Warning 21+
Dosa tanggung sendiri jika melanggar😚😚
Jonathan, seorang penguasa pemilik Asian Grup, berusaha mencari cinta pertamanya yang bernama Keynara Anastasia, untuk membalas dendam atas pembullyan yang terjadi saat masa sekolah..
Setelah beberapa tahun mencari, keduanya di pertemukan di sebuah acara pernikahan. Jonathan tidak ingin kehilangan lagi, sehingga jeratan pernikahan langsung di lilitkan kuat pada leher Nara..
Setelah pernikahan terjadi, Jonathan baru menyadari jika Nara tidak seperti dulu. Dia bukan lagi Nara yang jahat dan penuh ambisi dan berubah menjadi Nara yang polos bahkan cenderung bodoh..
Namun di balik sikap polosnya, Nara menyembunyikan sisi gelap yang mungkin akan bisa bangkit kapan saja. Sisi yang tidak di ketahui oleh siapapun tidak terkecuali Ayahnya sendiri...
Cerita ini mengandung unsur dewasa💦 Kekerasan 💢dan bahasa yang sedikit fulgar...
Harap bijak dalam membaca...
Ini karya pertamaku...
Silahkan klik ♥️, like dan share sebanyak-banyaknya..
~Tere Liye
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TereLiye21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 32
*Foto sebagai pemanis
Joy merasa cukup senang dengan keberanian yang di tunjukkan Nara hari ini, meski beberapa kali dia harus merajuk dan menyemangati saat Nara berusaha ingin keluar. Dia ingin melatih mental Nara agar lebih kuat. Bukan tanpa Alasan Joy melakukan itu, sebab kini Nara susah menjadi istri Jonathan. Pemilik Asian Grup dan mempelopori beberapa perkumpulan terlarang dan berjalan tersembunyi. Rekan Joy begitu banyak tidak terkecuali musuh. Banyak nyawa terenggut olehnya sehingga rasa takut kehilangan wanitanya merisaukan fikirannya.
Aku ingin jika suatu saat kamu dalam bahaya, kamu bisa bertahan sedikit saja untuk menungguku.. Aku berjanji akan menjagamu dengan sangat baik tapi jadilah kuat agar bisa bertahan hingga aku datang...
Sejak kejadian kemarin, Joy semakin was-was pada keselamatan Nara. Dia takut lengah dan membuat Nara berada dalam bahaya. Hingga dia memutuskan untuk melatih keberanian Nara agar bisa menjaga dirinya sendiri jika sedang merasa terdesak. Dan hal yang pertama harus di lalui adalah mengalahkan ketakutannya sendiri.
"Sudah lebih baik?" Nara mengangguk seraya tersenyum.
"Tapi aku masih lapar, porsi nasinya sangat sedikit sayang." Joy tersenyum lalu beranjak bangun untuk memesan nasi yang keempat kalinya.
"Ini sayang.. Jika kurang bilang lagi." Joy meletakkan nampan dan dua porsi nasi di hadapan Nara.
"Terimakasih sayang.."
"Sama-sama." Joy meraih ponselnya yang bergetar dan tersenyum ketika mendapatkan laporan jika keluarga Prapto sudah di bantai habis.
Kerja bagus..
"Siapa?" Tanya Nara.
"Yang pasti bukan Lisa."
"Dia seksi sayang."
"Kamu lebih seksi. Jangan bahas lagi."
"Iya.."
"Setelah ini, kita ke toko perhiasan."
"Untuk apa?"
"Untukmu, kenapa kamu tidak pernah meminta itu padaku?"
"Aku tidak terbiasa jadi aku tidak pernah memikirkannya."
"Mintalah sesuatu. Perhiasan, tas sepatu apapun itu."
"Aku lebih suka di belikan saja." Tangan Joy terangkat dan mengusap lembut puncak kepala Nara." Kapan kita ke Ayah?" Nara ingin bisa sesering mungkin mengunjungi Ayahnya namun, dia juga tidak bisa melakukannya apalagi akibatnya akan berdampak pada nyawa Ayahnya sendiri.
"Jangan dulu sayang, ini untuk kebaikan Ayahmu juga. Yang pasti dia baik-baik saja di sana."
"Hm ya sudah." Nara melanjutkan makannya sementara Joy meneguk minumannya seraya memperhatikan sekitar. Dia masih saja khawatir meski beberapa anak buahnya tengah berada di sekitarnya.
Selesai makan, Joy membawa Nara masuk ke sebuah toko perhiasan. Nara di buat binggung memilih beberapa set perhiasan yang tersunguh di hadapannya. Apalagi mendengar pegawai toko yang terus saja berceloteh menambah kebingungan di dalam fikiran Nara.
"Bisakah Kakak diam? Saya tidak bisa memilih jika Kakak terus berbicara." Ucap Nara pelan. Joy tersenyum sementara pegawai toko tersenyum aneh.
"Maaf Nona, saya hanya menjelaskan modelnya saja."
"Lebih baik aku di belikan saja." Gumam Nara melihat-lihat.
"Aku malah tidak mengerti hal seperti ini sayang."
"Aku juga."
"Jadi pilih yang mana Nona?" Tanya pegawai toko mengulang.
"Entahlah, semuanya bagus."
"Ya sudah, bungkus semua." Nara menoleh cepat ke arah Joy.
"Semua Tuan?"
"Ya semua.." Jawab Joy santai.
"Kok semua sayang?"
"Aku tidak mau kamu pusing memilih. Bisa debit kan?"
"Bisa Tuan."
"Baik siapkan." Pegawai tersebut membawa semua set perhiasan untuk di total.
"Siapa yang akan memakainya." Eluh Nara duduk di ikuti oleh Joy.
"Kamu sayang, siapa lagi." Joy meraih jemari Nara lalu menggenggamnya erat.
"Aku tidak suka keluar rumah sayang..."
"Pakai jika ada acara."
"Hm baiklah.." Nara mengangguk seraya tersenyum.
"Sudah menentukan negara mana yang ingin kamu kunjungi?" Nara melupakan itu hingga Joy mengingatkannya. Nara sudah sangat bahagia dengan kehidupannya sekarang sehingga dia tidak ingin meminta atau sekedar memikirkan sesuatu yang lebih dari hidupnya sekarang.
"Aku ingin ke Korea." Joy langsung mendengus kesal. Nara tersenyum sebab dia tahu jika Joy akan berekspresi seperti itu.
"Selain Korea."
"Tidak ada. Aku tidak berminat kemana-mana."
"Aku tunggu sampai kamu menginginkan berkunjung ke negara lain." Di tengah obrolan keduanya. Prapto dan Lisa terlihat baru saja datang. Joy tersenyum kecut menatap ke arah Prapto yang sudah di buntuti oleh Erik dan Roy.
"Lisa..." Gumam Nara melihat ke arah Joy." Lihat saja terus." Imbuh Nara membuat Joy menoleh cepat.
"Aku melihat tua bangka itu sayang bukan Lisa."
"Mana ku tahu." Joy memutar tubuhnya menghadap ke arah Nara. Kepalanya di tundukkan dan bertumpu pada pundak kecil Nara.
"Sudah. Aku tidak melihatnya sekarang. Tapi sayang, punggungku tidak kuat jika begini terus." Nara tersenyum dan membiarkan kepala Joy bersandar padanya meski sedikit berat.
Prapto yang mengetahui keberadaan Joy, langsung berjalan mendekat seraya menatap rendah ke arah Nara yang memang berpenampilan biasa saja.
"Nak Joy." Lisa menatap tajam Nara ketika melihat Joy tengah bermanja padanya. Dia bahkan tidak pernah merasakan hal itu padahal hubungan keduanya sudah cukup lama terjalin.
Joy menegakkan kepalanya lalu menoleh ke arah Prapto.
Oh... Calon mayat...
Joy tersenyum sinis dengan mata menyala mengingat jika Prapto adalah orang yang mendalangi pembunuhan Nara, istrinya.
"Lihatlah, istriku masih baik-baik saja." Joy berkata itu tiba-tiba sehingga membuat raut wajah Prapto terkejut.
"Maksud Nak Joy apa?"
"Tidak ada maksud apapun. Saya hanya bilang jika istri saya akan selalu baik-baik saja selama saya masih hidup di dunia ini. Jangankan seseorang, semut saja tidak akan saya biarkan menyentuhnya." Sindiran dari Joy cukup membuat wajah Prapto semakin gugup.
Aku tidak menerima kabar apapun dari orang itu.
Tapi, ini masih tiga hari, bukankah dia bilang paling lama satu Minggu?
Prapto menyangka, jika orang suruhannya masih berusaha mencari celah untuk bisa membunuh Nara. Dia tidak merasa jika senjata yang di kirim pada Nara, kini tengah memburunya.
"Bapak tidak mengerti maksud dari Nak Joy." Joy mengangguk seraya terkekeh.
"Tuan Jonathan." Joy berdiri di ikuti oleh Nara saat pegawai toko memanggilnya.
"Sampai jumpa lagi nanti." Tutur Joy pelan. Dia tersenyum kecut lalu melangkah menuju etalase untuk menyelesaikan pembayaran.
"Kita cari tempat lain sayang." Prapto sangat takut dengan ucapan terakhir Joy. Perasaannya mendadak tidak enak sehingga dia langsung menyeret Lisa agar segera pergi dari sana. Tangan Prapto bergetar dan mencoba menghubungi anak buahnya.
"Kenapa sih Om?" Tanya Lisa binggung.
"Kau diam dulu." Prapto mendengus kesal ketika semua nomer anak buahnya mendadak tidak aktif sebab saat ini mereka sudah tidak mau berkerja pada Prapto yang tidak pernah membayar gaji mereka. Prapto hanya memikirkan urusan pribadinya seperti sekarang. Dia lebih suka mengeluarkan uang untuk selingkuhannya daripada harus membayar para anak buahnya yang sudah lama mengabdi padanya." Sial!!! Kemana mereka!!' Umpat Prapto mulai waspada dengan sekitar. Dia tahu bagaimana Joy dan kata-kata terakhir Joy di anggapnya sebagai ancaman." Kau bisa naik taksi kan pulangnya?" Prapto berniat akan pulang ke kota asalnya untuk melarikan diri.
"Kok begitu sih Om."
"Sudahlah." Prapto mengambil dompetnya dan memberikan Lisa beberapa lembar uang." Untuk naik taksi dan jajan. Satu Minggu ke depan aku tidak bisa menemuimu, aku dinas keluar kota." Lisa tersenyum, melihat cukup banyak uang berada di tangannya.
Perduli apa aku, kalau bisa selamanya saja pergi. Dasar tua bangka!!
"Baiklah Om..."
"Om pergi ya.." Prapto memeluk Lisa sejenak kemudian masuk ke dalam mobilnya.
"Hati-hati Om, semoga kamu cepat mati!!!" Umpat Lisa kembali masuk ke dalam plaza untuk menghampiri Joy dan Nara.
Prapto menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi, wajahnya gelisah seraya terus memperhatikan kaca spion. Dia menyadari jika sedang ada yang mengikutinya. Dan bodohnya, Prapto menghentikan laju mobilnya ketika melihat wajah Erik berada di mobil tersebut.
"Ternyata dia!!" Prapto memilih tempat sepi karena tidak ingin rencananya di ketahui seseorang. Dia turun dari mobil dan bersandar pada mobil dengan gaya lamanya.
Erik keluar dari mobil dan berjalan santai ke arah Prapto, dia berdiri tepat di hadapan Prapto dengan senyum ganjilnya.
"Dia masih hidup!!" Prapto membuka pembicaraan dengan nada kasar.
"Sudah ku bereskan Pak." Jawab Erik santai.
"Istri Joy baik-baik saja. Aku tadi melihatnya." Prapto mengatakannya dengan nada tinggi sebab dia ingin mempertanyakan tentang bagaimana rencana pembunuhan Nara.
"Oh berarti saya salah orang?" Erik memasang wajah terkejut seolah dia merasa kaget mendengar kenyataan dari Prapto.
"Maksudmu apa?"
"Tenang Pak, saya sudah memvideokan pembunuhan itu." Erik merogoh ponsel dalam sakunya dan memutarkan video pembantaian keluarganya. Mata Prapto melebar, melihat video pembunuhan istri dan kedua anaknya.
"Sialan!!!" Umpatnya geram.
Bugh!!!
Erik menghantam wajah Prapto hingga tidak sadarkan diri. Roy keluar dari mobil dan semakin kagum dengan ketangkasan Erik.
"Kerja bagus." Keduanya mengangkat tubuh Prapto untuk di bawa ke markas sesuai dengan perintah Joy.
_______________________________________________________
Lisa sudah kehilangan akal sehatnya, dia menghampiri Joy karena rasa cemburu yang membakar hatinya. Pesona Joy mendorongnya kuat untuk melangkahkan kaki menuju Nara dan Joy yang akan bersiap pergi dari toko perhiasan tadi.
"Joy.." Panggil Lisa setengah berteriak. Keduanya menoleh dan tentu saja Nara langsung memasang wajah tidak suka.
"Terus berjalan." Pinta Joy tidak ingin memicu keributan dan membuat otak Nara berfikir keras.
"Bukankah kau keterlaluan Joy." Lisa menarik lengan Joy sehingga mau tidak mau keduanya berhenti.
"Keterlaluan apa!!" Joy menampis kasar tangan Lisa dari lengannya.
"Paling tidak kunjungi aku sesekali." Lisa sudah tidak memikirkan uang lagi. Yang dia mau hanyalah bagaimana caranya bisa bercinta lagi dengan Joy seperti dulu.
"Aku sudah beristri." Jawab Joy tegas. Nara menarik nafas sepanjang-panjangnya seraya memperhatikan situasi.
"Aku tidak perduli. Please Joy, kunjungi aku sesekali." Suara Lisa terdengar memohon dengan tangan yang akan kembali meraih lengan Joy.
"Dia sudah bilang tidak bisa Kak." Sahut Nara menghalangi tangan Lisa. Joy merasa kaget melihat sikap Nara sekarang namun dia sangat menyukainya.
"Aku tidak bicara padamu!!" Jawab Lisa ketus.
"Bukan padaku tapi pada suamiku, apa bedanya? Dia milikku." Joy bahagia mendengar itu hingga dia tersenyum seraya menonton apa yang tengah terjadi di hadapannya.
Naraku sudah kembali baik...
"Kau merebutnya dariku.." Ucap Lisa merasa muak dengan kenyataan yang di dengar.
"Hm jika memang kamu berfikir seperti itu tidak apa. Yang pasti jangan menganggunya lagi." Lisa masih berusaha meraih lengan Joy sehingga memaksa Nara mendorongnya hingga terduduk di lantai Plaza.
"Sialan!!!" Umpat Lisa berusaha berdiri.
"Ayo sayang." Nara meraih lengan Joy lalu menggiringnya untuk berjalan menjauh sementara Lisa masih kesulitan untuk berdiri karena sepatu hak tingginya.
"Itu baru istri Jonathan." Puji Joy merasa bangga.
"Aku memang istrimu."
"Kamu harus pemberani sayang. Jika bersamaku kamu boleh bersikap manja tapi jika merasa terdesak. Jangan tunjukkan kelemahanmu pada orang lain."
"Jadi kamu mau meninggalkan aku dan membiarkan aku hidup sendiri." Joy terkekeh melihat raut wajah Nara yang tidak memahami arti kata-katanya.
"Aku berjanji, maut pun tidak bisa memisahkan kita."
"Tadi kamu bilang begitu. Aku harus hidup sendiri dan menjadi pemberani."
"Jika terdesak sayang. Jika tidak, bergantung lah padaku."
"Nanti jatuh jika bergantung."
"Tidak akan ku biarkan jatuh."
"Itu harus." Jawab Nara dengan nada bicara merengek. Joy tersenyum lalu segera membuka pintu mobil untuk berniat pulang. Joy memasukkan kunci mobil bersamaan dengan berderingnya ponsel miliknya.
"Ya.
"Sudah beres Tuan.
"Hm..
Joy melirik ke arah Nara yang melihatnya, dia tidak ingin Nara tahu soal ini tapi rasanya tidak akan mudah untuk bisa meninggalkan Nara begitu saja.
"Tuan langsung ke sini?
"Sepertinya tidak bisa langsung.
"Baik Tuan.
Joy mengakhiri panggilannya dan mulai melajukan mobilnya. Nara masih menatapnya penuh curiga seolah dia merasa jika sebentar lagi akan di tinggalkan.
"Siapa?" Tanya Nara.
"Roy.."
"Orangmu?"
"Hm sayang... Bolehkan aku pergi ke markas sebentar?"
"Aku ikut." Joy sudah tahu jika Nara akan berkata itu sehingga raut wajahnya cenderung biasa saja.
"Akan lebih aman jika kamu di rumah sayang."
"Tidak." Jawab Nara tegas.
"Hm oke. Kamu boleh ikut tapi, kamu harus menungguku di ruangan."
"Bersama Della?"
"Tidak sayang. Itu tempat rahasia, mana mungkin Della ke sana." Joy masih memikirkan sesuatu untuk merajuk Nara agar mau di rumah saja.
"Ya sudah aku di rumah saja." Joy menoleh cepat dan merasa tidak percaya dengan apa yang di dengar." Asal tidak ke Lisa." Imbuhnya lirih.
"Mana mungkin aku ke wanita itu. Aku pastikan hanya sebentar sayang."
"Satu jam." Nara menoleh dengan wajah sendu.
"Oh Baby, aku usahakan tidak sampai satu jam." Joy mengusap lembut pipi Nara sebentar.
"Aku juga lelah dan ingin tidur. Apa Bik Yanti bisa memijat sayang?"
"Pasti bisa. Nanti kamu bertanya sendiri ya." Nara mengangguk seraya tersenyum. Kata Joy aku harus kuat sebab memang sudah seharusnya begitu. Aku istrinya, istri dari orang hebat bernama Jonathan, bukan Nathan yang lemah jadi aku juga harus kuat dan bisa mengerti kesibukannya.
Nara memutar tubuhnya, menatap wajah tampan Joy dari samping.
*Foto sebagai pemanis
Dia memang sangat sempurna...
"Kenapa?" Tanya Joy senyum-senyum.
"Tidak hehe." Nara duduk tegak sementara Joy langsung meraih jemarinya erat dan menciumnya dengan bibir hangatnya. Mobilnya tepat berhenti di bahu jalan lalu dia mengantarkan Nara masuk ke dalam terlebih dahulu.
"Hanya sebentar sayang." Ucap Joy untuk yang ketiga kalinya sebab Nara masih memeluknya erat. Bik Yanti yang sudah menunggu sejak tadi, di buat malu sendiri melihat tingkah Tuan dan Nonanya.
Astaga... Tuan sesabar itu...
Joy masih membalas pelukan Nara seraya beberapa kali mencium puncak kepalanya.
"Pasti rasanya akan lama."
"Aku sudah berjanji tidak sampai satu jam sayang." Nara merenggangkan pelukannya dan mendongak ke atas.
"Jangan bilang begitu. Satu jam lebih tidak masalah asal kamu selamat sampai di rumah. Jangan mengebut di jalan." Nara menjinjit kemudian mencium pipi Joy sebentar dan melepaskan pelukannya.
"Terimakasih..."
"Untuk apa?"
"Khawatir padaku.."
"Aku tidak ingin jadi janda." Joy terkekeh begitupun Bik Yanti.
"Kita akan menua bersama dan mati bersama jadi tidak akan ada hal seperti itu." Nara mengangguk seraya tersenyum.
"Aku pergi. I love you so much Baby." Joy mengecup dahi Nara seraya memejamkan mata.
"I love you to, dear..."
"Bik tolong jaga dia."
"Siap Tuan." Joy memegang pipi Nara sejenak kemudian berjalan pergi.
"Sakit sekali.." Gumam Nara menatap ke arah Joy dengan mata berkaca-kaca.
"Yuk Bibik pijat biar waktunya bisa berjalan cepat." Bik Yanti tahu dengan apa yang sedang dirasakan Nara sebab dulu dia juga seperti itu.
"Yang enak ya Bik mijatnya." Nara merangkul akrab pundak Bik Yanti yang lebih pendek darinya.
"Bibik kotor Non, jangan di sentuh."
"Kotor apa? Tidak kok." Bik Yanti tersenyum hangat dan menoleh sebentar ke arah wajah cantik yang ada di sampingnya.
Nona Nara sangat baik, rasanya dia memang pantas mendampingi Tuan yang kejam itu. Semoga hati Tuan bisa lebih lembut setelah ini. Tidak lagi membunuh dan menghakimi nyawa seseorang dengan tangannya.
Meski Bik Yanti baru saja menjadi pembantu Joy. Namun dia memahami bagaimana sifat kejam Joy. Dia juga sering melihat Joy mengesekusi targetnya di rumah meski dia hanya bisa diam karena niatnya hanya ingin berkerja. Namun di balik kekejamannya, Bik Yanti merasakan sisi lembut Joy yang memang selalu memerdekakan semua orang yang patuh padanya. Bahkan dia juga merasakan sendiri bagaimana baiknya Joy padanya. Bik Yanti yang merasa sudah tua, di berikan perkerjaan seringan mungkin dan di gaji dengan sangat besar. Itu kenapa dia sangat menghormati Joy sebagai Tuannya dan menutup rapat mulutnya tentang apa saja yang terjadi di rumah itu.
~Tere Liye
itu joy naranya dijaga benar benar jangan disia sia in kasian dia🥰🥰
korban selanjutnya....