Dia datang untuk menemui saudara kembarnya tapi kenyataan pahit harus dia terima, saudara kembarnya sudah meninggal dua hari sebelum bertemu dengannya.
Lila meninggal karena kecelakaan, mobil yang dia kendarai masuk ke dalam jurang.
Luna hadir ke dalam keluarga tersebut, dan menyamar menjadi seorang pembantu, dan dia menemukan fakta bahwa saudara kembarnya meninggal tidak wajar. Ada sekelompok orang yang sengaja ingin melenyapkan nya.
Luna marah dan bersiap untuk balas dendam, satu persatu informasi dia dapat dan perlahan dia memberikan hukuman kepada para penjahat tersebut.
Bagaimana Luna membalas mereka semua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamie kembar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rena sadar
Bik Asih menyajikan sarapan diatas meja. Alvian duduk menikmati sarapannya dan Miranda dia kembali ke kamarnya dipenuhi rasa kesal.
Alvian adalah orang pertama yang harus dia singkirkan, dibandingkan dengan Lila, dia lebih berbahaya.
Lila, seandainya gadis bodoh itu ada, aku bisa dengan mudah mengubah surat wasiat itu, tapi dimana dia? hidup merepotkan mati pun juga merepotkan" ucap Miranda lagi.
"Sebaiknya aku melihat Rena, daripada aku darah tinggi disini karena pecundang itu.
Bicara dengan Alvian hanya buang waktu dan tenaga. lebih baik aku pikirkan bagaimana caranya agar si tua bangka itu sadar lalu aku memaksanya untuk tanda tangan surat wasiat baru.
Luna, ya Luna. Hanya dia yang bisa menyelematkan aku, dia bisa menjadi Lila dan membuat surat pernyataan jika dia telah memberikan semua harta lila padaku, hehehehe..."
**
Luna tak sabar menunggu Rena segera membuka matanya, dia tidak sabar untuk segera membalaskan sakit hatinya lila.
Gadis itu ingin sekali meluapkan semua kekesalan hatinya pada Rena. Dia ingin memaki, menghina bila perlu mengajar gadis sialan itu, yang dengan tega merebut calon kakak iparnya.
Walau dia bukan Lila tapi dia bisa merasakan apa yang tengah saudara kembarnya itu rasakan, sakit hati tentu saja. Mana ada wanita yang tidak sakit hati mengetahui kekasihnya selingkuh, bahkan yang lebih menyakitkan lagi dia selingkuh dengan saudara tirinya sendiri, bukan orang lain.
Luna teringat pada pria brengsek itu, yang sama bejatnya dengan Rena, se-seksi dan semanis apa
pun Rena menggodanya, jika dia benar mencintai Lila, dia tidak mungkin selingkuh, Dasar buaya buntung, sudah miskin bertingkah, untung saja kelakuannya segera terbongkar.
Luna mengepalkan tangannya siap menghajar Regan andai pria itu ada disana, bersamanya. Sayangnya dia tidak ada disana, karena Miranda mengusirnya.
Lagi Luna menatap Wajah damai Rena, "Gadis bodoh tapi aku puas dengan begini aku bisa membuktikan jika kau dan pria brengsek itu bukanlah orang baik, tanpa harus bersusah payah dia mencari bukti, di depannya sudah ada bukti yang cukup jelas.
"Selamat pagi," seorang perawat masuk dan mengagetkan luna.
"Pagi..." sahutnya dengan cepat
"Maaf saya ingin memeriksa pasien."
"Oh iya, silahkan sus," ucap luna lalu dia berdiri sedikit menjauh.
"Sus, kenapa kakak saya belum sadar juga?"
"Mungkin efek dari kuret yang di lakukan Bu, tapi untuk lebih jelasnya lagi bisa ibu tanyakan kepada dokter. Permisi" pamit perawat tersebut dan segera keluar ruangan.
"Ok, aku ke bawah Sebentar, kamu baik-baik ya, karena aku mau sarapan dulu."
Gadis itu berjalan keluar mencari sarapan, kali ini dia ingin sekali makan roti dan minum susu seperti kebiasaan nya di masa lalu.
Selesai menikmati sarapannya, Luna kembali ke ruang rawat Rena. Dia ingin menunjukkan kepada Miranda jika dia begitu peduli dengan gadis itu, membuatnya iba dan semakin.
Luna masuk dan kembali duduk di samping Rena.
"Bangun, untuk apa lagi kau hidup jika hanya jadi benalu," ucap Luna di depan mata Rena.
"Ayo bangun!" tarik wanita itu kuat pada tubuh Rena.
"Euh...." lenguh Rena mulai sadar
"Ren, Rena kamu sadar" ucap Luna senang.
Rena pun membuka matanya, dia bisa melihat langit-langit kamar yang bukan seperti di rumahnya, kemudian dia melihat ke samping ada luna,
"kau? mengapa aku ada disini?" tanya nya dengan sikap ketus, sama seperti biasanya.
"Alhamdulilah nona sudah sadar, tunggu saya akan memanggilnya dokter." ucap Luna berdiri
"Tunggu tidak usah berbasa basi, aku tau kamu pasti sangat bahagia,"
"Saya? enggak, nona salah sangka."
"Salah sangka? lalu apa yang kau lakukan di tangga?"
"Hehehe.." apa yang di tertawakan Luna?
othor fokus 1 novel aja spy g salah, yg baca jd bingung & byk typo lho SMP part ini
hpmu jgn lupa diambil, lumayan merekam smua obrolan bs jd bukti
skip" obrolan pas nenek lampir & anak'a
siapa hayo yg kepoin Luna...