Ingatan akan hidup seorang wanita muda di masa lalu tiba-tiba menerpa Elena. Kisah cintanya dengan sang suami, kematian tragis mereka, hingga seucap janji yang diikrarkan sang wanita di detik-detik terakhir kematiannya, semua terekam jelas di memori gadis berusia 18 tahun itu.
Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa wanita itu? Dan, apa yang akan Elena lakukan saat mengetahui, bahwa suami dari wanita yang ada dalam ingatannya tersebut, adalah kakaknya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim O, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 : Kandas.
Langit telah sepenuhnya berbalut malam, saat Albern tiba di kediaman keluarga Wileen. Pria itu memang sengaja menjemput Elena untuk sebuah kencan romantis yang sudah direncanakan.
Lelaki berusia dua puluh satu tahun itu melangkah keluar dari mobil, lalu mendekati Elena yang telah berdiri di beranda dengan senyum manis yang tampak dipaksakan.
“Maaf, aku sedikit terlambat,” ucap Albern sembari mengecup bibir Elena dengan lembut.
Elena hendak menghindari, tetapi pria itu telah menahan pinggangnya.
Elena terdiam. Meski kepalsuan kembali datang, Elena tetap berusaha menjalani segalanya sesuai dengan alur yang ada. Mungkin saja, kencan ini bisa mengembalikan degup jantungnya yang telah tiada.
Albern kemudian masuk ke dalam rumah untuk menyapa kedua orang tua Elena dan memohon izin.
“Hati-hati, Sayang. Aunty titip El,” pesan Samantha, lembut.
“Baik, Aunty,” jawab Albern sambil membungkukkan tubuhnya sopan. Keduanya pun berangkat, melaju menuju sebuah restoran mewah yang telah Albern pesan untuk malam indah mereka.
...***...
"Bagaimana makanannya? Enak?" tanya Albern pada Elena yang sibuk memakan hidangannya dengan tenang.
Elena mengangkat kepalanya dan membalas tatapan Albern. "Enak sekali. Terima kasih sudah mengajakku kemari," ucap gadis itu ramah.
Albern menganggukkan. Ia mengambil garpu Elena dan meletakkannya di atas piring, sebelum kemudian mengecup tangan kanan sang kekasih dengan penuh cinta.
Albern tengah berusaha memberikan seluruh perhatiannya pada gadis itu. Ia juga tak henti-hentinya memuji kecantikan yang terpahat indah di wajah Elena.
Hal-hal yang dilakukan Albern saat ini, mungkin saja bisa membuat Elena jatuh lebih dalam pada pesonanya, tapi tidak sekarang.
Elena hanya bisa memandang Albern seraya menggumamkan kata maaf berkali-kali dalam hatinya.
Sesaat setelah menghabiskan menu makan malam utama, beberapa orang waitress kemudian datang menghampiri meja mereka untuk mengambil piring kosong, sekaligus menghidangkan makanan pencuci mulut.
"Makanlah," titah Albern. Matanya memandang Elena penuh arti.
Tanpa merasa curiga, Elena memakan ice cream tiramisu berlapis emas yang menjadi makanan pencuci mulut mereka.
Baru suapan pertama, gadis itu hampir saja tersedak setelah merasakan ada sesuatu benda keras yang mengganjal mulutnya.
Dengan sigap Albern mengulurkan mangkok kecil berisi air yang memang telah tersedia di sana.
Elena terkejut. Benda yang hampir membuatnya tersedak jtu ternyata merupakan cincin berlian cantik berwarna ungu.
Albern langsung mengambil cincin tersebut dan meminta Elena untuk mengulurkan tangan kirinya.
"Sejak awal hubungan kita, aku tak pernah ingin bermain-main, El. Mungkin, pernikahan tak bisa kita lakukan sekarang, tetapi izinkan aku untuk mengikatmu dalam sebuah ikatan pertunangan." Albern mengelus tangan kiri Elena.
"Maukah kamu bertunangan denganku Elena Odelia Wileen?" tanya Albern dengan mimik muka serius.
Elena termangu. Perasaan bersalah mulai menggulung-gulung memenuhi benak gadis itu. Andai tak ada Iris di dalam dirinya, ia pasti sudah menangis bahagia saat ini.
Namun, jangankan menangis bahagia, sepatah kata pun tak mampu ia keluarkan untuk menjawab ungkapan cinta Albern.
Dipikirannya saat ini malah terbayang sosok Evans, dan kebersamaan mereka pada hari-hari di masa lalu.
Elena tak bisa menahan air matanya lagi.
Melihat itu, Albern mengira segalanya telah kembali. Elena terharu dengan segala sikapnya malam ini, dan tanpa berkata apa-apa lagi, ia menyematkan cincin berlian tersebut di jari manis kiri Elena, sebelum kemudian memeluknya erat.
Suara tepuk tangan dari para pengunjung restoran bergema sedetik setelahnya. Ternyata, sedari tadi mereka menjadi bahan tontonan para pengunjung di sana.
Albern tertawa dan membungkukkan badannya. Dengan penuh sayang pria itu menghapus air mata yang semakin mengalir membasahi pipi Elena.
...***...
Di sepanjang perjalanan pulang, Albern menyadari sikap Elena yang sedikit lebih pendiam. Sebenarnya, ia sudah berusaha mengabaikan sikap gadis itu, tetapi suasana di dalam mobil yang mendadak canggung membuatnya tak bisa menahan diri untuk tidak angkat bicara.
"Ada apa? Kamu terlihat murung sekali? Apa kamu tidak menyukai pertunangan kita?" tanya Albern tanpa basa-basi.
Elena yang sedang menatap jalanan kemudian menoleh ke arah Albern. Gadis itu mengelus lembut cincin mewah yang tersemat di jari manisnya.
"Bukan itu. Aku hanya masih merasa sedikit syok dan terkejut akan tindakanmu," jawab Elena berbohong.
Mendengar jawaban itu, Albern mencari jalan yang cukup lengang dan kemudian menepikan mobilnya di sana.
"Kenapa berhenti?" tanya Elena.
Albern tidak menjawab. Ia malah menatap Elena dingin. Keduanya sempat dilanda keheningan sejenak.
"El, apa kamu sadar, sejak siuman, sikapmu berubah drastis padaku? Ada apa? Apa yang terjadi padamu sebenarnya?" Rentetan pertanyaan diajukan oleh Albern tanpa basa-basi.
"Aku masih tetap Elena yang dulu, Al," jawab Elena.
Albern tertawa kecil. "Kamu tak bisa berkilah, El. Bahkan, ketika kamu mengatakan hal barusan, aku tahu itu adalah kebohongan!"
Elena terdiam.
"Aku tak tahu apa yang terjadi padamu sebenarnya. Aku mencoba untuk tidak menyadari perubahan itu dan tetap menjalani semua seperti biasa. Namun, hubungan kita malah semakin terasa dingin dan hambar." Albern terlihat mengeratkan gigi-giginya.
"Bukan begitu, aku—"
"Biarkan aku menyelesaikannya dulu!" potong Albern tegas
Elena kontan terdiam.
Albern menarik napasnya yang mulai terasa berat. "Kamu tak pernah lagi menghubungiku lebih dulu, kita juga tak pernah lagi banyak berbincang ketika bertemu. Mungkin, kamu merasa aku tidak serius menjalin hubungan ini, mengingat kita tak pernah melakukan apa-apa. Oleh sebab itu, untuk membuktikan keseriusanku, aku berniat mengikatmu!" kata pria itu panjang lebar. Sirat kekecewaan tercetak jelas di wajah tampannya.
"Tapi, kalau kamu memang mau mengakhiri semua ini, aku akan menerimanya. Itu mungkin saja satu-satunya jalan terbaik bagi kita berdua. Aku tak ingin melihatmu terkekang menjalin hubungan denganku, tapi, tolong ... katakan alasan yang sebenar-benarnya, El!" Albern menatap Elena dengan pandangan menuntut.
Mendengar semua perkataan Albern, Elena menangis. "Aku tidak tahu, Al. Semua terjadi begitu saja. Kamu tak akan mengerti sekali pun aku menjelaskan semua dengan benar."
Albern menatap Elena penuh luka. Jawaban gadis itu, secara tidak langsung membenarkan kecurigaannya selama ini.
"Siapa El? Siapa pria yang telah menggantikan posisiku di hatimu?" desak Albern.
Pria itu menerka, bahwa ada seorang pria yang setia menemani Elena selama ia koma, walaupun Albern sama sekali tidak pernah melihat orang tersebut, mengingat ia juga cukup sering datang ke rumah sakit.
Elena menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu, Al. Ini sulit bagiku," ujar gadis itu.
"Ini juga sulit bagiku, El!" seru Albern.
Elena tersentak. Gadis itu melepaskan cincin pertunangan yang baru satu jam lalu disematkan Albern, dan meletakkannya di dasboard mobil.
"Maafkan aku." Hanya itu ucapan terakhir Elena, sebelum benar-benar pergi meninggalkan Albern seorang diri.
Albern berteriak sembari memukul-mukul setir mobilnya. Ia bahkan mengempaskan cincin Elena dari dashboard mobil tersebut.
"Aku tak akan pernah melepaskanmu, El. Kau milikku!" seru Albern dingin, sembari terus menatap sosok Elena yang sudah hilang dari hadapannya.