Deg, Alea tertegun ketika melihat dokter baru diapotek tempatnya bekerja. Yang diperkenalkan anak bosnya. Wajahnya mengingatkan akan cinta pertamanya diwaktu SMA yang pergi tanpa kabar selama delapan tahun.
Wajah yang sama tapi nama yang berbeda. Apa Alea sudah salah mengenal orang. Dia sangat yakin kalau dokter didepannya adalah
orang yang dulu teman sakaligus orang yang dia cintai. Tidak ada beda sedikitpun dari wajahnya.
Namanya dokter Haikal Fernanda. Dokter spesialis penyakit dalam yang baru datang dari kota. Dia hanya menatap dingin ke semua karyawan ketika memperkenalkan diri. Tanpa melihat sedikitpun ke arah Alea.
Mengapa dia tidak mengenali Alea?
Apa lamanya waktu berpisah membuatnya melupakan Alea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dia Mardiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part#34
''Alhamdulillah'' ucap mereka serentak senang. Membuat Alan yang berhenti disana binggung.
''Ada apa kak?'' tanya Alan menghampiri Alea masih binggung. Dia juga melihat kearah mobil yang ada didepan Alea.
''Ayo cepat kesini, jangan banyak tanya'' panggil Alea. Alan masih belum mengerti dengan situasinya. Tiba-tiba Alea sudah memberinya sebuah salep.
''Kamu masuk kemobil, oleskan salep ini'' kata Alea lagi mendorong Alan masuk kedalam mobil.
''Tapi...''
''Udah gak usah banyak tanya. Kakak gak mungkin mengoleskan salep ini'' potong Alea lagi. Alan masuk kedalam mobil. Dilihatnya Haikal tidak pakai baju sambil mengosok-gosok punggungnya. Wajahnya memerah menahan perih. Ternyata ada beberapa bekas gigitan semut yang membuat kulit punggungnya jadi merah.
''Kenapa dok?'' tanya Alan penasaran.
''Digigit semut'' jawab Haikal.
''Kok bisa?'' tanya Alan lagi.
''Udah oleskan cepat, kamu jangan banyak tanya kasihan pak dokter dari tadi menahan gatal dan perih'' teriak Alea dari luar mobil.
''Iya, maaf ya dok saya bantu mengoleskan salepnya'' ucap Alan. Haikal hanya mengangguk. Alan kemudian mengoleskan salep ditempat bekas gigitan semut.
''Banyak juga yang digigitnya'' ucap Alan.
''Pantasan terasa perih sekali'' jawab Haikal.
''Sudah selesai dok, anda bisa pakai baju kembali'' ucap Alan.
''Iya, makasih'' jawab Haikal.
Alan keluar dari dalam mobil. Alea masih menunggu diluar mobil.
''Gimana?'' tanya Alea.
''Udah beres, kenapa sampai digigit semut?'' tanya Alan masih penasaran.
''Karna bersandar dipohon mangga'' bisik Alea.
''Ooo'' ucap Alan tanda mengerti. Haikal keluar dari dalam mobil setelah selesai memakai bajunya.
''Apa sudah baikan dok?'' tanya Alea melihat wajah Haikal masih kurang baik.
''Sudah'' jawab Haikal.
''Bagaimana kalau kita masuk dulu'' ajak Alan.
''Iya, biar saya buatkan teh panas'' ucap Alea.
Karena sudah ada Alan, Haikal setuju masuk kedalam rumah. Sampai didalam rumah Alea segera kedapur membuatkan teh panas untuk mereka.
Sedangkan Haikal dan Alan duduk diruang tamu.
Alea datang membawa tiga cangkir teh panas. Mungkin karna haus Haikal tanpa basa basi langsung minum teh.
''Hati-hati pa...'' ucapan Alea terputus
''Aww panas'' ucap Haikal sambil meletakan kembali tehnya.
''Iya panas pak dokter. Namanya teh panas bukan teh es'' jawab Alea lagi.
''Iya'' ucap Haikal singkat
''Hehe, anda lucu dok'' Alan tertawa.
''Huss, kamu gak baik menertawain orang tua'' tegur Alea serius.
''Enak saja bilang saya tua'' Haikal Protes.
''Hmm'' Alea tersenyum kecut.
''Gimana kerjamu Al, udah selesai?'' tanya Alea mengalihkan pembicaraan.
''Udah kak. Tadi hanya memasukan data saja ke komputer. Programnya sudah kami buat sebelumnya'' jawab Alan.
''Udah dapat uang dong?'' tanya Alea.
''Belum, besok baru diberikan bang Frans'' jawab Alan.
''Kamu kuliah jurusan apa?'' tanya Haikal tidak mau dicuekin.
''IT Dok'' jawab Alan.
''Saya ada buku tentang itu dikota. Kapan saya pulang saya bawain kesini. Dulu saya ingin mengambil kuliah jurusan tersebut. Tapi mama saya ingin saya kuliah di kedokteran'' jelas Haikal.
''Benaran dok?'' tanya Alan antusias. Haikal mengangguk
''Anda anak yang penurut sekali'' puji Alea.
''Sebenarnya bukan karna itu. Tapi ada alasan dibalik semuanya'' jawab Haikal.
''Alasan apa?'' tanya Alea.
''Tidak bisa saya jelaskan'' jawab Haikal. Alea kecewa.
''Tidak semua alasan bisa dijelaskan kak. Seperti kakak yang masih menunggu orang sampai sekarang. Padahal dia tidak ada kabarnya'' ucap Alan.
''Iss kamu sok tahu'' bantah Alea.
''Buktinya sampai sekarang kakak tidak pernah jalan sama laki-laki. Apalagi kata kak Raisa kakak masih menunggu cinta pertama kakak itu. Dia sangat mirip dengan dokter Haikal kan? Atau dokter kembarannya?'' tanya Alan. Haikal terdiam dengan tebakan Alan.
''Alan... Kamu bisa diam tidak. Kakak tidak menunggunya'' ucap Alea agak meninggi. Dia merasa malu Alan membahas itu didepan Haikal. Mengingat kejadian diapotek waktu itu.
''Kalau kakak tidak menunggunya kenapa kakak tidak mau menerima cinta bang Reno. Padahal bang Reno sangat menyukai kakak'' ucap Alan lagi.
''Bukan itu alasan kakak. Semua bukan seperti yang kamu pikirkan. Kakak juga punya alasan sendiri'' jawab Alea pelan.
''Siapa Reno?'' tanya Haikal merasa tidak suka mendengarnya.
''Abang dari sahabat kak Lea'' jawab Alan.
'' Alan... kita gak usah bahas itu ya'' ucap Alea mengertakan giginya.
''Perlu dibahas'' jawab Haikal.
''Kenapa anda ingin membahas masalah yang bukan urusan anda?'' tanya Alea tidak suka.
''Karna...'' Haikal binggung menjawabnya.
''Oh ya dok, Kalau dipikir-pikir kalian memang sangat mirip. Waktu ketemu dirumah sakit waktu itu saya hampir saja salah memanggil anda. Apa kalian kembaran ya?'' tanya Alan memperhatikan Haikal.
''Tidak mungkin. Dia tidak punya kembaran'' jawab Alea cepat. Haikal mau menjawab tidak jadi.
''Huft, kakak kalau urusan ini sangat bodoh. Dari mana kakak tahu kalau dia tidak punya kembaran?'' tanya Alan.
''Dia tidak pernah bilang'' jawab Alea pelan.
''Apa kakal pernah tanya?'' tanya Alan lagi. Alea mengeleng pelan.
''Asal kakak tahu. Kakak itu terlalu percaya apa yang dia katakan. Karna kakak emang terlalu bodoh. Kakak percaya kalau dia hanya anak PNS biasa tapi aku lihat dia berbeda. Pakaian yang dipakainya sangat mahal. Walaupun waktu itu aku masih kecil tapi aku tahu itu pakaian mahal. Karna aku punya teman anak orang kaya. Aku rasa dia tidak mau kakak minder saja berteman dengannya. Waktu dia memberikan aku mainan. Kakak tahu kalau mainan itu sangat mahal. Aku juga tahu dari kakak temanku. Apa kakak juga tahu kalau dia sakit?'' tanya Alan serius. Sudah lama dia menyimpan semua ini. Alan selama ini tidak mau kakak menjadi sedih mengetahui yang sebenarnya.
''Maksud kamu?'' Alea terkejut medengar penjelasan Alan termasuk Haikal. Dia tidak menyangka Alan akan memperhatikan sampai segitunya.
''Hmm, aku sering melihat dia mimisan ketika datang main kesini. Saat kakak tidak ada. Dia hanya mengatakan kalau dia terlalu capek bermain. Waktu itu karna aku masih kecil. Aku percaya aja. Tapi sekarang aku baru tahu kalau mimisan sering terjadi salah satunya karna kita mengidap penyakit yang berbahaya. Seperti kanker otak'' jelas Alan. Alea terkejut tidak percaya. Dia memang tahu kalau Alan merupakan anak yang cerdas. Tapi dia tidak setuju dengan pendapat Alan.
Haikal juga terkejut dengan analisis Alan. Semua yang dikatakan Alan adalah benar. Bagaimana cara dia menjelaskannya.
''Kamu jangan mengada-ngada Al'' ucap Alea tidak senang.
''Aku tidak mengada-ngada kak. Buka mata kakak sekarang. Umur kakak sudah berapa? Kakak juga harus melanjutkan hidup dan bekeluarga. Bukan hanya menunggu dan menunggu yang tidak pasti. Belum tentu yang kakak tunggu masih ingat dengan kakak. Lebih parahnya lagi kalau dia sudah tidak ada didunia ini'' ucap Alan. Dia terpaksa berkata begitu supaya Alea sadar. Apa yang dilakukan kakaknya selama ini sia-sia.Alan sangat menyayangin Alea. Dia ingin Alea hidup bahagia dan berkeluarga. Walaupun Alan masih kuliah tapi pemikiranya sangat dewasa. Selama ini Alan hanya diam saja melihat kakaknya. Tapi hari ini melihat wajah Haikal. Alan jadi tidak bisa menahan apa yang dia rasakan selama ini.