NovelToon NovelToon
Suamiku Mantan Narapidana

Suamiku Mantan Narapidana

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Emmy Liana

Setelah lima tahun berlalu, takdir cinta mempertemukan mereka kembali. Sayang, wanita yang disebut gadis purple olehnya saat menjalani kasih dahulu dan sangat dicintai Azka memilih mengganti identitasnya. Cinta yang begitu kuat dalam diri Azka, tak akan bisa dibohongi. Kenapa dan apa alasannya, wanita yang dulu dicintai kini begitu tak ingin bersamanya kembali. Rahasia apa yang dia sembunyikan, hingga Azka harus berjuang mencari tahu kebenarannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emmy Liana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertolongan

​Azka berlari. Rasa sakit di bahunya kini terasa seperti bara api yang membakar, mengalahkan demam yang baru saja mereda. Ia mengabaikan rasa sakit itu, mengalihkan fokusnya sepenuhnya pada derap langkah di belakangnya—langkah kaki yang cepat, tersembunyi, dan profesional. Ia tahu ini bukan lagi sekadar pelarian. Ini adalah permainan hidup dan mati dengan salah satu pembunuh bayangan terbaik Farida.

​Si Hitam tidak menembak untuk membunuh; dia menembak untuk mengarahkan, pikir Azka, napasnya memburu. Tembakan peredam suara itu adalah pesan: Farida tahu prioritasnya, dan dia tidak akan membiarkan anak itu lepas.

​“Ayo, ikuti aku, bajingan!” Azka bergumam, memilih rute yang paling sulit dan kasar, berharap dapat memperlambat pengejarnya.

​Ia menyusuri tepi sungai yang berbatu dan licin, berpegangan pada akar-akar pohon besar. Senapan angin di tangannya terasa ringan, tetapi ia tahu cara menggunakannya untuk memberikan kejutan yang mematikan jika ia berhasil mendekat.

​Sementara itu, Gwen bergerak sebaliknya. Ia membawa Naka, yang kini menangis keras karena kaget dan kedinginan. Air sungai yang menusuk tulang membuat tangisan Naka semakin histeris, dan hal itu adalah hal terakhir yang Gwen butuhkan.

​“Ssst, Sayang. Mama ada di sini. Kita main air, ya. Jangan menangis,” bisik Gwen, suaranya dipenuhi ketakutan. Ia menekan Naka erat-erat, tubuhnya bergerak maju melawan arus deras yang dangkal.

​Ia menyadari bahwa Azka telah mengorbankan dirinya. Azka berlari lurus ke dalam mulut serigala untuk memberinya waktu. Ia tidak boleh menyia-nyiakan pengorbanan itu.

​Gwen memaksakan dirinya untuk mengingat pelajaran bertahan hidup yang pernah ia pelajari dari film dan cerita petualangan—ikuti air, sembunyikan jejak, cari tempat tinggi. Ia harus bergerak cepat. Di tengah keputusasaan, ia melihat sebuah ceruk di tebing sungai, tersembunyi di balik semak belukar lebat.

​Itu dia.

​Gwen berbelok, merangkak melewati semak duri. Ia mengikis kulitnya, tetapi ia tidak peduli. Ia menemukan gua kecil, sempit, dan kering. Udara di dalamnya dingin dan pengap, tetapi aman.

​Ia meletakkan Naka di atas kain alas yang ia bawa, dan dengan cepat mengeluarkan pakaian kering dari tas ranselnya.

​“Aku kedinginan, Ma!” rengek Naka, bibirnya bergetar.

​“Sebentar lagi hangat, Sayang. Mama akan peluk. Kau harus diam, ya? Ini petualangan kita. Kita harus menang dari monster jahat,” bujuk Gwen, mencoba menenangkan anak itu dengan cerita fantasi.

​Setelah memakaikan Naka pakaian hangat dan membungkusnya dalam jaket Azka, Gwen menoleh ke mulut gua. Ia mengambil ranting kering dan dedaunan, menumpuknya di depan mulut gua untuk menyamarkan pintu masuk. Dengan perbekalan yang ada, mereka bisa bertahan paling lama satu hari.

​Dia harus mengirim sinyal.

​Gwen mengambil ponselnya, yang untungnya masih berfungsi. Ia hanya memiliki satu nomor yang bisa diandalkan, selain Bima, yang pasti sedang dicari-cari Farida.

​Ia menghubungi Ayah Gwen. Nomor itu tidak aktif.

​Ia menghubungi Ibu Gwen. Tidak ada respons.

​Air matanya tumpah. Mereka tertangkap. Ayah dan Ibunya pasti sudah disergap di mobil.

​Gwen tidak punya pilihan selain menghubungi Bima. Ia menulis pesan singkat, menggunakan kata-kata sandi yang mereka sepakati di Islandia—bahasa kode yang mereka gunakan untuk urusan bisnis dan krisis.

​Gwen: Pasar dihentikan. Si Hitam sudah di sini. Purple bergerak ke Sungai Hitam. Perlu penarikan cepat dari Base A [Gubuk] dan pengiriman Paket Tiga [Bantuan medis, logistik, dan senjata] ke lokasi baru.

​Gwen membuang ponsel itu ke dalam sungai, memastikan sinyalnya tidak bisa dilacak.

​Sekarang, yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu. Menunggu dalam keheningan yang mematikan, berharap Si Hitam tidak mengikuti jejak Azka terlalu jauh ke hulu.

​Jauh di hulu sungai, Azka tiba di sebuah tebing batu. Ia berhenti, mengatur napasnya. Senapan angin itu sudah ia persiapkan. Ia harus menghadapi Si Hitam. Jika ia terus berlari, Si Hitam hanya akan berbalik dan mencari Gwen.

​Aku harus menghentikannya di sini.

​Azka naik ke tebing batu, mengambil posisi tersembunyi. Beberapa saat kemudian, ia mendengar suara yang sama—gesekan ranting, langkah kaki yang tenang. Si Hitam adalah bayangan.

​Siluet hitam itu muncul. Tinggi, tegap, dan profesional. Dia berhenti di tepi sungai, mengangkat senapan berperedam suara, dan menyapu hutan.

​Azka menarik napas dalam. Ia mengenali postur itu. Dia pasti pernah melihatnya sebelumnya. Si Hitam adalah pengawal pribadi Farida, sosok yang selalu berada di belakang layar saat rapat-rapat Dewan Direksi.

​Azka mengangkat senapan anginnya, membidik dengan mantap, meskipun pundaknya menjerit kesakitan.

​“Si Hitam!” teriak Azka, suaranya memantul di antara pepohonan.

​Pria itu terkejut. Dia mengangkat senjatanya, mencari sumber suara.

​“Azka Arkasana. Kau tidak seharusnya lari. Nyonya hanya ingin kau kembali,” suara Si Hitam, yang sudah disamarkan, terdengar dingin.

​“Kau tidak akan mendapatkan putraku!” balas Azka. “Kau pikir dengan mengancam anak kecil, kau bisa mengendalikanku? Kau meremehkanku, dan kau meremehkan Farida!”

​“Aku tidak meremehkan siapa pun, Tuan Azka. Aku hanya melaksanakan perintah. Dan perintahnya adalah mengembalikanmu ke Jakarta, hidup atau mati. Dan jika Nona Gwen dan anak itu ikut, itu adalah bonus.”

​Azka melepaskan tembakan pertamanya.

​Pshuuu!

​Peluru senapan angin itu melesat cepat, bukan ke arah Si Hitam, tetapi ke arah dahan pohon tepat di atasnya. Dahan itu patah, jatuh menimpa kepala Si Hitam.

​Pria itu mengumpat, terhuyung mundur. Peluang Azka!

​Azka melompat dari tebing, berlari secepat yang ia bisa, mencoba mendekat dan melumpuhkan pria itu dengan tangan kosong.

​Namun, Si Hitam lebih cepat. Dia membuang dahan yang patah, senapannya sudah mengarah ke Azka. DOR!

​Kali ini, itu adalah peluru sungguhan. Peluru itu mengenai lengan Azka, tepat di atas luka Islandia-nya. Azka menjerit, tersungkur ke tanah berbatu. Senapan anginnya terlepas, meluncur ke dalam sungai.

​Darah mulai merembes, membuat kemeja Azka basah. Pundaknya yang sakit, kini diperparah dengan luka tembak baru.

​Si Hitam berjalan mendekat, senapannya tetap diacungkan ke kepala Azka.

​“Permainan berakhir, Tuan Azka. Tidak ada lagi ‘Mr. Surya’ atau sandiwara suami bahagia. Sekarang, kita kembali ke Nyonya Farida.”

​Azka hanya bisa meringis, mencoba menggapai batu besar di sampingnya.

​Tiba-tiba, dari arah berlawanan, terdengar suara helikopter yang memekakkan telinga. Suara itu begitu dekat, memotong puncak pepohonan.

​Si Hitam mendongak, wajahnya menunjukkan keterkejutan.

​“Tidak mungkin… Farida tidak mengirim helikopter,” gumamnya.

​Dari sisi helikopter yang kini melayang rendah di atas sungai, sebuah tali darurat diturunkan. Dan dari tali itu, meluncur turun seorang pria berjaket tebal, lengkap dengan senapan serbu di punggungnya. Pria itu adalah Bima.

​“Azka!” teriak Bima, mendarat di samping Si Hitam.

​Bima tidak memberi kesempatan. Dengan gerakan yang sangat cepat dan terlatih, ia melayangkan tendangan keras ke kepala Si Hitam. Si Hitam yang terkejut oleh kedatangan tak terduga itu, jatuh ke tanah, senapannya terlepas.

​Bima mengambil alih kendali. Ia berlutut di samping Azka yang berlumuran darah.

​“Azka, aku tahu kau gila. Tapi setidaknya beri aku waktu lebih dari lima belas menit untuk merespons!” Bima berteriak, air mukanya menunjukkan kekhawatiran yang mendalam.

“Sekarang, kita harus keluar dari sini. Di mana Gwen dan Naka?”

​Azka menunjuk ke hilir sungai, napasnya tersengal-sengal. “Gwen… dia pergi ke hilir. Kau harus menjemputnya. Aku akan mengurusnya.”

​Azka menunjuk ke arah Si Hitam, yang kini mulai sadar dan merangkak untuk mengambil senapannya.

​Bima mengikuti pandangan Azka, matanya menyipit saat mengenali pria bertopeng itu.

​“Si Hitam. Bajingan itu,” desis Bima, lalu ia menoleh kembali ke Azka. “Aku tidak akan meninggalkanmu di sini, Azka. Kau terluka parah.”

​“Aku tidak akan ikut,” kata Azka, matanya memancarkan tekad. “Aku harus kembali ke Jakarta. Sekarang. Aku akan menggunakan helikopter ini. Farida harus percaya dia sudah menang, sehingga dia berhenti mencari Gwen.

Kau ambil Gwen dan Naka, lalu hubungi Farida. Katakan aku sudah menyerah.”

​Bima terperanjat. “Gila! Itu rencana bunuh diri! Dia akan membunuhmu!”

​“Aku tidak punya pilihan,” balas Azka. “Demi Naka. Demi Gwen. Farida tidak akan menyentuhku selama aku masih berguna. Dia akan menjadikanku sandera. Pergilah. Sekarang.”

​Bima ragu-ragu, menatap Azka, yang terluka, namun matanya tetap tajam. Ia mengangguk pasrah. Ia tahu, sekali Azka memutuskan, tidak ada yang bisa menghentikannya.

​“Baiklah. Aku akan bawa mereka ke tempat aman yang baru. Tapi jika kau tidak menghubungiku dalam dua belas jam, aku akan menghancurkan Jakarta!”

​Bima memanggil kru helikopternya, memberi perintah untuk menunggu. Dia kemudian berlari ke hilir sungai, mengikuti petunjuk Azka, untuk menemukan Gwen dan Naka.

​Sementara itu, Azka berdiri tegak, meski menahan rasa sakit luar biasa. Ia menendang senapan Si Hitam jauh-jauh. Si Hitam, yang kini terduduk tak berdaya, menatap Azka dengan penuh kebencian.

​“Kau akan menyesal, Tuan Azka,” gumam Si Hitam.

​Azka hanya menyeringai, senyum dingin yang dipenuhi rasa sakit. “Mungkin. Tapi setidaknya, aku tahu Farida akan menyambutku di Jakarta.”

​Azka berjalan tertatih-tatih ke arah helikopter. Ia melambaikan tangan ke Bima yang menghilang di antara pepohonan. Lalu, ia naik. Helikopter itu mengangkatnya, membawanya pergi dari hutan, dari Gwen dan Naka, menuju sarang Farida di Jakarta.

​Azka Arkasana, sang Raja, kembali ke medan perang, menjadikan dirinya umpan dan sandera demi keselamatan keluarganya.

​Akankah Bima berhasil menemukan Gwen yang bersembunyi di gua terpencil? Dan apa yang akan terjadi ketika Azka tiba di hadapan Farida, menawarkan dirinya sebagai ganti pembebasan Ibu dan Daniel?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!