Menikah atas keinginan orang tua merupakan sesuatu yang tidak di inginkan oleh siapapun termasuk Taka Sanjaya. Terlebih ia tidak tahu seperti apa bentuk perempuan yang di jodohkan dengannya. Ia merasa seperti membeli kucing di dalam karung.
Namun, apa jadinya jika kucing tersebut merupakan kucing anggora? Bagaimanakah kisah di antara keduanya?
Follow ig @wind.rahma
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wind Rahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama
Malam ini merupakan malam pertama Diba menginap di villa. Setelah tadi ia di buat takjub dengan keindahan senja. Dan Taka segera mengabadikan momen itu lewat kamera. Diba cantik sekali di dalam foto itu. Karena Taka meminta Diba untuk membuka cadar di foto terakhir setelah memastikan tidak akan ada orang lain di sana yang akan melihat wajahnya termasuk mang Karta.
Dan malam ini mereka sedang duduk berhadapan di atas tempat tidur besar ala kasur eropa dengan sprei, bantal, dan selimut serba putih. Diba menggunakan pakaian dinas istri karena ini akan menjadi malam bersejarah. Malam ini akan menjadi malam pertama mereka dalam pernikahan meski usia pernikahan sudah menginjak tiga bulan.
Senyum terpancar di wajah mereka masing-masing. Diba sudah tidak sabar menjadi istri seutuhnya.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Taka seraya menyelipkan rambut Diba ke telinga.
"Aku senang, mas," jawab Diba tanpa memudarkan senyum di bibir indahnya.
"Senang kenapa?"
"Kita mau menunaikan kewajiban kita sebagai sepasang suami istri," jawab Diba polos dan membuat Taka tersenyum kecil.
Taka mengusap pipi Diba dengan lembut, memberi sentuhan kecil yang membuat Diba kini mulai merasakan desiran aneh dalam tubuhnya.
"Sebelum kita memulainya, mas mau jujur tentang sesuatu sama Diba."
Kening Diba seketika berkerut. Jujur? Apa itu artinya ada kebohongan selama ini?
"Jujur tentang apa, mas? Memangnya mas menyembunyikan sesuatu dari Diba?"
Taka mengangguk. "Iya, tapi mas yakin setelah mas mengatakannya, Diba tidak akan marah. Melainkan senang."
Diba jadi penasaran dengan apa yang di sembunyikan oleh suaminya selama ini darinya. "Apa itu?"
"Kucing anggora."
Diba diam sejenak, tidak begitu paham dengan apa maksud Taka.
"Kucing anggora? Oh iya, waktu kita nginap di rumah mama, mas janji mau beliin Diba kucing anggora kan? Dan sekarang mas baru ingat kalau mas belum menepati janjinya."
Taka menggeleng. "Bukan itu."
"Lalu apa?"
"Sebenarnya kucing anggora itu tidak ada."
"Maksud mas?"
Taka terdengar menghela napas panjang. Ia tatap kedua manik mata indah Diba seraya menggenggam erat kedua tangannya.
"Kucing anggora itu kamu, Faradiba."
Diba menatap manik mata suaminya secara berganti sambil menunggu kalimat penjelasan pria itu.
"Kucing anggora itu bukan kucing sungguhan. Waktu itu mas menolak di jodohkan mama papa karena mas sama sekali tidak tahu apalagi mengenal siapa yang akan mas nikahi," jelas Taka kemudian ia mengingat malam dimana akhirnya ia menerima perjodohan tersebut usai mengetahui seperti apa sifat asli Vina.
"Siapa nama perempuan itu?"
"Faradiba."
"Aku boleh lihat fotonya?"
"Bagaimana aku bisa tahu wajahnya jika dia memakai cadar?"
"Itulah kenapa kita ingin kamu menikah dengannya. Sepertinya Faradiba ini perempuan baik-baik dan shalehah."
"Ini sama saja membeli kucing dalam karung."
"Tapi jika kucingnya ternyata anggora?"
"Waktu itu mas tidak bisa menolak lagi permintaan mama papa. Maaf jika memang pada saat itu mas menerima perjodohan karena mas memang merasa terpaksa. Dan mas gak nyangka, kalau perempuan yang mas nikahi itu melebihi ekspektasi mas. Saat malam pertama usai akad, pertama kali mas melihat wajah Diba, istri mas."
"Kucing itu ternyata anggora."
Taka menceritakan sedetail mungkin tentang kucing anggora itu. Diba hanya bisa senyum-senyum. Sementara Taka kini sudah merasa sangat lega karena tidak ada lagi kebohongan yang ia sembunyikan.
Keduanya terdiam cukup lama. Membiarkan mata yang saling menatap tanpa melepaskan senyum di bibir mereka.
"Lalu apa yang membuat mas akhirnya membuka hati untuk Diba?" tanya Diba penasaran.
"Karena mas pikir kalau mas ini suami paling beruntung. Di beri istri cantik, baik, shalehah yang mungkin tidak akan pernah bisa mas temukan pada diri wanita manapun. Jadi mas sangat bersyukur."
"Diba yang beruntung, mas."
"Kenapa?"
"Diba yang beruntung karena memiliki suami yang bersyukur punya Diba."
Keduanya kembali diam dalam kebahagiaan tanpa melepaskan pandangan.
"Seutuhnya Diba ini milik mas. Apa mas mau tubuh Diba malam ini?"
Taka diam sejenak. Seketika ia teringat dengan ucapan yang Diba ucapkan barusan. Waktu itu Diba pun pernah mengucapkan kata yang sama. Hanya saja waktu itu ia menolak penawaran Diba padahal ia memiliki hak penuh.
Tanpa pikir panjang lagi, Taka pun mengangguk. Dan senyum tampak mengembang di bibir Diba.
Keduanya langsung menarik selimut untuk membungkus tubuh mereka. Tidak lama setelah itu, satu persatu pakaian yang di kenalan oleh mereka di lempar ke luar selimut dan jatuh ke lantai. Lalu, terlihat tangan Taka keluar dari selimut untuk mematikan lampu. Dan membiarkan cahaya sinar rembulan masuk menyinari ruangan melalui kaca jendela besar yang membentang dan akan menjadi saksi bisu atas hubungan mereka.
_Bersambung_