Aku yang selalu ada bukan dia?
Aku yang setia mendampingimu bukan dia?
Tapi kenapa kamu memilih dia bukan aku?
~
Cinta tak selamanya berakhir dengan indah dan bahagia.
Cinta juga terkadang seperti duri yang menyakitkan, apabila duri itu dicabut maka akan menimbulkan luka. Namun jika dibiarkan pun akan menyebabkan rasa sakit yang luar biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpisahan
"Naja, ada yang ingin bertemu denganmu."
Naja yang tengah duduk bersandar pada dinding kamarnya mendongak saat pak polisi menyerukan namanya.
Tanpa membuang waktu Naja segera bangkit mengikuti langkah polisi bernama Ari tersebut. Naja tidak banyak bertanya karena memang setiap hari dia terbiasa menerima tamu, yaitu sang Mama dan adiknya.
Langaknya sempat terhenti ketika melihat dua orang anak muda duduk bersebelahan. Ada bunyi patah ketika melihat pemuda itu menggenggam tangan si gadis, rasanya masih sama seperti dulu. Mungkin karena rasa cintanya tidak pernah berubah pada gadis itu.
"Ehm.."
Naja memilih langsung duduk tanpa menyapa mereka terlebih dulu. Matanya menatap ke sana ke mari tidak tentu arah, yang jelas dia sangat menghindari tatapan dua orang di depannya.
"Naja, kamu apa kabar?"
Abel lebih dulu menanyakan kabar pemuda itu, sedih rasanya Abel melihat penampilan Naja yang sekarang. Kulitnya kusam, rambutnya gondrong, tubuhnya terlihat kurus.
"Seperti yang kalian lihat, aku baik." jawab Naja acuh.
Abel tersenyum tipis, ia menoleh pada Sean. Pemuda itu mengangguk, ia mengusap lengan Abel kemudian berdiri.
"Aku kasih kalian waktu untuk ngobrol dari hati ke hati."
Setelah mengatakan itu Sean berlalu meninggalkan keduanya yang masih diam tak berniat kembali memulai obrolan.
"Ja,"
Kali ini Naja mendongak mendengar suara Abel yang bergetar, sepertinya gadis itu berusaha menahan tangisannya.
"Aku hanya mau pamit sama kamu. Maaf jika selama ini aku tidak bisa menjadi pacar yang seperti kamu harapkan. Maaf juga jika karena aku semua ini harus terjadi. Aku ... "
"Bel, "
Naja beralih tempat duduk ke samping Abel. Ia menggenggam kedua tangan Abel yang berada di atas meja.
"Bel, kamu mau pergi ke mana? Aku minta maaf, Bel, seharusnya aku tidak menghianati kamu waktu itu. Seharusnya aku tidak melakukan semuanya, maafkan aku, Bel! Jujur aku masih sangat mencintai kamu, aku tidak rela melihat kamu bersama Sean. Please maafkan aku."
Naja membawa kedua tangan Abel pada bibirnya, air matanya tumpah membasahi kedua tangan gadis itu. Naja tidak perduli jika ia dibilang lelaki cengeng atau apalah itu. Yang pasti saat ini, Naja hanya ingin Abel tahu bahwa dia masih sangat mengaharapkan gadis itu kembali padanya.
Abel menggeleng lemah, "aku sudah memaafkan kamu sejak lama, Ja. Tapi maaf untuk kembali sama kamu rasanya tidak mungkin, hati aku sudah terlanjur sakit karena kesalahan yang kamu buat. Untuk saat ini biarkan aku menjadi temanmu."
"Apa tidak ada kesempatan kedua untukku, Bel? Aku sangat mencintai kamu, Bel."
Ntah sudah keberapa kalinya Naja mengucapkan kata cinta itu. Tapi semua tidak berarti apa-apa lagi di mata Abel, ucapan Naja seolah angin lalu baginya sekarang.
"Aku sudah memberikan kesempatan itu sejak dulu, hanya saja kamu yang tidak menggunakan kesempatan itu dengan baik. Ja, bukankah kamu yang bilang, jika kamu kembali membuat aku menangis maka aku boleh melakukan apapun sama kamu. Anggap saja kini aku sedang mengabulkan permintaan kamu waktu itu. Besok hari kelulusan kita dan aku akan segera berangkat ke tempat yang baru. Di mana aku akan memulai hidup baru di sana, aku harap kamu bahagia setelah ini ya, Ja."
Abel menarik tangannya pelan, ia beralih mengusap pipi Naja yang lebih tirus. Mata mereka bertemu, sejenak tatapan keduanya saling mengunci. Air mata menjadi penghias pipi kedua insan tersebut.
"Aku ... cinta kamu, Naja. Selamat tinggal!"
Abel bangkit dari tempat duduknya dan berlari meninggalkan Naja yang kini tengah menangis sesenggukan, menelungkupkan wajahnya pada kedua tangan di atas meja.