Apa kamu lupa jika dia adalah ibu tirimu!"
"Sebelum Papah menikahinya justru akulah yang lebih dulu berhubungan dengan dia! aku tidak terima Papah menindasnya! sejak awal sudah aku katakan lepaskan dia, tapi Papah terus mempertahankan dan jangan salahkan aku jika aku merebut dia dari Papah karena memang sejak awal aku mencintainya!"
Bastian dengan lantang membela, dia berusaha kembali bangkit dengan berjalan mendekati Bara. Sudah saatnya ia membuka semua akar dari masalah yang menimpa Kinara. Dan sudah saatnya ia membersihkan nama Kinara yang sejak awal sudah rusak di mata Papahnya.
"Dan asal Papah tau, wanita yang Papah nikahi ini adalah wanita baik-baik! wanita yang yang masih suci bukan wanita murahan yang seperti ada di pikiran Papah! Dia tidak salah, jika Papah kecewa karena dia sudah tidak lagi perawan, itu karena aku lah yang telah memperkosanya!"
Bugh
Bugh
"Brengs3k kamu Tian!"
"Aku tidak pernah mengajarkanmu menjadi pria bajingaan!" sentak Bara yang kembali memukul Bastian tanpa ada perlawanan.
Kinara yang melihat Bastian terus di hajar hanya bisa menangis dengan menahan rasa sakit. Dia menyesal karenanya Bastian terluka, andai tadi ia tidak merengek meminta ikut ke kamar Bastian, semua tidak akan runyam seperti ini.
"Dan kamu! Bangun dan keluar kamu dari rumah ini! kali ini aku benar-benar akan mengusirmu, dasar wanita hina kamu!" Bara menarik paksa Kinara membuat wanita itu menjerit kesakitan. Kinara berusaha berjalan mengimbangi tarikan dari langkah Bara yang panjang.
"Hentikan Pah! Lepaskan dia dan jangan sakiti dia! dia akan pergi dari sini tanpa anda menyeretnya seperti ini!" Bastian mencoba mengejar, tapi langkahnya kembali tertahan karena dorongan dari Bara yang begitu kencang.
"Tian!" lirih Kinara saat melihat Bastian jatuh dan tak sadarkan diri. Kini tinggal ia yang harus bertahan dan kuat demi melindungi anaknya. Merasakan guyuran dengan tubuh yang terlempar ke luar pagar membuat Kinara terhuyung hampir terkena pagar.
Perutnya semakin sakit, bahkan kini ia serasa tak kuat berdiri. Namun seruan dari Bara membuatnya mau tidak mau segera pergi dari sini.
"Cepat pergi wanita gila! jika tidak akan aku laporkan kamu ke kantor polisi atas dasar perselingkuhan dan penipuan!"
Kinara tertatih menyeret langkahnya menjauh dari rumah itu, malam ini hujan menyertai seakan tau jika hidupnya akan kembali rumit. Tangisan disertai rintihan begitu jelas, rasa sakit kian tak tertahan hingga ia tak kuasa berjalan.
Kinara berhenti tepat di depan komplek, menguatkan diri mencari taksi namun karena hujan lebat dan sudah larut malam membuatnya kesusahan. Di tambah lagi Bara mengusirnya tanpa memberikan barang-barang pribadi miliknya. Kinara di lempar tanpa berbekal apapun.
"Hiks....hiks.... Tuhan tolong aku, setidaknya selamatkan bayiku....ijinkan anak ini hidup Tuhan....Aku adalah seorang pendosa dan jangan biarkan aku akan lebih berdosa karena tidak bisa menjaga titipanmu..."
Kinara terduduk di pinggir jalan, tubuhnya semakin lemah hingga dunianya seketika gelap dan kini hanya mampu mendengar suara gemericik hujan dan teriakan orang yang tiba-tiba mendekat namun tak lama menghilang.
Hampir tiga jam Bastian belum kunjung sadar, kini matanya terbuka setelah ia merasakan guyuran di tubuhnya. Ya, Bara yang sudah tak tahan menunggu segera mengambil ember berisi air dan menyiramkan ke tubuh Bastian.
Bastian gelagapan dan perlahan bergerak duduk, menatap sekitar hingga ia kembali sadar dengan apa yang terjadi tadi. Pria itu menatap Bara dengan tatapan tajam dan amarah yang memuncak. Ia rasanya ingin mencekik pria itu agar sadar jika apa yang beliau lakukanpun salah.
"Dimana Kinara?" tanya Bastian dengan hati yang mulai tak tenang. Dia merutuki dirinya sendiri yang tak mampu bertahan di saat keadaan genting seperti ini.
Bara tersenyum miring mendengar pertanyaan dari Bastian, romantis sekali baru sadar saja langsung menanyakan keberadaan wanita itu.
"Sini kamu!" Bara menarik tubuh Bastian namun secepatnya di tepis oleh Bastian. Ia tak Sudi lagi di sentuh oleh pria yang mulai terlihat sifat aslinya. Apa lagi setelah tadi sempet memaki dirinya dengan sebutan anak tak tau di untung dan memaki Kinara dengan sebutan yang membuat hatinya terluka. Pria mana yang terima jika wanitanya di hina terlebih dengan Papahnya sendiri.
"Cepat atau aku akan membuat Kinara mati perlahan!" Ancam Bara yang kini sudah tau kelemahan Bastian.
Mendengar itu membuat Bastian mengepalkan kedua tangannya, ia segera beranjak dan mendekati meja sofa yang mana telah ada map yang berisi kertas dengan serangkaian tulisan.
"Cepat tanda tangani sekarang!" titahnya dengan cepat meraih map itu dan menyodorkan ke arah Bastian dengan bolpoin yang sudah ia sediakan.
"Cepat tanda tangani jika tidak nyawa Kinara menjadi taruhannya!"
"Shiitt!" tanpa pikir panjang Bastian segera menandatangani kertas tersebut dan melemparkannya ke atas lantai yang basah. Ia menyeringai lalu pergi menuju kamar mengambil jaket, serta barang-barang yang penting.
"Dasar anak setan!" geram Bara saat melihat map itu basah, ia segera menyelematkan kertasnya yang juga ikut luntur bersama air yang ia hamburkan tadi.
Bastian tidak peduli dengan kekesalan dan amarah Bara yang makin memuncak, bahkan Tian mendorong pria tua itu hingga tersungkur ke lantai saat beliau ingin menghentikan langkahnya.
"Mau kemana kamu?"
"Bukan urusan anda!" tegas Bastian lalu segara menaiki mobilnya untuk mencari keberadaan Kinara. Air matanya menetes membayangkan keadaan Kinara saat ini. Apa lagi hujan belum kunjung reda membuat Bastian semakin cemas.
"Kinara dimana kamu sayang....maafkan aku yang nggak bisa melindungi kamu."
agar bisa gitu jd teman istrinya pak yuda, setdknya dia aman
racuni bokap Lo atau rusak mobilnya biar cepat²koid dan Lo berdua buru nikah deh,seblm dosa Lo berdua byk