Hanania terpaksa harus menjalani pernikahan tanpa cinta dengan Jerry bagaskara, anak dari Wibowo Bagaskara.
Karena Hanania ingin membawa kasus ini ke polisi, Jerry memutuskan untuk menikahi Hanania meskipun dengan sangat-sangat terpaksa karena ia tidak mau mendekam di penjara.
Tak lama setelah kejadian itu, Hanania pun hamil darah dagingnya.
Namun, masalah tak berhenti disitu saja, setiap hari, Hanania harus menghadapi sikap Jerry yang setiap hari juga membuatnya terluka, hingga suatu hari, Hanania memilih untuk menyerah dan menuntut cerai Jerry di saat laki-laki tampan itu sudah mulai mencintai istrinya.
Bagaimana nasib rumah tangga mereka? Apakah mereka akan lanjut dengan hidup bahagia, atau malah berakhir dengan perp
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyonya_Doremi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
"Nggak ngapa-ngapain. Dia cuma mau nanya apa penyebab resign gue itu karena ulahnya yang waktu malam itu," jawab Hanania berbohong.
"Oh. Gue kira dia mau minta lo jadi istrinya," ujar Stella lalu kembali ke mejanya.
***
'Eman iya,' batin Hanania meledek.
Beberapa hari telah berlalu dengan begitu cepat. Dan hari ini adalah hari dimana Hanania akan melangsungkan ijab kabul dengan calon suaminya yang merupakan ceo dari tempat ia bekerja.
Tepat sehari sebelum Hanania melangsungkan pesta pernikahannya dengan Jerry. Tomas pun sudah membagikan undangan pernikahan tersebut ke semua karyawan kantor. Tak terkecuali kepada Stella dan juga Angga.
Semua staf kantor sangat-sangat terkejut saat membaca nama calon suami Hanania di kertas undangan tersebut. Mereka tak menyangka jika seorang Hanania yang statusnya karyawan biasa akan menikah dengan CEO mereka.
Begitu juga dengan Stella dan juga Angga. Mereka seakan belum bisa percaya jika calon suami Hanania adalah Jerry.
"Ya ampun pak. Pantas saja Hanania di larang bekerja setelah ia menikah. Ternyata laki-laki yang akan menikahinya adalah pak Jerry," ujar Stella yang saat ini tengah makan siang dengan pak Angga.
"Iya, saya juga tidak menyangka. Hati saya rasanya hancur sekali. Padahal saya sudah mencoba untuk mencari waktu agar bisa menyatakan perasaan saya kepada Hanania," jawab Angga yang saat ini sedang patah hati.
"Jadi bapak juga menyukai Hanania?" tanya Stella terkejut.
"Iya. Saya sudah lama menaruh hati kepadanya. Tapi sayang, pak Jerry bukanlah saingan saya," jawab Angga menghela nafasnya kasar.
"Hhhhh, ya sudah pak. Sabar saja. Mungkin Hanania bukan jodoh bapak. Tapi bapak tetap hadir kan di acara pernikahan mereka?" tanya Stella sembari menguatkan rekan kerja yang mulai dekat dengannya.
"Hmmmmm, sebenarnya saya malas untuk hadir. Tapi saya nggak enak sama pak Jerry dan juga Hanania. Jadi saya memutuskan untuk pergi. Kalo kamu sendiri gimana?" ucap Angga lalu menyuap makanan ke mulutnya.
"Kalo saya sih hadir pak. Kan saya ini sahabatnya Hanania, masak nggak hadir sih pak," jawab Stella juga menyuap makanan ke mulutnya.
"Oh ya udah, kalo gitu gimana kalo kita berangkatnya barengan aja. Biar saya yang jemput kamu," tawar Angga membuat hati Stella berteriak hore.
"Boleh.. Boleh.. Kebetulan saya juga nggak aya temen yang mau di ajak juga sih," jawab Stella langsung mengiyakan ajakan Angga tanpa basa-basi.
"Ya sudah. Berarti kita deal ya," ujar Angga.
"Deal. Hehe," balas Stella terkekeh.
Kembali ke Hanania. Saat ini, wanita cantik itu tengah di rias oleh Make up artis terkenal.
Jantung wanita cantik itu saat ini benar-benar berdetak sangat kencang. Ia tak menyangka jika dalam beberapa jam lagi, statusnya akan segera berubah.
Beberapa saat kemudian, Hanania pun selesai di rias dan saat ini ia akan bersiap-siap untuk berangkat ke gedung pernikahan yang telah di siapkan oleh masing-masing dari orang tua mereka.
"Bu," panggil Hanania menggenggam erat tangan wanita yang telah melahirkannya itu.
"Ya, kenapa sayang?" tanya sang ibu yang seolah tau seperti apa perasaannya saat ini.
"Aku gugup sekali bu," jawab Hanania lagi sembari menghela nafasnya kasar.
"Tenang sayang. Maklum saja jika kamu gugup. Dulu, waktu ibu menikah dengan ayah mu, ibu juga sama seperti mu. Kamu harus tenang. Santai dan jangan banyak pikir," ucap ibu Rini menenangkan sang putri.
.
.
Di gedung pernikahan, nampak Jerry yang sudah duduk di depan pak penghulu yang akan menikahkan mereka berdua.
Jika umumnya pengantin wanita yang menunggu pihak laki-lakinya, kali ini, pengantin laki-laki lah yang tengah menunggu pengantin wanita dengan perasaan harap-harap cemas.
Jerry takut jika Hanania berubah pikiran dan membatalkan pernikahan mereka.
"Tom, sini lo," panggil Jerry setengah berbisik meminta sahabatnya itu untuk menghampirinya.
"Ya, ada apa?" tanya Tomas sedikit menunduk.
"Hanania mana? Kenapa dia belum datang juga?" tanya Jerry khawatir.
"Tunggu saja sebentar lagi. Kata periasnya, Hanania sudah berangkat lima belas menit yang lalu. Harusnya sepuluh menit lagi mereka sampai," jawab Tomas membuat Jerry sedikit lega.
"Tapi bagaimana kalau dia kabur?" tanya Jerry lagi.
"Sudah, lo tenang aja. Lagian kan lo nikahnya jam sepuluh. Ini baru jam setengah sepuluh. Lo sih yang datangnya kecepatan," jawab Tomas lagi.
Dan ternyata benar saja, beberapa saat kemudian, Hanania dan orang tuanya pun mulai berjalan memasuki gedung tempat ijab abul akan di ucapkan.
Tak hanya Hanania dan juga sang ibu, mereka ternyata ternyata juga di temani oleh tetangga sekitar yang nampak sangat penasaran sekali dengan calon suami Hanania.
"Nah Jerr, itu dia," ucap Tomas seketika membuat Jerry mengalihkan pandangannya.
Tak hanya Jerry, bahkan semua mata terpana melihat kecantikan Hanania yang bagaikan bidadari tak bersayap. Tak terkecuali dengan Angga yang sama sekali tidak dapat mengedipkan matanya saat melihat wajah cantik Hanania.
'Itu si Angga ngapain sih natap Hanania dengan begitunya? Nggak tau malu banget tuh orang,' batin Jerry yang menyadarinya.
Hanania pun berjalan mendekati Jerry yang sudah menunggunya di depan meja tempat berlangsungnya ijab kabul dengan di dampingi oleh ibu tercintanya.
"Ayo nak, silahkan duduk," bisik ibu Rini di telinga Hanania.
Hanania pun duduk tepat di sebelah Jerry. Tak ada yang bicara di antara mereka berdua. Saat ini, baik Jerry dan juga Hanania sama-sama merasakan kecanggungan dan detak jantung yang berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
"Bagaimana? Apa acara pernikahan ini bisa segera kita mulai?" tanya pak penghulu yang aan menikahkan mereka berdua.
"Siap pak," jawab Jerry cepat, sedangkan Hanania hanya mengangguk perlahan.
"Baik, kalau begitu langsung saja kita mulai. Silahkan jabat tangan saya," ucap penghulu itu lagi sembari memberikan tangannya.
.
.
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya pak penghulu yang langsung di jawab sah oleh para saksi dan juga tamu undangan.
"Alhamdullillah. Nah, mulai saat ini saya menyatakan jika saudara Jerry dan saudari Hanania telah sah menjadi pasangan suami yang sah menurut agama dan juga negara,." ujar pak penghulu tersebut sebelum pergi meninggalkan gedung tersebut.
Kini Hanania dan Jerry sudah sah menjadi pasangan suami istri. Saat ini mereka tengah duduk di kursi pelaminan menjadi raja dan ratu seharian.
"Wah, selamat ya Han. Sumpah gue bener-bener nggak tau kalo lo akan menikah dengan pak Jerry, CEO tempat kita bekerja. Pantas saja lo di larang kerja sama suami lo," ucap Stella memeluk sahabatnya itu.
"Sama-sama Stell. Iya, pak Jerry memang suami gue. Tapi maafkan karena gue nggak cerita sama lo selama ini.