Cerita ini Menceritakan tentang Perjalanan Hidup dan cinta gadis muda.
Dahulu dia adalah Seorang Gadis yang Ceria, Manja dan Dia juga Terlahir dari Keluarga Pengusaha.
Semenjak Ayahnya pergi Kehidupannya mulai tersiksa, Hari-harinya penuh Siksaan dan Cacian.
Awal mula kehidupan baru terjadi, Dia Di pertemukan dengan Seorang Pengusaha, di pertemukan di tempat dan waktu yang salah.
Pertemuan mereka begitu pahit, Namun akan kah berbuah manis pada akhirnya?
Ikuti Cerita ini ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GIRL MEY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENASARAN PART 3
MALAM HARI
Di kediaman dr.Nadin
Malam ini Bram berkunjung ke Apartemen Nadin. Sebelum nya mereka sudah janjian untuk bertemu terlebih dahulu.
Mengingat kalau Nadin biasanya lebih banyak menghabiskan waktu di Rumah Sakit.
Bram membunyikan bel yang ada di depan apartemen Nadin, tak lama kemudian Nadin membukan pintu untuk Bram.
"Eh, Bram." membukakan pintu dan mempersilahkan Bram untuk masuk.
Memberikan seulas senyuman, "Apa pekerjaan mu sudah selesai?" Tanya Bram yang masih berdiri di depan pintu.
Bram dan Nadin sudah dekat dari dulu, saat Nadin dan keluarga nya menjadi dokter pribadi keluarga mereka.
Bram tidak mau dirinya di panggil dengan sebutan Tuan, karena menurut dia mereka adalah sama, begitu juga dengan Alika, dia tidak mau kalau Nadin memanggil nya dengan sebutan Nona.
Nadin terwa, "Kamu ini mau nagih hutang atau apa?" Tanya Nadin, karena dia melihat kalau Bram seperti orang penagih hutang.
Bram ikut tertawa, "Sudah ayo masuk dulu." Ajak Nadin.
Bram melangkahkan kakinya masuk ke dalam Apartemen Nadin, kemudian duduk di sofa yang ada di dalam Apartemen itu.
Ketika Bram sudah duduk, Nadin meminta izin untuk ke belakang sebentar, dia mengambil segelas minuman untuk Bram.
"Silahkan Bram." Ucapa Nadin, kemudian duduk di samping Bram.
"Terimakasih." Jawab Bram. Dia meminum minuman yang di tawarkan Nadin.
"Bagaimana apa kamu mendapatkan informasi tentang Papa ku?" Tanya Bram dengan serius.
Nadin menggeleng, "Aku belum mendapatkan informasi yang tetap,"
"Tapi kamu tenang saja,"
"Aku dan keluarga ku sudah bekerja sama dengan para medis lainnya." Jawab Nadin, berusaha untuk meyakinkan Bram agar jangan menyerah.
Bram diam sejenak, sambil mengacak-acak rambut nya, dia mengingat kesalahan yang telah di perbuat kepada Papa dan Adiknya.
"Bram tenang lah, aku akan membantu mu sebisaku." Ucap Nadin sambil menyuruh Bram berhenti mengacak-acak rambut nya.
"Bagaimana aku bisa tenang,"
"Kamu tau, Aku kehilangan Adik dan Papaku, mana mungkin aku bisa tenang." ucap Bram dengan suara sedikit meninggi.
Nadin berusaha mengendalikan Bram yang mulai putus asa yang terus-menerus menyalakan dirinya.
Aku sudah menemukan adikmu, tapi saat ini aku tidak bisa mempertemukan kalian, karena Adik mu sudah berada di tempat yang aman.
"Bram," lirih Nadin, di sisi lain dia melindungi Alika, di sisi lain nya dia tidak bisa membohongi Bram.
Bram yang menyadari suara Nadin mulai berubah, dia menoleh ke arah Nadin. Sambil melihat Nadin.
"Maaf!" Ucap Bram.
"Maaf untuk apa? Tanya Nadin.
"Seharusnya aku yang mintak maaf." Ucap Nadin, dia berusaha menahan tangis karna dia tidak tega melihat Bram yang begitu merasakan kehilangan.
"Tidak." Perotes Bram.
"Kamu tidak salah apa-apa,"
"Maaf tadi aku membuatmu jadi begini, dan maaf aku sudah bicara keras di depan mu." Ucap nya lagi, dia meraih dan menggenggam tangan Nadin.
Bram menyuruh Nadin agar mau menatap wajahnya, Namun Nadin tidak mau. Nadin berusaha melepaskan genggaman Bram.
Karena Nadin takut, hal itu akan terjadi lagi, di mana saat dia dan Bram pernah bertemu, setelah itu dia di ikuti oleh orang yang tidak di kenal.
"Maaf!"
"Bukan maksud aku untuk menyentuh mu." Ucap Bram saat Nadin berhasil melepaskan genggaman Bram.
"Iya Bram, tidak apa-apa aku mengerti kok." Jawab Nadin.
Nadin ingin sekali memberi tahu Bram kalau ada yang mengikuti dia sewaktu waktu. Namun dia merasa itu bukan waktu yang tepat.
Mereka saling bercerita, dan berbagi informasi tentang yang mereka temukan, namun Nadin kali ini lebih banyak berbohong apa lagi tentang Alika.
*****
DI KEDIAMAN RARA
Rara sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur, sambil menatap langit-langit kamar dan menghitung bintang-bintang yang ada di langit kamar.
"Siapa Alika sebenarnya," bergumam sendiri.
"Kenapa Aku merasa tidak asing dengan dia."
"Dan kenapa Aku bisa semudah itu dekat dengan dia, bukannya aku tipe orang yang tidak suka dengan orang baru." Berfikir dan berusaha mengingat-ingat sesuatu.
Setiap Rara ingin berfikir lebih jauh dan dalam lagi, kepala nya selalu pusing.
"Agrahhhh.." mendesah menahan sesuatu.
"Apa yang terjadi padaku, di saat aku berpikir kepala rasanya hampir pecah." Mulai mengoceh tidak jelas.
"Mama," ucap Rara sendiri.
"Iyaa, Mama, mama pasti tau semuanya."
"Nanti ketika mama sudah kembali ke Indonesia Rara akan mempertanyakan semua tentang Rara mulai dari kecil." Berguman sendiri.
Setelah puas berbicara dan bergumam sendiri, tiba-tiba Rara tertidur, Rara tertidur di atas kasur dalam ke adaan pintu kamar terbuka.
Dari arah luar ada seorang yang sedang memperhatikan Rara, dia berusaha berjalan menuju kamar Rara.
deg2an jg bc y selamat dr kucing garong mlh masuk kandang buaya, mudah2an si buaya mau bertanggungjawab kpdmu