"Ayah, bawa boneka matanya besar ya? Kinaya nggak mau tidur sendirian!"
Janji itu hancur bersama truk kontainer di perempatan maut. Haidar terbangun di Niskala, dimensi sunyi tanpa manusia. Satu-satunya cara bicara pada dunianya hanya lewat coretan dinding yang muncul secara misterius di depan putrinya, Kinaya.
Namun, Haidar diburu "Penjaga" kegelapan. Ada rahasia kelam di balik boneka itu yang mulai terungkap. Haidar harus berjuang kembali atau terjebak selamanya sebagai gema. Karena batas antara kasih sayang dan kutukan hanyalah setipis hembusan napas.
"Aku tidak mati, Kinaya. Aku hanya tertinggal di balik sunyimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AKSARA NISKALA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: KORIDOR CAHAYA PALSU
Cahaya putih yang menyilaukan itu perlahan memudar, meninggalkan sensasi hangat yang menjalar di seluruh permukaan kulitku. Aku mengerjapkan mata berkali-kali, mencoba menyesuaikan penglihatan dengan lingkungan baruku. Aku tidak lagi berada di jalanan aspal yang berlumpur hitam. Sekarang, aku berdiri di tengah koridor panjang dengan lantai marmer putih yang begitu bersih hingga aku bisa melihat pantulan diriku sendiri di sana. Dinding-dindingnya dicat dengan warna krem yang lembut, dan aroma karbol yang tajam—yang biasanya kubenci—kini justru terasa menenangkan karena itu adalah aroma dari dunia yang kukenal.
"Kinaya? Rina?" panggilku. Suaraku tidak lagi terdengar hampa atau terserap sunyi. Di sini, suaraku bergema normal. Aku berjalan menyusuri koridor itu dengan langkah mantap. Setiap beberapa meter, aku melihat pintu-pintu kayu jati yang kokoh dengan nomor kamar yang terukir di atas pelat kuningan.
Aku merasa sangat optimis. Pria berjas di jalan tadi benar; tempat ini adalah titik pusat cahaya. Jika aku bisa menemukan kamar tempat Kinaya dirawat, aku yakin ada semacam gerbang atau celah yang bisa menarikku kembali ke sisi mereka. Aku terus berjalan, namun keanehan mulai muncul. Koridor ini seolah tidak memiliki ujung. Aku sudah melewati puluhan pintu, tapi angka-angka di atas pintu itu tidak berurutan. Ada angka 102, lalu meloncat ke 405, kemudian kembali ke 09.
"Mas... Mas yang tadi di jalan ya?"
Sebuah suara membuatku menoleh. Ternyata pria berjas yang kutemui di luar tadi sudah duduk bersandar di salah satu dinding koridor. Namun, penampilannya sekarang jauh lebih buruk. Jasnya robek di bagian bahu, dan jam tangan yang tadi terus ia perhatikan kini sudah pecah kacanya.
"Loh, Pak? Kok berhenti di sini? Katanya mau bangun?" tanyaku heran.
Pria itu tertawa, suara tawa yang kering dan tanpa harapan. "Saya sudah mencoba masuk ke tiga puluh pintu, Mas. Semuanya kosong. Bukan kosong karena tidak ada orang, tapi kosong karena tidak ada 'lantai' di baliknya. Begitu pintu dibuka, yang ada hanya jurang kegelapan total. Kita tertipu, Mas. Cahaya ini cuma umpan."
Aku menggeleng kuat-kuat. "Mungkin Bapak salah pilih pintu. Anak saya ada di sini, saya bisa merasakannya. Dia memanggil saya tadi."
"Semua orang di sini mendengar apa yang ingin mereka dengar, Mas," bisik pria itu sambil menunduk dalam. "Hati-hati. Semakin lama kamu di koridor ini, kamu akan mulai lupa siapa yang kamu cari. Saya... saya bahkan sudah mulai lupa nama istri saya sendiri."
Kata-katanya seperti siraman air es di punggungku. Aku tidak boleh berlama-lama bicara dengannya. Aku harus bergerak. Aku meninggalkan pria itu dan mulai berlari. Aku tidak akan membuka pintu secara acak; aku akan mengikuti suara Kinaya.
Tiba-tiba, atmosfer di koridor berubah. Lampu-lampu neon di langit-langit mulai berkedip tidak stabil. Zzt... zzt... Di sela-sela kedipan itu, aku mulai mendengar suara-suara dari dunia nyata. Suara itu tidak berasal dari pintu manapun, melainkan seolah keluar dari dinding-dinding koridor itu sendiri.
"Ibu, tolong pegangi tangannya! Kinaya, sayang, tenang ya... ini Dokter mau kasih obat biar Kinaya nggak sakit lagi," itu suara perawat. Suaranya terdengar sangat jelas, namun penuh dengan ketegangan.
Lalu, suara yang menghancurkan hatiku pecah. "Enggak mau! Ayah mau pulang! Itu Ayah di depan pintu! Ibu, liat Ayah! Ayah bawa boneka!"
Aku berhenti tepat di depan pintu nomor 502. Suara Kinaya terdengar paling kencang dari balik pintu ini. Tanganku gemetar saat meraih gagang pintunya. Aku teringat peringatan pria berjas tadi tentang jurang kegelapan, tapi aku tidak peduli. Jika Kinaya ada di dalam sana, aku akan melompat ke jurang itu sekalipun.
Cklek.
Pintu itu terbuka. Aku tidak menemukan jurang. Sebaliknya, aku melihat sebuah ruangan bangsal rumah sakit yang sangat nyata. Aku bisa melihat Rina sedang menangis di pojok ruangan, wajahnya ditutupi tisu yang sudah basah kuyup. Aku melihat dua orang perawat sedang berusaha menahan kaki dan tangan Kinaya yang meronta-ronta di atas tempat tidur.
"Kinaya! Ayah di sini!" aku berteriak dan mencoba merangsek masuk.
Tapi, ada sesuatu yang menahanku. Sebuah pembatas transparan yang dingin dan keras seperti kaca antipeluru menghalangi ambang pintu. Aku bisa melihat mereka, aku bisa mendengar napas mereka, tapi aku tidak bisa menyentuh mereka. Aku seperti sedang menonton film 4D yang sangat imersif namun tetap berada di balik layar.
Di atas tempat tidur, Kinaya tiba-tiba berhenti meronta. Matanya yang sembab menatap lurus ke arah pintu—tepat ke arah mataku. Untuk sesaat, aku yakin dia melihatku. Bibirnya yang pucat gemetar, mencoba membentuk kata 'Ayah'.
"Dia melihat saya! Rina, Kinaya melihat saya!" teriakku sambil memukul-mukul penghalang transparan itu.
Namun di dunia nyata, yang terjadi justru mengerikan. Dokter masuk ke ruangan dengan wajah sangat serius. "Ibu Rina, kondisi delusi Kinaya semakin memburuk. Dia menatap ruang kosong seolah-olah ada orang di sana. Ini tandanya trauma otaknya mulai mempengaruhi persepsi sensoriknya secara permanen. Kita harus melakukan tindakan penenang yang lebih kuat."
"Dok, tapi dia bilang dia liat ayahnya..." Rina terisak, mencoba mencari secercah harapan di tengah kegilaan ini.
Dokter itu menghela napas. "Itu mekanisme pertahanan diri, Bu. Jiwanya menolak kenyataan bahwa Pak Haidar sudah tiada. Jika kita membiarkan dia terus begini, dia bisa kehilangan kontak dengan kenyataan selamanya. Kita harus 'mematikan' halusinasi itu lewat terapi obat."
Aku membeku. Mematikan halusinasi? Itu artinya mereka akan memberinya obat yang akan membuat Kinaya berhenti melihatku. Jika Kinaya berhenti melihatku, maka "jangkar" satu-satunya yang menghubungkanku dengan dunia ini akan putus. Aku akan menjadi seperti jiwa-jiwa tanpa wajah di luar sana—terlupakan dan lenyap.
"Jangan! Jangan kasih dia obat itu!" aku meraung, menghantamkan bahuku ke penghalang transparan itu dengan seluruh tenaga. DUM! DUM! DUM!
Di dunia nyata, lampu di bangsal itu tiba-tiba berkedip hebat. Sebuah vas bunga di atas meja samping tempat tidur jatuh dan pecah berkeping-keping tanpa ada yang menyentuh. Para perawat tersentak kaget.
"Ayah marah... Ayah nggak mau Kinaya tidur..." gumam Kinaya dengan suara datar yang menyeramkan.
"Cepat, suntikkan sekarang!" perintah Dokter.
Aku melihat jarum suntik itu mendekat ke lengan kecil Kinaya. Rasa panik yang belum pernah kurasakan sebelumnya menguasai diriku. Aku harus melakukan sesuatu yang lebih besar dari sekadar memukul kaca. Aku harus menarik perhatian mereka, aku harus membuktikan bahwa aku bukan sekadar "delusi".
Aku menutup mataku, memeras seluruh emosi, amarah, dan cintaku menjadi satu titik di ujung jariku. Aku teringat saat aku berhasil menyentuh gelas di dapur tempo hari. Kali ini, aku butuh kekuatan sepuluh kali lipat lebih besar. Aku membayangkan tanganku menembus kaca transparan itu, meraih tangan Rina, dan memberikan tanda.
"AAAAAARRRRGGHHH!" aku berteriak saat merasakan seluruh energiku seolah tersedot keluar.
Tepat saat jarum suntik itu nyaris menembus kulit Kinaya, seluruh kaca di koridor Niskala pecah serentak. Suara ledakannya begitu memekakkan telinga. Di duniaku, koridor indah itu mendadak runtuh. Marmer putihnya retak dan berubah kembali menjadi beton tua yang berlumut. Cahaya emas itu padam, digantikan oleh lampu merah darurat yang berputar-putar.
Dan di dunia nyata, monitor jantung di sebelah tempat tidur Kinaya tiba-tiba mengeluarkan bunyi denging panjang. Peeeeeeeeeeeeeeeeeeeee.
"Dok! Detak jantung pasien berhenti! Pasien mengalami henti jantung mendadak!" teriak perawat.
Aku terperanjat. Apa yang sudah kulakukan? Alih-alih menyelamatkannya, apakah energiku justru menarik nyawa Kinaya ke duniaku? Aku melihat tubuh kecil Kinaya mulai mengejang. Rina menjerit histeris hingga jatuh pingsan di lantai.
Di ambang pintu yang kacanya sudah pecah, sosok The Watcher raksasa muncul. Kali ini dia tidak menyerangku. Dia hanya berdiri di sana, menunjuk ke arah Kinaya yang nyawanya sedang berada di ambang maut. Makhluk itu seolah berkata: Pilihlah. Biarkan dia mati agar dia bisa bersamamu di sini, atau biarkan dia hidup tapi dia harus melupakanmu selamanya.
Aku berdiri terpaku di antara reruntuhan koridor cahaya palsu itu. Pilihan paling egois di hidupku kini terpampang nyata di depan mata