Ruri dan Zainudin adalah orang yang sama-sama punya kisah gagal dalam rumah tangga. Zai mempunyai putra yang menguak tabir rumah tangganya, sementara Ruri harus berjuang sendiri demi anak-anaknya.
Pertemuan keduanya tak terduga di sekolah anak mereka. Apa yang terjadi selanjutnya dengan mereka berdua? Yuk, ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabir Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LSC 34
Setelah kepergian Reni dan suaminya. Zai masuk kerumah dengan membawa banyak pertanyaan di kepalanya kepada mantan istrinya yang baru pertama kali dilihatnya setelah sekian lama berpisah.
"Tumben sekali Reni datang kesini? Tidak biasanya dia datang kesini dengan membawa oleh-oleh untuk kedua anaknya." monolog Zai di dalam pikirannya.
"Bagaimana? Kalian suka?" tanya Zai pada kedua buah hatinya yang dilihatnya masih sedikit terkejut dengan kedatangan Reni.
"Iya, Pa, suka. Tetapi, kenapa Mama hanya sebentar saja singgahnya?" tanya balik Gabriel setelah melihat isi paper bag tersebut.
"Mungkin Mama ada urusan lain. Ya sudah, kalian istirahat di kamar," pinta Zai meminta anaknya pergi ke kamar.
"Baik, Pa."
Keduanya pun melangkah menuju kamar mereka masing-masing. Sedang Zai, juga pergi ke kamarnya untuk mandi. Bu Erni pun tidak menceritakan kedatangan Reni pada Zai yang tidak di ketahui oleh Bu Erni bahwa mereka bertemu di depan saat Reni akan pulang.
Di dalam mobil, Reni hanya terdiam menatap keluar jendela mobil. Rasa rindunya yang menggebu-gebu pada anaknya telah membuatnya senang dan bahagia. Dirinya hanya bisa memberi hadiah kecil yang tidak seberapa pada kedua buah hatinya.
Dirinya hanya bisa mendoakan, semoga Zai menemukan jodoh yang lebih baik daripada dirinya untuk bisa menjaga kedua buah hatinya kelak.
*
Ruri di dalam kamar sedang berkirim pesan dengan Zai. Dirinya sudah tidak sabar menanti hari pernikahan itu tiba. Rasa rindunya terhadap Zai semakin besar padahal baru bertemu tadi siang bersama anak-anak.
"Sabar dulu, masih ada waktu 3 minggu lagi. Nanti kita bikin anak yang banyak," canda Zai yang melihat Ruri begitu semangat menanti pernikahannya.
"Iya Mas. Tapi kenapa malah aku yang begitu semangat menunggu hari itu tiba ya?" tanya Ruri pada Zai dan menanggapinya dengan tersenyum.
"Itu karena kamu adalah jantung hatiku. Aku juga tidak sabar menunggu saat itu tiba," jawab Zai seraya tersenyum.
"Sudah dulu ya, Mas. Mau istirahat tidur malam. Besok harus bekerja berangkat pagi sekali," kata Ruri menyudahi obrolan tersebut.
"Baiklah. Selamat malam calon istriku,"
"Selamat malam calon suamiku."
Zai dan Ruri tersenyum melihat pesan tersebut. Ruri mengecup kening Berry yang tidur bersamanya. "Sebentar lagi, Berry dan Kak Bobby akan mempunyai Papa. Hidup kita tidak akan jadi bahan ejekan orang lagi. Terimakasih, Mas Zai." Tak butuh waktu lama, Ruri langsung tidur terlelap dan membawanya ke alam mimpi indah setelah mengatakan hal tersebut.
Sedang Zai, masih menatap langit-langit kamar yang membawa angannya memikirkan masa depannya bersama Ruri nanti setelah menikah.
Dari obrolan tadi, Zai mengikuti saja keinginan Ruri setelah menikah nanti, bahwa mereka akan menempati di rumah Ruri yang memang sudah sejak lama tidak ditempati. Namun, sesekali rumah tersebut dibersihkan agar tidak kotor.
"Akhirnya, masa duda ku akan lepas. Kini, aku bisa bekerja keras lagi untuk ke empat anakku dan calon anakku dengan Ruri nanti," monolog Zai tersenyum membayangkan apa yang terjadi nanti. Zai yang sudah berangan jauh ingin memiliki anak dari Ruri semakin tidak sabar ingin melakukan pernikahan saat itu juga.
Setelah banyak memikirkan hal kedepannya. Zai pun memilih mematikan lampu kamar dan hanya menyisakan lampu yang ada di nakas. Dirinya pun memejamkan mata karena hari sudah larut.
mampir y