Menikah dengan seseorang yang dicintainya.
Itu adalah mimpi dari Medisya Laluna. Namun sayangnya Medisya harus mengubur mimpinya dalam-dalam setelah seseorang merenggut kesuciannya secara paksa.
Namanya Alvian Sagara. Pria itu merupakan atasannya di perusahaan tempat Medisya bekerja.
Medisya tidak tau harus bersyukur atau menyalahkan takdir ketika Alvian mau menikahinya. Akankah ia bahagia dengan pernikahannya nanti? Apakah mereka bisa menjalani pernikahan itu layaknya orang yang saling mencintai?
###
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dilara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Saling Memaafkan
Netra Alvian mengerjap kecil ketika merasakan gerakan di ranjangnya. Tubuhnya beranjak duduk ketika mengetahui bahwa Medisya sedang duduk di sebelahnya, menatap Alvian intens.
"Aku cariin di bawah eh malah Mas Alviannya di sini," sungut Medisya lucu.
Mendengarnya membuat Alvian tersenyum kecil. Tadi setelah makan, Alvian memang langsung ke kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya.
"Kenapa mencariku?" Tanya Alvian sembari memiringkan kepalanya ke kanan dan kiri.
"Lily bilang mau bicara sama Mas Alvian tadi. Sekarang dia lagi nunggu Mas Alvian di taman belakang sama Varo," jelas Medisya.
Alvian mengangguk singkat ia menuju lemari untuk mengambil celana pendek serta kaos pendek putih. Ia merasa gerah karena sedari tadi mengenakan pakaian kerjanya.
Mata Medisya terbuka lebar saat Alvian mulai membuka pakaian di hadapannya. Laki-laki itu juga melepas ikat pinggang serta siap membuka resleting celananya. Hal itu tentu saja membuat Medisya langsung berbalik. Menatap ke arah jendela yang bertirai hitam.
"Kenapa?"
Pertanyaan yang lolos dari bibir Alvian berhasil memancing decakan kecil dari Medisya. Tidak taukah suaminya itu bahwa sekarang Medisya tengah menahan malu melihatnya berganti pakaian di sana?
Sedangkan Alvian terkekeh kecil. Alvian jelas mengerti mengapa Medisya membalikan tubuhnya. Ia memang sengaja mengganti bajunya di sana. Niatnya adalah ingin membuat Medisya terbiasa dengan semua kebiasaannya.
Langkahnya mendekati Medisya. Alvian menekuk lututnya tepat di depan Medisya. Tangannya terjulur menyelipkan rambut istrinya ke telinga kemudian mengusap pipi Medisya yang jelas sekali merona. Medisya sendiri tidak mau berhenti memejamkan matanya. Ia tidak sanggup melihat Alvian sedekat ini karena itu membuat jantungnya berpacu kencang.
"Kamu mau di sini saja?" Tanya Alvian sembari berdiri.
Medisya menghela nafasnya kecil. Kepalanya menggeleng, memberitahu bahwa ia akan ikut ke bawah.
"Mau sama Varo, biar Mas Alvian sama Lily tenang bicaranya," ucap Medisya.
Alvian mengangguk mendengarnya. Ia meraih tangan Medisya dan menariknya menuju taman belakang. Sudut bibirnya terangkat melihat Lily sedang menjaga Varo yang tidur nyenyak di kereta dorong.
"Lily," panggil Medisya membuat Lily menoleh kemudian berdiri. Langkah Medisya mendekati mereka lalu mengambil alih kereta dorong Varo dari Lily.
"Aku tidurin Varo dulu di kamar, ya?" Ucapnya berusaha terlihat biasa saja.
Padahal dalam hati ia merasa cemas karena Lily menatapnya memohon agar ia tetap di sana. Namun Medisya sadar bahwa kakak beradik itu butuh waktu untuk bicara berdua.
Dengan berat hati Medisya melangkah menjauh setelah sebelumnya menatap Alvian. Ia tersenyum kecil ketika Alvian mengangguk pelan. Meyakinkan dirinya bahwa ia benar-benar akan meminta maaf pada Lily.
Setelah Medisya pergi, Alvian meraih rangan Lily. Dapat ia rasakan tubuh adiknya itu menegang merasakan sentuhannya. Maka dari itu Alvian langsung melepaskan tangannya.
"Duduk, Ly," titah Alvian.
Tanpa di suruh dua kali Lily langsung duduk di kursi taman. Dan Alvian duduk di sebelahnya.
"Kakak minta maaf," ucap Alvian tanpa mengukur waktu lagi. Ia menatap Lily lekat. Jujur saja Alvian merasa canggung karena Lily terus menghindari kontak mata dengannya. Namun jauh di lubuk hatinya ia merasa senang karena sikap Lily yang seperti ini membuat Alvian lega. Setidaknya gadis kecil itu berhenti bersikap manja pada dirinya.
"Lily yang salah," cicit Lily pelan. Ia menunduk dalam. Menghindari Alvian yang terus menatapnya intens.
"Kita sama-sama salah di sini. Jadi kita harus saling memaafkan." Alvian menarik pelan tubuh Lily ke dalam dekapannya. Hanya sejenak karena ia langsung melepaskan Lily. "Kamu tau, sekarang tanggung jawab kakak bukan hanya menjaga kamu. Ada Medisya dan anak kakak yang sudah sepantasnya kakak lindungi lebih dari apapun. Dan kakak yakin, kamu pasti akan mendapatkan pengganti kakak. Seorang pria yang bisa lebih mencintai kamu dari pada kakak," lanjut Alvian panjang lebar.
"Iya," balas Lily singkat. "Maafin Lily juga karena berniat buruk pada Kak Medisya."
Senyum Alvian semakin melebar. Ia mengusap puncak kepala Lily pelan. "Kakak senang lihat kamu akrab dengannya," jujur Alvian.
Sedangkan Lily memandang kakaknya sejenak. "Apa kakak sangat mencintai Kak Medisya? Apa sebelum kakak memperkosanya, kalian sudah dekat?"
"Tidak. Hubungan kami hanya sebatas atasan dan karyawan. Dan kakak melakukan kesalahan itu di awal pertemuan kami,," Alvian menjeda kalimatnya. Punggungnya bersandar pada kursi taman dan tangannya bersedekap. "Kakak tidak yakin tentang cinta. Yang jelas akhir-akhir ini kakak selalu mengkhawatirkan keadaannya. Bahkan saat kerja, kakak selalu memikirkan keadaannya di apartemen."
"Lalu Clara?"
Pertanyaan Lily sontak membuat Alvian mendengus pelan. Untuk apa adiknya mempertanyakan tentang wanita itu. Memangnya apa yang akan Alvian lakukan pada Clara? Wanita itu akan menjadi milik orang lain. Jadi Alvian sudah tidak berurusan dengannya.
"Kak Medisya bilang kakak melakukan kesalahan itu karena marah dengan Clara," lanjut Lily ketika Alvian hanya diam tidak menjawabnya.
"Apa Medisya menceritakan semuanya?" Tanya Alviab penasaran. Jika memang iya, itu artinya hubungan Lily dengan Medisya sangat dekat.
Lily mengangguk antusias, "dia juga bilang kalau Kak Alvian kayak punya kepribadian ganda. Bentar-bentar baik, bentar-bentar galak, gitu katanya."
Alvian memperhatikan Lily yang masih bersemangat menceritakan apa yang diucapkan Medisya. Melihat itu, Alvian yakin Lily pasti sudah memaafkannya. Gadis kecilnya itu tidak mungkin berlarut-larut dalam amarah.
"Kayaknya Varo nangis deh, kak," celetuk Lily tiba-tiba.
Perempuan itu berlari kecil memasuki rumah, meninggalkan Alvian yang hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sudah bukan rahasia lagi bahwa Lily sangat menyukai anak kecil. Alvian tidak bisa membayangkan bagaimana Lily membantu Medisya menjaga anaknya nanti.
Tidak ingin berdiam diri di taman, Alvian bangkit. Menyusul Lily dan Medisya. Namun ternyata mereka sudah berkumpul bersama dengan orang tuanya dan juga orang tua Varo. Alvian memegang tengkuknya. Berusaha mengusir kecanggungan ketika semua orang menatapnya.
"Kebetulan kamu di sini," celetuk Abraham tiba-tiba, "ada yang ingin papah bicarakan dengan kamu."
"Sekarang?" Tanya Alvian dengan satu alis terangkat.
"Nanti saja. Ke ruangan papah jam lima nanti," balas Abraham sembari berlalu setelah menyempatkan diri menepuk pundak Alvian dua kali.
Alvian hanya mengangguk kecil. Netranya beralih pada Medisya. Dari raut wajahnya, jelas wanita itu sedang mengkhawatirkan Alvian. Mungkin ia takut Abraham akan menyakiti Alvian lagi.
Medisya menepuk sofa di sebahnya. Menyuruh Alvian duduk di sana. Dan tanpa di suruh dua kali Alvian langsung menurutinya. Laki-laki itu juga merangkul pundak Medisya lalu menariknya hingga jarak di antara mereka hilang.
"Suruh istri kamu istirahat gih, Al. Dari tadi pagi jagain Varo terus pasti capek," titah Farah yang sedang menyusui Varo.
"Enggak kok, tante," elak Medisya, "aku malah betah sama Varo."
Mendengar menantunya berkata seperti itu membuat senyum di bibir Melinda mengembang. Sedari tadi ia asyik memperhatikan kedekatan Alvian dan Medisya. Melinda bahagia Medisya sudah mulai bisa menerima Alvian.
"Kamu harusnya sering-sering ajak Medisya ke rumah Tante Farah, Vian. Biar dia bisa belajar mengurus anak. Jadi pas nanti anak kalian lahir dia nggak kaku lagi," ucap Melinda memberi nasehat.
"Alvian sibuk, mah," balas Alvian membuat Melinda mendengus kesal.
"Tapi Medisya enggak. Iya kan, Sya?" Melinda menatap Medisya. Mengedipkan sebelah matanya agar menantunya itu mengangguk kecil. "Kamu bisa mengantarnya selagi kamu berangkat kerja. Rumahnya searah dengan kantor kamu. Terus pulangnya juga bisa kamu jemput," jelas Melinda.
"Nanti Vian pikirkan lagi," ucap Alvian. Ia mendorong pelan tubuh Medisya lalu beranjak berdiri. "Aku ke atas. Kalau kamu lelah istirahat aja di kamar," pamitnya pada Medisya.
###