Rika harus menanggung bebannya yang bertubi-tubi didalam rumah tangganya. Ia harus bekerja keras demi memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka, karena suami yang dinikahinya notabennya seorang pengangguran.
Tak disangka, setelah sekian lama berumah tangga, akhirnya Rika mengetahui kebenaran tentang suaminya, bahwa suaminya bukanlah orang biasa. Dan pada saat itu juga guncangan hebat melanda rumah tangganya setelah suaminya membeberkan kebenarannya. Kebenaran alasannya menikahi Rika dan kebenaran alasannya menyembunyikan statusnya dihadapan Rika.
Langkah apa yang selanjutnya akan diambil Rika dalam menempuh hidupnya setelah ia tahu kebenarannya dan juga setelah ia mendapat cobaan yang bertubi-tubi menghampirinya?
Lalu bagaimana kisah selanjutnya, langkah apa yang akan dilakukan oleh suaminya saat semua terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Sha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Kalau Tuhan mentakdirkan kita berjodoh, dimanapun kamu berada maka kita pasti akan dipertemukan dalam suasana seperti apapun itu
______________________________________
Hari ini Rika kembali bangun sangat pagi, ia membersihkan rumah kontrakannya setelahnya ia membersihkan dirinya. Rasanya pekerjaannya begitu cepat selesai dibandingkan dengan rumahnya yang dulu. Karena rumahnya yang ditempatinya sekarang jauh lebih kecil. Rasanya hanya seukuran kamar mereka yang dulu.
Mengingat rumahnya yang dulu, Rika kembali teringat dengan hutang suaminya. Sungguh, ia begitu kecewa pada suaminya karena merasahasiakan hal sebesar itu pada dirinya.
"Ahh... percuma saja mengingat semua itu, mungkin ini memang jalan hidupku," pasrah Rika pada dirinya sendiri. "Lebih baik aku bersiap," gumamnya lagi setelah melihat jam dinding dirumah kontrakannya yang menunjukkan pukul 6.45.
Pagi ini Rika berangkat lebih awal, dia bahkan banyak melakukan persiapan dan tidak lupa ia membawa payung beserta jas hujan hanya untuk berjaga-jaga saja karena cuaca sekarang benar-benar tidak bisa ditebak. Terlebih lagi, ia tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi.
Rika begitu terkejut saat ia membuka pintu rumahnya. Disana, dihalamannya sudah berdiri sosok Alvaro yang bersandar dimobilnya dan menatap kearah Rika dengan senyum hangatnya.
"Pagi," sapa Alvaro. Rika menghampirinya.
"Pagi juga, memangnya ada apa ya kamu datang kesini lagi?" heran Rika. Ia mengerutkan dahinya dan berusaha menebak-nebak sesuatu yang belum diketahuinya.
Alvaro semakin tersenyum lebar saat melihat wajah Rika yang terlihat imut dimatanya. "Aku lupa kalau kemarin sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan padamu."
"Mengenai apa?" tanya Rika yang cukup penasaran dengan yang dimaksud oleh Alvaro.
"Ini," Alvaro menyerahkan berkas hasil lab penyakit Rika. "Hasil cek darahmu waktu dirumah sakit beberapa waktu lalu. Kamu bisa membacanya." Rika menerimanya.
"Oke, tapi nanti akan aku baca. Sekarang aku ingin berangkat kerja terlebih dahulu."
"Oke, baiklah." Alvaro menatap Rika yang kembali masuk kedalam rumahnya dan keluar lagi setelah menyimpan berkas tersebut. Ia kembali menghampiri Alvaro.
"Aku antar ketempat kerjamu, kita searah," ucap Alvaro cepat setelah melihat Rika yang ingin menolaknya. "Tidak ada penolakan!" tegas Alvaro kemudian.
Rika hanya pasrah dan mengangguk saja. Walaupun hanya kenal sehari, rasanya ia sudah begitu hapal dengan sifat Alvaro yang pemaksa.
Mobil mereka meluncur kearah tempat kerja Rika terlebih dahulu karena jaraknya yang lebih dekat dibandingkan dengan kantor milik Alvaro.
"Jadi, kamu kerja disini?" tanya Alvaro sambil menatap keluar mobilnya. Ia menatap kearah restoran yang ada dihadapannya.
"Iya, aku kerja disini baru satu hari." Rika menjawab singkat. Alvaro hanya mengangguk penuh makna, ia kembali menatap kearah Rika.
"Makasih ya sudah mau repot-repot mengantarkan berkas tadi dan sekaligus mengantarku kerja." Alvaro tersenyum mendengar penuturan yang keluar dari mulut Rika. Terdengar begitu tulus.
"Tidak apa-apa. Jangan sungkan begitu, kita adalah teman. Jadi apapun yang dialami oleh temannya maka kita akan saling membantu." ucap Alvaro yang menatap kearah Rika.
"Kalau begitu aku permisi dulu." Setelah mendapat anggukan dari Alvaro, Rika turun dari mobilnya dan menatap kepergian mobil Alvaro.
"Yeay, Ka. Siapa yang mengantar tadi, sepertinya ganteng loh. Pacarnya ya?" Caca melirik kearah Rika dengan senyum jahilnya.
"Apaan sih kamu, mana ada gembel seperti aku punya pacar orang kaya seperti itu."
"Lah... lalu, mas ganteng tadi siapanya mba Rika, suaminya ya?" tanya Caca kembali nyengir.
"Bukanlah, hanya teman kok!" jawab Rika yang sudah berlalu dari hadapan Caca yang melongo mendengar penuturan Rika barusan.
"Lah... cuma teman toh. Mba! tungguin!!" Caca berlari mengejar Rika yang sudah berjalan meninggalkannya.
Seperti hari kemarin, Rika kembali mengerjakan pekerjaan yang dilakukannya kemarin, mencatat pesanan dan mengantarkan pesanan pada pelanggan yang berada dimeja mereka. Ia tampak sangat fokus dengan pekerjaannya bahkan ia terlihat sangat telaten. Mungkin karena pekerjaan kesehariannya lah dan statusnya sebagai ibu rumah tangga yang membuatnya tidak canggung dalam pekerjaannya.
Suasana restoran tampak sangat ramai, karena sekarang memang waktunya para karyawan untuk istirahat dan mengisi perut mereka. Rika tampak hilir mudik berjalan.
Pranggg...
Terdengar bunyi gelas yang berdenting dan pecah. Suasana restoran yang tadinya hiruk piruk seketika menjadi hening. Semua mata tertuju kearah objek yang terjadi didepan mata mereka. Begitupun juga dengan Rika yang belum siap mendapat serangan mendadak. Tiba-tiba ada anak kecil yang memeluk erat kakinya dari arah belakang, sehingga ia oleng dan semua yang ada didalam nampan yang dibawanya tumpah ruah dan pecah berserakan dilantai. Untunglah tidak ada orang yang terkena imbasnya.
Rika hanya bisa menunduk pasrah karena merasa sudah melakukan kesalahan dihari keduanya bekerja. Ia menunduk dan bermaksud ingin mengumpulkan pecahan beling. Ia benar-benar merasa bersalah kini karena sudah membuat kecewa pelanggan dan manejernya karena keteledorannya.
"Mama!! Aina kangen mama. Kenapa mama tidak pulang kerumah?" sapa anak kecil yang terdengar sedih ditelinga Rika. Ia memeluk Rika yang sedang memungut beling kaca. Rika tersendak mendapatkan pelukan hangat tersebut, ia menoleh kearah Aina yang sudah menyembunyikan wajahnya dipunggung Rika. Suara itu terasa familiar ditelinganya.
"Aina?" Rika menarik Aina dan menatapnya yang tampak wajahnya terlihat memerah. Ia memperhatikan sekelilingnya, pelanggan tampak kembali kepada aktivitasnya masing-masing. "Kamu kenapa nangis sayang?" tanya Rika setelah mengingat Aina yang pernah ditolongnya di supermarket tersebut. Matanya tampak melirik kekanan dan kekiri untuk melihat keberadaan orang tuanya, namun anak ini sepertinya memang sedang berkeliaran sendirian. Rika tampak cemas akan hal itu, ia menatap Aina dan melupakan beling yang masih belum dipungutnya sama sekali.
"Rika, sebaiknya kamu bawa nona Aina keruanganku terlebih dahulu," Andika sudah berdiri tepat dihadapan Rika. Ia menatap Aina yang memeluk erat Rika dan ia juga menyaksikan semua yang sudah terjadi sebelumnya. Ia tidak menyangka, ternyata Rika bukanlah orang biasa. Kalau ia orang biasa, tidak mungkin Aina memanggilnya sebagai mamanya.
"Tapi pak bagaimana dengan pecahan gelas ini?" tunjuk Rika pada beling yang masih berserakan didepannya.
"Caca!!"
Caca yang berada tidak jauh dari mereka segera menghampiri atasannya setelah Andika memanggilnya. Ia paham dengan panggilan tersebut. Bergegas ia berjongkok dan mengumpulkan semua beling yang ada disana.
"Mba Rika, sebaiknya non Ainanya dibawa ketempat lain dulu, kasian Mba dia nangis melulu," tunjuk Caca yang tampak menunduk. Kali ini ia terlihat berbeda dari pagi tadi. Caca terlihat sangat sungkan padanya. Rika merasa tidak nyaman dengan semua itu. Ia merasa begitu merepotkan Caca, namun ia juga tidak dapat berbuat apa-apa karena Aina terus menempel dipelukannya.
"Ca, makasih ya kamu sudah mau membantuku. Aku mau membawa Aina kedalam dulu, sepertinya dia kelelahan." Caca melirik kearah Aina dan mengangguk sekali.
"Jangan sungkan begitu mba, ini sudah pekerjaanku. Sebaiknya mba segera urus anak mba," jawabnya.
Rika hanya mengangguk dan berdiri. Ia menggendong Aina yang mendekap dirinya dengan erat. Bahkan tubuhnya yang ringkih terlihat kesusahan membawa Aina yang badannya terlihat berisi.
"Sayang, Aina haus ya? Ingin makan?" tanya Rika yang sudah duduk disofa yang ada diruangan manejernya. Ia mengusap dan memeluk Aina dengan sayang. Ia benar-benar merasa bahwa Aina adalah anaknya sendiri. "Beginikah rasanya punya anak?" gumam Rika didalam hatinya.
"Aina pengennya sama mama, Aina tidak mau pisah dengan mama. Kata Oma, mama akan pulang dan menemui Aina apabila mama selesai bekerja. Apa pekerjaan mama masih banyak?" tanya Aina panjang lebar.
Rika tersenyum dan menjawil hidung Aina dengan lembut. Ia kembali memeluk Aina dengan sayang, ia sangat tahu apa yang dirasakan oleh anak sekecil Aina saat merindukan sosok ibunya.
"Aina, tidak boleh marah ataupun ngambek saat mama Aina sedang kerja. Aina harus mendukung mama Aina agar mama Aina semangat dalam bekerja. Kalau pekerjaannya cepat selesai maka mamanya Aina akan menemani Aina, juga akan membelikan Aina coklat." ucap Rika yang mengira ibunya Aina sangat sibuk dengan pekerjaannya hingga melupakan Aina.
"Mau...mau..., Aina mau coklat." Aina tampak kegirangan.
"Tapi ada syaratnya."
"Apa syaratnya ma?" tanya Aina cepat.
"Aina harus menurut apa kata mama." Aina mengangguk dengan cepat.
Pintu ruangan tampak terbuka, disana berdiri Oma dan juga Andika serta Caca yang membawa makanan dan minuman ditangannya. Rika menatap mereka dengan terkejut. Matanya beralih menatap wanita tua yang terlihat cemas. Mungkin wanita itu adalah orang terdekatnya Aina.
"Aina, kamu tidak kenapa-kenapakan sayang?" tanya Oma yang sudah berdiri dihadapan cucunya. Ia meraih Aina dan mendekapnya.
"Makasih ya karena kamu sudah menolong cucuku," Oma menatap kearah Rika. Ia memperhatikan wajah Rika dengan seksama. Wajah yang terlihat begitu meneduhkan dan juga sangat cantik.
"Ini nyonya makanan untuk non Aina," ucap Caca yang sudah meletakkan piring dan juga lauknya diatas meja. Ia menunduk hormat dan segera berlalu dari sana setelah mendapat isyarat dari Andika.
"Aku maunya mama yang suapin, oma," rengek Aina manja.
Oma menatap Rika sesaat dan mendapat anggukan dari Rika. Ia kembali menyerahkan Aina kepangkuan Rika.
"Aina makan dulu sama mama, oma mau keluar dulu. Ada yang ingin oma urus."
"Siap oma," ucap Aina yang tersenyum lebar sambil menatap kepergian omanya di iringi oleh manejer restoran. Ia terlihat begitu senang dan riang.
Benak Rika hanya dipenuhi dengan tanda tanya, ia bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi didepan matanya barusan. Ia sama sekali tidak mengenal Oma yang baru saja keluar tersebut, sepertinya ia sangat berpengaruh direstoran ini.
•
•
•
*********
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
karakter utama mleyot kayak gubug reot