Maya terpaksa menggantikan ibu nya yang tengah sakit untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah seorang pengusaha kaya raya yang sudah memiliki seorang istri yang berprofesi sebagai model.
Karna kesibukan sang istri yang begitu padat membuat Alvian lebih banyak mengahabiskan waktunya di rumah bersama pembantunya daripada dengan istrinya sendiri, hingga pada suatu hari ia melakukan kesalahan yang fatal terhadap pembantunya itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raisya ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
"Kita ke dokter ya" ucap Alvian saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Tidak usah mas... aku hanya perlu istirahat aja, kita pulang aja ya mas," bujuk Maya.
" Kamu yakin gak apa-apa"
"Ia mas aku yakin, aku cuman pengen tiduran" Ucap Maya meyakinkan Suaminya.
"Ya sudah kalo gitu, kita pulang ya"
**
"Ya ampun... Neng Maya kenapa, itu teh mukanya meni pucet pisan" Tanya bi sum saat membukakan pintu untuk majikannya.
"Saya tidak apa-apa bi..." Jawab Maya sambil tersenyum tipis.
"Bi tolong bikinin Maya minuman hangat ya, nanti bawain ke kamar" ucap Alvian yang tengah memapah Maya, ia khawatir jika Maya terjatuh.
"Ia tuan" jawab bibi patuh.
Alvian membantu Maya untuk berbaring di tempat tidur, dan mengolesi dahi Maya dengan minyak angin agar bisa mengurangi rasa pusing di kepala Maya.
Tak berselang lama, Bi Sumi pun datang dengan membawakan Minuman yang di minta oleh Alvian tadi.
"Ini neng di minum dulu teh nya.... mumpung masih anget, biar perut si neng teh enakan" Ucap Bibi memberikan teh manis hangat kepada Maya.
"Makasih bi..." ucap Maya sambil mengambil minuman tersebut.
"Bu temani Maya dulu ya di sini, saya mau mandi dan ganti pakaian dulu" ucap Alvian sambil beranjak dari tempat duduk.
"Ia tuan..."
"Oia... Bella dimana bi" Tanya Alvian yang tidak melihat keberadaan istri pertamanya.
"Nyonya belum pulang tuan dari tadi pagi" Jelas Bibi.
"Oh.. ya sudah kalau begitu"
"May... saya ke kamar dulu ya" pamit Alvian, Maya hanya menjawab dengan Sebuah anggukan.
"Neng... kalo lagi hamil teh tong suka banyak pikiran, kasian sama si dede anu Aya Dina perut Eneng" ucap Bibi sambil memijit kaki Maya.
"Neng Maya teh pasti mikirin Tuan sama nyonya yang bertengkar tadi pagi ya" tebak bibi, dan Maya tampak diam, seolah mengiyakan ucapan Bibi.
"Biarin aja atuh neng, jangan di pikirin, itu mah urusan mereka, Neng Maya mah tong merasa bersalah"
"Tapi Bi... tetep aja Maya merasa kehadiran Maya disini membuat hubungan mereka jadi kacau, rasanya Maya ingin pergi sejauh mungkin dari tempat ini" ucap Maya lirih.
"Jangan bicara gitu atuh neng.... kalau neng Maya pergi dari sini, belum tentu mereka teh jadi akur lagi"
"Apalagi sikap Nyona mah kaya gitu, gak perhatian sama suami teh"
"Pokok na mulai sekarang mah, neng Maya mah pokus we jadi istri yang baik biat suami, layani suami neng Maya dengan baik, lakukan semua kewajiban Neng Maya sebagai istri"
"Kan neng Maya teh istri sah nya tuan, bukan simpenan nya"
"Bibi perhatikan teh, Neng Maya sama tuan Alvian sama-sama canggung, kaya yang jaga jarak, kaya bukan suami istri"
"Padahal keliatannya Tuan teh, perhatian pisan sama neng Maya"
"Dan tuan juga pasti butuh perhatian dari neng Maya"
"Pokoknya bTong di denger ucapan nyonya mah, Ken bae, dia rek ngomong kie rek ngomong kitu ge, tong di masukin ke dalam hati" Ucap Bibi menasehati Maya, kedatangan bibi ke rumah itu membuat Maya merasa mempunyai teman untuk bertukar pikiran, Maya juga sudah menceritakan apa yang di alami oleh dirinya waktu itu, sehingga ia menikah dengan Alvian.
***
Kejadian tadi sore di kampus membuat hati farel semakin panas, ia benar-benar benci melihat kedekatan antara Maya dan juga Alvian.
Seperti biasa, Farel selalu melampiaskan amarahnya dengan pergi ke club' yang biasa ia kunjungi, tapi kali ini ia datang sendiri, sebab semua teman-temannya sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Melihat kedatang Farel, Rara langsung menghampirinya, tapi sikap Farel masih tetap dingin, walaupun tadi pagi mereka sudah bertemu dan berboncengan ke sekolah.
"Bawakan saya tiga botol Wine" ucap Farel cepat.
"Tiga botol ? " tanya Rara Heran, karna Farel hanya sendiri, untuk apa ia mengahabiskan sebanyak itu.
"Ayo cepetan" bentak Farel dengan wajah kesal.
"I_ia tunggu sebentar" jawab Rara bergegas mengambil pesanan Farel.
Farel langsung menegak minuman-minuman yang di bawakan oleh Rara dengan cepat, melampiaskan amarahnya melalui minuman tersebut, berharap bisa melupakan Maya dari pikirannya.
Bahkan ia sempat meminta Rara untuk membawakannya lagi, karna ketiga botol yang ia pesan tadi sudah habis tak tersisa.
Farel sudah tampak mabuk berat, tapi ia masih belum berhenti minum, bahkan sampai Club' sudah mau tutup, hingga akhirnya Farel terkapar tak berdaya di sana
Rara sudah mencoba membangunkan Farel dan memintanya untuk segera meninggalkan club' tersebut, tapi Farel tak bergeming sama sekali.
"Mel... gimana nih, dia gak bangun-bangun, mana dia sendirian lagi gak sama temennya" tanya Rara bingung.
"Ya udah sih... biarin aja, paling nanti di seret keluar sama petugas keamanan" Jawab Melly tampak santai, sambil membersihkan meja.
"Gue kasian Mel... apalagi tadi pagi dia udah nolongin gue" ucap Rara lagi.
"Ya udah Sih kalo lo kasian sama dia, bawa aja dia pulang ke kostan kita, gak jauh juga kan jarak nya dari sini" ucap Melly santai
"Tapi Lo bantuin gue ya Mel..."
"Sorry Ra gue gak bisa... soalnya gue mau pergi lagi sama gebetan gue yang kemaren"
"Berarti gue cuman berdua doang dong di kosan sama dia, nanti kalo dia macem-macem sama gue gimana" Ucap Rara membayangkan hal buruk yang bisa saja terjadi.
"Ya elo layanin lah... gak usah lugu-lugu amat deh jadi cewek, kapan lagi coba bisa tidur sama cowok secakep dan setajir dia, kalo gue sih gak bakalan nolak"
"Liat aja tuh... dari luar aja body nya keren banget apalagi dalemnya"
"uuuuuuuhhhhh" Ucap Melly menggoda Maya
"Dasar mesum Lo" ucap Rara kesal.
Karena merasa kasihan terhadap Farel, akhirnya Rara terpaksa membawa Farel pulang ke kosan nya, ia tampak kesulitan memapah tubuh Farel yang tampak lemas akibat mabuk berat, beberapa kali Rara harus berhenti untuk beristirahat sejenak karna tubuh Farel terasa sangat berat.
Dengan penuh perjuangan, akhirnya Rara berhasil membawa Farel ke dalam kostan, Dahi Rara tampak di penuhi oleh keringat, nafasnya pun sampai terengah-engah seperti habis lari maraton.
"Berat banget sih Lo" Ucap Rara setelah melemparkan Farel ke tempat tidur, sambil mengusap keringat di dahinya.
"Kalo gue gak kasian sama dia udah gue tinggal ni cowok di jalan, pake acara muntah segala lagi tadi" gerutu Rara.
"Aduh... gimana nih... bajunya kotor lagi kena muntahannya sendiri, kalo bajunya gak di lepas nanti baunya kemana-mana lagi" Ucap Rara bingung.
"Ngerepotin banget sih jadi orang" Ucap Rara kesal, karna ia terpaksa harus membuka pakaian Farel.
Dengan ragu-ragu, Rara mulai membuka pakaian Farel sedikit demi sedikit, ia juga membawa wadah dan lap untuk membersihkan tubuh Farel.
Dengan Susah payah akhirnya Rara berhasil membuka pakaian Farel, namun ia di buat kagum saat melihat dada bidang farel yang tampak sixpack, begitu indah untuk dipandang, persis seperti yang di ucapkan Melly tadi.
Kemudian Rara memberanikan diri untuk membersihkan dada Farel yang tampak menggoda tersebut, yang di penuhi dengan otot-otot yang kuat.
Rata tampak menelan ludahnya berkali-kali saat menyentuh tubuh Farel, tangannya terasa sangat dingin, dan dada nya tiba-tiba berdetak begitu cepat, ucapan-ucapan Melly selama ini yang selalu menceritakan pengalamannya tidur dengan beberapa pria tiba-tiba menari-nari dipikirannya, selama ini Melly memang selalu meracuninya dengan hal-hal yang berbau sexs.
Rara berusaha menepis itu semua dari pikirannya, dan berusaha untuk tetap berpikir waras.
"Sadar Ra sadar... jangan terpengaruh omongan Melly" ucap Rara sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
**
Saat Pagi hari, Farel terbangun dengan kepala yang terasa berat, kedua matanya tampak mengamati sekeliling ruangan tersebut, ia benar-benar merasa asing dengan tempat itu, ia juga terkejut saat melihat dirinya tidak memakai pakaian.
Sesaat kemudian, ia melihat seorang wanita yang tengah tertidur di atas sofa, namun ia tidak bisa melihat wajah wanita itu karena terhalang oleh rambut.
Farel mencoba mendekat ke arah perempuan tersebut, kemudian ia menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah itu.
"Dia kan cewe di bar itu" gumam Farel saat melihat wajah Rara.
Rara pun terbangun saat merasakan ada seseorang yang menyentuh rambutnya.
"Elo...?? mau ngapain Lo, jangan Macem sama gue" pekik Rara yang langsung beringsut bangun seraya menyilangkan tangannya di depan dada, ia berpikir kalau Farel hendak melakukan yang tidak-tidak kepadanya saat ia tertidur, apalagi saat itu Farel masih bertelanjang dada.
"Harusnya gue yang nanya sama Lo, kenapa gue bisa ada di sini, dan kemana baju gue, jangan-jangan Lo ngapa-ngapain gue ya semalam" tuduh Farel.
"Enak aja lo"
"Bukannya terimakasih sama gue, malah nuduh gue yang nggak-nggak"
"Kalo gue gak bawa Lo kesini, lo pasti udah tidur di jalanan" ucap Rara kesal.
"Trus ini apa, kenapa gue bisa telanjang dada kaya gini" Ucap Farel sambil merentangkan tangannya ke bawah, memperlihatkan dada bidangnya.
"Semalem Lo muntah-muntah, jadi baju Lo kotor, ke paksa deh gue bersihin badan Lo" jelas Rara lagi.
"Udah sekarang mening Lo balik, gue mau siap-siap sekolah"
"Ni jaket yang Lo pinjemin ke gue kemaren" ucap Rara sambil memberikan jaket tersebut dengan kasar.