*Juara 2 event Pengkhianatan Cinta 1*
Kania Azzahra, terkejut saat mengetahui vidio hubungan intimnya dengan Adit beredar luas. Semua yang mengenal Kania pun bertanya-tanya tentang video itu, Mulai dari Rekan kerja dan juga teman semasa kuliahnya.
Tepat di saat Kania menuntut penjelasan kepada Adit. Mencari tahu alasan, mengapa video hubungan intim mereka itu bisa beredar luas, Kania mendapati Adit sedang bercinta dengan wanita lain. Adit bahkan memutuskan hubungan asmara mereka.
Hingga pada suatu hari Kania bertemu Athalla Akhmar Nizama. Seorang pria muda berparas tampan, juga seorang pengusaha muda yang datang dari keluarga taat beragama.
Apakah cinta akan bersemi kepada mereka? Apakah Kania sanggup berkata jujur tentang masa lalunya yang pahit kepada Athalla?
Novel ini murni hasil halu penulis, jika ada kesamaan kejadian, nama dan tempat itu hanya kebetulan semata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Wanita-wanita Hebat
Mami Athalla tak kehabisan akal. Meski sudah ditolak berulang kali, tetapi dia wajib mencari cara lain guna memisahkan Athalla dengan Kania.
Bukannya dia kejam, tetapi dirinya ingin yang terbaik bagi Athalla. Lelaki seperti dia harus menemukan perempuan yang sebanding dari segela sisi. Maminya tidak membenci Kania. Hanya saja, dia tidak merestui hubungan mereka.
Wanita setengah abad itu heboh menghubungi beberapa temannya untuk minta dicarikan calon mantu. Setelah bersusah payah, akhirnya Mami Athalla berhasil mendapatkan kumpulan wanita yang hendak dijodohkan dengan Athalla.
Namun, mereka tak langsung berhadapan, melainkan mengirim foto dan cv terlebih dahulu. Ya, memang hubungan seperti itulah yang maminya inginkan, yakni jauh dari kata pacaran.
Setelah menyelesaikan makan malam, perempuan itu sengaja menemui anaknya di ruang televisi. Athalla terlihat fokus menyapu layar di hadapannya. Maminya menyenggol bahu si anak agar Athalla tersadar, bahwa ada sosok lain yang turut duduk di sana.
“Mi?” Athalla mendongakkan kepala.
“Iya. Mami boleh duduk di sini?”
tanya Mami.
“Tentu. Siapa yang melarang?”
Maminya mendaratkan b*kong tepat di sebelah Athalla, menyapu punggung tangan pria itu dengan lembut. Jika sudah begini, Athalla dapat merasakan aura-aura pemaksaan lagi. Ia hapal betul dengan tingkah si Mami yang selalu mendadak lembut, apabila ada maunya.
“Kenapa, Mi? Bicara saja langsung!” Athalla tak ingin berbasa-basi.
Deretan gigi putih nan rapi wanita itu terlihat. Ia sudah ketahuan lebih dulu oleh buah hatinya. Kemudian, wanita itu menunjukkan sesuatu yang terbalut dengan amplop kuning.
“Apa itu, Mi?” Athalla mengikuti ke mara jemari ibunya berlabuh.
“Televisinya dimatikan dulu ya, Nak,” ujar maminya, karena tak ingin pembicaraan mereka terganggu.
Putranya manut saja dan gegas menekan tombol off pada remote tv. Selanjutnya, hanya suara detakan jam dindinglah yang terdengar, sementara wanita di sebelahnya sibuk mengeluarkan benda-benda dari dalam amplop.
Athalla kian terkejut sata, kala maminya menghamparkan beberapa foto gadis berhijab di meja. Wanita-wanita yang cantik dan sholehah.
“Apa ini, Mi?” Dahi Athalla berkerut.
“Athalla. Jadi, ini adalah gambar beberapa perempuan yang mau Mami jodohkan denganmu, Sayang. Mereka sudah bersedia di lamar. Lihatlah! Ayu semua, kan?” Maminya mengembangkan senyum.
“Ya, ampun, Mi.” Athalla tepok jidat akibat perlakuan ibunuya.
Kenapa maminya itu masih saja bandel dan kerap memaksakan hati sang anak? Padahal, Athalla sudah berulang kali berkata, bahwa dia hanya menginginkan Kania untuk dijadikan istri, karena wanita itu juga sudah berubah pesat, meskipun belum berhijab seperti gambar beberapa wanita yang kala itu terhidang di meja.
“Pilihlah, Sayang! Tentunya mereka lebih cantik, pintar dan sholehah ketimbang pacarmu itu. Ah, ini yang pertama; namanya Sofia. Dia lulusan S2 Columbia dan pintar sekali mate-matika. Hidungnya mancung, alis matanya juga tebal. Cocok sekali bersanding denganmu, Nak.”
Hening.
“Perempuan kedua juga manis sekali. Dia adalah Tania si hafizhoh 30 jus. Anak-anakmu kelak pasti aman di tangannya. Abi Tania mempunyai tiga pesantren di luar kota.”
“Ehm, atau, yang ini. Dia Arnita si keturunan Belanda. Seorang CEO luar negri, tetapi menginginkan jodoh orang lokal. Ayo, silahkan pilih, Athalla! Mereka ini siap berkenalan denganmu.”
Athalla memandang gambar-gambar yang berada di hadapan. Merasa belum mengenalkan mereka semua, akhirnya maminya kembali berseru.
“Gadis yang keempat bernama Ayra. Seorang pemilik restoran di kota sebelah. Penghasilannya bisa mencapai 700 juta per bulan, Athalla. Dan, yang tidak kalah penting dia selalu sholat lima waktu. Kemudian, yang terakhir ada Reyna. Dia lebih tua tiga tahun dari kamu, tetapi dia sudah menjadi Doktor lulusan Amerika loh, Nak. Keren sekali, kan?”
Athalla menganggukkan kepala mantap. Membenarkan ucapan ibunya tentang kecerdasan wanita-wanita tersebut. Maminya mengembangkan senyum puas. Sepertinya, Athalla mulai tertarik.
“Mereka semua hebat, Mi!” puji Athalla.
“Tentu saja. Jadi, diantara mereka, kamu pilih yang mana, Athalla?”
Jantung wanita itu melaju cepat. Tidak sabar ingin mengetahui bakal istri yang akan dipilih putranya.
Athalla menyapu foto-foto itu dengan jemari tangan, lalu berseru, “Diantara mereka semua, aku memilih …” Dia sengaja menggantung kalimat.
“Iya?” Kepala maminya sampai miring menantikan jawaban sang putra.
“Kania!” jawab Athalla tegas.
Degh!
Kania.
Ya, Athalla tak main-main dengan ucapannya.
“Dari sekian banyak perempuan hebat dan kau tetap memilih pacarmu yang pernah berbuat m*sum itu, Athalla?”
“Iya," jawab Athalla lagi.
Bagai disambar petir di siang bolong. Mami Athalla sempat berpikir, bahwa anaknya sudi memilih satu diantara perempuan yang sengaja dia carikan. Ternyata, Athalla tetap melabuhkan hatinya pada Kania seorang, sementara maminya sudah susah payah berjuang.
Perasaannya hancur. Kekesalan bergelayut di hati. Sampai kapan pun, wanita itu tidak akan merestui hubungan anaknya dengan seorang gadis yang mempunyai masa lalu buruk seperti Kania.
“Mereka memang hebat, Mi, cantik pula, tetapi tak ada yang bisa menggeser posisi Kania di hati ini.” Athalla menekan dadanya sebanyak dua kali.
Maminya kehabisan akal dan kata-kata. Dia menyandarkan punggung di sofa dalam keadaan lemas. Seketika, tubuhnya mendadak lemir bak jelly.
Athalla sendiri amat menghargai usaha maminya untuk mencarikan dia jodoh. Namun, cinta tak bisa dipaksakan dan hati tak mampu dibohongi. Ke mana pun Athalla berpijak, hanya Kania seorang lah yang dia cinta.
“Athalla, apa susahnya meninggalkan perempuan itu? Di depanmu sudah ada pilihan yang lebih baik. Kenapa harus memilih Kania lagi?” maminya menuntut.
“Mereka memang pintar dan ayu, Mi, tetapi belum tentu bisa membuat hatiku nyaman. Bukankah dalam rumah tangga kita mencari kedamaian?”
“Iya, tetapi bukan begitu juga konsepnya, Athalla. Kau bahkan belum mencoba mengenal satu diantara mereka, tetapi sudah menyimpulkan sesuka hati.”
“Terima kasih, karena sudah membantuku untuk mencari istri ya, Mi, tetapi mulai sekarang Mami nggak usah repot-repot lagi, karena bagaimanapun aku bakal tetap pilih Kania.” Athalla menepuk bahu maminya lembut.
Sosok itu mengembuskan napas panjang. Pusing tujuh keliling akibat keegoisan putranya. Entah harus dengan cara apa lagi Athalla bisa diluluhkan hatinya.
“Ada lagi, Mi?” Dia bertanya, ketika suasana mendadak hening.
Maminya memijat pelipis sambil menundukkan kepala. Ia bergeleng, lalu mengangkat tubuh dari sana. Tak lupa, membawa kembali gambar-gambar tersebut dan menyimpannya di bilik.
“Sebaiknya, kamu pikirkan tawaran Mami kali ini!” Ucapan itu mengakhiri pertemuan antara Ibu dan anak.
Athalla tersenyum miris. Maminya seperti tidak pernah muda saja. Dia tak ingin menambahkan kejadian tadi sebagai beban, jadi Athalla langsung menyalakan televisi dan kembali fokus pada layar tersebut.
Sementara di kamarnya, wanita itu sibuk mencari cara lain agar Kania dan Athalla putus. Lama dia berpikir, hingga pada akhirnya sebuah ide muncul di benak sosok tersebut.
“Ah, aku tahu!” gumamnya seraya mengacungkan telunjuk di udara.
...****************...