NovelToon NovelToon
Mak Comblang Dube (Duda Beken)

Mak Comblang Dube (Duda Beken)

Status: tamat
Genre:Duda / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:162.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sina Tu Narti Ajj

Tujuh tahun menduda, membuat Arpina (8) kasihan sama Papa polisinya. Hingga, Sang anak itu mendapat misi menjadi mak comblang untuk Papanya.

Sangat totalitas, bocah delapan tahun itu sampai memutuskan tinggal bersama Dibi-Papanya yang bertugas di luar ibu kota. Di sanalah, Arpina bertemu dengan gadis bernama Bunga Ayana, salah satu kandidat calon ibu tirinya yang masuk list terbaik Arpina.

Namun disayangkan, Tante Bunga yang masih kuliah itu tidak tertarik mempunyai calon suami duda. Katanya, kalau semua perjaka di dunia ini sudah menjadi monyet, baru Bunga mau punya calon duda. Papanya juga tidak minat nikah lagi karena trauma. Klop sudah kesulitan Arpina. Tapi, si bocah tengil ini tidak akan mudah menyerah. Jadi, apakah misi mak comblangnya akan sukses? Kalau bukan Bunga, apakah ada kandidat ibu tiri lain yang Arpina calonkan? Atau kisah akan End tanpa ada Happy melainkan Sad karena rasa trauma Dibi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sina Tu Narti Ajj, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34# Menghasut Emak

"Emak pulang saja. Soal Bunga, percayakan padaku."

Karena Bunga tak kunjung sadar dari obat bius, Dibi yang kasihan pada Emak Dahlia yang sudah tua tapi harus capek capek menunggu di depan ruangan, akhirnya memberanikan diri menyuruh Emak pulang. Hari juga sudah malam, kasihan kan.

"Tapi, Pak Dibi... "

"Bunga akan lebih cemas kalau mengetahui Emak kelelahan. Ini sudah malam loh. Arpina juga kasihan, Mak." Emak Dahlia menoleh ke kursi panjang, bocah itu tertidur dengan paha Denisa yang berkorban. Sesemutan rasanya. Tapi, Wanita itu masih sabar demi tujuannya. "Emak temani Arpina di rumah, saya yang jaga Bunga di rumah sakit. Adil kan, Mak?" Dibi membujuk.

Mau nggak mau, Emak mengangguk setuju. Lelah memang rasanya karena tadi ia juga baru pulang dari kios jamunya.

"Biar saya anter pulang. Besok, saya juga bertugas pagi jadi tidak bisa menunggu Bunga sampai pagi." Denisa menimpali membujuk Emak. Tapi tetap ada tapinya yang cuma mau menyelamatkan diri dari kelelahan tidak berfaedah untuknya menunggu Bunga yang tidak penting. Sebenarnya, ada rasa tidak tega akan Dibi yang pasti berduaan dengan Bunga.

"Saya antar ke parkiran." Tidak tega membangunkan Arpina, Dibi pun meraup tubuh anaknya dari pangkuan Denisa. Lega rasanya paha Denisa yang terasa keram. Berdiri dan berjalan tertatih sedikit mencari perhatian Dibi. Namun bukan raja cuek namanya kalau begitu saja Dibi merasa luluh.

"Maaf ya, Mak. Saya tidak bisa menjaga Bunga meski ada di depan mata saya." Dibi mengakui hal tersebut. Harusnya sedari awal mengungkapkannya, tetapi ia sibuk di dalam ruangan menemani Bunga yang merengek sakit terus.

"Kecelakaan tidak ada yang tau kapan datangnya, Pak. Saya memakluminya." Emak memang murah hati yang sedia kala memaafkan orang yang mengakui kesalahannya. Bunga adalah penerus kemurahan hatinya. Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya.

"Terimakasih, Mak. Saya janji akan menanggung perawatan Bunga."

Emak terharu mendengarnya. Sebenarnya, sedari tadi, biaya pula yang membuat kepala Emak berputar tujuh keliling. Alhamdulilah, ada Dibi yang membantu. Bukannya memanfaatkan atau menjadi penjilat, wong memang butuh bantuan, kenapa harus berpura-pura sok menolak atau meninggikan ego. Terima saja dengan doa murah rejeki baik, untuk Dibi terima sebagai timbal baliknya.

"Terimakasih, Pak Dibi. Kamu memang baik!"

Denisa yang jadi pendengar setia, mendengus kesal. Enggak Emaknya, enggak anaknya, selalu saja tidak memberi kesempatan untuknya berbicara meski sedikit bersama Dibi.

Naik ke kabin kemudi, Denisa masih saja dongkol. Mana si Emak duduk di belakang lagi dengan Arpina berada dipangkuannya yang masih ngebo. Dia pikir, ia adalah supir gitu. Menyebalkan.

"Hati hati bawa anak saya dan Emak Dahlia, Denisa. Ini perintah!"

"Siap, Pak." Denisa memberi suara tegas polwan serta hormat kesatuannya untuk Dibi lihat dari selah jendela mobil yang masih terbuka. Sejurus, tersenyum manis. Tapi Dibi malah melengos. Kampret lah. Braak... Sebagai pelampiasan, Denisa memukul setir mobilnya. Sialan, sakit pula tangannya akan ulah sembrononya sendiri.

"Ada masalah, Mbak?" tanya si Emak.

"Nggak!" Judes sekali Denisa ke Emak Dahlia. Ngapain juga bersikap baik lagi, kan Dibi sudah pergi.

Namun, mengingat pernyataan Dibi yang katanya Bunga adalah calon istri pria itu, Denisa pun ingin mengulik Emak saja. Benar apa nggak? Kan, nggak mungkin seorang Ibu tidak tahu hal penting dalam hidup anaknya.

Sabar. Bersikap baik dan bertanya lemah lembut untuk sesaat.

Tancap gas terlebih dahulu. Mencoba menguasai diri, Denisa mulai berbasa basi.

"Emak sama Pak Dibi, sudah bertetangga lama ya?"

"Eum, baik dan sopan sama orang tua." Emak menjawab apa adanya. Memang, Emak sering mendapati Bunga dan Dibi sering beradu mulut dengan alot, tetapi Emak sadar bahwasanya anaknya itulah yang punya sifat sembrono. Maklum saja Dibi sering kesal, wong anaknya itu adalah biangnya pembuat emosi. Emak aja kadang kadang dibuat sakit kepala. Sendal pun sering melayang ke bokong putrinya yang onar tetapi tetap saja, Emak selalu nomer satu menyayangi anaknya.

"Oh, gitu ya, Mak." Denisa manggut manggut sok asyik. "Tapi, apa benar, kalau Bunga adalah calon istri Pak Dibi?"

Kalau ini, Emak tidak tahu. Wanita itu juga terkejut mendengarnya, namun ekspresinya tidak seheboh orang yang sedang menonton konser. "Benar enggak, Mak?" Denisa tidak sabaran mendengar pengakuan Emak. Semoga bukan dan semoga Dibi dan Bunga cuma ngibul sesuai perkataan hatinya yang ogah ogahan percaya dan belum ada niat menerima kekalahan.

Emak lebih dahulu berpikir. Kata orang, ucapan adalah doa. Dengan itu, sebelum menjawab pertanyaan Denisa, Emak bertanya balik, "Apa Pak Dibi dan Bunga yang mengakuinya?"

Bodohnya, Denisa mengangguk jujur.

Emak tersenyum lebar. Lalu berkata, "Doain saja sampai sah." Nanti, Emak akan mempertanyakan detailnya ke Bunga dan Dibi. Ah, senangnya kalau itu kenyataan.

Panas lah hati Denisa. "Nggak akan aku doakan yang baik baik," tuturnya kesal dalam hati.

Baiklah, karena restu orang tua itu penting, bagaimana kalau Denisa menjelek - jelekkan Dibi. Mana tau Emak berujung menantang keras hubungan Dibi dan Bunga yang terpaut umur lumayan jauh.

Ide bagus. Sebelum janur kuning melengkung, Dibi adalah milik negara yang sah sah saja untuk diperjuangkan meski seribu cara licik pun dilakukannya.

"Apa Bunga nggak rugi tuh, Mak? Masih muda loh dia. Sedangkan Pak Dibi sudah Duda dan punya anak satu lagi. Kasihan loh anak Emak." Semangat sekali Denisa menjelek jelekkan Dibi. Semoga, Arpina tidak terganggu tidurnya.

"Duda tapi triplets M begitu, wanita bodoh aja yang nolak. Emak aja kalau masih muda mah, pasti ngebet lah." Denisa memutar mata malas. Sudah tua tapi masih gatal, batinnya mencibir.

"Tau nggak arti dari Triplets M yang Emak maksud?" Denisa menggeleng tidak tahu. "Macho, Manly dan jelas Mapan adalah nomer satu."

Kampret lah, matre juga satu emak emak ini. Come on, Denisa. Ayo berpikir lagi. Hasutan mu harus berhasil, batin Denisa menggebu gebu. Biar perjalanan semakin lama, Denisa sampai mengemudikan mobilnya dengan pelan yang sebenarnya tinggal berbelok masuk ke dalam komplek.

Ah, Denisa punya ide sedikit ekstrim. Tapi, semoga Emak tidak bocor ke Dibi kalau ia telah menjelek jelekkan pria itu. Bahaya lah baginya. Bisa bisa, ia akan dimutasi ke kantor wilayah lain.

"Emak, saya punya rahasia sensitif tentang Pak Dibi."

"Apa tuh?" Emak penasaran dibuat Denisa membuat wanita yang berkemudi itu menyeringai.

"Tapi janji dulu! Emak, nggak boleh bocor kalau saya yang memberitahukan."

Emak kian penasaran. Soal janji? Emak itu paling anti mengingkari. Dosa karena janji termasuk hutang. Tidak mau berjanji tetapi ia juga penasaran pakai maksimal. Bagaimana dong?

"Pakai janji segala ya?"

"Harus, kalau mau tau!"

"Kenapa begitu?"

Cerewet sekali emak emak gendut itu. Denisa ingin sekali mengomel, tetapi sabar. Orang yang mainnya kasar akan kalah telak.

"Karena bagaimanapun, saya adalah bawahan Pak Dibi di kantor. Takutnya, Emak ingkar janji dan berujung saya mendapatkan imbasnya."

Masuk akal juga alasan Denisa. Emak terpengaruh.

"Baiklah, Emak janji," kata Emak. Namun, tombol rekam di hape nya ia on-kan. Entah kenapa, Denisa ini terkesan ngebet sekali membicarakan Dibi. Akan hal itu, Emak sedikit bertanya tanya curiga dalam hatinya.

"Selama saya satu kantor dengan Pak Dibi, saya sering melihatnya keluar masuk hotel, Emak. Bukannya bekerja dengan baik malah 'main'. Kalau sendiri sih, nggak apa apa. Ini mah, sama cewek. Sebagai orang berpengalaman, Emak pasti tahu kan mereka lagi apa." Denisa menyeringai. Pasti orang tua itu akan berpikir lagi untuk menjadikan Dibi sebagai mantu.

"Apa nggak kasihan sama Bunga kalau nanti punya suami sering 'jajan', Emak?" Panas panas deh kuping mu, Emak. Denisa lanjut membatin jumawa.

"Apa kamu punya bukti?"

"A__" Denisa kehilangan kata kata. Ia salah prediksi. Dalam tindakan, Emak selalu berhati-hati. Susah sekali dipengaruhi. Damn it!

"Punya bukti, nggak? Kalau punya atau saya melihat mata kepala saya langsung, baru saya percaya."

Dasar orang tua!

"Kalau nggak percaya, terserah Emak saja. Saya sih cuma memberitahukan!" Intonasi Denisa sudah terdengar judes.

"Mbak, kok terdengar sewot?"

"Jangan sok tau!"

Emak kian curiga. Kepribadian Denisa ini berubah ubah. Tadi berbicara dengan nada lembut, tetapi ujung ujungnya judes sekali tanpa ada sebab pasti.

"Cih, trik basi diberi ke Emak. Tua tua gini juga, pernah jadi orang muda dengan penuh pengalaman hidup dan persaingan dalam cinta. Situ terkesan cemburu. Apalagi di rumah sakit tadi, saya menangkap sikap mu penuh ketertarikan ke Pak Dibi." Emak membatin dengan hape ia perhatikan.

Sejurus, rekaman suara Denisa ia perdengarkan untuk wanita itu.

CKIIIIIT...

Denisa me-rem mendadak. Lalu menoleh ke belakang dengan tatapan sengit. "Apa apaan ini?"

"Hehehe... Uda sampai depan rumah. Terimakasih tumpangannya, Mbak. Arpina, bangun, Sayang. Uda sampai rumah nih. Emak nggak bisa gendong kamu."

Denisa kena mental. Saat ingin berusaha merebut hape Emak, Arpina sudah ada tanda tanda terbangun. Meski masih mengumpulkan nyawa, bocah itu tetap harus menganggapnya baik.

"Tenang saja, selama Mbak Denisa berperilaku baik, rekaman akan damai sentosa. Saya bukan orang kejam kok. Kecuali disenggol terlebih dahulu, maka balasannya adalah tendangan maut Renaldo."

Denisa menggemeletukkan giginya geram tertahan. Emak tersenyum santai. Lalu membuka pintu mobil sembari menggenggam tangan Arpina yang masih mengantuk.

" Assalamualaikum, Mbak!"

Emak berlalu santai dengan Arpina ia tuntun masuk ke rumahnya. Biarkan Arpina tidur di kamar Bunga sementara waktu.

"Aaaaarrggh.... Sial! Ujung ujungnya, aku yang terperangkap!" Denisa berang. Memukul mukul setirnya kesal. Ia tidak menyangka kalau orang kampungan seperti Emak itu punya otak encer. Bisa bisanya orang tua itu kepikiran merekam suaranya. Matilah dirinya kalau rekaman itu terdengar oleh Dibi.

"Pikir, Denisa! Hape itu harus kamu ambil!"

***

Sementara di rumah sakit, Dibi terus duduk di kursi dekat brankar Bunga. Gadis ini, tidak ada tanda tanda untuk bangun. Padahal, Dibi sudah tidak sabar mau mempertanyakan soal pernyataan Bunga yang katanya menyukainya.

" Bunga, bangun!" Dibi mentoel toel lengan Bunga menggunakan ujung jarinya. Seperti sabun colek saja kulit jenjang tangan yang dilapisi baju pasien panjang warna biru milik rumah sakit itu.

"Bunga, kamu tuh cewek iseng. Pasti, kamu hanya pura pura tidur. Bangun nggak? Atau saya cubit nih."

Masih tidak ada respon. Sepertinya, Bunga masih terbius.

"Ini namanya harapan yang belum pasti. Menyiksa malam saya yang akan susah tidur, tau nggak!" Dibi menggerutu kesal sembari beranjak ke sofa panjang yang mirip kasur itu. Membolak balik tidurnya karena galau tidak sabar menunggu Bunga bangun.

1
Feni Pebriani
simple tapi ngena
choky_chiko_r
baca lg.di ulang² tetep ketawa..keren lah..mksh
Sinar_Tiata: Hehehe, Makasih, Kak. Boleh mampir juga di karya ku yg lain di napen Malkist dengan judul "Sweet Neighbor." Insyaallah menghibur 🙏
total 1 replies
Ran Aulia
😂😂😂😂
Ran Aulia
Luar biasa
Feni Pebriani
lucu,dan mudah dicerna bahasa
Rumini Parto Sentono
astaghfirullah.... 🤣🤣🤣
Rumini Parto Sentono
sudah mulai bucin ni pak duda....
Rumini Parto Sentono
cie cie cie..... akhirnya saling mengakui perasaan 💞💞
Rumini Parto Sentono
ya ampun mak mak..... 😇😇😇
Rumini Parto Sentono
harus nya simpan dulu mak jangan kasih tau kalo omongan nya direkam, demi keamanan emak dan bunga. Nanti jika diperlukan baru kasih tau ke pak Dibi.
Rumini Parto Sentono
mereka berdua sudah ada rasa tapi pada gengsi.....
Rumini Parto Sentono
Ohh kamar mereka sebelahan tohh....
Rumini Parto Sentono
astaghfirullah..... 🤣🤣🤣🤣🤣
Rumini Parto Sentono
kisah Pelangi dan Dibi penuh dengan air mata, tapi sekarang kisah Dibi dan Bunga penuh komedi.... 😅😅
Rumini Parto Sentono
nah lohh bener kan, Delon nembak gak dari hati tapi menjalankan misi dari kakak nya.
Rumini Parto Sentono
sepertinya Delon nembak karena disuruh kakak nya deh, gak dari hati.... kasihan unga, kamu cuma dapat cinta yang semu.....
Rumini Parto Sentono
kayaknya udah ada rasa tuh sama unga.... 😅😅
Rumini Parto Sentono
😂😂😂
choky_chiko_r
mksh ya kak.bagus banget.pendek lg epsd nya..aku sukaaaa
choky_chiko_r
beneran lucu abis aku suka kak..mksh..o iya.epsd nya jg ga panjang...mksh kak..keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!