IG. suliani_cucu
Warning 18+
Kekurangan harta membuat Aldo rela menjadi pemuja Nyai Ratu, siluman ular hutan terlarang.
Semua terjadi karena sebuah penolakan yang terjadi saat Aldo ingin meminang kekasih hatinya, pak Didi bukan hanya menolak lamaran dari Aldo. Namun, dia menghina dan mencaci maki Aldo yang memang hanya orang biasa.
Akankah dia mendapatkan kebahagiaan dengan cara sesat yang dia tempuh?
Yuk kepoin kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Ingat
Pukul satu siang Arumi terlihat menggeliatan tubuhnya, dia juga terlihat berusaha untuk membuka matanya yang terasa sangat berat.
Arumi mencoba untuk menggerakkan tubuhnya, namun terasa tidak bisa karena rasanya semua anggota tubuhnya terasa remuk redam.
Bahkan dia merasa jika area intinya kini terasa sangat sakit dan juga perih, hanya sedikit menggeserkan bokongnya saja Arumi merasa area intinya sobek.
"Ya Tuhan, sakit sekali! Apa aku dan Mas Aldo sudah melakukannya? Kenapa aku tidak ingat sama sekali?" tanya Arumi lirih.
Arumi terlihat mengedarkan pandangannya, dia mencari sosok lelaki yang sudah menjadi suaminya.
Namun, sejauh matanya memandang, dia tidak menemukan Aldo. Arumi lalu melirik jam digital yang berada di atas nakas, alangkah kagetnya dia karena ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 13.06 siang.
"Ya Tuhan, aku bahkan bangun kesiangan. Aku tidak bekerja, bagimana ini?" tanya Arumi bingung.
Arumi benar-benar merasa sangat bingung, kenapa ini bisa terjadi terhadap dirinya. Padahal yang dia ingat, dia begitu bahagia saat menikah dengan Aldo.
Dia begitu bahagia saat datang ke hotel dan mulai bercumbu dengan lelaki yang sudah menjadi suaminya itu, namun tiba-tiba saja dia merasa hilang kesadaran saat bercumbu dengan Aldo.
Saat Arumi sedang dilanda kebingungan, tiba-tiba saja pintu kamar hotel tempat mereka melakukan malam pertama terbuka.
Tampaklah Aldo yang datang dengan membawa satu kantong plastik kecil di tangannya, dia tersenyum saat melihat Arumi sudah bangun.
Aldo melangkahkan kakinya, lalu dia melangkahkan kakinya untuk menghampiri Arumi, istrinya.
Lalu, Aldo duduk tepat di samping istrinya tersebut. Dia elus puncak kepala istrinya, lalu dia kecup dengan lembut.
"Kamu sudah bangun, Sayang?" tanya Aldo.
Arumi tersenyum kala mendapatkan perhatian dari lelaki yang kini sudah menjadi suaminya tersebut, dia bahagia.
"Sudah, Mas. Tapi, untuk bangun saja rasanya badan aku terasa sakit semua. Ininya juga sangat sakit, apakah kita tadi malam sudah melakukannya?" tanya Arumi dengan wajah bingungnya, dia juga terlihat mengusap miliknya seraya meringis.
Sebenarnya Aldo merasa sangat kasihan terhadap Arumi, karena walau bagaimanapun juga, ini adalah kesalahannya.
Kalau saja dia tidak memuja Nyai Ratu, mungkin saja Nyai Ratu tidak akan memasuki tubuh Arumi.
Mungkin saja Nyai Ratu tidak akan merasa cemburu dan memasuki tubuh Arumi, pikirnya.
Ya, Aldo merasa jika Nyai Ratu cemburu terhadap Arumi. Dia terlihat berbeda kala menatap wajah Arumi.
Mungkin benar apa yang dikatakan oleh banyak orang, jika manusia sudah menjadi seorang pemuja dari siluman ular, maka dia akan menjadi pasangannya dan siluman ular tersebut akan merasa cemburu jika dirinya memiliki pasangan lain selain siluman ular tersebut.
Namun, nasi sudah menjadi bubur. Aldo tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia hanya bisa pasrah dengan apa yang Nyai Ratu mau.
"Ya, tadi malam kita sudah melakukannya. Kita melakukannya dengan sangat luar biasa, bahkan kita melakukannya sampai pagi," kata Aldo.
Mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, Arumi terlihat mengernyitkan dahinya.
Heran ?
Tentu saja dia merasa sangat heran, dia tidak merasakan sama sekali yang namanya rasanya seperti apa malam pertama. Yang dia rasakan saat ini hanyalah badannya terasa remuk redam, area intinya terasa luka.
"Masa sih, Mas? Setahu aku, malam pertama itu awalnya akan terasa sangat sakit. Namun lama-kelamaan akan terasa nyaman dan juga nikmat, lalu... kenapa aku tidak merasakan apa pun?" tanya Arumi.
Untuk sesaat Aldo terdiam, dia sedang memikirkan jawaban apa yang tepat yang harus diucapkan kepada istrinya tersebutm
Tidak lama kemudian, Aldo nampak tersenyum. Dia mengelus lembut puncak kepala istrinya, lalu mengecup keningnya dengan penuh kasih.
"Mungkin karena kamu semalam terlalu bersemangat, jadinya kamu sampai melupakan apa pun yang sudah terjadi," jawab Aldo.
"Lalu, bagaimana ini? Aku sampai tidak bekerja, aku takut nanti akan terjadi masalah," kata Arumi.
"Tidak usah khawatir, Sayang. Aku sudah pergi ke Rumah Sakit dan meminta izin untukmu, aku bahkan membelikan obat ini untukmu," kata Aldo seraya menunjukkan kantong plastik yang dia bawa.
Ya, Aldo membeli obat anti nyeri dan juga antibiotik untuk Arumi, dia juga membeli obat berbentuk sabun yang bisa dipakai ketika Arumi membasuh area intinya.
Tentunya hal itu Aldo lakukan agar Arumi merasa lebih baik, lebih nyaman dan lukanya cepat kering.
"Terima kasih, Mas. Kamu memang sangat perhatian," kata Arumi tulus.
"Ya, Sayang. Tunggulah sebentar, Mas akan menyiapkan makanan untukmu. Sebelum pergi, tadi Mas sudah memesan makanan. Mas akan menghangatkannya terlebih dahulu," kata Aldo.
Arumi terlihat menganggukkan kepalanya, dia tetap saja merebahkan tubuhnya tanpa berniat untuk bangun. Karena tubuhnya benar-benar terasa remuk redam.
Aldo paham, sangat-sangat paham. Ini semua pasti karena tubuhnya yang semalam dipakai oleh Nyai Ratu.
Aldo terlihat menghangatkan makanan yang sudah dia pesan, agar Arumi bisa menikmati makanannya. Tak lama kemudian, dia memberikannya kepada Arumi.
"Makan dulu ya, Sayang. Mas bantu kamu untuk bangun," kata Aldo.
"Iya, Mas," jawab Arumi.
Aldo membantu Arumi untuk duduk, kemudian Aldo menyuapi Arumi dengan telaten. Setelah itu, dia memberikan obat kepada Arumi yang sudah dia beli.
Arumi tersenyum, karena Aldo sangat perhatian terhadap dirinya. Padahal hal itu dia lakukan, selain cinta juga karena rasa bersalahnya terhadap Arumi.
"Terima kasih, Mas. Untuk segala perhatiannya, aku tidak salah menjadikan kamu sebagai suami aku," kata Arumi.
Hati Aldo tidak bahagia begitu saja, justru dia merasakan sangat sakit yang teramat kala Arumi mengatakan hal tersebut.
Justru saat ini dia merasa sangat-sangat bersalah terhadap Arumi, karena dirinyalah kini Arumi terlihat sangat kesakitan.
Dia bahkan sempat kebingungan, bagaimana cara dia mengantarkan Arumi nanti sore ke rumah pak Didi?
Apakah dia harus menampakan diri langsung di hadapan pak Didi dan berkata jika dia sudah menikahi putrinya?
Atau dia harus tetap mengikuti permintaan dari Arumi? Menutupi pernikahan mereka?
sungguh Aldo sangat dilema, apalagi melihat keadaan Arumi yang seperti ini. Rasanya dia meras sangat tidak tega untuk membiarkan Arumi kesakitan sendirian.
Ingin rasanya dia terus mendampingi Arumi, Ingin rasanya dia merawat Arumi sampai sembuh. Karena walau bagaimanapun juga, ini terjadi karena ulah dirinya.
"Justru aku yang sangat bahagia karena memiliki istri secantik dan sebaik kamu, Sayang. Maaf karena aku masih jauh dari kata sempurna," kata Aldo.
*
*
Masih berlanjut....
Semoga kalian selalu suka dengan cerita Othor yang satu ini, semoga banyak pelajaran hidup yang kita bisa ambil dari cerita yang satu ini. Jangan mudah terpengaruh, jangan mudah terbawa napsu.
Perbanyaklah bersyukur, jangan terlalu banyak mengeluh. Hidup sudah pasti pasang surut, semangat!!