NovelToon NovelToon
Mami Kecil

Mami Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Nikahmuda
Popularitas:165.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yuli Aniska

Zia, gadis cantik paling populer di sekolah terpaksa harus menikah dengan Reynan, teman sekolahnya karena sebuah insiden.
Mereka harus terpaksa terpisah karena dendam masa lalu antar kedua keluarganya.

Lima tahun menghilang dan meninggalkan Reynand, Zia kembali bersama seorang anak lelaki yang sangat tampan.
Mereka bertemu kembali dan hampir bersama. Namun lagi-lagi sebuah kejadian terpaksa memisahkan mereka lagi.

Bagaimana akhirnya? Akankah mereka bersama atau justru takdir berkata lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuli Aniska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nggak akan memaksa

Deg

Tenggorokan Zia terasa tercekat. Jantungnya bergemuruh. Oksigen dalam mobilnya seakan terus berkurang hingga ia sulit bernapas. Udara juga terasa panas meski AC dalam mobil itu masih menyala.

Zia sulit hanya untuk menelan ludahnya. Tenggorokannya pun terasa sangat kering.

Ia hanya berharap dalam hati agar lampu lalu lintas itu segera berubah hijau. Meski hanya 60 detik namun rasanya sangat lama. Seakan waktu berhenti berputar.

Zia menatap lurus ke depan. Ingatannya terus berputar tentang Reynand. Hingga suara bising klakson mobil di belakang membuyarkan lamunannya.

Ia melirik ke samping. Mobil hitam yang tepat berada di sebelahnya tadi sudah melaju.

Zia pun segera melajukan mobilnya.

Ia masih menatap lurus ke depan. Antara berkonsentrasi atau melamun.

Pikirannya masih tertuju pada orang yang mengendarai mobil yang berhenti tepat di sebelahnya tadi. Entah orang itu sempat melihatnya atau tidak. Semoga saja tidak.

Zia terus melajukan mobilnya. Terus berjalan tanpa tujuan. Entah mengapa rencana yang telah ia susun tadi hilang dalam sekejap. Hanya karena ia melihat sekilas pria itu.

Tiba-tiba suara Zean mengagetkannya.

"Kalau masih sayang nggak usah sembunyi deh mi".

"Eh..", ucap Zia menatap Zean sambil menaikkan sebelah alisnya seakan bertanya 'apa'.

"Tadi yang di mobil hitam itu papi kan?", tanya Zean masih dengan gaya santainya.

Ia tak tahu saja sejak tadi jantung maminya masih bergemuruh. Belum juga tenang, ini Zean malah mengatakan hal semacam itu.

"Zean..", suara Zia tercekat namun masih tetap fokus mengemudi.

Zean paham akan ucapan maminya yang seakan bertanya kenapa ia berkata seperti itu.

"Zean tahu mi itu tadi papi, papi Rey. Zean udah tahu siapa papi Zean dan mami nggak perlu nyembunyiin lagi dari Zean. Tapi tenang aja, Zean nggak akan maksa mami untuk kita bertemu dengan papi, sampai mami benar-benar telah siap", tutur Zean jujur.

Zia benar-benar melongo dibuatnya. Bagaimana mungkin Zean tahu sedangkan ia tak pernah menunjukkan satu pun foto Reynand.

Ia tetap harus berusaha tenang. Meski sekarang ia merasakan matanya yang semakin panas. Ia tahu air matanya tak kan pernah bisa tertahan untuk tak keluar.

"Maafin mami sayang", lirihnya.

"Mami nggak perlu minta maaf. Zean paham sama perasaan mami. Sekarang kita pulang aja ya mi, Zean capek pengen istirahat aja", sahut Zean.

Bohong. Sebenarnya Zean berbohong yang ingin pulang. Sebenarnya ia sangat ingin jalan-jalan mengelilingi kota tempat kelahiran maminya itu. Namun melihat keadaan maminya yang sedang tak baik-baik saja akhirnya ia memilih untuk mengajak pulang.

"Baiklah sekarang kita pulang. Tapi mami janji sama kamu hari minggu nanti kita akan puaskan untuk jalan-jalan", tutur Zia tersenyum pada Zean.

Zia bukan tak tahu maksud Zean yang paham dengan keadaan maminya. Ia tahu Zean berkata seperti itu bukan karena keinginannya yang sesungguhnya.

Namun Zia tak ingin terus terlihat muram. Ia lebih memilih menuruti keinginan Zean, karena akam percuma juga mereka lanjut jalan-jalan sementara pikiran Zia masih tak tenang.

Zia memutar balikkan mobilnya menuju tempat tinggal mereka. Sudah cukup jauh memang, tapi dari pada tak tenang lebih baik pulang.

Tak butuh waktu lama mereka sampai di parkiran apartemen. Zean keluar terlebih dahulu. Disusul Zia dibelakangnya. Mereka berjalan menuju lift yang akan membawa ke tempatnya di lantai atas.

Zean merasa sejak tadi ada yang mengikuti. Namun setiap kali menoleh ia tak menemukan siapa pun. Mungkin hanya perasaannya saja pikirnya.

Sedangkan Zia mungkin tak merasakan. Terbukti dari sikapnya yang tenang. Meskipun masih ada sisa ketegangan akibat kejadiam di lampu merah tadi.

Ting

Bel lift berbunyi menandakan telah sampai. Pintu lift terbuka. Pemandangan di depannya benar-benar membuat Zia melongo tak percaya.

Baru saja ia bernapas lega namun sekarang apa. Pria itu berada tepat di depannya. Memang cukup jauh tapi terlihat jelas oleh Zia.

Sedangkan pria yang ia lihat masih terlihat asyik mengobrol dengan seseorang. Tampaknya ia tak sempat melihat siapa yang datang. Artinya ia tak tahu jika itu dirinya.

Sungguh Zia masih cukup beruntung. Orang yang mengobrol dengan pria itu sedikit bergeser sehingga menutupi pandangan pria itu terhadapnya.

Buru-buru Zia menarik tangan Zean untuk segera masuk ke dalam ruangannya.

Sesampai di dalam, ia menarik napas dalam-dalam. Mencoba menghirup udara sebanyak mungkin. Rasanya ia tadi benar-benar tak bisa bernapas untuk sesaat.

Zean yang melihat tingkah mami kecilnya itu hanya bisa menggelengkan kepala. Maminya yang selalu berani menghadapi apapun termasuk preman bertubuh besar, kini terlihat lemah menghadapai seorang pria.

Bukan, bukan Zia tak berani. Tapi Zia belum siap. Belum siap untuk segala kemungkinan buruk yang terjadi.

Ia merasa tak akan siap menerima rasa sakit lagi. Meskipun itu yang saat ini ia rasakan.

Merindukan seseorang yang telah terpaut di hatinya memang benar-benar menyiksa.

Sekarang Zia bahkan bisa saja menemui orang itu, namun nyalinya tak sekuat itu. Bahkan rasa rindu itu semakin dalam seiring dengan lebih seringnya ia melihat pria itu meskipun dengan jarak yang jauh.

"Zean, kamu mau makan?", tanyanya yang menyadari jika ini sudah waktunya makan siang.

Zean mengangguk menanggapi pertanyaan maminya.

Zia lalu bergegas ke dapur. Mengambil beberapa bahan makanan yang akan ia masak untuknya dan Zean.

Beberapa buah buncis dan brokoli serta ikan salmon kesukaan Zean ia racik dengan beberapa bumbu.

Untuk selera makan memang Zean sangat mewarisi maminya. Namun untuk sifat dan beberapa anggota tubuhnya sangat mirip dengan papinya.

Zean menunggu maminya memasak dengan duduk di kursi meja makan. Ia membuka tabnya lalu memainkan beberapa permainan kesukaannya.

Dua puluh menit berlalu. Beberapa makanan telah tersaji di atas meja. Zean mengambil piringnya lalu mengisi makanan kesukaannya itu ke dalamnya.

Zia tersenyum. Setidaknya meskipun hari ini mereka gagal jalan-jalan tapi ia sempat memasak untuk anaknya.

Selesai makan, Zean pamit ke kamar untuk istirahat. Zia membereskan semua bekas makannya dan Zean lalu setelah itu juga menuju ke kamarnya.

Zia masih tak habis pikir. Baru dalam hitungan berapa jam ia berada di sini namun sudah beberapa kali hampir bertemu dengan orang yang masih ingin ia hindari.

Dunia memang terasa sangat sempit. Jelas saja karena ia datang tepat di kota pria itu tinggal dulu. Coba saja ia datang ke kampung, mungkin tak akan secepat ini.

Sementara di ruangan lain yang masih satu lantai dengannya, seorang pria melebarkan senyumnya.

Terkesan aneh tapi ini salah satj rencananya. Ia masih akan tetap berpura-pura belum mengetahui jika istrinya telah kembali.

Jika dengan kepura-puraannya bisa membuatnya dekat dengan wanita itu meski secara tak langsung, maka ia akan terus lakukan.

Pria yang tak lain adalah Reynand itu terus saja tersenyum. Mengingat kejadian di lampu merah saja sudah sangat membuatnya senang.

Melihat ekspresi Zia saat tak sengaja meliriknya itu sangat menggemaskan menurutnya.

Dan juga tadi pada saat di depan lift. Bahkan Zia sampai melongo dan bertindak seolah maling yang tengah bersembunyi dari kejaran polisi saja.

Tapi memang ia adalah maling. Maling yang berhasil mencuri hatinya. Dan ia akan mengambilnya lagi bersama dengan hati maling itu sendiri.

Reynand sengaja membeli salah satu unit di apartemen itu. Tujuannya tentu saja ingin berdekatan dengan Zia dan juga anaknya.

"Zean", gumamnya.

Anak kecil yang sangat mirip dengannya. Sempurna. Tampan dan juga cerdas.

Siapapun yang mengenal Reynand sudah pasti akan mengatakan jika mereka mirip. Bukan hanya mirip, tapi Zean adalah Reynand versi anak-anak.

"Sebentar lagi kita akan bertemu nak. Papi sangat merindukanmu dan juga mami. Tapi kita harus bersabar sebentar hingga mamimu siap", cicitnya lagi memandang foto Zean di dalam ponselnya.

1
Rinto Mamonto
tadi doni sekqrang bagas mana yg bener thor
Rinto Mamonto
crtanya bgus hanya ada yang ilang kok ngak di ceritain pas pertemuan keluarga viba dan rey saat di reatoran bertepatan ortunya rey ketemu zean
azkiya jeon🐰🐇
haii Thor...👋👋
Marnie Marsin
Lanjut
Lastri Gete
mita
Qomariyah Kom
lanjut thor
Lili Suryani Yahya
sapa yaaaa
mott_
Ohh ternyata, haishhh tp ngapa jd copet dah..
mott_
Wahh wahh rahasia apa yg tersimpan..
Lili Suryani Yahya
Siapa yaaaa
mott_
Wahh ada rahasia apa nih.. Kok hmmm..
Lili Suryani Yahya
kembarannya Reynand
Lili Suryani Yahya
bibit unggul bngettt
Lili Suryani Yahya
Jngan2 anak kembaran Papinya Zean kali yaaaa
Lili Suryani Yahya
Jngan sampai lagi ada pengganggu deeehh, malas jadinya pisahnya z lumayan lama kaaaannn
Rina Bita
semangat up thoorr🤗

2 likes mendarat dariSAHABAT TAK KASAT MATA😍
mott_
Nah kek nya papa naura yg onoh tuh gk mungkin rey.. Kl iya rey masa gk knal? Setidaknya kan.. Tapi ya pokoknya harus yg onoh papa naura 😁😁
Ambar Arum Sari: betul setuju banget,,, pasti bapaknya yang onoh🤭🤭🤭
total 1 replies
Dwi Cimut
apa yang nabrak rey itu papa naura y????
mott_
Lho k-kok? Huuuh terkejut aku, semoga bukan deh..
lian asheeva
jangan ada masalah lagi ya thor😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!