NovelToon NovelToon
Ibu Yang Kembali Dari Kematian

Ibu Yang Kembali Dari Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Seraphina Halstrom pernah percaya bahwa keluarga adalah segalanya, hingga di detik terakhir hidupnya ia menyadari bahwa suami dan kedua anaknya sendiri telah merencanakan kematiannya demi harta. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Kembali ke masa lalu sebelum semuanya terjadi, Seraphina tidak lagi menjadi ibu yang lembut dan mudah dimanfaatkan.

Dengan ingatan akan pengkhianatan yang sama, ia mulai menyusun langkah demi langkah untuk membalas mereka. Kali ini, ia tidak akan dikhianati, ia akan menghancurkan mereka terlebih dahulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

Malam itu hujan masih turun pelan di luar jendela mansion Halstrom, membentuk garis-garis tipis yang menempel di kaca besar ruang kerja Seraphina. Cahaya lampu meja di sudut ruangan jatuh lurus ke permukaan meja kayu gelap, memantulkan bayangan dokumen yang tersusun rapi namun tidak lagi terasa seperti bagian dari pekerjaan biasa. Udara di dalam ruangan terasa lebih berat, bukan karena cuaca, melainkan karena isi dari map-map yang terbuka di hadapannya.

Semua dokumen itu bukan laporan perusahaan seperti biasanya. Tidak ada grafik kinerja, tidak ada analisis pasar, tidak ada catatan divisi yang biasa ia tandatangani tanpa banyak berpikir. Yang ada justru potongan-potongan kecil kehidupan lain yang selama ini berjalan di luar penglihatannya, tersusun dalam bentuk yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Catatan perjalanan lama.

Data transaksi yang tidak masuk jalur utama.

Pembayaran berulang ke akun yang sama.

Dan satu nama yang terus muncul di antara semuanya.

Darius Halstrom.

Seraphina duduk diam di kursinya, tangannya tidak terburu-buru membalik halaman. Setiap lembar ia baca dengan ritme yang sama, seolah tidak ada tekanan emosional yang perlu direspons. Padahal setiap detail yang ia lihat cukup untuk mengubah cara seseorang memandang hubungan yang sudah dibangun bertahun-tahun.

Di satu sisi, ada pola yang terlalu konsisten untuk dianggap kesalahan sesaat. Di sisi lain, ada kerapian yang menunjukkan semua ini tidak pernah dimaksudkan untuk ditemukan. Darius tidak pernah meninggalkan celah besar, hanya jejak kecil yang baru akan terlihat jika seseorang benar-benar tahu apa yang sedang dicari.

Dan Seraphina sudah belajar cara itu.

Di kehidupan sebelumnya, ia tidak pernah mempertanyakan hal-hal seperti ini. Ia tidak pernah merasa perlu mencurigai orang yang berbagi tempat tidur dengannya setiap malam, apalagi mencari bukti di balik kebiasaan yang terlihat normal. Semua terasa wajar pada waktu itu, sampai semuanya berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah bisa ia ulang kembali.

Sekarang, cara berpikirnya sudah berbeda.

Bukan lagi tentang kepercayaan.

Tapi tentang pola.

Evelyn Hart berdiri beberapa langkah dari meja, tidak banyak bergerak sejak awal Seraphina mulai membaca dokumen itu. Wanita itu hanya menunggu, dengan sikap profesional yang tidak mencoba mengganggu proses apa pun yang sedang terjadi di depan matanya. Hujan di luar terdengar semakin stabil, seperti ritme yang tidak peduli pada isi ruangan.

Seraphina akhirnya menutup satu lembar dokumen lalu menumpuknya kembali dengan rapi.

“Aku mau nama,” ucapnya pelan tanpa mengalihkan pandangan terlalu cepat.

Evelyn tidak langsung menjawab, hanya menunggu sampai instruksi itu terasa benar-benar selesai diucapkan.

“Wanita itu?” tanyanya kemudian.

“Ya.”

Jawaban itu tidak membutuhkan penjelasan tambahan. Keduanya sudah sama-sama memahami arah pembicaraan sejak awal, hanya saja sekarang semuanya mulai mendapatkan bentuk yang lebih jelas.

Evelyn berjalan pelan ke meja lalu meletakkan satu map tambahan dengan ukuran lebih kecil dibanding yang lain. Gerakannya hati-hati, seperti seseorang yang tahu isi di dalamnya bukan sekadar informasi biasa.

“Ini yang berhasil kami kumpulkan sejauh ini,” ucapnya singkat.

Seraphina membuka map itu tanpa ragu. Di halaman pertama, satu nama langsung terlihat jelas di bagian atas dokumen.

Vivienne Laurent.

Tidak ada reaksi besar di wajahnya saat itu. Tidak ada perubahan ekspresi yang bisa ditangkap dengan mudah, hanya tatapan yang sedikit bertahan lebih lama dari biasanya di satu titik yang sama.

Nama itu tidak terdengar asing dalam arti tertentu. Lebih tepatnya, nama itu adalah sesuatu yang selama ini tidak pernah ia pilih untuk lihat.

Ia membaca ke bawah.

Usia.

Riwayat pendidikan.

Alamat beberapa tahun terakhir.

Catatan perpindahan tempat tinggal.

Lalu perlahan, data yang lebih dalam mulai muncul di halaman berikutnya.

Transaksi bulanan tetap.

Pembayaran apartemen atas nama pihak ketiga.

Beberapa perjalanan internasional yang tidak tercatat sebagai perjalanan pribadi resmi.

Dan pola itu terus berulang.

Stabil.

Konsisten.

Terorganisir.

Semakin jauh ia membaca, semakin jelas satu hal terbentuk tanpa perlu dijelaskan secara langsung. Hubungan ini bukan sesuatu yang baru dimulai, bukan juga sesuatu yang terjadi tanpa rencana. Ada struktur yang sudah lama berjalan di luar pengetahuan publik, dan struktur itu melibatkan Darius secara langsung.

Seraphina menutup map itu perlahan, lalu meletakkannya kembali di atas meja dengan posisi sama seperti sebelumnya.

Tangannya berhenti di sana sejenak.

Evelyn memperhatikan reaksinya dengan hati-hati. “Apakah ini perlu dihentikan sekarang?”

Pertanyaan itu keluar dengan nada yang tetap profesional, tanpa dorongan emosional yang berlebihan.

Seraphina tidak langsung menjawab. Matanya sempat tertuju kembali pada map yang sudah tertutup, seolah masih mengingat isi di dalamnya tanpa perlu membukanya lagi.

“Tidak,” jawabnya akhirnya.

Satu kata itu cukup jelas.

Evelyn sedikit mengerutkan alis. “Tapi ini jelas hubungan yang sudah berlangsung lama.”

“Aku tahu.”

Nada suara itu tidak meninggi. Tidak juga menekan. Hanya pernyataan yang terasa terlalu tenang untuk situasi yang seharusnya memiliki bobot emosional lebih besar.

Seraphina merapikan kembali semua dokumen di depannya, menyusunnya seperti semula. Gerakannya tidak terburu-buru, tidak juga ragu.

“Bukan itu yang penting sekarang,” lanjutnya.

Evelyn tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk kecil, memahami batas yang tidak perlu dilewati.

Namun di dalam kepalanya sendiri, Seraphina sudah mulai menghubungkan hal lain. Nama itu bukan sekadar identitas orang ketiga. Ini adalah titik tetap dalam kehidupan Darius yang selama ini tidak pernah disentuh oleh konflik rumah tangga mereka.

Dan titik tetap seperti itu…

Bisa menjadi alat.

Atau kelemahan.

---

Di sisi lain kota, beberapa jam sebelumnya, Darius masih berada di ruang kerja pribadinya di kantor pusat Halstrom Group. Lampu ruangan tidak terlalu terang, hanya cukup untuk menyoroti meja besar yang dipenuhi laporan dan perangkat kerja yang masih aktif.

Layar laptop di depannya menampilkan data yang sama berulang kali. Perubahan kecil pada akses perusahaan yang tidak pernah ia setujui secara langsung. Jalur investasi yang tiba-tiba membutuhkan validasi tambahan. Dan beberapa sistem internal yang tidak lagi sepenuhnya berada di bawah kendalinya.

Rahangnya mengeras pelan saat ia menutup satu file lalu membuka file lain.

Semua masih terlihat rapi di permukaan, namun ada pergeseran yang tidak bisa ia abaikan lagi.

Tangannya meraih ponsel di sisi meja. Layar menyala, menampilkan satu pesan dari nomor tidak tersimpan.

> “Semua tetap berjalan sesuai rencana.”

Darius menatap pesan itu cukup lama tanpa ekspresi.

Lalu ia menghapusnya.

Tidak ada jawaban.

Tidak ada balasan.

Karena dalam pikirannya, pesan seperti itu bukan sesuatu yang perlu dibahas lagi. Semuanya sudah berjalan sesuai kontrol yang ia bangun sejak lama, dan orang-orang yang terlibat di dalamnya tahu batas mereka masing-masing.

Vivienne Laurent tidak pernah menjadi masalah besar.

Setidaknya sampai sekarang.

Namun akhir-akhir ini, perasaan itu mulai berubah. Ada sesuatu yang terasa tidak lagi berada di jalur yang sama seperti sebelumnya. Seperti seseorang sedang menggeser posisi tanpa memberitahu arah akhirnya.

Darius menyandarkan tubuh ke kursi lalu menatap langit kota dari balik kaca besar di belakangnya.

Lampu-lampu kendaraan bergerak seperti garis kecil yang terus berubah arah.

Sama seperti pikirannya saat ini.

---

Kembali ke mansion, hujan masih belum berhenti sepenuhnya. Tetes air di kaca jendela ruang kerja Seraphina mulai melambat, meninggalkan jejak tipis yang memudar.

Evelyn sedang merapikan dokumen ketika Seraphina akhirnya berdiri dari kursinya.

Langkahnya menuju jendela tidak tergesa, hanya stabil seperti biasanya.

Dari sana, ia bisa melihat taman belakang yang basah, lampu luar yang redup, dan bayangan rumah besar yang tetap berdiri tanpa perubahan.

Namun di dalam dirinya, sesuatu sudah bergerak lebih jauh dari sekadar observasi.

“Tim tambahan sudah disiapkan,” kata Evelyn dari belakang.

Seraphina tidak langsung menjawab.

Matanya masih tertuju ke luar.

“Bagus,” ucapnya akhirnya.

Evelyn ragu sejenak sebelum bertanya lagi. “Kalau Darius mulai mengarah ke sini?”

Seraphina baru menoleh sedikit, hanya cukup untuk melihat refleksi dirinya di kaca.

Wajah yang tenang.

Terlalu tenang.

“Dia akan tahu,” jawabnya pelan.

Lalu jeda singkat.

“Dan dia tidak akan bisa menghindarinya.”

Evelyn diam.

Tidak ada tambahan komentar setelah itu.

Karena nada suara tadi bukan sekadar keyakinan.

Lebih seperti keputusan yang sudah ditetapkan sejak awal.

Di atas meja, map Vivienne Laurent masih tertutup rapi.

Namun isinya sudah tidak lagi sekadar informasi.

Melainkan awal dari arah baru yang perlahan mulai terbentuk di antara dua orang yang sama-sama menganggap dirinya sedang mengendalikan permainan.

Dan malam itu, hujan di luar mansion Halstrom terus turun tanpa peduli bahwa sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar rahasia rumah tangga sedang mulai bergerak di dalamnya.

1
Ma Em
Ternyata Darius wanita simpanan pantas saja selalu mengambil uang Seraphina dikantor karena demi menyenangkan gundiknya , pelan2 Darius ingin menguasai perusahaan Seraphina .
Ma Em
Seraphina semangat semoga kamu bisa mengendalikan lagi perusahaan yg duluan nya dikuasai Darius dan sekarang bisa beralih kembali pada kekuasaan Seraphina , biar para benalu yg selalu moroti uangmu itu sadar meskipun itu suami dan anak2 mu Seraphina .
Ma Em
Bagus Seraphina kamu bisa semua yg Darius ambil dari perusahaan mu bisa Seraphina ambil kembali secara pelan tapi pasti agar Darius dan anak2 mu tdk curiga .
Ma Em
Sudah waktunya kamu jatuh Darius makanya jgn suka ngambil yg bkn milikmu Darius , Darius serakah mau menguasai harta Seraphina untung saja Seraphina cepat bergerak dan cepat menyadari kesalahan nya kalau terlambat sedikit lagi Seraphina bakal dibuang .
Ma Em
Seraphina kamu hrs kuat dan hati2 menghadapi mereka karena itu sangat berbahaya untukmu Seraphina , meskipun itu dgn anak2 mu juga suamimu Seraphina tetap hrs hati2 jgn sampai terulang lagi anak-anak dan suamimu meracuni kamu Seraphina .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!