Jangan di baca, novel ini sedang diperbaiki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZiOzil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ngedate bertiga
Dino, Rania dan Susan sedang menikmati bakso langganan Rania yang tak jauh dari cafe CR7. Dino hanya bisa geleng-geleng kepala melihat nafsu makan Susan yang besar, gadis bertubuh gemuk itu sudah menghabiskan lima mangkok bakso, sedangkan Rania dan Dino semangkok saja belum habis.
"Hee, Jaiko! Apa setiap hari kau makan dalam porsi jumbo gini?" Tanya Dino heran.
"Tidak dong, Kak! Dalam seminggu paling cuma dua hari aku makan seperti ini." Jawab Susan sembari menyeruput kuah sup di hadapannya.
"Jadi yang lima harinya lagi? Kau diet?"
"Tidak, Kak. Yang lima hari lagi aku makan lebih banyak dari ini." Sahut Susan.
"Dasar Rakus! Pantas saja bangkai mu sebesar ini. Kalau anaknya segede ini, gimana orangtuanya?"
"Yang pasti lebih gede dari aku dong, Kak. Kami kan keluarga besar-besar." Ucap Susan santai. Rania hanya terkekeh mendengar pembicaraan kedua orang itu.
"Aku jadi teringat gerombolan Siberat." Sela Rania diselingi kekehan kecilnya.
"Kalau yang ini sih gerombolan berat-berat. Jadi lucu kalau membayangkan mereka tidur, pasti mirip kumpulan ulat gendon. Hahaha ..." Ejek Dino. Tawanya pecah saat membayangkan Susan dan keluarganya sedang tidur.
"Kak Dino mengejekku ya?" Tanya Susan dengan mulut yang penuh bakso.
"Tidak! Aku ngejek ulat gendon."
"Oh, kirain ngejek aku." Sahut Susan polos.
"Ini anak, otaknya dibaluti lemak kali ya?"
"Hahaha ... aduh aku sakit perut ni." Rania tertawa sambil memegangi perutnya yang sakit karena percakapan Dino dan Susan.
Dino terkesima melihat Rania, baru kali ini dia melihat gadis itu tertawa dengan riang. Karena selama di cafe, Rania lumayan pendiam.
***
Setelah acara makan bakso dan Dino tumpur karena mentraktir Susan, akhirnya mereka pulang.
Susan sudah lebih dulu naik taksi, sedang Dino masih bersama Rania.
"Ran, aku antar pulang ya?" Dino menawarkan diri.
"Eh, tidak usah, Kak. Aku pulang sendiri saja." Tolak Rania.
"Tapi aku ingin tahu rumah kamu. Aku antar ya?" Dino sedikit memaksa.
"Jangan, Kak! Ayah aku galak!"
"Hahaha ... tapi Ayahmu tidak makan orang kan?" Kelakar Dino.
"Ya, tidaklah. Memangnya Ayah aku kanibal apa?"
"Ya sudah, selama Ayahmu tidak makan orang, berarti tidak ada masalah! Lagipula jangankan Ayahmu yang galak, preman pasar saja aku tidak takut." Ujar Dino sombong.
"Tapi, Kak ... ini sudah malam. Lain kali saja ya. Kalau begitu aku permisi dulu, terimakasih untuk traktiran nya." Rania bergegas pergi sebelum Dino memaksa untuk ikut ke rumahnya.
"Iya, sama-sama. Hati-hati ya, Ran." Balas Dino dengan sedikit berteriak karena Rania sudah menjauh darinya.
Tapi tiba-tiba ada ide yang muncul di kepala lelaki somplak itu, dengan seringai liciknya, Dino pun mengikuti Rania tanpa sepengetahuan gadis itu.
Dia berjalan dengan sembunyi-sembunyi dan dari jarak yang aman agar Rania tidak menyadarinya, kebetulan rumah gadis itu tak jauh dari cafe.
Rania masuk ke sebuah gang sempit, Dino terus mengikutinya dengan langkah yang pelan. Tapi tepat di sebuah rumah petak sederhana, Rania menghentikan langkahnya. Begitu juga dengan Dino, dia bersembunyi di balik tembok sebuah gedung dan memantau apa yang terjadi.
"Ayah!!!" Teriak Rania sembari berlari menghampiri sang ayah yang sudah tergeletak di halaman rumahnya. Tiga orang lelaki bertubuh besar berdiri disisinya dengan wajah marah.
"Ran ... nia ..." Ucap Ayah lirih. Wajah tuanya sudah babak belur.
"Apa yang kalian lakukan dengan ayahku?" Rania bertanya dengan geram.
"Aku hanya memberi pelajaran kepada tua bangka ini karena dia tidak membayar hutang-hutangnya." Jawab seorang lelaki paruh baya. Dia adalah rentenir tempat ayah Rania meminjam uang untuk modal berjudi.
"Kalian keterlaluan! Beraninya main keroyokan!" Bentak Rania emosi.
"Diam kau! Kalau kau tidak mau kami menghajar ayahmu, kau harus membayar hutang-hutangnya!" Sahut rentenir itu.
"Berapa hutangnya?" Tanya Rania.
"Sepuluh juta, sudah termasuk bunganya." Jawab si rentenir.
Rania terkejut bukan main, dia tak menyangka sang ayah kembali berulah dengan meminjam uang sebanyak itu.
"Ya ampun, Ayah! Apa yang Ayah lakukan? Kenapa Ayah tidak tobat juga? Belum cukup semua yang aku dan Ibu tanggung akibat perbuatan Ayah?" Rania berbicara dengan suara yang gemetar, dia benar-benar marah kepada ayahnya itu. Sementara Dino hanya mengintip dan menguping mereka.
"Maafkan ayah, Ran." Ujar ayah menyesal.
"Hee ... kenapa kalian jadi mengobrol? Cepat bayar hutangnya! Atau aku akan mengirim mu ke neraka." Teriak si rentenir dengan nada mengancam.
"Beri aku waktu! Aku pasti melunasi nya." Pinta ayah penuh harap.
"Alah! Aku sudah terlalu banyak memberimu waktu, tapi kau tetap tak mau bayar. Atau begini saja, serahkan anak gadis mu ini untuk menjadi istri ketiga ku, maka hutang-hutangmu aku anggap lunas." Si rentenir itu memandang Rania dengan tatapan mesum.
Ayah Rania terdiam, dia mencoba memikirkan tawaran rentenir itu.
***
sikit kali kutengok,,🤭🤭
makasih cerita kocaknya thorrr..👍👍
Dino keren,,to the point & tegas meskipun kata-katanya g d saring tapi aku suka karakter laki2 tegas berterus terang gitu..suka bilang suka enggak bilang enggak..👍👍
ahhh cieee Ayumi menang banyak nih..🤭🤭🤭
ternyata kakak othor penggemar naruto sampe hafal nama2 jurusnya..
Aq tunggu bucin nya Raja 🤭