Slow update..
Athifah Farihan cantik dan periang, dua kata yang pertama kali orang lihat dari gadis tersebut, terlahir dari keluarga sederhana, membuatnya harus putus sekolah dan membantu perekonomian keluarga demi kedua orang tuanya
Muhamad Ahnaf Baqir tampan dan shalih, berasal dari keluarga yang cukup berada tak membuatnya sombong, di tambah dirinya sebagai lulusan salah satu pesantren membuatnya tidak pernah membedakan orang dari derajatnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegundahan masih berlanjut
Sudah beberapa malam Thifah tidur tidak nyenyak seperti biasanya, semenjak ia memimpikan ayahnya yang sakit, kini ia juga sering mimpi buruk tentang dirinya
Seperti malam ini ia terbangun di jam yang sama seperti tiap malam ia terbangun. Setelah sholat tahajud seperti malam malam biasa ia lanjutkan dengan mengaji. Selesai mengaji kembali ia menumpahkan isi hatinya pada sang pemilik hati
Waktu ini lah yang sering ia tunggu di mana ia bisa berduaan dengan sang pencipta, ia dengan leluasa curhat menumpahkan semua kegundahan yang bersemayam di hati dan fikirannya
"Ya Allah hamba tidak tau apa yang sedang Engkau rencanakan pada hidup hamba, hamba pasrah akan semua takdir yang Engkau tuliskan pada hamba dan keluarga hamba, tapi hamba mohon pada-Mu ya Rabb, apapun itu bagaimana pun nanti berilah hamba dan suami hamba keihlasan agar lebih kuat menghadapi cobaan yang Engkau berikan
ي عَبْدُكَ، وَابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي، وَنُورَ صَدْرِي، وَجِلَاءَ حُزْنِي، وَذَهَابَ هَمِّي
”Ya Allāh , sesungguhnya diri ini adalah hamba-Mu, anak dari hamba laki-laki Mu, dan anak dari hamba perempuan-Mu, Ubun-ubunku berada dalam genggaman-Mu, Hukum-Mu telah berjalan, dan keputusan-Mu merupakan keputusan yang adil, Aku memohon dengan seluruh nama-nama-Mu, yang engkau namai diri-Mu, atau nama yang engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau telah engkau ajarkan kepada seseorang dari hamba-Mu, atau nama yang masih engkau simpan disisi-Mu, jadikan Al-Qur’an sebagi penentram jiwaku, cahaya hatiku, pelenyap duka dan lara ku.”
Selesai berdoa Thifah melipat muken dan sajdahnya, ia kembali ke atas ranjang di mana suaminya masih tertidur pulas
Perlahan tangannya terulur mengusap pipi sang suami yang sudah di tumbuhi bulu bulu halus, Air matanya mulai menetes membayangkan jika suatu hari ia harus hidup terpisah dengan suaminya pasti akan sangat sulit dan sekedar membayangkannya saja ia tidak sanggup bagaimana rasa sakit yang ia harus alami jika itu benar benar terjadi. Thifah kembali berbaring di samping suaminya ia mendekatkan tubuhnya supaya lebih rapat dengan badan suaminya itu, merasakan ada yang mendusel Naf menarik tubuh yang kini sedang mencari kenyamanan di sana. Di rasa mulai nyaman Thifah kembali terlelap bersama suaminya
******
Naf beridiri di hamparan pasir putih yang terbentang luas, di depannya laut biru terbentang terdengar deburan ombak menyapu pasir dan karang yang berdiri kokoh tak bergeming
Tak lama ia mendengar seseorang memanggilnya dari arah belakan, ia berbalik melihat istrinya dengan gamis putih menjuntai menyapu pasir dengan hijab syar'i yang menutupi kepalanya, di sampingnya berdiri seorang anak pemuda kecil dengan wajah tampan dan persis dirinya bak duplikatnya. Anak itu menggandeng tangan Thifah erat
Naf mengernyitkan keningnya, bukankah istrinya masih hamil dan usia kandungannya baru memasuki bulan ke enam, tapi ini kenapa perutnya rata dan siapa anak kecil yang kini bersama istrinya itu
"Mas" suara Thifah menyadarkan Naf dari lamunannya
"Kenapa melamun? Apa yang mas fikirkan?" tanyanya kembali saat melihat Naf masih belum merespon ucapannya
Naf tersenyum kemudian menggeleng, ia masih menatap istrinya dengan anak kecil disampingnya secara bergantian
"Unda tu capa?" tanya kecil itu dengan nada cadelnya, anak itu masih sangat kecil sekitar 4 tahun
"Sayank" Thifah berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan anak laki laki itu "Itu ayah mu sayank, ayah yang membuatmu lahir ke dunia ini"
"Ayah.. " jawabnya ragu ia menatap Naf yang kini tengah menatap dirinya juga "Ayah Athee" anak itu menunjuk dirinya sediri
Thifah mengangguk "Iya ayah beliau ayah Fathee, peluklah beliau Nak" Thifah mengusap lembut pucuk kepala anaknya
Mata anak itu kelihatan berbinar tanpa ragu ia lari memeluk kaki Naf yang masih kokoh berdiri di tempatnya, perlahan Naf menunduk ia membalas pelukan anak laki laki itu, setelah beberapa saat mereka berpelukan, Naf mengagandeng tangan kecil itu menghampiri istrinya yang tengah menatap mereka dengan bibir tersenyum manis
"Sayank, ia.. "
"Dia anak kita mas, anak yang adek kandung, namanya Ammar Fathee Karim, tampan ya mas, sangat persis dengan mas, mas adek tidak bisa lama, mas jaga diri baik baik selama adek pergi, jaga kesehatan mas, jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan dan simpan kami di dalam hati mas" setelah mengucapkan kalimat panjangnya Thifah mengambil alih tangan anak itu dari suaminya
Naf terpaku di tempatnya ia tidak dapat mengatakan apa apa, lidahnya kelu, suaranya terasa tersendat tidak dapat keluar. perasaannya campur aduk antara bingung dan heran, tapi entah kenapa hatinya serasa hancur mendengar yang di ucapkan Thifah barusan ia merasa seakan mereka akan berpisah
"Sayank, ayo ucapkan salam pada ayah kita harus pergi sekarang" anak itu menurut ia kembali mendekati Naf dan mengambil tangannya kemudian mengucap salam
"Adek pergi mas, Assalamualakum " Thifah dan Fathee berjalan meninggalkan Naf tanpa menunggu jawaban salam dari suaminya
"Waalaikum salam" Naf tersadar setelah Thifah hilang dari pandangannya
"Adek.. Sayank.. Sayank.. Kamu di mana? Jangan tinggalin mas sendirian...