Asih, bunga desa itu berlari diantara pekatnya malam. Dari kejauhan terdengar teriakan orang-orang yang mengejarnya dengan marah.Suara riuh membuat Asih semakin ketakutan dan melayang menuju kompleks pekuburan di desa itu yang masih terbuka liang lahatnya. Perempuan itu masuk ke liang lahat dan tanah kuburanpun tertutup disertai suara gemuruh dan getaran hebat seperti gempa. "Semua mundur. Biar aku yang akan mengunci perempuan itu didalam kuburnya!!” teriak Ahmad
Asih bunga desa yang terlibat cinta terlarang dengan pak Lurah yang tampan dan tajir dinikahi secara siri oleh pak Lurah.Namun untuk menutupi pernikahan siri mereka, Asih kemudian dinikahkan dengan Ibrahim tanpa diceraikan terlebih dahulu oleh pak Lurah. Asih yang sombong karena kecantikannya kembali berselingkuh dan dinikahi seorang konglomerat yang akan membangun Mall di desanya.
Bagaimanakah nasib Asih selanjutnya ? Akankah Asih memilih salah satu diantara ketiga suaminya itu ? Ikuti dan dapatkan jawabannya disini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhaken, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34. Surat rahasia untuk Camat Prabowo
"APA PAK ? ASIH MAU DIPASUNG!?" teriak mak dengan wajah tak percaya.
"Ya..itu jalan satu-satunya bu jika Asih masih juga ngelawan!!" jawab bapak tegas.
Ibrahim yang duduk diluar terlonjak kaget mendengar keputusan bapak mertuanya.
Wajah Asih pucat pasi, tak menyangka bapak akan berfikiran sejauh itu.
"Jangan GiLA pak !!. Mak nggak setuju. Asih anak kita satu-satunya pak. Kok bapak tega mau memasung Asih !!?" tanya mak tak percaya.
Air mata mak mengalir membasahi wajah keriputnya. Sementara Asih terisak-isak dan bersandar di dinding.
Pupus sudah harapannya untuk bersama kekasihnya Prabowo.
"Kalau begitu patuhi bapak. Asih nggak boleh kemana-mana!!!" putus bapak sambil meninggalkan mak dan Asih yang masih berdiri di tempatnya.
Ibrahim yang tak berani masuk hanya diam terpaku. Dia sama sekali tidak menyangka bapak mertuanya akan mengambil keputusan senekat itu.
Sementara di dalam rumah, mak memeluk Asih sambil menangis.
"Patuhi bapakmu nduk. Itu semua demi kebaikan kamu juga. Jangan buat bapak marah," mak menasehati putrinya dengan lembut.
Asih makin terisak. Perempuan itu tak tahan lalu berlari kedalam kamar dan membanting pintu dengan keras.
Sementara mak hanya mematung di depan pintu kamar Asih. Dia tau, suaminya tidak bisa dibantah. Apalagi jika menyangkut Prabowo, laki-laki yang sangat dibenci bapak.
____
Beberapa bulan berlalu.
Sejak bapak memutuskan akan memasung Asih, perempuan itu tidak berani bertemu Prabowo lagi. Bahkan kebiasaannya bertemu Prabowo secara sembunyi-sembunyi di kamarnya juga tidak dilakukannya.
Bukan hanya karena Asih takut ketahuan bapak, tapi juga karena Prabowo tidak pernah lagi mengunjungi kamar Asih semenjak pertemuan mereka yang terakhir kalinya.
Karena mengurung diri di kamarnya, kehamilan Asih tidak diketahui bapak dan mak. Bahkan Ibrahim juga tidak tau sama sekali.
Hingga suatu saat.
"Huook...huook..," suara Asih dari dalam kamar mandi.
Ibrahim yang kebetulan melewati kamar Asih dan mendengar suara Asih terkejut dan memutuskan untuk masuk ke kamar Asih.
Kamar itu tidak tertutup.
Dengan perlahan Ibrahim melangkah ke kamar mandi. Dilihatnya Asih sedang muntah di wastafel.
"Kenapa Asih muntah-muntah?. Apakah Asih sakit?" tanya Ibrahim khawatir.
Asih yang tidak menyadari kehadiran Ibrahim berusaha memuntahkan seluruh isi perutnya sambil memegangi perutnya.
Ibrahim mengernyitkan keningnya. "Ini seperti saat Asih hamil Ulfah dulu...apakah ...!?" tanya Ibrahim dalam hati.
Disaat yang sama Asih berpaling dan mendapati Ibrahim yang sedang memandanginya dari pintu kamar mandi.
Asih terkejut, namun sejurus kemudian bisa menguasai dirinya lagi. "Ibrahim tak boleh tau soal kehamilanku. Bisa habis aku,.. benar-benar dipasung bapak !!," guman Asih dalam hati
"Ngapain kamu berdiri saja disitu!?" tanya Asih dengan nada jengkel.
Ibrahim tertegun . Buru-buru dia berbalik dan mengambil minyak kayu putih yang berada diatas meja rias Asih.
"Ini...," Ibrahim menyodorkan minyak kayu putih itu ke Asih. Tapi Asih tak menggubrisnya. Dia masih sangat mual.
Sesaat kemudian Asih berpaling dan memandangi Ibrahim dengan wajah pias..
"Tolong olesi minyak itu ke tengkukku im. Aku pusing dan mual banget. Kayaknya aku masuk angin deh Im," ucap Asih sambil berbalik dan mengangkat rambutnya.
Perlahan Ibrahim mendekati Asih. Diolesinya tengkuk Asih dengan minyak kayu putih. Kemudian memijat lembut punggung Asih.
Asih merasa tubuhnya lemas dan berasa mau pingsan. Tubuhnya oleng.
Menyadari hal itu, buru-buru Ibrahim membopong tubuh Asih keluar dari kamar mandi.
Diletakkannya Asih diatas ranjang kemudian menyelimutinya.
"Aku buatkan kamu teh hangat dulu...sebentar!" ucap Ibrahim.hendak berdiri namun dicegah Asih.
"Im..tolong jangan ceritakan kondisiku ke bapak dan mak. Nanti mereka khawatir. Aku baik-baik saja, hanya masuk angin biasa!" ujar Asih sambil melepas tangan Ibrahim.
Ibrahim mengangguk lalu keluar ke dapur untuk membuat teh hangat. Saat membuat teh untuk Asih, laki-laki itu memikirkan kondisi Asih.
"Apakah Asih sedang hamil ?" tanya Ibrahim dalam hati. "Kalau dia benar-benar sedang hamil apakah itu anak Prabowo ?"
Ibrahim menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Membayangkan Asih yang hamil anak Prabowo lagi membuat Ibrahim meradang. Hatinya sakit.
"Jika benar Asih hamil, aku harus bagaimana ?. Apakah aku harus mengakui lagi anak itu seperti aku mengakui Ulfa!!?" Ibrahim kebingungan.
Hal ini terlalu sulit dicerna oleh akal sehatnya. Ibrahim memang mencintai Asih sejak dulu, tapi dia tidak mau selamanya berada dibawah bayang-bayang Prabowo.
Suatu kelak Ibrahim harus bisa mengambil sikap tegas, mempertahankan Asih atau melepaskan perempuan itu untuk bersama kekasihnya Prabowo..
Lalu bagaimana dengan mak dan bapak?. Mereka pasti akan sangat kecewa jika mengetahui hal ini.
"Sebaiknya aku diam saja sampai saatnya nanti Asih menentukan sikapnya!"
Ibrahim membawa teh hangat yang dibuatnya ke kamar Asih. Perempuan itu masih terlihat pucat pasi.
"Asih..minum tehnya!," Ibrahim menyerahkan teh hangat ditangannya kepada Asih.
Asih mengambil teh hangat dari tangan Ibrahim dan meneguknya perlahan. Ada hawa hangat menjalari perutnya membuat perempuan itu merasa nyaman.
"Makasih Im," ucap Asih sambil meletakkan gelas teh yang masih tersisa setengah.
"Aku..mau minta tolong sekali lagi ke kamu Im," ucap Asih sambil menatap Ibrahim lekat.
"Apa..apa yang bisa aku bantu Asih?" tanya Ibrahim antusias.
"Kamu tolong panggilkan dukun pijat di kampung sebelah untukku Im. Aku pengen dipijet. Badanku sakit semua Im," Asih memelas.
"Dukun pijat yang mana ?," tanya Ibrahim tak paham.
"Itu..., mak imah, dukun beranak sekaligus dukun pijat di kampung sebelah," jawab Asih dengan mimik serius.
"Ooh..aku tau. Dukun yang dulu bantuin kamu melahirkan Ulfa kan!?" tanya Ibrahim menebak.
"Iya bener dia Im," jawab Asih.
"Ya sudah. Kamu tunggu ya. Aku pergi dulu manggil mak Imah. Mudah-mudahan dia lagi nggak nerima.pasien," harap Ibrahim sambil berlalu.
Sepeninggal Ibrahim, Asih mengelus perutnya yang mulai membesar.
Selama ini Asih lihai menyembunyikan kehamilannya dengan memakai pakaian super longgar agar bentuk tubuhnya tidak terlihat.
"Sayang..kamu kangen ayahmu!?. Ibu juga nak, amat sangat kangen ayahmu," Asih tersenyum tipis.
Tak perlu menunggu waktu lama, Ibrahim tiba dengan membawa seorang perempuan paruh baya yang biasa dipanggil bi Imah.
"Makasih Im. tapi boleh nggak aku dan bi Imah sendirian aja di kamar ini?" tanya Asih.
Ibrahim mengangguk.
"Yaa. Silahkan Asih. Tapi kalau butuh apa-apa tinggal panggil aja. Aku tunggu diluar," Ibrahim menawarkan bantuannya.
"Iya Im..makasih," jawab Asih.
Begitu Ibrahim keluar dari kamar itu, Asih buru-buru duduk dan memegangi tangan bi Imah.
"Bi..tolong aku!" seru Asih. Ekor matanya mengarah ke pintu kamar, takut tiba-tiba bapak masuk.
"Apa yang bisa bibi bantu non?" tanya Bi Imah ingin tau.
"Bibi tolong bawa surat ini ke kecamatan. Pastikan surat ini langsung diterima camat Prabowo. Ini surat penting bi!" ujar Asih berharap bi Imah mau membantunya.
Asih mengeluarkan sebuah amplop putih panjang dari bawah kasur dan menyerahkannya kepada bi Imah.
________________