Sejak kami kedatangan tetangga baru, kampung yang begitu tenang kini berubah menjadi mengerikan. Semua orang takut keluar rumah ketika malam. Makhluk tak kasat mata tidak pernah berhenti datang siang maupun malam. Bahkan mereka mengambil nyawa orang-orang satu per satu.
Kami bahkan tidak tau apa penyebabnya. Tiba-tiba sakit dan langsung di kabarkan sudah meninggal. Bahkan di tubuh mayat mempunyai bekas telapat tangan yang berwarna keunguan.
Pertanda apa semua ini, aku yang mempunyai kemampuan mengobati, tidak bisa berbuat apapun. Meski aku sering melihat makhluk tak kasat mata, tetapi aku begitu takut. Karena energi mereka begitu besar.
Apa yang harus aku lakukan?
Apa yang harus dilakukan warga di kampungku?
Kami merasa takut ketika setiap bulan, berjatuhan korban yang meninggal. Kepanikanku bertambah ketika adikku sakit, aku khawatir adikku akan seperti korban lain yang hanya mengalami sakit demam dan langsung meninggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UNI NANNI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Kakek Tua Ini?
Pocong yang mengejarku dan ana, sudah pergi, setelah mendengar teriakan kakek tua.
Aku dan ana heran, pocong tersebut terlihat menurut pada sang kakek tua.
"Kalian tidak apa-apa nak?" tanyanya, yang menghampir kami dan melihat kondisiku.
"Tidak apa-apa kek, hanya jangtungku yang bermasalah," jawab ana.
"Memangnya, kenapa bisa ada di sini, malam-malam begini?" tanya kakek tua.
"Kami mau ke desa seberang kakek, hanya singgah di gubuk dekat sini untuk menginap," sahutku.
"Benar kek, kami mau ngecek, tempat ini aman atau tidak." Lanjut ana.
"Tapi, kalian salah sasaran jika pergi ke desa seberang," perkataan sang kakek, membuatku terkejut. Aku tidak mungkin salah jalan, walau belum pernah ke desa seberang. Tetapi, tidak ada jalan lain lagi.
"Maksud kakek?" Aku memberanikan diri bertanya.
"Kalian tidak seharusnya ke desa seberang. Di sana, banyak hantu, arwah gentayangan, dan masih banyak lagi misteri di sana." Kata kakek tua, memberiku penjelasan.
"Tapi kek, kami tidak punya jalan lain. Aku harus ke desa seberang untuk mencarikan obat bagi temanku," kataku.
"Kakek hanya bisa berdoa, semoga kalian semua selamat sampai tujuan." Kata sang kakek sambil tersenyum. Aku begitu tidak tenang, melihat senyumannya sangat mengerikan.
"Kek, kami mau kembali di gubuk. Teman-teman pasti sudah mencari," kata ana, yang mengakhiri pembicaraan.
"Biar kakek temani, biar pocong yang menganggu kalian tidak berani mendekat lagi," kata kakek tua, yang berjalan di depan kami.
Aku akhirnya sampai dengan selamat ke gubuk, dan teman-temanku masih setia mengobrol. Adikku dan fani sudah tertidur pulas.
"Eh, kalian sudah pulang? kenapa lama sekali?" tanya dion yang melihat kedatanganku dengan ana.
"Maaf, ada kendala." kataku, menjawab. Aku berbalik, bermaksud memperkenalkan kakek tua pada dion dan rahmat. Tetapi, kakek tua sudah tidak ada di belakangku.
"Ana, kakek kemana?" tanyaku, sambil menunjuk tempat di mana kakek berdiri sebelumnya.
"Iya, dia tiba-tiba menghilang," kata ana, yang terkejut.
"Kakek siapa?" Dion dan rahmat bingung. Dia tidak mengerti apa yang aku dan ana katakan.
"Tadi, ada kakek yang antar aku ke sini. Tapi kok, hilang begitu saja? tidak pamit atau permisi," Kataku, yang curiga.
"Jangan-jangan, kakek itu hantu?" Kata dion, yang mengubah suasana menjadi seram.
"Jangan bercanda dion, tidak mungkin kakek tua hantu," kata ana membela.
Aku hanya diam sambil berpikir. Wajah kakek terlihat menyeramkan, bisa jadi dia seorang hantu. Apalagi, dia tidak takut dengan pocong dan malah berteriak pada pocong untuk mengusirnya.
"Ana, apa kamu tidak merasa aneh?" tanyaku, yang membuat ana menoleh ke arahku.
"Aneh gimana?" tanya ana.
"Nah, luis saja percaya. Kakek yang kalian maksud hantu," Dion semakin membesarkan suaranya. Membuat fani dan adikku terbangun dari tidurnya.
"Hantu, hantu di mana?" tanya fani, sambil melihat sekeliling.
"Bukan, aku pikir kakek tua mempunyai kekuatan mengusir hantu. Kenapa kita tidak mencarinya dan mengajak dia ikut denfan kita di desa seberang?" kataku dengan ide cemerlang.
"Katanya, di desa seberang banyak hantu, dan bahkan banyak arwah gentayangan." Lanjutku, mengingat perkataan kakek tua.
"Bagus, kita sekalian tanyakan, apa dia hantu atau bukan?" tanya rahmat. Dia pikir, semudah itu hantu mengaku, manusia saja tidak mau buka mulut.
"Jadi, kalian semua mau mencari kakek tua?" Tanya ana, yang membuat kami semua mengangguk.
Aku, dan yang lain, beramai-ramai masuk ke hutan. Tetapi, semakin dalam kami berjalan, semakin banyak suara aneh yang terdengar. Aku mulai kebingungan. Perasaan, aku dan ana tidak masuk ke hutan sejauh ini.
"Ana, kita mungkin salah jalan," tanyaku seketika, membuat kami semua berhenti.
"Maksudmu?"
"Kita tidak berjalan sejauh ini tadi, Hanya di bagian depan hutan saja, tetapi kita sudah sangat dalam di hutan sekarang dan kakek tua tidak terlihat sama sekali," kataku.
"Sudah aku duga, dia itu hantu bukan manusia," Kata dion, yang membuat kami semua terkejut. Suaranya begitu nyaring dan keras.
"Jangan buat kaget juga kak," Sahut idar.
"Ya sudah, kita kembali saja," Perintah ana.
Kami berbalik arah dan berjalan kembali. Tetapi suara burung hantu tepat di atas kami membuat keadaan semakin buruk. Suasana yang menakutkan begitu mencekam. Aku tidak tahu, kenapa berubah mendadak.
"Kak, aku mulai takut. Bulu kudukku merinding," Bisik adikku, sambil mendekat ke arahku.
"Tenang, semuanya baik-baik saja." kataku, memperhatikan sekeliling.
"Kenapa malah kita berhenti, kita harus cepat pulang," Teriak fani.
Kami tetap lanjut berjalan, walau banyak suara aneh terdengar. Burung hantu, semakin banyak di atas kami. Dan kelelawar yang tidak kami jumpai tadi, kini bertebaran menyentuh kami.
"Apa-apaan sih ini, banyak kelelawar yang tidak masuk akal," protes rahmat.
Semak-semak yang berada di samping kami, bergoyang dengan sendirinya. Aku semakin terkejut, ketika melihat tidak hanya satu semak yang bergoyang. Tetapi, semua semak yang berada di sekeliling kami bergoyang.
"Ada makhluk apa di sana?" tunjuk idar. Ternyata, adikku memperhatikannya dari tadi. Aku hanya diam, tidak ingin membuat suasana semakin menakutkan.
"Kalian..." Teriak seseorang yang bersuara lelaki. Aku dan yang lain menoleh ke sumber suara, tetapi tidak melihat seseorang pun.
Aku menelan ludah pahit, kali ini membuatku semakin takut. Terlebih, terdengar suara hentakan kaki yang menghampiri kami. Suaranya terdengar begitu jelas.
"Kita memang orang bodoh." Kataku.
Ana, dion, rahmat, fani, dan adikku melihat ke arahku. Mereka meminta penjelasan dengan perkataanku barusan.
"Kenapa kita harus berdiri mematung di sini, apa yang kita tunggu?" tanyaku.
Kami semua kembali ke gubuk, tetapi sosok putih dengan kain kafan yang sudah rapi di ikat di tubuhnya, datang menyambut kami.
"Ciluk... ba..." Katanya, dengan tersenyum manis melihat kami.
"Po..pocong.." teriak idar dan fani lebih dulu. Mereka akhirnya berlari ke jalan. Meninggalkan aku dan ana yang masih berdiri memperhatikan pocong di depan kami.
Aku sudah bertemu dengannya, jadi tidak terlalu terkejut melihat kedatangannya. Yang membuatku aku berdiri mematung, kakek tua yang kami cari duduk dengan santai di gubuk tanpa menoleh ke arah kami. Sementara, pocong sedari tadi berdiri di belakangnya.
"Hei, ayo lari..." Teriak dion dan rahmat.
Aku dan ana berlari, sambil terus menegok ke belakang melihat wajah kakek tua yang menatapku tanpa ekpresi.
"Apa aku salah, jika kakek tua adalah manusia?" batinku di dalam hati.