Di awali dengan sebuah perjodohan seorang sahabat yang tidak lain adalah adik dari orang yang ku cintai, aku di pertemukan dengan Andra yang ternyata saudara kembar Andre, kakak Anita.
Akhirnya kami berdua menikah. Namun perasaanku masih memilih Andre. Tanpa sengaja aku terus membuat Andra yang mencintaiku sakit hati.Sedangkan Andre sebenarnya memiliki perasaan yang sama terhadapku, tapi ia mempunyai sebuah alasan yang menyebabkannya menyerahkanku pada saudara kembarnya.
Ketulusan Andra akhirnya mampu meluluhkan Aku, dan kami benar-benar hidup sebagai pasangan suami istri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Asmara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Lingkaran Rindu
"Sil, Akhir semester kita harus rajin ke kampus. Tau sendiri dosen kita, pak Broto itu killer abis. Jangan sampai ngulang lagi tahun depan," Anita sedang menyiapkan baju untuk pergi ke kampus, tentunya aku juga. Study ku berantakan, gara-gara terlalu fokus mengurus kantor Andra.
"Hari ini aku juga mau ngampus, Nit. Ngilangin stress sambil memperbaiki nilai. Tau sendiri, bulan-bulan kemarin sering absen," Kataku sambil merias diri di depan cermin.
"Cantik banget kamu hari ini, Sil. kak Andra bisa mimisan kalo sampe liat penampilan kamu," Anita mengomentari penampilanku hari ini.
"Emang sengaja, biar dia mimisan sampai pingsan," Aku tertawa kecil.
"Bisa aja. yuk, berangkat. Kak Andre udah siap di bawah mau nganterin kita." Anita menarikku keluar. Suara heels kami berdua terdengar hampir ke seluruh ruangan.
Di bawah sana, Andra memandang ke arah kami berdua tanpa berkedip. Sesuai ekspetasiku, Dia pasti terpesona. Di sampingnya ada Sesilia, membungkukkan diri tanda hormat kepada kami.
"Selamat pagi, kakak ipar." Senyumnya terlihat tulus. Kalau dia gadis baik, kenapa harus menikah dengan Andra? Apa di Amerika sana cuma dia satu-satunya laki-laki tampan?
"Pagi," Sahutku dingin.
"Apa kak Sila sudah sembuh? kalau belum sebaiknya jangan pergi kemana-mana dulu," Lagi-lagi dia bicara dengan diiringi senyuman.
"Tidak perlu ikut campur urusan aku, disini kamu hanya orang asing. jangan sok perhatian!" Aku menjawabnya ketus. Tidak perduli dia tulus atau tidak, yang jelas dia orang yang tidak ku terima kehadirannya.
"Sori, kakak ipar aku ini masih sensitif. Sebaiknya tidak usah terlalu banyak bicara padanya," Anita ikut berbicara pada Sesilia.
"Maaf," Sesilia menunduk. Aku merasa dia sedang melakukan drama seperti di dalam komik. Pura-pura baik untuk mencari perhatian. Cih, aku tidak akan tertipu.
Aku dan Anita melewati mereka berdua. Pagi hari yang seharusnya sejuk menjadi gerah karena pemandangan yang buruk. Mungkin mereka berdua sengaja duduk di sana untuk membuatku cemburu. Sial!
"Sila, Aku boleh bicara berdua denganmu?" Suara Andra. Argh! mau apalagi yang di bahas?
"Lima menit,"Kataku dengan nada jutek.
Andra menarikku keluar rumah. Sesilia tidak menahannya pergi. Lelaki itu membawaku ke taman. Masuk ke dalam dedaunan yang di bentuk semacam labirin. Tidak ada seorangpun dapat melihat kami berdua.
Andra memelukku erat. Aku meronta, dia semakin mengeratkan pelukannya. Rasa hangat ini yang aku rindukan darinya. Airmataku menetes, sambil terus berusaha melepaskan diri.
"Lepas Ndra! menjauhlah dariku! Aku benci sama kamu!" Aku berusaha mendorong tubuhnya menjauh, tapi aku kalah kuat.
"Sila, aku sangat merindukanmu. Rasanya seperti gila. Hanya kamu yang aku cintai. Aku juga sama denganmu, aku terpukul atas kepergian bayi kita, Sil." Andra menangis. Seperti biasanya, dia akan menangis di saat hatinya trenyuh. Aku tahu saat ini dia sangat tulus.
"Omong kosong! Kamu sudah punya istri baru, yang lebih muda, lebih cantik dan mungkin anak konglomerat di Amerika sana, jadi buat apa mencariku lagi? bukannya kamu tidak mengakui aku lagi?" Aku mengungkit kalimat yang dia ucapkan saat baru kembali dari Amerika beberapa hari yang lalu.
"Sayang, percayalah. Aku hanya melindungimu. Aku nggak bermaksud membuangmu. Aku masih sama seperti Andra yang dulu. Tidak menyangka kalau kejadian kemarin mengorbankan bayi kita." Andra terus membela diri.
"Apanya yang sama? kamu bukan Andraku yang dulu! Aku nggak akan sudi berbagi, Lebih baik aku berpisah dari kamu!" Aku melotot, Sementara pelukan Andra melemah. Aku berhasil meloloskan diri darinya.
Aku berlari melarikan diri darinya, tapi dia berhasil menangkapku, menarikku ke labirin yang lebih dalam lagi Dan mencium bibirku dengan buas. Aku tidak bisa melawan, Tangannya merengkuh kepalaku agar tidak menjauh. Aku kalah, dan menikmati permainannya. Saat tersadar aku menggigit bibirnya dan berhasil meloloskan diri.
"Sila, tunggu!" Andra memanggilku.
"Dasar mesum!" Umpatku.
Akhirnya aku berhasil melarikan diri dari Andra. Sisa rasa ciuman itu masih tertinggal di bibirku, masih sama seperti dulu saat kami masih bersama. Imajinasiku berlanjut, aku teringat segala kegiatan liar yang kami lakukan bersama.
Jantungku berdetak cepat. Aku mencoba menepis imajinasi kotorku bersama Andra. Aku harus menuntaskan misiku. Sekarang bukan saatnya bernostalgia.
"apa yang si omongin sama kakak? lama banget kalian di labirin," Anita menatapku curiga.
"Bukan apa-apa. Nggak penting. Ayo kita berangkat," Aku masuk ke mobil lebih dulu. Anita menyusulku. Sementara Andre sudah ada di dalam mobil.
"Sil, lipstikmu belepotan. Jangan-jangan abis di cium ya sama kak Andra?" Godanya, aku langsung sibuk mencari cermin di dalam tasku. Ternyata masih rapi. Baru ku ingat, lipstik yang kupakai itu waterproof. Anita sengaja menjebakku.
"Ketahuan deh, bener-bener dicium dia kan?" Bisiknya. Anita meledekku. Aku tersipu malu.
Andre Melitik kami dari kaca bagian atas mobil. Kami buru-buru bersikap normal seperti tidak terjadi apa-apa. Tidak lama kemudian kami sampai di Kampus. Aku dan Anita turun, Andre meninggalkan kami berdua. Di kejauhan ada dua cowok yang melambai Ke arah kami. Namanya Beno dan irvan. Mereka satu kelas dengan kami.
"Hai Ben, Van! " Sapaku saat dekat dengan kedua cowok itu.
"Hai," mereka berdua kompak.
"Sebenarnya ada yang pengen aku omongin sama kamu, Nit. Bisa pergi berdua?" Ternyata Beno ada perlu dengan Anita. Baiklah, mungkin sebaiknya aku kekelas lebih dulu.
"Kalau begitu aku ke kelas duluan ya," Aku mempercepat langkahku menuju kelas kami.
Masih teringat jelas kejadian tadi pagi di dalam labirin bersama Andra. Ternyata dia juga menyimpan kerinduan yang mendalam juga untukku. Jadi untuk apa sebenarnya dia menikah lagi?
Jika itu karena kakek, kenapa ia tidak bisa menolaknya? Dulu aku pernah mendengar pembicaraannya dengan Andre, kalau dia akan mengorbankan apapun untuk Aku dan calon anaknya, meskipun itu nyawa. Tapi pada kenyataannya, dia malah menerima begitu saja perjodohan sang kakek.
Sekarang apa yang harus aku lakukan? meneruskan misi membalas sakit hati pada Andra? Rujuk dengan Andra dan berbagi suami? jelas aku tidak sudi. Tapi perasaanku masih mencintainya.
Cinta memang rumit. Seharusnya dari awal aku tidak pernah menerima perjodohan ini. Di usiaku yang masih muda dan teman-temanku masih lajang dan bahagia, haruskah aku harus merana dan menjadi seorang janda?
"Sila!" Anita mendekapku, wajahnya tampak berbunga-bunga.
"Kamu tau nggak, barusan Beno nembak aku, dia bilang mau jadiin aku pacarnya," Anita heboh sendiri.
"Terus?" Komenku singkat.
"Kok cuma gitu sih, harusnya kamu bilang selamat dong, aku kan baru aja jadian," Protes Anita.
"Baiklah, selamat ya Anita Wijaya sudah jadian sama Beno, semoga lenggeng sampe kakek nenek," Ledekku. Anita langsung mencubit lenganku. Kami tertawa bersama.
Paling tidak hati ini aku bisa tertawa. Melupakan segala kesulitan yang tengah aku alami. Andra, tiba-tiba aku merindukanmu. Sangat.
Kenapa ngurusin Andre.
Rasain dilecehkan Andre.
Salahmu sendiri Sila.