Bagaimana jika orang yang kau sukai masih terus berada di bawah bayang-bayang sang mantan kekasih?
Dan bagaimana jika orang yang kau cintai, mencintai dirimu juga, namun orang disekitar tak menyetujui hubungan tersebut.
Inilah kisah Aileen, yang menyukai Sam, sang kakak kelasnya. Namun, segala sesuatu tentang Sam tak pernah lepas dari sang mantan kekasih, yakni Clarissa.
Hingga, saat Aileen memutuskan kembali ke negara asalnya, Sam baru menyadari bahwa ia telah salah.
Juga, Felysia, kakak tiri Aileen yang menyukai Daniel. Namun teman-temannya tak menyukai jika Felysia bersama dengan Daniel. Mereka ingin Felysia bersama dengan Felix.
Apakah kedua kakak beradik ini bisa mmperjuangkan cinta mereka? Atau harus membiarkan cinta mereka pergi begitu saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Betsya Disi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Past
“Bentar ya, gue ganti baju dulu. Lo duduk aja dulu,” ucap Sam sambil berjalan ke kamar mandi.
Aileen pun kembali melihat sekitarnya. Ia pun tertarik dengan meja belajar Sam. Di sana ia bisa melihat dua bingFelix foto. Terdapat foto Sam yang sedang merangkul Clarissa penuh tawa. Dan satu lagi foto Clarissa seorang diri yang sedang tersenyum ke arah kamera.
Hati Aileen kembali sakit untuk ketiga kalinya dalam satu hari ini. Ia marah namun juga kesal. Ada rasa cemburu saat ia melihat foto itu.
“Ngapai?” Tanya Sam yang sudah keluar dari kamar mandi.
“Oh ngeliat foto lo sama kak Clarissa,” jawab Aileen santai berusaha menutupi kecemburuannya.
“Eh Kak, gue pulang dulu ya. Udah jam 7 juga,” ucap Aileen sembari berdiri dari duduknya di kursi yang ada dikamar Sam.
“Gak mau ganti baju dulu? Tuh baju lo basah banget. Bentar ya gue periksa lemari gue dulu,” ucap Sam berjalan menuju lemari.
“Nah ini ada yang lumayan kecil. Ganti tuh pakaian lo,” ucap Sam sembari melempar kaos tersebut kepada Aileen.
“Tuh kamar mandi,” unjuk Sam.
Aileen pun hanya mengikuti perkataan Sam. Memang ia juga sudah mulai menggigil karena kedinginan.
Setelah selesai berganti pakaian, ia pun keluar dan menemui Sam yang kini sedang duduk di depan meja belajarnya memperhatikan foto Clarissa.
Aileen hanya berdehem kecil menyadarkan Sam bahwa ia sudah selesai berganti pakaian.
“Eh lo udah siap? Oh iya, nih jaket lo dulu. Yang waktu hujan dan kita ketemu di halte, terus lo kasih gue,” ucap Sam memberi jaket Aileen.
“Yaudah Kak, gue pulang ya. Gue mau kerjain tugas Kak. Harus dikumpul jam 9 lewat email soalnya,” ucap Aileen mengingat sang guru yang jika memberi tugas, harus diselesaikan hari itu juga.
“Yakin hujan gini mau pulang? Kerjain di sini aja. Nih pake aja laptop gue. Soal pulang nanti tenang aja,” ucap Sam memberi laptopnya pada Aileen.
Merasa waktu tinggal sedikit untuk mengerjakan tugasnya, apalagi jika ia pulang lebih dulu. Ia pun memutuskan untuk mengerjakan tugasnya melalui laptop Sam.
Satu jam lebih Aileen gunakan mengerjakan tugasnya. Ia pun langsung mengirim tugasnya melalui email kepada sang guru. Setelah selesai, ia pun menutup laptop Sam dan melihat jam yang ada di dinding kamar Sam.
“Wih, udah jam 9 kurang lagi. Kak, gue pulang ya. Hujan juga udah reda,” ucap Aileen sambil membalikkan badan melihat Sam yang kini sedang memainkan handphonenya.
Karena jarak meja belajar dan tempat tidur Sam tak jauh, Aileen bisa melihat bahwa Sam sedang asik bertukar pesan dengan seseorang. Bahkan sebuah senyuman terus menempel di sudut bibir Sam.
“KAK?” Ucap Aileen kuat.
“Eh, eh. Kenapa? Oh udah siap? Bentar ya,” ucap Sam kembali membalas pesan di handphonenya.
“Ya udah yuk, gue antar,” lanjut Sam setelah memasukkan handphonenya ke dalam sakunya.
“Ah gak usah Kak, gue udah telfon Papa gue buat jemput. Kebetulan Papa juga baru pulang kerja,” jawab Aileen sambil berdiri.
“Gue keluar dulu ya Kak. Makasih kacamatanya,” lanjut Aileen pamit sambil tersenyum.
Sam pun hanya membalas tersenyum sambil melanjutkan kembali aktifitasnya, yakni berbalas pesan dengan Clarissa.
Saat Aileen hendak keluar dari rumah itu, ia bertemu dengan seorang perempuan yang diyakini adalah kakak Sam.
“Lo kawannya Sam ya?” Tanya Yuna, kakak Sam yang sedang duduk di sofa.
“Ah iya Kak. Saya pamit pulang ya Kak,” pamit Aileen sambil membungkukkan badan.
“Lo yang namanya Clarissa?” Tanya Yuna lagi.
“Bukan Kak, saya tukang kebun sekaligus asisten pribadinya Clarissa Kak. Saya pamit ya Kak,” ucap Aileen pamit dan langsung berjalan cepat menuju pintu.
“Keren ya, bisa punya asisten pribadi gitu. Mana wajahnya kayak orang luar negeri lagi. Pasti gajinya mahal banget. Tanya Sam ah biar dicariin asisten pribadi yang masih muda juga,” ucap Yuna pada dirinya sendiri.
Yuna yang percaya begitu saja dengan perkataan Aileen tadi pun langsung melesat pergi menemui Sam di kamarnya.
“MISI PAKET!” Ucap Yuna sambil mengetuk pintu kamar Sam. Beberapa saat menunggu, Sam pun membuka pintu kamarnya masih dengan handphone yang melekat ditangannya.
“Apa?” Tanya Sam singkat.
“Bagi nomor pacar lo dong Dek,” pinta Yuna yang kini sudah masuk kamar Sam.
“Buat apaan?”
“Mau nanya di mana cari asisten pribadi kayak cewek tadi. Lo tau kan Dek, wanita karir kayak gue sibuk banget, jadi harus butuh asisten,” jelas Yuna.
“Asisten? Ngapai pake nanya Clarissa?”
“Kan cewek yang tadi asistennya kan? Mana sama tukang kebunnya lagi. Keren ya pacar lo si risa risa itu.”
“Namanya CLARISSA. Dan dia gak punya asisten. Asisten apaan coba?”
“Terus cewek yang tadi keluar dari kamar lo siapa?” Tanya Yuna.
“Oh itu teman gue,” jawab Sam santai sambil memainkan kembali handphonenya.
“Astaga, bodoh banget gue percaya aja sama omongannya. Kasian otak jenius nan handal gue,” ucap Yuna sambil keluar dari kamar Sam.
Di depan rumah Sam, Aileen sedang menunggu kedatangan sang ayah yang baru pulang dari kantor agar mereka pulang bersama. Sesekali Aileen bernyanyi beberapa potong lagu untuk mengusir rasa bosannya.
Tin..Tin..
Suara klakson mobil sang ayah yang memberitahu Aileen bahwa ayahnya telah datang untuk menjemputnya. Mendengar bunyi tersebut, Aileen pun menolehkan kepalanya menuju sumber suara. Dan ia bisa melihat mobil ayahnya yang datang mendekat.
“Kau sudah lama menunggu sayang?” Tanya sang ayah yang melihat Aileen memasuki mobil dan duduk disamping kursi kemudi.
“No,” jawab Aileen sambil tersenyum meyakinkan bahwa ia tidak menunggu lama.
“Apa yang kau bawa hm? Kau baru berbelanja?” Tanya ayahnya melihat sebuah tas belanjaan ditangan Aileen, dengan sang ayah mulai melajukan mobilnya.
“Ah ini hanya pemberian teman,” jawab Aileen singkat sambil memandang keluar jendela menikmati pemandangan malam hari yang habis tersapu hujan.
“Dad, can I ask you something?” Tanya Aileen pada ayahnya.
Memang dulu saat keluarganya masih utuh, dalam berkomunikasi, mereka sama-sama sering menggunakan bahasa negara ibunya atau Bahasa negara asli ayahnya.
“Tapi kau harus membayar setiap pertanyaan yang kau ajukan ya,” ucap sang ayah bercanda, dan dibalas kekehan kecil dari Aileen.
“Do you love me?” Tanya Aileen kembali fokus melihat pemandangan dari jendela mobil.
“Tentu saja sayang,” jawab ayahnya sambil mengusap rambut Aileen penuh sayang dengan sebelah tangannya.
“So why you two break me?” Tanya Aileen mempertanyakan kemapa orang tuanya bercerai dan menghancurkan dirinya.
“I have been trying to understand why you choose to separated. But I don't get it. It's kill me dad,” Lanjut Aileen dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.
“Maafkan Papa,” ucap ayahnya kini setelah menepikan mobilnya di sebuah jalan yang sepi.
“Kau tau? Perasaan yang kami miliki sejak pertemuan pertama kami, hilang begitu saja ditengah perjalanan keluarga kita. Kami berusaha membangkitkan rasa itu. Kami berpikir mungkin kami hanya sedang jenuh dan butuh waktu berdua mengingat masa lalu."
"Namun hasilnya nihil. Memang rasa itu telah pergi. I'm sorry dear. Kami tahu kami salah. Kami melanggar janji suci yang kami ucapkan didepan Tuhan,” jelas sang ayah, sambil mencoba mengumpulkan kekuatan untuk menceritakan segalanya kepada putrinya.
Ayahnya dan ibu kandungnya memang tahu bahwa suatu saat mereka harus menjelaskan alasan kenapa semua ini terjadi, kenapa mereka harus berpisah hingga Aileen menjadi korban. Entah itu cepat atau lambat, itu akan terjadi.
Namun untuk mengatakan semua itu, sungguh membutuhkan kekuatan yang sangat ekstra. Seperti sang ayah yang ikut merasakan kehancuran anaknya kini, merasakan sedih dan rasa bersalah yang mendalam.
“Tapi jika kami mempertahankan hubungan ini tanpa adanya rasa cinta, itu sungguh menyiksa kami. Itu sudah terjadi sejak kau diakhir sekolah dasar sayang. Kami berusaha bertahan demi mu, tapi maaf kami tak bisa,” lanjut ayahnya lagi.
Aileen tak berbicara lagi, ia hanya menangis dalam diamnya. Ayahnya yang melihat Aileen menangis tanpa suara pun itu pun membuat hatinya semakin sakit.
Mereka pun pulang dengan keterdiaman di antara mereka. Masing-masing saling berkutat dengan hati dan pikirannnya sendiri.
biasanya orang luar lbh berani.lawanlah...
udah penasaran banget
8 like buatmu.
Mari kita saling dukung.
Semangat up terus ya..
yuuuk mmpir juga dikaryaku berjudul "menikah karena perjodohan (Haris dan Hana) " smoga berkenan, mksh 🥰🥰🥰
boomlike dari ditinggal nikah dan kamulah harpanku hadir...ditunggu feedbacknya iga
lanjut thor...
mari saling dukung 😊✌️