Sekuel Terpaksa Menikah.
Yang langsung mau baca season dua juga boleh, ada di sini semua ya gaes.
Chelsi Amira Putri berusaha menghindari perjodohan yang dibuat oleh ayahnya. Namun, dia malah terjebak dalam kesalahannya sendiri. Dia menjadikan Alaska Lencana kambing hitam untuk menolongnya agar terhindar dari perjodohan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dek La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Pagi cerah ini, Amira habiskan untuk istirahat. Waktunya libur, dia bisa menggunakannya untuk menenangkan pikiran tanpa harus memikirkan pelajaran lagi.
Sedangkan Laska, pria itu sudah pergi berlari keliling kompleks sejak tadi. Sebenarnya dia sudah mengajak Amira tetapi gadis itu tak mau.
Sejak tadi Amira hanya berbaring di kasur sembari menonton drama kesukaannya. Dia tersenyum-senyum sendiri saat melihat adegan yang membuat baper. Video berhenti berputar karena ada telepon masuk dari Dimas. Membuang napas kasar, Amira terpaksa mengangkat teleponnya, tentunya dengan wajah cemberut kesal.
“Ada apa?” tanyanya dengan ketus, terdengar tawa kecil dari seberang sana.
“Santai saja Sayang,” jawab Dimas masih terus tertawa. Amira mendecih kesal. Sayang katanya?
“Gak perlu basa basi, waktuku tidak banyak!” cetus Amira.
“Iya iya. Aku hanya ingin dengar suara kamu, soalnya kangen banget,”
“Sorry, tapi gue gak kangen sama Lo!”
“Enggak apa, aku aja yang kangen. Ngomong-ngomong kemarin kamu ada masalah apa dengan Alfa?” tanya Dimas setelah berhenti tertawa.
“Gak usah kepo! Urus saja urusanmu sendiri, jangan ikut campur dengan urusanku!”
Tut
Amira langsung memutuskan sambungan secara sepihak, dia jadi malas menonton karena sudah terlanjur bad mood begini. Akhirnya dia memilih turun, dan pergi ke dapur.
Menyesap air putih dari dalam gelas, Amira kembali meletakkan gelas itu di meja. Dia berniat ingin menyusul Laska karena pria itu belum kembali. Meski harus terkena cahaya matahari yang mulai terang, Amira akan tetap melakukannya demi menjemput Laska.
Tampak banyak sekali orang yang juga berlari, Amira sedikit rileks setelah mendapat embusan angin segar. Dia berlari pelan menyusuri jalan, mencari di mana Laska berada.
Seketika senyumnya terbit saat melihat pria itu berada tak jauh dari jalan. Amira langsung menghampirinya, dia ikut duduk di samping Laska.
“Om kok lama banget larinya? Memangnya tidak capek?” tanya Amira setelah Laska selesai minum.
“Tidak. Kamu ngapain di sini? Bukannya tadi tak mau olahraga?”
“Aku bosan di rumah, jadi ya sudah, nyusul Om saja,” jawab Amira tanpa mengindahkan tatapannya dari wajah tampan Laska yang terdapat banyak keringat.
Amira mengambil kain yang dia bawa khusus untuk mengelap keringat Laska. Dia segera mengelap bagian pelipis pria itu, Laska hanya memandang tanpa berniat untuk melarang.
“Sebenarnya Om lebih tampan kalau keringatan, tetapi takutnya nanti banyak yang naksir. Aku enggak mau,” ujar Amira seraya tersenyum manis, Laska hanya membuang napas kasar mendengarnya.
“Terserah kamu saja,” balas Laska. Pria itu berniat untuk melanjutkan larinya, tetapi lebih dulu ditahan oleh Amira.
“Apa lagi?” tanya Laska kesal.
“Ikut.” Amira berdiri, dia tersenyum manis dan segera menyuruh Laska untuk berlari lebih dulu.
Laska tak berlari dengan cepat, dia terus melihat ke belakang. Memastikan bahwa Amira masih berada di dekatnya. Saat dia sudah jauh, Laska akan memelankan larinya untuk menunggu Amira.
“Lelah?” tanya Laska saat melihat Amira ngos-ngosan.
“Sedikit,” jawab Amira tanpa berhenti berlari.
“Sedikit lagi sampai, setelah itu kamu boleh berhenti,” ujar Laska.
Baru saja Laska berucap, Amira sudah berhenti karena tak tahan lagi. Dia menghirup udara banyak-banyak.
“Kenapa berhenti?” Laska berbalik, dia berdiri di dekat Amira sembari memerhatikan gadis itu.
“Lelah tahu Om,” cetus Amira.
“Seharusnya kamu mempertahankan kecepatanmu. Dan lagi, tanganmu tak tergenggam saat di belakang, jika terayun ke depan baru menggenggam seperti kamu genggam telur,” jelas Laska, Amira hanya diam mendengarkan. “Saat berlari, kamu juga harus mengambil napas, seperti yang aku lakukan,” sambung Laska lagi. Amira mengangguk paham.
“Ya sudah, yuk lanjutkan,” ajak Laska menggenggam jemari Amira. Dia berlari sembari menarik tangan sang istri. Amira hanya tersenyum melihat kelakuan suaminya.
Mereka berlari dua putaran setelah itu memilih pulang karena hari sudah mulai cerah. Matahari pun menyinarkan cahayanya dengan terang. Amira langsung masuk kamar untuk mandi kembali, badannya terasa lengket akibat keringat.
Selesai mandi, Amira memilih duduk di kasur. Saat mendengar panggilan Laska, Amira bergegas keluar untuk menemui pria itu.
“Ayo sarapan,” ajak Laska, pria itu berjalan mendahului Amira.
“Tapi aku belum masak Om.”
Amira memang belum masak sejak bangun pagi tadi, rasanya dia sangat lelah dan malas untuk ke dapur. Tetapi saat berada di meja makan, mulut Amira ternganga dengan perasaan tak percaya. Bagaimana bisa ada nasi goreng di sana? Apa Laska yang memasaknya?
“Aku sudah masak tadi. Kamu mau cobain?” Laska menyodorkan sendok berisi nasi goreng buatannya, dia tersenyum manis. Amira terpana melihat itu, dia langsung mengangguk dan menerima suapan dari Laska.
“Enak banget,” puji Amira sembari mengangkat kedua jari jempol tangannya.
“Terima kasih,” ucap Laska. Amira mengangguk dan menyendokkan kembali nasi goreng miliknya.
Kini sendok itu terayun ke depan wajah Laska. Pria itu menatap Amira bingung, gadis itu hanya tersenyum seraya menggoyangkan sendok di genggamannya.
“Menyuapi aku?” tanya Laska karena tak mendapat jawaban dari Amira.
“Iya. Enggak peka banget sih jadi cowok,”
“Seharusnya kamu bilang.” Laska langsung melahapnya dan menarik sendok dari tangan Amira. Dia mengganti dengan sendok yang baru.
“Kenapa diganti? ‘Kan aku mau pakai yang bekas Om,” rajuk Amira seraya mencebik kesal.
“Nanti kamu jorok.”
“Tapi itu Om, pakai sendok bekas aku tadi,”
“Saya tidak jorokkan orangnya.” Mendengar jawaban Laska, Amira malu-malu. Pipinya sudah merona.
Bunga yang sempat layu kini bermekaran kembali. Amira terus memerhatikan Laska makan tanpa berniat menyentuh nasi gorengnya sendiri. Hanya melihat pria itu makan, rasa lapar lenyap begitu saja.
“Tidak makan?” tanya Laska bingung saat melihat Amira hanya diam.
“Tunggu Om selesai,” jawab Amira tanpa mengalihkan pandangan.
“Kenapa?”
“Soalnya aku mau pakai sendok bekas Om saja.”
Laska membuang wajah, dia tersenyum simpul ke arah lain. Pipinya terasa hangat sebab mendengar ucapan Amira, entah mengapa hatinya sedikit berdebar.
“Om malu ya?” tuding Amira sambil tertawa. Laska langsung merubah mimik wajahnya jadi datar kembali.
“Dasar aneh.”
“Om yang aneh. Bilang saja malu, sini aku cium. Gemesin banget sih,” ujar Amira membuat Laska merinding.
“Jangan aneh-aneh,” ancam Laska. Gadis dengan balutan kaos oblong dan celana selutut hanya tertawa puas. Melihat suaminya sudah ketakutan begitu.
“Tenang saja Om, palingan nanti aku apa-apain kalau Om tidur. Soalnya kalau terjaga, kayak harimau, galak bener,” ucap Amira lagi.
“Awas saja kamu.”
Amira tergelak, dia memilih bangkit untuk mengambil susu dari kulkas. Tawanya masih terdengar seiring langkah kaki kembali ke meja makan. Laska masih berusaha makan dengan baik, meski perasaannya sudah tak enak melihat Amira seperti itu.
“Kamu kalau sakit jiwa, ayo aku antar ke rumah sakit jiwa.”
“Tidak perlu, ah. Om ‘kan bisa ngobatin aku pakai ciuman. Mau ya, biar aku sembuh. Hahaha.”
Bersambung
Amira mulai bandel lagi ya bund😂😂
Kamu masih muda,Kamu juga cantik,kamu juga gak benaran hamil kan,terus kenapa harus ngemis2 cinta sama orang..
awas Lo bucin sama om om 😃