NovelToon NovelToon
Purnama Tertutup Mega

Purnama Tertutup Mega

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Laviolla

Aku sibuk mengurus ibumu di atas pembaringan, sedangkan kamu sibuk menggoyang bosmu yang haus belaian. -Wulan-

Seperti cahaya purnama yang tertutup mega, semua kebaikan dan juga bakti yang sudah diberikan oleh Wulan untuk keluarganya sama sekali tak nampak di mata Awan. Wulan yang sudah dengan sabar merawat sang mertua yang lumpuh karena stroke di sela-sela kewajibannya menjadi seorang ibu muda sampai membuat wanita itu tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri tidak lantas membuat wanita itu mendapatkan balasan kesetiaan.

Wulan memilih untuk berpisah saat memergoki Awan berselingkuh. Wanita itu rela menjanda daripada batinnya selalu tersiksa karena Awan telah terpikat pada seorang janda kaya yang merupakan bos di tempat sang suami bekerja.

Lantas, bagaimanakah Wulan menjalani hari-harinya sebagai seorang janda? Dan bagaimana kehidupan Awan setelah kepergian Wulan? Apakah istri baru Awan bisa menjadi sosok istri dan menantu yang sempurna atau justru durhaka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PTM 22. Silakan Pilih!

Raja siang yang sebelumnya memancarkan sinar begitu terik yang terasa membakar kulit, kini seolah berubah drastis. Ia memilih meredupkan pancaran sinarnya, bahkan menghilang entah kemana. Langit tiba-tiba saja menghitam. Menampilkan gumpalan-gumpalan awan berwarna pekat, seperti sedang berupaya membentuk tetes-tetes air langit kemudian akan ia turunkan hingga menjadi hujan lebat yang mengguyur permukaan bumi. Hembusan angin juga terasa begitu kencang, membuat daun-daun kering berterbangan dan ada pula yang jatuh berguguran.

"Wulan!"

Risma berteriak memanggil nama Wulan yang sudah mulai keluar dari gang. Langkah wanita itu nampak sedikit gontai dengan kepala menunduk seakan saat ini ia tengah memikul beban yang begitu berat. Kepalanya seketika mendongak ketika suara Risma terdengar menggema di telinga. Risma dan Toni nampak sudah berdiri di sisi mobil menyambutnya dengan tatapan iba.

"Ris!"

Wulan sedikit berlari untuk bisa menjangkau tubuh sahabatnya ini. Ia menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan Risma. Di dalam pelukan Risma itulah tangisnya kembali pecah.

"Aku kalah Ris, aku kalah!"

Wulan yang berusaha sekuat tenaga untuk tidak meraung di depan pasangan peselingkuh itu kini ia tumpahkan seluruh tangisnya di atas bahu Risma. Tangis pilu yang terdengar begitu menyayat dada yang seketika juga membuat bola mata Risma dan Toni berkaca-kaca.

"Tidak Lan, kamu tidak kalah. Justru kamu adalah pemenangnya karena bisa terlepas dari lelaki toxic seperti suamimu itu."

"Mas Awan sama sekali tidak melihat apa yang sudah aku lakukan selama ini bahkan dia berani membandingkan aku dengan bos nya itu. Aku sungguh merasa kalah Ris."

"Sssttt... Sudah." Risma mengusap-usap punggung wanita yang sedang hancur ini untuk memberikan sedikit kekuatan. "Semua yang sudah kamu lakukan untuk mertuamu, untuk suamimu dan untuk keluargamu sudah tercatat menjadi sebuah amal kebaikan. Itu artinya kamu sudah menanam satu kebaikan di hidupmu. Suatu saat nanti kamu pasti akan menuai apa yang sudah kamu tanam."

Wulan semakin mengeratkan pelukannya. Tangisnya semakin terdengar menyayat dada. Wanita itu seperti memiliki beban yang begitu berat namun tidak tahu bagaimana caranya untuk membebaskannya.

"Lihat dia!" Risma melerai pelukannya sembari menunjuk ke arah bayi mungil yang tengah digendong oleh Toni. Wulan seketika turut melihat ke arah yang ditunjuk oleh Risma. "Ada dia yang akan memberimu kekuatan. Ada dia yang akan tulus mencintaimu dan ada dia yang akan membuat harimu jauh lebih berwarna."

Tangis Wulan bertambah pecah tatkala melihat wajah sang anak. Makhluk kecil yang sama sekali belum mengerti apapun namun sudah harus merasakan apa itu broken home. Takdir seakan begitu kejam karena telah merenggut apa yang menjadi kebahagiaan seorang anak dengan memiliki keluarga yang utuh. Namun mungkin akan lebih kejam lagi jika Wulan tidak memilih jalan berpisah yang bisa jadi setiap hari anak kecil itu akan melihat sang ibu diperlakukan tidak baik oleh suaminya.

Wulan mengambil tubuh Bagas dari gendongan Toni. Ia ciumi wajah Bagas dengan air mata yang belum mau berhenti mengalir dari telaga beningnya. Ia sadar, meski dunianya telah runtuh akibat penghianatan yang dilakukan oleh Awan namun bahu harus tetap ditegakkan, dada harus tetap dibusungkan dan kaki harus tetap melangkah.

"Kita berjuang sama-sama ya Nak."

"Sudah, lebih baik kita segera pergi dari sini. Langit semakin gelap, takutnya hujan deras akan segera datang!" ucap Toni mengingatkan.

"Betul apa yang dikatakan oleh mas Toni, Lan. Ayo kita segera pergi dari sini," timpal Risma membenarkan ucapan sang suami dan diangguki oleh Wulan.

Tes.. Tes.. Tes...

Air langit perlahan mulai turun membasahi bumi. Risma membukakan pintu mobil untuk membiarkan Wulan masuk ke dalam mobil. Toni juga turut naik ke atas jok motor yang ia kendarai. Dan akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Risma dan motor yang dikendarai oleh Toni sama-sama melaju pelan meninggalkan tempat ini.

Sedikit demi sedikit air langit yang menetes, berubah menjadi rintik hujan. Setelahnya rintik itu berubah menjadi hujan deras yang terdengar bergemuruh di telinga. Mungkin air hujan yang begitu deras ini layaknya air mata Wulan yang jatuh dari pelupuk mata.

***

Awan berdiri di depan jendela sembari menatap hujan deras yang mengguyur bumi. Setelah sang istri memergokinya berselingkuh, entah perasaan apa yang saat ini ia rasakan. Di satu sisi ia merasa lega karena sudah tidak ada lagi bangkai yang ia sembunyikan namun di sisi lain hatinya merasa sedikit kosong karena setelah ini Wulan akan mengajukan gugatan perceraian melalui pengadilan. Itu artinya tidak akan ada lagi nama Wulan yang menemani hari-harinya.

Awan menghela napas dalam dan ia hembuskan kasar. Di situasi seperti ini ia justru merasa belum rela untuk kehilangan Wulan. Padahal jika menuruti nafsu yang ia punya situasi seperti ini merupakan situasi yang paling sempurna karena mimpi yang ia bangun bersama Mega untuk hidup bersama bisa segera terealisasi.

"Mau berapa lama lagi kamu berdiri di situ Mas? Memang kakimu tidak pegal?"

Mega hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat Awan yang sedari tadi hanya berdiri di depan jendela. Semenjak kepergian Wulan dari tempat ini, lelaki itu seperti kehilangan separuh raganya yang membuatnya linglung.

"Entahlah Meg, aku masih betah untuk berdiri di sini."

Mega membuang napas kasar. Ia berjalan pelan menghampiri Awan dan berdiri di sampingnya.

"Kenapa? Kamu menyesal dengan ini semua?" tanya Mega dengan suara datar. "Jika kamu menyesal, kamu boleh kok mengejar Wulan kembali."

Dahi Awan mengernyit. "Maksudmu bagaimana Meg?"

"Ya daripada kamu terlihat begitu berat ditinggalkan Wulan, lebih baik kamu kejar lagi dia dan hidup bersamanya lagi, tapi..."

Mega menjeda ucapannya yang membuat Awan penasaran.

"Tapi apa Meg?"

"Tapi aku akan mundur." Wulan menatap lekat air hujan yang deras itu. "Aku kira kamu akan bahagia bisa lepas dari istrimu sehingga bisa segera menikah denganku. Tapi ternyata sejauh ini aku yang cinta sendirian. Rasa cintamu untuk Wulan masih jauh lebih besar daripada untukku."

Suara Mega sudah terdengar sumbang seakan menahan gejolak emosi yang ada dalam dada. Hidung wanita itu kembang kempis dan tak berselang lama air mata Mega menetes pelan.

Awan sedikit terperanjat melihat Mega yang mulai menangis. Tanpa banyak berpikir ia memeluk tubuh kekasihnya ini.

"Cepat kamu putuskan ke depannya bagaimana Mas. Aku akan mempersilahkan kamu untuk tetap mempertahankan Wulan tapi setelah ini silakan kamu keluar dari perusahaan milikku. Aku tidak ingin semakin sakit hati mendapatkan kenyataan jika lelaki yang aku cintai ternyata tidak benar-benar mencintaiku."

Kedua bola mata Awan terbelalak sempurna mendengar ucapan Mega. Ia tidak ingin kenikmatan hidup yang baru saja ia reguk, berakhir sampai di sini. Tidak bisa ia pungkiri jika setelah diangkat menjadi wakil direktur, kehidupannya jauh lebih baik.

"Aku memilihmu Sayang. Aku memilihmu."

"Kalau begitu segera selesaikan urusanmu dengan Wulan, setelah itu kita menikah!"

.

.

.

1
Laviolla
selamat membaca semua.. jangan lupa untuk like komen subscribe follow dan share ya... mkasih
Laviolla
selamat membaca semua... jangan lupa untuk like, komen, subscribe, follow dan share ya.. mkasih
Hanindia
waaaowww dapat warisan,,, selamat Lan.. semoga beruntung hidupmu ke depannya
Hanindia
amanat apa ya kira -kira??? semoga hal yang bermanfaat Lan
suciati
tuh kan bener dapat warisan.../Tongue/ semoga bermanfaat untuk merubah hidupmu lan
suciati
uhuuyyyy dapet warisan kayaknya.../Drool/ bener2 beruntung kamu Lan
Laviolla
selamat membaca semua.. jangan lupa untuk like, komen, subscribe, follow dan share ya.. mkasih
sunaryati jarum
Sepertinya kamu anak yang ditemukannya Nenek Inah,Wulan.Semoga kehidupan kamu selanjut lebih baik Wulan.
linda
rezeki nomplok lan... 🤣🤣
Anonim
Laki goblok tinggalin lan,run
sunaryati jarum
Semoga nenek Wulan Mempunyai peninggalan barang atau ilmu yang dapat mengubah hidup Wulan menjadi baik dan sukses
Laviolla
selamat membaca semua. jgn lupa untuk like komen subscribe follow dan share mkasih
linda
wulan dapat warisan😍😍😍 itu si cowok tampan sepertinya yg bakal jadi jodoh wulan selanjutnya
sunaryati jarum
Semoga langkah kamu menuju kebebasan , kesuksesan dan kebahagiaan. Wulan
linda
bagus Lan.. selamat melanjutkan hidupmu,, smg sukses
suciati
semogq sukses lan
Hanindia
selamat berjuang Lan... semoga kamu sukses
Hanindia
kalian emang serasi... penghianat dan pelakor bersatu
Hanindia
wuiiihh,, udah berani nampar??? emang gila tuh awan
Hanindia
selamat Lan, lelaki kayak awan emg gk pantes dipertahankan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!