ini cerita sedih tentang seorang istri yang tak di cintai suami nya, karena dia hanyalah istri yang di pilih keluarga nya bukan hatinya.
setelah perceraian terjadi, pria itu baru menyadari betapa pentingnya gadis itu untuknya.
perjuangannya untuk mendapatkan cintanya kembali akankah berhasil? menikahinya untuk kedua kalinya. atau malah cintanya tak terbalas karena si gadis mencintai pria lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rniehamizan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34
seminggu berlalu setelah kejadian dimana Reva mengusir Adam secara terang-terangan. akhirnya Adam pun memutuskan untuk tidak menggangu Reva dulu. ia akan mengurus masalahnya sendiri yang belum selesai. pergi kerumah sakit untuk
mengambil hasil lab yang hampir dia lupanan, karena terlalu sibuk.
"kau memang wanita murahan tak punya hati. katakan padaku siapa ayah dari anak itu??" bentak Adam seraya menunjuk Hana yang kini tengah tengkurap di atas matras.
"apa maksudmu Adam.. tentu saja kau ayahnya."
"sialan, kau masih ingin membohongi ku.. lalu kau bisa jelaskan kenapa hasil tes ini mengatakan kalau dia buka darah dagingku" kesal Adam melempar kertas hasil tes DNA nya dengan bayi kecil itu, Jessy syok seketika.
"dasar j*lang tak tahu diri. sampai kapan kau akan terus berbohong."
mata Jessy berkaca-kaca menatap Adam yang kini telah murka karena telah mengetahui semuanya.
bruk..
Jessy berlutut, tangannya memegang kedua kaki Adam meminta ampun.
"maafkan aku.. aku salah. ku mohon.. jangan tinggalkan aku dan Hana..."
Adam mensejajarkan tinggi nya dengan Jessy. "jangan harap aku akan memaafkanmu." geramnya, Jessy ketakutan akan tatapan tajam Adam. sedikit meringis saat Adam mencengkram dagunya.
"katakan padaku.. siapa pria itu?"
Jessy menggeleng pelan. dia tetap dengan pendiriannya. Tak akan pernah mengakui Lexy sebagai ayah dari putrinya. karena menurut nya Lexy terlalu rendah, pria itu miskin dan tak punya kekuasaan apapun.
"secepatnya aku akan menceraikan mu. jadi sebaiknya kau segera temui pria brengsek itu." Adam melepaskan cengkraman nya pada dagu Jessy.
"tidak Adam, ku mohon jangan ceraikan aku."
"lepas." dengan cepat Jessy melepaskan lengan Adam saat nada bicaranya yang begitu dingin membuat nya takut.
"..ta...tapi... Adam.. kau sudah berjanji akan terus bersama ku."
Adam tersenyum sinis. "itu dulu, sekarang berbeda." ujar nya dingin lalu pergi meninggalkan rumah.
Menurut pepatah tak semua orang memiliki selera yang sama setiap waktunya. dan itu pas di gambar kan bagi situasi Adam saat ini. dia dengan mudahnya membenci dan dengan gampang pula mencintai seseorang. hatinya terlalu labil bagi pria se usianya. pikirannya terlalu naif, merasa kalau di sini hanya dia saja yang tersakiti.
berbeda dengan Reva, gadis itu nampak bersemangat kembali. mulai bisa melupakan semua kejadian suram yang dia alami. dengan bantuan Arnold yang terus memberikan nya semangat, tak lupa juga Amel dan Lexy yang selalu bersedia menemani nya setiap dia butuh seseorang untuk menampung keluh kesahnya. Lexy sudah seperti kakaknya sendiri, hampir setiap hari pria itu datang ke rumahnya hanya untuk melihat apakah Reva baik-baik saja atau tidak.
mungkin jika dilihat secara sekilas mereka akan seperti sepasang kekasih, tapi itu tidak benar. Lexy masih setia dengan hatinya yang masih menyimpan cinta untuk kekasih nya yang merupakan cinta pertama baginya. perhatiannya pada Reva hanya karena merasa kalau gadis itu terlalu baik dan dia harus melindungi nya.
hanya Lexy yang tahu betapa terpuruknya Reva saat itu, menangis tak hentinya sampai tertidur di pelukannya. gadis itu terlihat rapuh, terlalu banyak menyimpan rasa sakit dan menyembunyikan dalam sangat dalam sehingga banyak yang mengira kalau dirinya baik-baik saja. sejujurnya Reva masih mencintainya, mantan suaminya yang dia bilang sangat membencinya tak sepenuhnya benar. Reva bukan gadis yang mudah berpaling ke lain hati, tapi dia tetap bersikeras mencoba menekan perasaan nya untuk tidak mencintai Adam lagi.
"kau baik-baik saja?" tanya Lexy saat melihat Reva hanya mengaduk makanan nya sedari tadi.
hari ini mereka sedang menikmati hari libur nasional, dan memilih untuk pergi ke luar rumah. mencari tempat makan untuk mengisi perutnya yang sudah waktunya di isi.
Reva menghela napasnya panjang, sekilas di lihat nya Lexy yang kini menatapnya bingung.
"aku hanya memikirkan, bahan apa saja yang harus digunakan untuk membuat spaghetti carbonara, aku belum pernah membuat nya." Jawabnya jujur, dia memang sedang bingung soal itu. Lexy mendengus tak suka mendengarnya.
"ck.. kau ini. ku pikir ada masalah apa."
Reva terkekeh geli melihat ekspresi wajah Lexy yang lucu menurut nya.
tepat jam 2 siang hari, terlihat Jessy masuk ke tempat mereka berada sekarang. dengan mendorong kereta bayinya.
Lexy terperanjat cukup kaget, hampir setahun dia tak pernah melihat nya dan sekarang matanya seolah tak percaya saat melihat sosok itu kini duduk tepat di hadapannya. Reva yang menyadari perubahan raut wajah Lexy langsung mengikuti arah pandangnya.
"Jessy..." Reva tak menduga akan bertemu dengan wanita itu sekarang. lalu melihat Lexy. "kau.. baik-baik..saja?" tanya Reva.
Lexy mengendikkan bahunya. dia sendiri bingung harus mengekspresikan perasaan nya seperti apa saat ini. tanpa sadar Lexy bangkit dan berjalan mendekati Jessy.
"hai.. lama tak bertemu." sapanya. Jessy mengangkat wajahnya, dan tatapan terkejut begitu jelas terlihat.
"le..Lexy..?"
"kau seperti melihat hantu saja" kekeh Lexy. "dia putrimu?"
"eoh.. pergi lah. aku tak ingin ada yang melihat kau di sini." usir Jessy kemudian.
Lexy tak menggubris, memandang lamat-lamat wajah balita itu. hatinya terasa berdenyut saat melihat nya. seperti ada sesuatu yang berontak di dalamnya, entah apa penyebabnya. Jessy yang menyadari ke mana arah pandang Lexy langsung mengangkat tubuh mungil Hana kedalam dekapannya.
Lexy tersenyum miris.
kenapa aku merasa begitu sedih saat melihat anak ini. batinnya.
"eoh.. baiklah. aku permisi." Lexy kembali ketempat di mana dia duduk tadi. "Reva.. kau kenapa?" tanyanya begitu melihat Reva menutupi wajah nya dengan buku menu.
"dia bisa melihat ku." bisik Reva. Lexy menarik buku menu itu.
"biar saja. memang nya kenapa kalau dia melihat mu?"
"eh.." reva merasa bodoh. benar juga, untuk apa dia sembunyikan wajah nya toh tak apa kan jessy melihat nya. dia kan tak sedang berselingkuh.
Jessy kembali terkejut saat melihat wajah Reva. lebih terkejut lagi saat melihat Lexy duduk di sana dan mereka terlihat begitu akrab.
sejak kapan? pikirannya melayang.
Jessy mengeratkan pelukannya pada Hana. merasa tidak nyaman dengan hatinya saat melihat Lexy begitu perhatian terhadap Reva. mereka berdua seolah tak peduli dengan kehadiran nya sekarang.
Hana, itu ayahmu... gumamnya dalam hati.
andai saja Lexy memiliki kekayaan setara dengan Adam, mungkin hal ini tak akan pernah terjadi.
Tak akan ada Jessy yang merusak rumah tangga Reva.
Tak akan ada Jessy yang melukai Lexy..
Tak akan ada Jessy yang terus di caci Adam saat ini.
semuanya tak akan terjadi, jika saja Jessy tak gila harta.
Lexy menarik tangan Reva untuk segera pergi dari resto ini. dia tak mau terlalu lama di sini, hatinya bisa menangis darah karena terlalu sakit menerima kenyataan kalau Jessy sudah bahagia dengan orang lain bukan dirinya.
Reva menghela napas panjang. kini sudah petang, Lexy pun sudah pulang kerumahnya.
Reva memilih berjalan kaki mengelilingi taman dekat rumah untuk menghilangkan penat.
bugh...
"aah.." ringisnya saat tak sengaja tubuhnya menubruk tubuh pria yang kini berdiri di hadapan nya.
"kau baik-baik saja, nak.?" tanya pria itu.
Reva dengan cepat bangun dari jatuhnya. "iya.. pa..paman.. tak apa."
"eoh.. syukurlah." pria itu tersenyum. "maaf, saya buru-buru."ujarnya.
pria itu pun pergi, masuk kedalam mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana. Reva mengeryit saat melihat ada dua lembar foto tergelak di tanah. mengambil nya.
"ibu.. " gumamnya saat melihat foto itu. Reva semakin terkejut saat melihat lain yang ada di sana.
"kenapa ada foto ini di sini..." pikirnya bingung. "apa foto ini pria milik pria tadi. siapa pria itu?"
Reva memandangi foto wajah venty yang masih sangat muda dan Adam yang mungkin baru sekitar 10 tahunan. Reva dapat mengenalinya dengan jelas karena foto ini pun sama dengan yang ada di kamar venty.
lalu venty beralih pada selembar foto lainnya.
"siapa ini?" wajah yang begitu cantik sedang menggendong bayi kecil dan seorang anak laki-laki mengintip di belakang, sehingga kepala nya saja yang terlihat. reva tak mengenal orang-orang ini.
apa dia seorang penjahat... gawat dia pasti musuh Adam. tebak Reva. entah tebakannya benar atau tidak.
"aku harus menemui paman sekarang juga."