Zan Munarga, dikenal sebagai si genius ulung dalam dunia perbisnisan dan elektronik, perusahaan anak cabang di mana ia memiliki saham tengah diambang pintu kebangkrutan, lalu pemilik perusahaan mencoba bernegosiasi padanya, dengan cara menukarkan keponakannya sendiri.
Dibalik kegeniusan Zan Munarga, ia memiliki kelainan otak dan didiagnosis tidak akan bertahan hidup lebih lama, maka dari itu dia membutuhkan seorang wanita untuk memberinya keturunan, sehingga tawaran itu pun ia terima.
Zan Munarga tak pernah menyangka bahwa anak yang dilahirkan oleh Sania Chen, istri kontraknya itu, merupakan bayi kembar, di mana saat itu dia hanya membawa satu anak, dan satu anak lagi dibawa oleh Sania.
Lalu bagaimana pada akhirnya Zan Munarga bisa mengetahui fakta sebenarnya? Dan mampukah ia sembuh dari kelainan otak yang dialami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marnii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikah Sekarang
"Tuhan, kenapa bisa ada pria seperti ini? Dan yang lebih ingin kupertanyakan, kenapa aku bisa bertemu dengan dia? Hidupku selalu tak diberkati jika berhadapan dengannya." Sania mendengus lemah dalam hati ketika Zan memintanya untuk mendorong kursi roda yang diduduki pria itu, sudah jelas-jelas Zan masih bisa berjalan meski sakit.
"Kamu tidak mau? Jadi kamu benar-benar ingin saya mati sekarang juga karena mendorong kursi roda sendiri sampai ke depan." Zan tampak semakin senang mengerjai Sania.
"Aku tidak pernah mengatakan seperti itu, aku akan dorong, sabar sedikit bisa tidak?" bentak Sania lalu mendorong kursi roda itu dengan kasar.
"Eh, itu bukannya Presdir Eternal Group? Siapa wanita itu?" para perawat yang bertugas, nampak berbisik satu sama lain melihat Sania yang mendorong Tubuh Zan dengan kursi roda.
"Mungkin asisten atau pelayannya," jawab perawat yang lain.
"Kalau pelayannya, aku masih bisa merasa lega, sungguh tidak rela jika Tuan presdir itu memiliki kekasih, sangat-sangat tidak rela, aku masih berharap dia ditakdirkan untuk menjadi jodohku." Perawat itu tampak memelas memandangi wajah Zan penuh kekaguman.
Sania mulai merasa risih ketika dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang, ke mana pun ia melirik, ia hanya mendapatkan tatapan tajam penuh selidik dari mereka.
"Apa kamu sepopuler ini di kalangan masyarakat? Apa kamu seperti sosok yang harus dilindungi oleh mereka? Kenapa mereka menatapku seperti sedang menatap musuh? Seakan ingin memangsaku kapan saja," bisik Sania dengan tubuh yang bergidik ngeri.
Zan menyunggingkan bibir tersenyum ringan. "Saya tidak merasa diri saya populer di mata orang-orang, bagaimana menurutmu? Tapi jika benar begitu, seharusnya kamu merasa bangga karena sebantar lagi akan menjadi istri seorang pria yang sedang populer di mata masyarakat."
"Kenapa aku harus bangga? Jika boleh memilih, aku lebih memilih bertukar posisi dengan mereka dan tidak pernah mengenalmu, itu adalah keberuntungan paling sempurna yang kuinginkan," sindir Sania sembari tersenyum sinis.
"Ingat kata-katamu hari ini, karena suatu hari nanti, kamu pasti akan menyesalinya, kamu akan merasa bangga memiliki pria seperti saya, jangan pernah meremehkan kemampuan saya, oke? Kamu tidak akan pernah tahu sebelum kamu mencobanya, benar begitu?" goda Zan sambil tersenyum percaya diri.
"Terserah kau saja, aku akan memberimu hadiah besar jika memang kau berhasil membuatku menyesali perkataanku barusan." Sania pun semakin terlihat angkuh dan berani menantang sesuatu yang belum ia ketahui untuk kehidupan di masa mendatang.
"Ucapanmu barusan, kusimpan rapi di memori ingatanku, akan kutagih suatu saat nanti."
Tanpa sadar mereka pun telah tiba di parkiran, Sania membukakan pintu mobil untuk Zan dan mengabaikan kalimat Zan yang paling akhir.
Dalam perjalanan, tiba-tiba Zan meminta Sania untuk putar mobil setelah ia mendapat pesan dari Sekertaris Wen.
"Ke mana?" tanya Sania.
"Kantor catatan sipil, kita akan menikah hari ini," jawab Zan santai.
Sania seketika menginjak rem di tengah jalan. "Menikah? Kenapa harus sekarang? Kenapa kamu tidak diskusikan terlebih dahulu padaku? Lagian menikah bukan hanya sekedar mengucapkan janji suci, masih ada prosedur-prosedur lain yang harus dipenuhi, masih ada syarat-syarat umum yang harus dikerjakan, menikah tanpa persiapan, kau kira ini pernikahan kucing?" Sania tak henti-hentinya menggerutu dan memarahi Zan.
"Wen Lee sudah mengurus segala persiapannya, gaun pengantinmu bahkan sudah ia siapkan, kita hanya tinggal menikah saja dan menjadi pengantin baru, apa lagi yang harus kamu pikirkan?"
"Apa? Jadi dia bukan pergi ke perusahaan melainkan mengurus pernikahan kita? Berani-beraninya dia berbohong." Sania mencoba untuk mengatur napasnya dari kontrol emosional yang tak karuan.
"Saya sudah katakan, kamu jangan meremehkan saya." Zan memejamkan mata tak peduli, semuanya memang sudah ia rencanakan bersama sekertaris setianya itu.
demi bonus sania ck ck ck