Dibuang dua puluh tahun ke London, Kalea dipaksa pulang hanya untuk menjadi tumbal wasiat kakaknya. Najwa, sang bidadari pesantren yang sedang menjemput ajal, meminta satu hal yang mustahil: Kalea harus menggantikan posisinya sebagai istri Gus Malik.
Kini, si pemberontak berpakaian seksi itu harus terjepit dalam pernikahan "turun ranjang" bersama pria sedingin es yang hanya mencintai kakaknya. Di bawah atap yang sama dengan Najwa yang kian merapuh, sanggupkah Kalea bertahan menjadi bayang-bayang di atas ranjang pria yang menganggapnya penuh dosa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prahara di Lembah Kelam
Lampu neon yang berkedip-kedip dan dentuman bass yang menggetarkan dada membuat Gus Malik ingin segera berbalik arah. Seumur hidupnya, ia tidak pernah membayangkan kaki yang biasanya melangkah menuju mimbar masjid dan madrasah, kini harus menginjak lantai club malam yang lengket oleh tumpahan alkohol dan keringat.
Aroma tembakau, uap alkohol, dan parfum menyengat menyerbu indranya. Malik menarik jaket hitamnya lebih rapat, menundukkan kepalanya dalam-dalam, mencoba mengabaikan pandangan beberapa wanita berpakaian minim yang menatapnya dengan heran. Matanya yang tajam menyapu setiap sudut ruangan yang remang-remang, mencari sosok pirang yang telah mengacak-acak hidupnya.
Akhirnya, ia menemukannya. Di pojok ruangan, di sebuah sofa kulit yang agak tersembunyi, Lea duduk dengan botol kelima yang sudah kosong di atas meja. Kepalanya terkulai ke belakang, rambutnya berantakan, dan wajahnya sangat merah.
"Kalea," suara Malik terdengar dingin di tengah hiruk-pikuk musik.
Lea mengerjapkan matanya yang sayu. Ia butuh waktu beberapa detik untuk menyadari siapa yang berdiri di depannya. "Eh... Si... Si Gus Suci? Ngapain lo ke sini? Mau dakwah?" Lea tertawa terbahak-bahak, suaranya parau dan ngelantur.
"Kita pulang sekarang. Najwa menunggu," Malik meraih lengan Lea, mencoba menariknya berdiri.
"Nggak mau! Gue mau di sini! Di sini enak, nggak ada yang ngatur-ngatur gue!" Lea memberontak dengan tenaga yang tak terduga. Ia mendorong dada Malik dengan kedua tangannya. Karena kondisi Malik yang tidak siap dan posisi lantai yang licin, Malik terhuyung mundur hingga jatuh terduduk di sofa empuk di belakangnya.
Belum sempat Malik bangkit, Lea dengan cepat merangkak dan langsung duduk di pangkuan Malik.
"Astaghfirullahaladzim! Kalea, turun!" Malik tersentak. Seluruh tubuhnya menegang. Jantungnya berdegup kencang bukan karena gairah, melainkan karena keterkejutan yang luar biasa. Tangannya tertahan di udara, bingung harus memegang bagian mana untuk menyingkirkan Lea tanpa menyakiti atau menyentuh bagian yang tak pantas.
Namun, di tengah kepanikannya, Malik memejamkan mata sejenak. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan jiwanya yang bergejolak. 'Dia istrimu, Malik. Dia sah bagimu. Secara hukum Allah, tidak ada dosa bagimu menyentuhnya di sini,' batinnya mencoba memantapkan hati agar tidak goyah oleh rasa jijik pada tempat ini.
Lea tidak peduli. Ia memegang sebuah gelas berisi cairan amber dan menyodorkannya ke bibir Malik. "Ini enak loh, Gus... Lo harus coba. Biar lo nggak kaku banget kayak kanebo kering. Ayo, minum..."
"Singkirkan benda haram itu dari hadapan saya, Kalea," desis Malik, memalingkan wajahnya.
Lea merengut. Ia meletakkan gelas itu kembali ke meja, lalu tiba-tiba kedua tangannya merayap naik, memegang rahang Malik dengan kuat. Telapak tangan Lea yang panas karena pengaruh alkohol terasa membakar kulit Malik.
"Lo tahu nggak? Lo itu... sebenarnya ganteng," bisik Lea, suaranya sangat dekat di telinga Malik.
Tanpa peringatan, Lea menubrukkan bibirnya ke bibir Malik. Ia mencium pria itu dengan rakus, sebuah ciuman yang kacau dan penuh emosi dari seorang wanita yang sedang kehilangan kesadaran. Tak hanya itu, dalam keadaan mabuk berat, Lea sedikit menggoyangkan pinggulnya di pangkuan Malik, mencari posisi nyaman yang justru membuat Malik hampir kehilangan napas karena menahan diri.
Malik mematung. Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit club yang gelap. Ia membiarkan Lea melakukan apa pun, bukan karena ia menikmati, tapi karena ia tahu melawan wanita mabuk di tempat umum hanya akan membuat keributan yang lebih besar. Ia menggenggam erat pinggiran sofa, kukunya memutih karena menahan gejolak amarah dan kebingungan di dalam dirinya.
Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya bagi Malik, Lea melepaskan ciumannya. Ia menatap Malik dengan mata yang mulai menutup, tersenyum miring yang nampak sangat rapuh.
"Gimana? Enak kan? Lebih enak dari air zam-zam lo kan?" gumam Lea pelan.
Kepala Lea tiba-tiba terkulai di bahu Malik. Napasnya menjadi teratur dan berat. Ia tertidur seketika di pelukan pria yang paling ia benci, di tengah tempat yang paling pria itu haramkan.
Malik terengah-engah. Ia menatap sosok wanita di pangkuannya yang kini nampak seperti anak kecil yang kehilangan arah. Ia membersihkan sisa saliva di bibirnya dengan punggung tangan, lalu beristighfar berkali-kali. Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, Malik menggendong tubuh Lea ala bridal style, membawanya keluar dari tempat maksiat itu menuju mobilnya.
Di bawah lampu jalan Jakarta yang mulai sepi, Malik menatap wajah tidur Lea. "Ya Allah, bimbinglah dia... dan kuatkanlah hamba-Mu ini," bisiknya pelan sebelum melajukan mobilnya kembali menuju pesantren yang kini tak lagi tenang.