NovelToon NovelToon
Asisten Tak Terduga

Asisten Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Romansa
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Abil_

"Menjadi asisten pribadi seorang CEO paling dingin di ibu kota bukanlah rencana awal hidupku."

Bagi Kenzo, perfeksionisme adalah segalanya. Baginya, asisten bukan sekadar pembantu, tapi mesin yang harus bekerja 24/7 tanpa celah. Namun, kedatangan asisten barunya yang "tak terduga" mulai mengacaukan ritme hidupnya yang kaku.

Ia tidak menyangka bahwa di balik kopi yang selalu pas suhunya dan jadwal yang tertata rapi, asistennya menyimpan rahasia besar yang bisa menjungkirbalikkan dunia bisnisnya. Setiap babak baru dalam hubungan mereka hanyalah awal dari lapisan misteri dan percikan rasa yang lebih dalam.

Akankah hubungan profesional ini tetap pada jalurnya, atau justru terjebak dalam permainan perasaan yang tak berujung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjinakkan Bom Waktu

Suasana di dalam ruangan beraksitektur kolonial itu seketika mendingin sampai ke titik beku. Di layar monitor raksasa yang menyala di dinding, grafik pergerakan dana asing berwarna merah menyala terus bergerak naik seperti ular yang siap melilit leher Aditama Group. Ini bukan sekadar ancaman di atas kertas; ini adalah pembajakan bisnis skala internasional secara real-time.

Kenzo menatap grafik itu tanpa berkedip. Otak jeniusnya langsung bekerja dengan kecepatan penuh, menghitung setiap kemungkinan dan celah hukum yang bisa dia gunakan. Rahangnya mengatup rapat, menguapkan semua rasa lelah setelah perjalanan jauh menembus kabut Puncak.

"Siapa yang memegang akun dana gelap itu, Kek?" tanya Kenzo, suaranya terdengar sangat tenang, namun justru ketenangan itulah yang membuat auranya terasa mengerikan.

Wijaya Aditama terkekeh, menepuk lengan kursi rodanya dengan perlahan. "Kalau aku memberi tahumu, itu namanya bukan ujian, Kenzo. Tugas seorang raja adalah mencari tahu sendiri di mana letak kepala ular yang mencoba mematuk takhtanya."

Nabila yang berdiri di samping Kenzo bisa merasakan genggaman tangan suaminya mengencang. Dia melangkah maju, menatap langsung ke mata keriput pria tua di depannya. "Tuan Besar Wijaya, Anda bilang Anda melakukan ini untuk menguji kelayakan Kenzo. Tapi dengan membiarkan pihak asing mengobrak-abrik saham Aditama Group, Anda juga sedang mempertaruhkan nama baik yang Anda bangun seumur hidup. Apakah ego Anda jauh lebih penting daripada perusahaan?"

Mendengar ucapan berani dari Nabila, ruangan itu mendadak hening. Hadi, sang asisten pribadi, bahkan sampai menahan napas karena terkejut melihat ada seorang gadis yang berani menceramahi Wijaya Aditama di rumahnya sendiri.

Wijaya menatap Nabila tajam selama beberapa detik, sebelum akhirnya senyum tipis kembali terukir di wajahnya. "Gadis yang menarik. Ardiansyah mendidikmu dengan cukup baik untuk menjadi perisai suamimu. Tapi di dunia ini, Nabila... perisai saja tidak cukup jika sang raja tidak tahu cara mengayunkan pedangnya."

"Gue nggak butuh pedang buat nyelesaiin tikus kelaparan kayak gini, Kek," potong Kenzo tegas. Dia melepaskan genggaman tangan Nabila, lalu berjalan mendekati meja besar di tengah ruangan. Tanpa permisi, Kenzo membuka laptop kerja milik Wijaya yang tergeletak di sana, lalu mengetikkan serangkaian kode akses rahasia dengan sangat cepat.

"Kenzo, apa yang kamu lakukan?" tanya Nabila agak panik.

"Surya!" Kenzo berteriak ke arah mikrofon internal laptop yang terhubung langsung dengan sistem komunikasi satelit pribadi miliknya yang tidak bisa dilacak oleh sistem EMP milik kakeknya.

"Ya, Pak Kenzo! Saya di sini!" suara Surya langsung terdengar dari speaker laptop, meskipun agak terputus-putus. "Saham kita di bursa London dan New York sedang diserang secara masif melalui beberapa perusahaan cangkang di Cayman Islands!"

"Gue udah tahu. Dengerin instruksi gue baik-baik," perintah Kenzo, nadanya dingin dan tidak terbantahkan. "Buka brankas digital nomor empat di akun privat Aditama Corp. Di sana ada dana cadangan darurat berbentuk obligasi emas cair sebesar dua puluh triliun rupiah yang selama ini sengaja gue sembunyiin dari dewan komisaris maupun Sofia."

Hadi yang berdiri di sudut ruangan langsung membelalakkan matanya mendengar nominal fantastis itu. Bahkan Wijaya Aditama pun tampak sedikit terkejut, menaikkan sebelah alisnya karena tidak menyangka cucunya punya simpanan rahasia sebesar itu tanpa sepengetahuannya.

"Gunakan seluruh dana itu buat beli balik semua saham yang dilepas di pasar internasional. Jangan sisakan satu lembar pun untuk akun gelap itu. Kalau mereka berani menaikkan harga penawaran, tabrak terus sampai sistem mereka mengalami overload finansial!" seru Kenzo berapi-api.

"Baik, Pak! Pelaksanaan dimulai sekarang!" jawab Surya penuh semangat sebelum koneksi terputus.

Kenzo menutup laptop itu dengan bunyi brak yang keras, lalu berbalik menghadapi kakeknya. Dia menumpukan kedua tangannya di meja, menatap lurus ke dalam mata sang tetua. "Dua puluh empat jam? Lo terlalu meremehkan gue, Kek. Gue cuma butuh waktu dua puluh menit buat bikin akun gelap bentukan lo atau siapa pun itu gulung tikar."

Wijaya tidak marah. Pria tua itu justru menyandarkan punggungnya di kursi roda, lalu meledak dalam tawa yang terdengar puas. "Bagus! Sangat bagus! Kamu benar-benar mewarisi kegilaan dan keangkuhanku, Kenzo. Tapi... apakah kamu yakin musuhmu malam ini adalah aku?"

Kenzo mengernyitkan dahinya. "Maksud lo?"

Tepat setelah Kenzo bertanya, HP Nabila yang ada di dalam tasnya tiba-tiba bergetar hebat. Nabila buru-buru mengambilnya dan melihat sebuah panggilan video masuk dari nomor ayahnya, Ardiansyah. Begitu tombol accept ditekan, layar HP menunjukkan pemandangan yang membuat darah Nabila seketika berdesir hebat.

Ardiansyah sedang duduk di kursi kerjanya di kantor X-Corp, namun di belakangnya, berdiri tiga orang pria bertopeng hitam yang memegang senjata laras panjang, mengarahkan moncong senjata tepat ke kepala Ardiansyah.

"Nabila... Kenzo... jangan kembali ke Jakarta," suara Ardiansyah terdengar bergetar lewat pengeras suara. "Serangan saham itu... bukan dilakukan oleh kakekmu. Itu adalah sisa-sisa aliansi gelap milik Bram yang menggunakan dana cair X-Corp setelah mereka berhasil meretas sistem keuanganku... Mereka menjebak kita semua di sini!"

BEEP! Panggilan terputus secara sepihak.

Nabila langsung lemas, HP-nya hampir saja jatuh kalau Kenzo tidak dengan cepat menangkap tubuhnya. Wajah Nabila pucat pasi. "Kenzo... Ayah... Ayah disandera..."

Kenzo mencengkeram ponsel itu erat-erat sampai layarnya retak. Matanya memancarkan kemarahan yang begitu pekat, siap membakar siapa saja yang berani mengusik keluarganya. Permainan catur sang kakek ternyata telah disusupi oleh ular berbisa yang sesungguhnya, dan malam ini, di atas gunung yang dingin ini, Kenzo harus memilih antara menyelamatkan takhta bisnisnya atau nyawa mertuanya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!