Aluna Deviatia seorang gadis semester akhir jurusan perancang busana. Pendek dan penakut. Mendapatkan nasib sial dihari ia mendapatkan gajinya sebagai penjaga toko bunga. Dengan sialnya ia dikejar para pemalak, jatuh dalam tumpukan daun dan luka di lututnya.
Seharusnya bisa lebih baik dari pada di pandangi seperti orang gila sepanjang perjalanan ke mini market.
Namun sayang, para pemalak yang ia kira ingin memalaknya malah berniat menculiknya. Membawa Aluna kembali kepada sosok yang tidak pernah ingin dia lihat lagi setelah masa sekolah menengahnya.
Gabriel Ivanovich, pemilik sah Enterlace Corp, sebuah perusahan besar yang menaungi segala kekayaannya. Psycho gila dengan obsesi besar hanya kepada Aluna.
Menculik gadis itu, membakar hangus segala milik gadis itu. Mengikat seorang Aluna didalam hubungan gila penuh siksaan dan kelembutan.
Membawa gadis itu kepada fakta besar yang terkubur jauh didasar tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qieqizie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34 : Its (not) easy
Matanya menatap dengan tatapan sayu, redup dan mati. Menyelipkan beberapa senjata tajam didalam pakaiannya, ini bukan hal baru bagi seorang Gabriel.
Membawa berbagai senjata sudah menjadi hal biasa baginya, sebelum Aluna datang dan menghancurkan kebiasaan itu. Sebelum Gabriel mati-matian mengubah kebiasaannya untuk mendapatkan hati gadis itu.
Gadis yang menghilang, dan Gabriel bisa menduga dia berada dimana.
Tumbuh serumah dengan Draco membuat Gabriel sedikit paham kebiasaan pria tua itu. Tumbuh dengan mental rusak karena pria itu, bagaimana mungkin Gabriel tidak mengetahui seperti apa kebiasaannya.
Draco adalah pembunuh berpengalaman, menggunakan kelemahan orang lain sebagai senjata tajam yang melukai perlahan adalah kebiasaannya.
Melangkah masuk kedalam mobilnya, mobil hitam itu seolah membelah jalan, melaju kencang mendekati area pinggir kota, Gabriel menarik nafasnya begitu bayang tua itu berputar di otaknya.
"*Ibu! Aku menanam bunga untuk mu!"
"Wahh, Gabriel cantik sekali*."
"Aku tahu kau menyukai bunga kuning itu. Jadi aku memintanya dari Ibunya Sam."
Wanita cantik itu mengelus rambut hitam pria kecil yang tersenyum lebar menunjukan giginya yang tersusul rapi.
Membuang mukanya, Gabriel lebih banyak berharap untuk tidak mengingat apapun. Karena pada akhirnya semua ingatan itu akan menamparnya pada kenyataan penuh darah.
Menarik nafasnya, Gabriel membuka pintu mobilnya, matanya menerawang menatap halaman luas dengan daun berserakan yang tidak terawat, rasa sesak memenuhi dadanya lagi.
Menghela nafasnya berat, kaki dengan pantofel hitam itu melangkah berat, membawanya berjalan lambat kedepan pintu usang, tidak begitu berdebu, menandakan ada yang datang ke sini sebelum dirinya.
"*Sebentar, Ibu buka pintunya dulu. Malam ini kita akan makan pancake sambil menonton film ninja berambut kuning itu."
"Sungguh! Aku sangatttt, suka pancake ibu*!"
Gigi Gabriel beradu, membuat suara gemeletuk, bibirnya bergetar. Bayangan itu mencekiknya, mundur beberapa langkah Gabriel hampir menjerit. Kewarasannya ditarik hingga batasnya. Dan Gabriel berharap dia punya lebih banyak dari yang dia punya.
Melangkah lagi, tangan pria itu bergetar menyentuh ganggang pintu, menahan rasa berdebar yang seakan bisa membuat jantungnya meledak ditempat.
Pintu terdorong, membuat suara keras akibat engselnya yang berkarat, ruangan gelap dengan ornamen coklat tua itu menyambutnya, ruang tamu degan gaya vintage yang tidak berubah.
"*Anak nakal, sudah ibu katakan jangan makan terlalu banyak, itu untuk tamu." wanita itu menatap pria kecil dengan wajah berlepotan coklat dengan kesal.
"Aku tidak bisa menahannya Ibu. Kue buatan ibu yang terbaik." wanita itu tertawa, dia tidak bisa marah dengan pria kecil itu. Terlalu menggemaskan dan dia terlalu menyayangi pria kecil itu*.
Masuk lebih dalam, debu dan sarang laba-laba memenuhi ruangan, kecuali jalan menuju pintu penghubung. Langkahnya semakin berat. Pantofel itu kini penuh debu, mendekati pintu menuju ruang keluarga.
Tubuh itu membeku, menatap dengan terpaku. Nafas Gabriel seakan menghilang untuk sekian detik.
Didepan sana, dengan selimut putih kecil Alunanya tergolek dengan tidak berdaya. Kepalanya menempel dengan ujung meja. Nafasnya teratur dengan pelan, dia tidak sadar atau tertidur?
"Tolong dia Gabriel." bisikan halus itu seperti terbawa angin, berdiri diujung ruangan menatap kedua pasangan yang terpisah oleh jarak setengah Meter itu, Draco tersenyum manis. Matanya berkilat melihat sang putra angkat berdiri dengan terpaku.
"Tolong dia, atau seseorang akan mati lagi."
Draco tersenyum lebar, sudut bibirnya melebar sampai siapapun yang melihatnya akan berpikir bibir itu akan sobek.
"Ada apa? Kau tidak mau?"
Draco bangkit, mata itu kosong. Dan Draco merasa kemenangan memang miliknya.
"Ini mudah." Draco mendekati gadis yang tak sadarkan diri itu, menyentuh helaian rambut halus dengan hati-hati.
Kaki Gabriel bergetar, jatuh berlutut dengan tubuh membeku, jiwanya seakan tidak disana.
Pandangan mata pria itu kabur, sebelum kembali jelas.
Ini mudah! Katakan pada Gabriel ini mudah. Dia hanya perlu menghajar Draco kemudian membawa Aluna kabur.
Gadis itu ditendang di hadapannya, tapi seincipun tubuh pria itu tidak bergerak, bayangan malam itu kembali dengan jelas. Tubuh ibunya yang ditendang dalam keadaan tidak sadar.
Kepala Gadis itu di injak dan ditekan dilantai dengan kejam, kejadian yang sama seperti bertahun-tahun yang lalu.
Gabriel merasa dibunuh untuk kedua kalinya.
Menjambak rambut Aluna, gadis itu tampak mulai sadar, dengan wajah mendongak rasa sakit pada kulit kepalanya adalah hal pertama yang menyambutnya.
Matanya terbuka, mata itu bertemu dengan manik kosong milik Gabriel, sejenak Aluna tidak paham sampai rasa sakit itu kembali menyadarkannya.
"Gabriel!" Aluna berseru.
"Gabriel!" wanita itu berseru, memanggil putra kecilnya yang terduduk dengan air mata.
Gabriel ingin menjerit, ingatan-ingatan itu seakan menunsuk otaknya, menguras kewarasannya sampai ditingkat Gabriel ingin menangis dan menjerit sejadi-jadinya.
Jangan lagi!
Tidak lagi!!
Ini mudah Gabriel, ini mudah.
Jika kau tidak bangkit Aluna akan mati, sama seperti dia!
Tapi tubuhnya tidak merespon, jantungnya bertalu-talu dengan rasa sakit. Yang ingin meledak.
Tubuh Aluna merinding, besi dingin itu menempel dilehernya, meninggalkan goresan tipis menunjukan ketajamannya.
Pelan, Draco mengangkat pisau itu, pindah menuju bahu Aluan. Menggores disana, merobek bagian lengan baju Aluna langsung menuju kulit gadis itu. Meninggalkan titik-titik merah disepanjang jalannya.
"Sangat mudah Gabriel, tolong gadismu." Draco ingin tertawa selebar-lebarnya. Wajah pria itu lebih pucat dari mayat. Kosong dan tidak berdaya.
Lemah!
Draco mencemooh dalam hatinya.
"Dia bisa mati lagi, dan aku akan menjual jantung itu lagi."
Sebuah hantaman mengenai wajah Draco dengan keras, melempar tubuh pria tua itu. Bekas hantaman itu meninggalkan luka pada bibir tua berwarna hitam itu.
"INI MUDAH!" Suara Gabriel terdengar begitu keras, mengejutkan gadis cantik yang diam tak bergerak dilantai sana.
"Aku hanya perlu melupakan luka disini!" Gabriel memukul kepalanya dengan keras.
"Juga disini!" Gabriel memukul dadanya keras, berharap rasa sakit itu menghilang.
"Ini mudah! Ini mudah! Ini mudah!" Gabriel mengulang kata itu berulang kali dengan keras dan tidal teratur, pria itu menggila.
Matanya dan Aluna bertemu, tubuh Aluna bergetar melihat cairan bening itu merayap jatuh dari mata hitam milik Gabriel.
Menarik paksa tubuh gadis itu, Gabriel memeluk tubuh kecil itu kuat. "Tentu saja ini tidak mudah Aluna, kumohon satu kesempatan lagi."
"Ini tidak mudah Aluna, aku terbunuh berka-li-kali!"
"Tidak mudah! Tidak mudah! Tidak mudah!"
"Aku akan mati lagi Aluna!"
Tubuh Aluan bergetar, bibirnya bergetar, dia yang egois, dia yang tidak memikirkan rasa sakit Gabriel. Dia yang tidak mau bertanya perasaan pria itu. Dia yang berharap semua lancar hanya dengan sekali jalan.
Semuanya begitu cepat, ketika cairan merah itu menetes diatas lantai penuh debu, tubuh Aluna merinding.
Sedetik kemudian tubuh Draco melayang menghantam lemari pajangan diujung ruangan dengan keras.
hope you guys like it, part ini cukup emosional aku rasa, gimana menurut kalian keadaan Gabriel? ngehehehehe, comment ya!
scene dansa denga mama.. 😭
akak ini pny cerita bgs2, g mgkn kan copy