Kisah ini mengisahkan seorang perempuan yang ditakdirkan menjadi istri ketiga untuk murid kesayangan abahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Permata_Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part-33 Kemarahan Umi
Mobil sampai dipekarangan rumah Ali, umi Ali sudah berdiri diteras rumah seolah sedang menunggu kedatangan mereka. Satu persatu keluar dari mobil, mereka menyalami umi Ali secara bergantian.
“Ali umi mau ngomong penting sama kamu, umi tunggu diruang kerja kamu sekarang” ucap umi langsung masuk kedalam rumah menuju ruang kerja Ali yang berada dilantai tiga.
Mereka melangkah masuk kedalam kamar masing-masing, namun ketika langkah Lizza naik tangga menuju kamarnya tangan Ali menahan.
“Kamu temankan Sarah dulu jangan naik sebelum umi turun” perintah Ali.
“Kenapa ka? Lizza mau mandi lengket nih badan” ucap Lizza.
“Please kamu dengerin kakak” pinta Ali.
Ali langsung naik tangga menuju lantai tiga, sebenarnya Ali sudah memiliki firasat yang tidak enak. Karena mendadak sekali umi ingin bicara dengannya apa lagi diruang kerja Ali, biasanya umi kalau ada apa-apa tidak seperti ini fikir Ali.
Ali memegang knop pintu ruang kerjanya dan membukannya, uminya sedang berdiri didepan jendela ruang kerja Ali saat Ali masuk umi membelakangi Ali.
“Umi ingin membicarakan apa?” tanya Ali.
“Kamu benar-benar akan keputusanmu” tanya balik umi.
Pertanyaan umi membuat Ali binggung karena pertanyaannya mengarah kemanan itu yang difikirkan Ali.
“Maksud umi apa Ali benar-benar engga faham arahnya kemana?” tanya Ali bingung.
“Kamu akan menceraikan Sarah bukan?” tanya umi lagi.
“Umi tau dari mana?” tanya balik Ali.
“Umi tau dari mana itu engga penting kamu tinggal jawab saja” ucap umi menghadap ke Ali.
“Umi itu memang benar tapi itu baru rencan” jawab Ali.
“Apa itu cara kamu memperlakukan istrimu ketika kamu sudah mendapatkan Lizza lalu kamu buang begitu saja Sarah” ucap umi.
“Umi apa yang umi fikirkan itu belum tentu benar, aku akan menceraikan Sarah dan Dinda untuk kabaikan mereka karena aku laki-laki yang tidak bisa memberikan hak batin kepada mereka” jelas Ali.
“Bahkan sampai saat ini umi Ali merasa diri Ali berdosa dihadapan Allah, seharusnya dari awal Ali menceraikan Sarah dan Dinda” jelas lagi Ali.
“Jangan berani-berani kamu menceraikan Sarah tanpan izin dari umi, faham kamu Ali” ancam umi.
Umi Ali langsung keluar dari ruang kerja Ali, lalu turun dari lantai tiga menuju kamarnya dilantai dua. Umi berpapasan dengan Lizza yang hampir naik tangga menuju lantai tiga, Lizza berusaha memberikan senyum pada umi tapi justru umi Ali menghiraukan begitu saja.
Tidak ambil pusing Lizza teruskan langkahnya tanpa memikirkan sifat umi Ali padanya, kenapa sih umi begitu membenci Lizza? Salah Lizza apa umi. Apa karena syarat itu, hhhmmmm.. aku tidak tahu, ucap Lizza dalam hati yang masih terus menaiki tangganya.
Saat Lizza ingin masuk kedalam kamar, terlihat ruang kerja Ali terbuka. Langkahnya tanpa diminta menghampiri ruang kerja Ali, setelah Lizza diambang pintu. Dilihatnya Ali duduk dikursi kerjanya menyenderkan kepalanya, sambil memejamkan matanya.
“Ka, ka Ali” panggil Lizza.
“Eemm” jawab Ali.
“Kakak baik-baik aja?” tanya Lizza.
“Lizza tolong buatkan aku teh” pinta Ali masih dengan mata terpejam.
“Oh iya ka, nanti Lizza buatkan dulu” jawab Lizza nurut.
Lizza langsung menuju dapur yang berada dilantai tiga, karena setiap lantai satu, dua, dan tiga pasti disitu ada dapur. Kali ini Lizza tidak akan membuat teh manis dengan garam karena dia sudah mencobanya terlebih dahulu, air mendidih Lizza segera menuang ke gelas yang sudah berisi gula dan teh setelah itu mengaduknya. Lizza langsung membawa secangkir teh keruang kerja Ali.
Tok.. tok.. tok
Lizza mengetuk pintu, padahal pintunya terbuka lebar hanya saja Lizza sengaja mengetuknya terlebih dahulu. Niat hati ingin menghibur namun tidak ada respon dari sang pemilik.
“Hhmm Lizza masuk ya ka diizinin engga nih?” tanya Lizza.
“Masuk aja pintunya engga dikunci ko” jawab Ali masih tetap terpejam.
Lizza langsung masuk dan meletakan teh buatannya diatas meja didepan Ali.
“Ka Lizza mandi dulu ya, tenang aja ka tehnya engga akan asin lagi ko” ucap Lizza.
Ali langsung membuka matanya dipandangnya Lizza yang berada didepannya, Ali mulai meraih teh buatan Lizza dan meminumnya sedikit demi sedikit.
“Lizza masuk kamar dulu ka” ucap Lizza.
“Makasih” jawab Ali.
Lizza keluar dari ruang kerja Ali dan masuk kedalam kamar yang berada disamping ruang kerja Ali.
Notes!!
Up part-34 besok lagi yaa🤗 jangan lupa like and comment☺
thanks bt author dan jg NT uda ksih bacaan grts