[[ TAMAT ]]
IG : @rumaika_sally
Menikahi temen sebangku semasa SMA. Bagaimana rasanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rumaika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berbohong
Susi, Bima dan Mayang turun bersamaan. Papa menelponnya dari kantor dan siap menjemput. Mama Susi juga sudah menunggu. Seharian itu setelah bercerita panjang lebar, mereka merekam beberapa video. Susi memberi banyak ide. Mereka bertiga menjadi akrab layaknya sudah berteman bertahun-tahun.
Di bawah, ada beberapa anak lain menunggu dijemput. Mereka mengobrol di pos jaga. Ada Bagas juga di situ.
Papa Mayang tak lama kemudian muncul dengan mobilnya. Ia turun dan menyapa teman-teman Mayang yang lain. Bima membereskan ransel dan tas tendanya.
"Bima kenapa?" Om Haris nampak terkejut. Ia menunjuk bibir Bima yang lebam. Teman-teman Bima yang lain ikut tegang. Ada Bagas juga. Diam-diam ia mencuri dengar.
"Dipukul Bagas," Bima menjawab singkat. Sengaja agar Bagas mendegar. Badan Susi kaku, ia tegang. Ah, Bima. Ia merasa ia ikut bertanggung jawab atas semua.
"Hah, gimana? Kenapa?" Papa Mayang tampak panik. Mayang mengamit lengan Susi, ia takut akan reaksi Papanya kalau dia tahu Bima berantem. Pasti Papa akan ngadu ke Tante Asti.
"Nggak papa, Om. Cuma luka sedikit. Bagas juga nggak sengaja kok. Itu tanya aja orangnya?" Bima menunjuk Bagas. Lagi-lagi ia lakukan dengan sengaja. Bagas pucat. Bagaimanapun Bima nggak bohong sama sekali bahwa Bagas yang menonjoknya. Tapi ia merasa dipojokkan tanpa bisa membela diri. Ia merasa Bima menyerangnya dengan sengaja di depan Papa Mayang.
"Itu Om. Bima semalam kencing. Agak ribut suaranya karena Bima nabrak barang dan yang lainnya. Soalnya gelap, Bima nggak lihat terus buru-buru karena kebelet. Bagas pikir Bima maling atau orang jahat. Terus Bima diserang dari belakang. Ya, gelap sih. Bagas nggak salah kok. Bagas ketua kelas, Om. Udah tugasnya melindungi teman-teman. Bima aja yang nggak hati-hati dan bikin ribut ," Bima menjelaskan. Ia menyusun cerita rekayasa.
Bagas mengangguk tanda setuju. Bagaimanapun kebohongan Bima menyelamatkannya. Yang lain menghembuskan nafas lega, termasuk Susi.
"Ooh. Oke oke. Tapi Bima nggak apa-apa?"
"Tenang Oom. Aman kok."
Mereka berpisah. Mayang melambaikan tangan pada Susi dadi balik jendela kursi belakang. Bima diminta menyetir. Papa Mayang sibuk dengan ponsel. Dia bilang ada urusan di Pabrik yang perlu di urus. Padahal diam-diam ia mengirimkan pesan pada Tante Asti. Ia bilang anak-anak hampir tiba di villa. Sebuah pesta kejutan disiapkan untuk Mayang. Bagaimanapun hari ini ulangtahunnya. Ulang tahun pertama dimana Papa ingin Mayang merayakannya dengan sukacita. Tanpa kesedihan lagi.
Bima tak tahu rencana ini. Tante Asti menyalakan lilin-lilin. Kue tart bertopping manis itu ia siapkan.
Mayang diminta duduk. Papa menutup mata Mayang di luar. Ini kejutan katanya. Bima mengerti kode ini. Ia duluan masuk rumah. Bersiap mengabadikan momen ini dengan kameranya.
Tante Asti bersiap dengan kue. Mayang dibimbing papanya memasuki ruangan. Mata Mama Bima membelak menyadari sesuatu. Anak itu bertengkar lagi. Ia melihat bekas luka pada bibir Bima. Bima menyadari pandangan mata Mamanya yang terlihat menghakimi. Ia berkata pelan, "Jatuh, Ma. Sini juga luka," Bima menunjuk lututnya yang terbungkus celana jeans.
Mamanya hanya mengangguk. Ingin ia percaya anak ini. Tapi hatinya tetap mengganjal. Belasan kali ia melihat anak itu pulang ke rumah dengan babak belur.
Mayang duduk di meja makan. Papa perlahan menurunkan penutup matanya. Di depannya sebuah kue ulang tahun disiapkan. Lilin-lilin dinyalakan.
Bukan Mayang kalau tak menangis. Ini hari spesialnya. Tadi malam teman-temannya sudah merayakan momen ini dengannya. Hal yang sebelumnya bahkan tak pernah ia banyangkan. Sekarang ada Papanya. Papa, benar-benar Papa. Ini sungguhan. Mayang mengusap air matanya.
"Hari ini Papa nggak bersedih-sedih lagi. Papa banyak ngobrol sama Mama hari ini. Papa pikir Mama lebih seneng sekarang di atas sana. Mama melihat kita sudah jauh lebih baik. Mayang lebih bahagia sekarang, Papa juga. 15 tahun sudah Mama pergi. Kayaknya terlalu terlambat buat Papa bikin Mayang bahagia dengan cara sederhana kayak gini. Tapi lebih baik terlambat kan. Mama pergi ninggalin Papa. Tapi ia beri Papa hal yang lebih besar lagi untuk Papa jaga. Ada Mayang yang selalu ada buat Papa. Selamat ulang tahun, Sayang."
Mayang memeluknya. Selayaknya momen keluarga, mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun dan meniup lilin. Mereka berempat mengambil foto. Bima mengatur kameranya. Papa Mayang yang meminta.
Tante Asti menyarankan agar mereka menginap saja. Toh anak-anak besok masih libur sekolah. Dan Mayang punya baju gantinya di ransel camping. Mereka setuju. Mayang dan Bima mandi.
Mayang menyusul Papanya dan Tante Asti yang sedang terlihat serius ngobrol di teras samping. Tante Asti tersenyum melihat kedatangannya. Gadis itu, 15 tahun sudah usianya. Jika putrinya masih hidup, meraka pasti akan cocok sekali disandingkan, bahkan mungkin berteman akrab.
Apapun karya mu bagus thor,,Aku salut sgn perjuangannya Bima 👍🏻👍🏻👍🏻⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️🌺🌺🌺🌺🌺🌹🌹🌹🌹