Sebuah kisah tentang seorang anak yang sejak lahir sudah merenggut banyak nyawa. Kisah tersebut dijulukki dengan sebutan Malam Berdarah kota Ling.
Bagaimanakah cara anak tersebut mencari teman yang akan selalu menemaninya sehidup srmati?
Penasaran dengan kisah ceritanya?, Mari ikuti dengan membaca bersama!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gerry Napukki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Penguasa Hutan Sotu
Ling Ro Bai saat ini sedang bingung bagaimana cara nya kembali ke permukaan. Saat ini ia sedang berada di sebuah jurang misterius.
*****
(Flashback on)
"Huh, sepertinya aku harus mencari sesuatu yang lebih ekstrim. Apa yah?", Ling Ro Bai saat ini sedang duduk di salah satu pohon yang begitu besar.
Mengelus dagu untuk memikirkan sesuatu yang menarik. Sudah berfikir cukup lama namun tak mendapatkan ide apapun. Ia memilih turun dan melanjutkan perjalanan.
Ia terus memikirkan kegiatan yang menurutnya menarik, hingga Ling Ro Bai tak sadar bahwa dirinya sedang berjalan menuju sebuah jurang.
Berjalan terus tanpa melihat sekitar ataupun depan. Ketika ia sadar, semua telah terlambat. Kakinya menginjak udara kosong.
"Ehh, Hah!, HUUAA!, jurang sialan. Siapa yang menaruh di situ!", Ling Ro Bai terus memaki. Meluncur ke bawah tanpa bisa berbuat apapun.
Seolah otaknya sedang rusak, Ling Ro Bai tak berfikir jika dirinya bisa terbang.
Boommm!
Pendaratan yang lumayan mulus akhirnya tercapai. Untung saja dasar jurang tak ada bebatuan curam yang bisa membahayakan nyawanya.
"Sialan, selamat-selamat. Beruntung sekali aku masih hidup setelah terjun bebas", ucapnya sembari mengecek setiap bagian tubuhnya.
Ling Ro Bai kemudian melihat sekelilingnya. Karena tertarik, ia mencoba menjelajahinya. Hingga beberapa jam kemudian, Ling Ro Bai pun tersesat dari titik awal.
(Flashback Off)
*****
Ling Ro Bai tanpa sadar berjalan ke sebuah gua dengan ukuran sangat besar. Ketika sadar, Ling Ro Bai menatap takjub goa tersebut.
Ini adalah pertama kalinya ia melihat sebuah gua dengan ukuran hampir mencapai 100 meter untuk pintunya sendiri.
Ia dengan semangat memasuki gua tersebut tanpa tahu bahaya apa yang menanti.
Tap!
Tap!
Tap!
Hanya suara langkah kaki yang terdengar di dalam goa. Ling Ro Bai melihat sekelilingnya dimana banyak sekali endapan kristal mana dan kristal sihir.
Ketika melihat itu, ia menjadi lebih waspada. Mau bagaimanapun, antara kedua kristal tersebut pasti ada endapan karena kekuatan dari makhluk yang sangat kuat.
Tapi Ling Ro Bai masih tetap semangat. Ia mencoba mendekati salah satu kristal mana yang burukuran 20 centimeteran. Ia mengecek benda tersebut.
"I-ini, kristal mana tingkat murni!", Ling Ro Bai histeris bukan main. Walaupun Shen Goldy punya kristal murni. Tapi tetap saja, yang ada di hadapannya lebih murni dari milik pamannya itu.
"Sepertinya, penunggu gua ini sangat kuat. Hingga bisa menimbulkan endapan sebegitu murni inii", Ling Ro Bai kemudian mengeluarkan cincin pemberian Shen Goldy dan memakainya di jari kelingking dekat dengan cincin pemberian Ling Mei di jari tengah.
"Waktunya panen harta!", Ling Ro Bai senyum-senyum sendiri melihat kekayaan yang ia dapat. Seperti orang gila ia terus bersenandung riang mengambil seluruh kristal di dalam gua.
Di ujung gua sendiri, sosok besar dengan ketenangan yang begitu menakutkan menatap tajam ke arah pintu gua. Dimana disana terdapat Ling Ro Bai yang sedang bersenandung mengumpulkan kristal.mana dan kristal sihir.
"Apakah dia orangnya? mari kita uji coba", Sosok tersebut membuka mulutnya lebar-lebar.
Sebuah endapan qi berwarna putih memadat menjadi satu. Dengan ukuran diameter 1 meteran. Ia kemudian melepaskannya ke arah pintu gua.
Wung!
Krak!
Wush!
Boommm!
Debu berterbangan menghalangi pandangan. Sosok tersebut menggelengkan kepala melihat hasil yang tak sesuai harapannya.
"Hah, akhirnya sama saja. Sudah jutaan tahun aku menunggu calon penguasa selanjutnya. Tapi sampai saat ini belum juga menemukan kandi-", ia menghentikan gumamannya ketika mendengar suatu suara kecil.
"Uhuk!, Uhuk,!. Gi-gila!, Apa-apaan itu tadi?, sungguh jika aku masih menahan kekuatanku. Pasti diriku tak akan selamat", ucapnya sambil terbatuk-batuk.
Ketika debu menghilang, Ling Ro Bai menangis batin. Ia bisa melihat dengan jelas bahwa banyak sekali kristal mana dan kristal sihir yang rusak akibat cahaya tadi.
"Harta-harta berhargaku", setelah menggerutu hampir lima menit, Ling Ro Bai sadar jika ia baru saja diserang.
Menatap tajam ke arah ujung gua, "sepertinya, aku harus bertarung dahulu sebelum mengais semua harta ini". Ling Ro Bai mengira bahwa serangan tadi karena pemilik gua marah dengan kelakuannya yang mengambil kristal mana dan kristal sihir tanpa pami dahulu.
"Mari kita olahraga!", setelah mengatakan itu . Ling Ro Bai dengan mantap melangkah menuju ujung goa.
Ia kembali terkejut bahwa, lorong gua sangat panjang. Ling Ro Bai bahkan membutuhkan hampir 15 menit untuk sampai.
Ini menunjukkan jika penunggu gua ini tak bisa diremehkan. Ling Ro Bai bisa melihat ada bayangan yang begitu besar menatapnya tajam. Ia sedikit bergidik.
Dua mata merah menyalah tiba-tiba terbuka. Dengan besar pupil sebesar telapak tangan dewasa. Bisa bayangkan seberapa besar tubuh hewan tersebut.
Gua yang gelap tiba-tiba terang l. Obor-obor di sekelilingnya menyala dengan sendirinya. Ling Ro Bai pun menatap takjub ke arah sosok bayangan tadi.
Tinggi mencapai lebih 300 meter dengan lebar 50 meteran. Sungguh ia tak bisa melihat panjang tubuh sosok tersebut.
"I-Ini?", Ling Ro Bai benar-benar kagum dan terkejut bukan main. Tapi sikap waspada tak pernah hilang dari dirinya. Bisa dikatakan bahwa dia menambah semua tingkat indra pada tubuhnya.
Meneguk ludah dengan kasar, ia membayangkan bagaimana bisa ia mengalahkan sosok tersebut. Sosok yang hampir, tidak,tidak. Ini adalah sosok yang melampaui kekuatan pamannya.
Seekor singa putih bersih tanpa noda dengan mata merah menyala. Menatapnya dengan tajam tanpa bersuara. Menambahkan kesan menakutkan seperti tenangnya air samudra.
"Bocah, apakah kau akan bertarung denganku?", Suara berat, tajam, dan dingin. Membuat Ling Ro Bai gemetar ketakutan. Ia tidak menyang jika di realm rendah ini menyimpan sosok yang begitu agung di dunia kultivasi.
Otak kecilnya sudah mengetahui bahwa, sosok tersebut adalah raja dari segala raja. Monster dari segala monster yang paling dihormati oleh semua kalangan hewan biasa hingga hewan surgawi sekalipun.
Bahkan konon katanya Raja semua naga, Behemoth sekalipun. Harus tunduk hormat jika melihatnya. Jika behemoth penuh kemegahan dan wibawa besar karena kulit emasnya.
Sosok di depannya begitu tenang seperti samudra yang sangat luas. Tenang, tapi jika di senggol akan menimbulkan bencana seluruh dunia.
"Huh, dengan kekuatanku sekarang aku memang tidak bisa membunuhmu. Tapi jika hanya untuk lari, mungkin masih sempat", gumamnya.
"Jangan coba-coba lari dariku bocah. Jika kau ingin pergi, dirimu harus menyelesaikan ujian dariku. Bahkan jika kau ingin melawanku. Semua ilmu mu bawaan mu dan segel mata ling tidak akan berguna. Terlebih angin kehancuran yang kau serap itu", ucapan Sosok tersebut membuat Ling Ro Bai dingin dalam hati.
Bagaimana sosok di depannya bisa tahu semudah itu hanya dalam sekali lihat. Ling Ro Bai mundur beberapa langkah semakin waspada. Menatap tajam ke arah sosok tersebut.
"Hahaha, tatapan yang bagus bocah", suara yang berat kembali terdengar. Tapi Ling Ro Bai tak terkecoh lagi.
"Si-siapa kau sebenarnya? a-apa maumu?", tanya Ling Ro Bai.
keren... bener keren