AKU SARANI UNTUK MEMBACA "MAURA : Tragedi Tahun Baru" DULU BARU BACA INI BIAR CERITANYA NYAMBUNG
Rendy Yudha Pratama (37th), duda cerai mati dari mendiang Mutia Amalia Azmi. Sudah lima tahun Rendy menyandang status duda dan sekaligus single parent untuk anak semata wayangnya, Candra Bayu Pratama (5th).
Selama lima tahu terakhir dirinya sama sekali tidak berniat mencari istri baru untuk dirinya. Karena Rendy sudah berjanji pada dirinya sendiri juga mendiang Mutia kalau dirinya tidak akan menikah lagi.
Namun, selama satu tahun terakhir ini dirinya selalu diteror pertanyaan oleh sang putra untuk mencari ibu baru untuk dirinya. Tak hanya Candra, bahkan Rafa sang anak angkat pun juga meminta dirinya untuk mencari ibu baru.
Apa yang harus Rendy lakukan? Apakah dia harus menuruti permintaan Candra atau dirinya akan menduda sampai tua nanti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewi widya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berhasil dipulihkan
Di perusahan BRATA Grup, di ruangan CEO tengah mengadakan rapat dadakan di antara lima orang. Mereka terlihat perbincangan serius. Mereka bukan membahas pekerjaan kantor, melainkan membahas berita pengebom-an yang terjadi di kantor pengadilan agama di kota M.
"Mereka sudah kabur ke Kanada pagi tadi." kata Bara dengan memberikan I-Pad nya pada Bryan.
"Ulama gadungan itu juga membawa kabur uang pemerintah. Mungkin dia gunakan untuk menyewa orang untuk menyabotase kantor pengadilan agama. Benar-benar gila itu." imbuh Bara dengan mengumpat kesal pada Mansyur dan keluarganya.
"Yakin mereka semua kabur ke Kanada?" tanya Alex yang ragu kalau keluarga ulama gadungan itu kabur semua ke Kanada.
"Tapi kenapa Annisa sampai tidak ketemu? Di dalam maupun di luar gedung, dia tidak ada sama sekali." imbuh Alex yang mengingat kalau tadi ada salah satu anak buah Bryan yang disana memberi laporan kalau Annisa belum ditemukan.
"Aku yakin Annisa diculik dan disembunyikan di suatu tempat." sambung Alex mengutarakan apa yang ada di pikirannya saat ini mengenai keberadaan Annisa.
"Aku juga berpikir seperti itu. Tapi belum semua runtuhan gedung itu diperiksa menyeluruh. Jadi masih ada kemungkinan Annisa tertimpa reruntuhan." sahut Bryan yang sedari tadi sibuk membaca laporan dari anak buahnya.
"Evan, Baron! CCTV nya sudah berhasil kalian pulihkan belum?" tanya Bryan pada dua orang yang masih terlihat sibuk dengan laptop dihadapan mereka.
"Sebentar lagi." jawab Evan tanpa menatap calon kakak iparnya itu.
Bryan memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Siapa sebenarnya orang dibalik semua ini. Perasaan dirinya sudah tidak memiliki musuh lagi semenjak menikah dengan Freya. Apa Rendy memiliki musuh? Karena yang menjadi korban adalah Rendy. Pekerjaan yang dikerjakan oleh Rendy.
"Ini memang sudah direncanakan. Mereka bahkan sampai merusak CCTV dan menghapus sebagian rekamanan yang sempat merekam kejadian sebelum pengebom-an terjadi." Alex terlihat mengangguk, menyetujui apa yang Bara katakan.
"Siapa kira-kira yang membantu anak tengil itu? Bukannya dia tidak mengerti apa-apa selain bersenang-senang?" tanya Alex yang penasaran siapa yang membantu Rayyan dan keluarganya itu.
"Aku nggak tahu. Belum ada gambaran di otak ku. Bagaimana keadaan Rendy saat ini?" tanya Bryan mengingat sahabat sekaligus orang kepercayaannya itu tadi terkena ledakan bom.
"Belum ada kabar lagi. Dia masih ditangani dokter. Dan untuk keluarganya Annisa sudah pulang ke pondok. Aku juga sudah mengerahkan beberapa orang untuk berjaga disekitar pondok." kata Bara yang sudah terlebih dahulu mengerahkan orangnya tanpa menunggu perintah dari Bryan.
Bryan mengangguk pelan. Dia bersyukur keluarganya Annisa tidak kenapa-kenapa meski sampai saat ini Annisa belum ditemukan. Entah bagaimana kondisi perempuan itu, karena tidak ada yang tahu.
Rendy, bahkan Bryan tidak menyangka Rendy akan berbuat senekat itu untuk mencari Annisa sampai tidak memperdulikan keselamatannya sendiri. Karena biasanya Rendy akan memerintahkan anak buahnya untuk melakukan itu kalau situasi tidak memungkinkan. Tapi ini Rendy bahkan rela kehilangan nyawanya untuk seorang perempuan yang belum lama dikenalnya.
"Apa Rendy ada rasa sama Annisa?" batin Bryan dengan menahan kedua sudut bibirnya untuk tidak tersenyum.
Dia akan bersyukur kalau benar Rendy memiliki rasa pada Annisa. Itu artinya Rendy sudah move on dari Mutia dan mau membuka hati untuk perempuan lain. Bryan begitu kasihan dengan Candra yang selalu menginginkan seorang ibu, namun tidak pernah Rendy turuti hanya karena tidak mau membuka hati untuk perempuan lain selain Mutia.
Lamunan Bryan buyar saat ponselnya berdering, dilihatnya sang istri tercinta yang tengah menghubungi dirinya. Bryan menghembus nafas berat, pasti istrinya itu akan menanyakan kebenaran berita yang ada di tivi.
"Assalamualaikum." sapa Bryan setelah mengangkat panggilan telephone dari sang istri.
"Walaikumsalam. Mas apa benar berita itu? Bukannya Rendy juga Annisa hari ini ada disana untuk sidang cerai Annisa? Meraka tidak apa-apa kan Mas? Mereka selamatkan Mas? Mereka tidak ada yang terluka kan?" Freya memberondong begitu banyak pertanyaan tentang keadaan Rendy dan juga Annisa yang ada di kota M.
"Itu benar. Berita itu benar." Bryan memejamkan matanya saat mendengar istri tercintanya menangis karena berita yang didengarnya memang benar adanya.
"Mereka tidak apa. Mereka selamat. Sudah ya kamu tenang, jangan nangis seperti itu. Bukannya kamu saat ini ada di rumahnya Rendy?" tanya Bryan yang memang tadi Freya memberitahu dirinya kalau dia akan ke rumah Rendy karena Candra merajuk ingin menyusul ke kota M.
Bryan juga tidak mungkin memberitahu istrinya bagaimana keadaan dan situasi di kota M saat ini. Apalagi kalau sampai tahu Rendy sampai dilarikan ke rumah sakit dan Annisa belum ditemukan sampai sekarang. Sudah dipastikan istrinya itu akan menangis disana dan Bryan tidak bisa menenangkannya karena dia saat ini tidak berada di dekat sang istri.
"Alhamdulillah mereka selamat semua. Iya Mas, ini Freya masih di rumah Rendy. Ini Bibi Asti pingsan dan aku sudah hubungi Andre, tapi dia tidak datang juga. Candra juga menangis terus sedari tadi. Apalagi melihat neneknya yang pingsan. Cand juga sedikit hangat badannya." lapor Freya dengan suara seraknya karena tadi sempat menangis.
"Ya sudah, kamu tetap disana. Aku nanti akan kesana setelah selesai rapat. Kamu jangan panik dan harus tetap tenang. Semua baik-baik saja." kata Bryan yang terdengar begitu lembut kalau sudah berurusan untuk menenangkan istri tercintanya.
Setelah dirasa istrinya sudah mulai tenang dan tidak menangis lagi, Bryan mengakhiri sambungan telephone dari sang istri. Dia ingin segera menyelesaikan masalah yang ada di kota M.
"Selesai, CCTV berhasil dipulihkan."
Perkataan Evan membuat Bryan yang baru selesai menutup panggilan telephone segera merebut laptop dari tangan Bara sebelum asistennya itu melihat hasil rekaman CCTV sebelum dirinya. Karena dirinya yang wajib tahu terlebih dahulu baru orang lain.
Bara mendengkus kesal dengan seenaknya saja atasannya itu merebut laptop yang tadi di ambilnya dari tangan Evan. Alex hanya menahan tawanya melihat Bara yang menahan kesal.
"Sial!! Annisa benar diculik. Dan sialnya lagi orang yang menculiknya tidak terlihat wajahnya di CCTV." Bryan terlihat geram dengan hasil rekaman CCTV yang baru saja dilihatnya itu.
Bara juga Alex buru-buru mengambil laptop yang ada dihadapan Bryan dan melihat hasil rekaman CCTV. Kedua orang itu membuka mulutnya lebar.
"Annisa punya musuh?" tanya Alex pada Bara yang hanya dijawab Bara dengan mengangkat kedua bahunya. Dia juga tidak tahu.
"Dimana orang yang berhasil ditangkap sama orang kita?" tanya Bryan dengan tegas dan aura dinginnya yang sudah lenyap semenjak menikah dengan Freya kini kembali lagi saat melihat sahabat terluka juga orang yang ditolongnya kini telah diculik.
"Ada sama Papa di kota S." jawab Bara yang memang mengetahui saat ini Papanya tengah menyandra orang yang memasang bom di gedung kantor pengadilan agama.
"Bara! Kamu pergi ke kota S sama Baron sekarang. Lihat juga keadaan Rendy di kota M dan selidiki semuanya." titah Bryan pada Bara juga Baron yang langsung disegerakan oleh keduanya.
"Alex ,Evan! Kalian tetap disini. Tetap jalankan perusahaan seperti biasanya. Aku akan menenangkan orang rumah sebelum menyusul ke kota M."
Alex juga Evan mengangguk patuh atas perintah yang baru saja dimandatkan kepada keduanya. Mereka segera pergi dari ruangan Bryan untuk segera melakukan tugas mereka masing-masing.
"Aku tidak akan membiarkan kalian semua lolos dalam keadaan hidup. Kalian sudah berani menyentuh orang ku tanpa izin dari ku."
🍁🍁🍁
AYAH BRYAN SUDAH KESAL NIH KELIHATANNYA KARENA SUDAH ADA YANG BERANI MENGGANGGU ORANG KEPERCAYAANNYA
HATI-HATI LOH..KALAU AYAH BRYAN SUDAH MARAH AKAN BERUBAH SEPERTI MONSTER
(ITU KATA FREYA DULU)