Zia dan Zion, yang memiliki keterikatan sejak kecil, terpisah cukup lama lalu bertemu lagi saat salah satunya menjadi hantu. Bersama mereka menghadapi dan mengungkap peristiwa-peristiwa ganjil yang terjadi di sekitar mereka. Akankah akhirnya mereka bisa bersama menyelesaikan semua misteri yang mewarnai hidup mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Zia Dan Zion
Pagi menjelang. Hujan telah lama reda berjam-jam yang lalu. Sinar matahari mulai menerobos masuk melalui kaca jendela kamar Zia.
Zia pelahan membuka matanya, mengerjap karena cahaya matahari yang kini begitu silau. Zia bangun dan duduk di atas springbednya, sejenak ia terdiam, teringat sesuatu yang membuat wajahnya memerah pagi-pagi, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Zia menghela nafas...
Bagaimana ini, ia bahkan terlalu malu keluar kamar.
Zion sendiri sudah kembali masuk ke dalam tubuh Ziyan yang sudah kembali tertidur.
Benar kata Melan, sekali saja hantu bisa memasuki seseorang, maka akan mudah baginya untuk kembali lagi saat manusia itu lengah.
Tampaknya Melan meskipun menjadi hantu belum begitu lama, tapi ia memiliki informasi yang cukup banyak, mungkin karena ia termasuk hantu kepo.
Zion bangun dari tempat tidur dengan tubuh Ziyan. Menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap menunggu Paman Salim yang akan segera datang untuk bertemu beberapa orang-orang dekat kakeknya lagi demi meminta dukungan saat nanti rapat luar biasa digelar.
Zion tampak tengah mematut diri di depan cermin, saat ia kemudian ingat lagi kejadian semalam.
Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang.
Zia, apa dia sudah bangun? Batinnya dan satu ulas senyum terbit di bibirnya.
Zion keluar dari kamar, Zia ternyata sudah sibuk menyiapkan sarapan. Gadis itu tak menyadari Zion sudah ada di belakangnya.
"Pagi sayang."
Tiba-tiba Zion memeluk Zia dari belakang, Zia menoleh dan mengenali sorot mata itu milik Zion.
"Kamu bisa masuk tubuh Ziyan lagi?"
Tanya Zia.
Zion mengangguk lalu melepas pelukannya.
"Masuk ke hatimu saja aku bisa, apalagi hanya masuk ke tubuh ini."
Gombal Zion membuat Zia harus pura-pura kesal.
"Kamu tidur nyenyak, jadi aku ngga ingin membangunkan."
Kata Zion.
"Iyah, aku yang harusnya minta maaf karena tidur sampe ngga kerasa apa-apa."
Kata Zia.
"Hmm... Rupanya kamu ngga ngerasa apa-apa, padahal sampai sekarang aku masih bisa ngerasainnya.".
Goda Zion yang langsung mendapat pukulan di lengannya.
"Kamu mau mati ya, Melan sudah pulang."
Kata Zia kesal.
Zion tertawa sambil duduk di kursinya untuk segera menikmati sarapan.
Selang beberapa menit Paman Salim datang dengan beberapa map di tangan. Ia meminta tolong pada Zia untuk dibuatkan kopi.
"Saya sudah memesan tiket untuk terbang ke Kuala Lumpur besok, jika hari ini kita pastikan dapat dua suara lagi dan besok kita dapat dukungan dari Malaysia dan Singapur, kita justru yang akan bisa menendang Heri Sapta dan koleganya dari Alpha Centauri Grup."
Kata Paman Salim.
Paman Salim yang sesungguhnya dulu menjabat sebagai sekretaris Ayah Zion sangat cekatan mengurus semuanya. Sekian puluh tahun ia juga tetap menjadi orang kepercayaan Ardi Subrata, termasuk mengawal, mengajari, dan mengantar Zion ke mana saja.
Bagi sebagian orang melihat Paman Salim hanyalah pesuruh dan driver saja di sisi Zion, padahal untuk Zion sendiri, Paman Salim merangkap segalanya.
"Haruskah kita tetap ke Kuala Lumpur paman?"
Tanya Zion. Ia mulai gundah. Ketakutan pernikahan atas nama bisnis itu tiba-tiba mengganggunya.
"Apakah anda ragu Tuan?"
Tanya Paman Salim.
Zion diam. Bingung.
"Tenang saja, nanti setelah tuan muda Zion bangun, ia pasti tak masalah menjalani pernikahan itu. Ia sangat tau bahwa hidupnya adalah untuk perusahaan."
Zion yang sejatinya berada di tubuh Ziyan serasa dipaksa menelan pil paling pahit.
Bayangan semalam bersama Zia membuatnya tak ingin melepas perasaannya. Tapi, kenyataan ini...
**---------**
Zion akan tetap ke Kuala Lumpur, itu artinya suatu hari ia akan tetap menikahi perempuan anak pengusaha itu.
Lalu apa artinya yang dilakukan mereka semalam? Apakah semua hanya akan menjadi kenangan saja?
Ini terlalu menyedihkan...
Zia tiba-tiba rasanya matanya memanas. Tapi ia tak mau menangis jadi ia berusaha menahannya sekuat tenaga. Meskipun dadanya jadi sakit.
"Berhenti Zia... berhentilah jadi bodoh, ku mohon berhenti."
Gumam Zia pada dirinya sendiri, sambil memukuli dadanya yang makin lama makin sakit.
"Kamu kenapa Zi?"
Tiba-tiba mbak Wati muncul dengan dua kantong belanjanya. Ia baru dari supermarket membeli bahan makanan.
"Mbak, bisa tolong Zia membawakan kopi buat Paman Salim?"
Pinta Zia.
"Ya tentu, di mana Paman Salim?"
"Di lantai tiga."
"Ohh yah tunggu."
Mbak Wati menuju wastafel, mencuci tangan lalu mengambil nampan untuk membawa secangkir kopi untuk paman Salim yang sudah disiapkan Zia.
Zia tidak tahu terduduk di kursi ruang makan lantai bawah. Rasanya ia enggan melihat Zion lagi.
Bukan apa-apa, hanya saja melihat Zion, ia takut harapannya tak bisa berhenti, jika dituruti ia akan makin sakit saat nanti kecewa.
Mbak Wati sampai di lantai tiga.
Paman Salim sedang membicarakan rencana mereka saat nanti rapat diadakan.
"Ini kopinya Pak Salim."
Mbak Wati meletakan cangkir kopi paman Salim di atas meja.
Paman Salim tampak celingukan, ia mencari Zia.
"Ke mana Zia?"
Tanya paman Salim.
Zion yang menyadari Zia tak mau naik ke lantai tiga karena mendengar soal rencana ke Kuala Lumpur jadi gelisah.
"Zia sepertinya agak kurang enak badan, nanti saya suruh dia rehat saja."
Kata Mbak Wati.
Paman Salim mantuk-mantuk.
"Yah, dia pasti kelelahan, beberapa hari ini ia sibuk mencari saya.
Paman Salim terkekeh. Mbak Wati mengangguk permisi.
Sementara Zion sudah sibuk mengetik pesan pada Zia.
"Anak itu manis seperti Ibunya, dan bersemangat seperti Ayahnya."
Kenang paman Salim.
"Saya bahkan masih ingat saat ia menangis karena membawa Tuan Zion pergi, ia lari mengejar mobil hingga ia jatuh di jalan. Saya tak tega tapi harus bagaimana lagi, Tuan Zion sudah harus dibawa ke rumah kakeknya."
Senyum Paman Salim lalu menyeruput kopi buatan Zia.
"Hmm bahkan kopi buatannya sangat mirip dengan buatan Ibunya. Jika saja Tuan Zion tau Zia ada di sini, ia pasti bahagia sekali."
Kata Paman Salim.
Zion tanpa sadar mengangguk.
Yah, ia memang bahagia. Ia bahkan tak menyangka akan sebahagia ini bersama Zia.
Saat awalnya ia pikir mereka hanya kebetulan bisa bertemu, kini Zion merasa ini adalah takdir.
Zia masih duduk tercenung di kursi ruang makan. Matanya melihat ke arah layar Tv yang menempel di dinding, tapi hati dan pikirannya entah kemana.
Mbak wati di dapur tampak sudah sibuk mengupas Mangga yang baru ia beli.
Drrrtttt...
Hp Zia bergetar, sebuah pesan masuk dari nomor tuan muda yang berarti itu Zion.
"Jangan ke mana-mana, aku akan pulang cepat, aku ingin jalan-jalan."
Zia membacanya berulang-ulang.
Jika pesan dari Zion seperti itu diterimanya sebulan silam, pasti rasanya akan biasa saja, atau bahkan Zia akan terpingkal lalu membalas pesan itu dengan bercanda.
Tapi, hari ini, Zia merasa begitu pedih.
**--------**
yang over penakut lah . yang ga suka adventure lah . dsni lagi ...anak kek zizi dibilang nakal n bikin darting . padahal itu biasa banget. bukan anak bandel sama sekali. just normal act of a child.
padahal cerita mayan ok. tapi krn karakter2ny dibuat lebay jadi sering skip pen cpt2 lanjut krn cm pen liat alur cerita .