BACAAN 18+ Harap tidak dibaca oleh yang di bawah umur tersebut.
Pernikahan Saras yang indah berubah mengerikan karena suaminya Aidan ternyata seorang monster galak. Lebih parah lagi Aidan dan Papanya menyimpan rahasia kelam terhadap Mama Aidan. Tapi kenapa Saras yang hidup tersiksa akhirnya bisa meraih bahagia? Yuk, baca biar gak penasaran....
PERINGATAN: Beberapa tokoh di novel ini tidak biasa. Jangan baper dengan tingkah Aidan dan Papanya yang raja tega. Masih ada tokoh Nerissa, Jhon dan Emaknya Jhon yang rada gila tapi lucu. Baca sampai habis biar tau serunya Emak si Jhon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FRESH NAZAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33. Nerissa dan Jhon
Heru berpikir sebelum menjawab. Suaranya gemetar. “Te.. teman… Kan sudah saya kasih tau dia teman saya yang suka ngutang…”
Pak Argajaya ketawa kecil. “Oh, enggak mau jawab rupanya! Oke. Saya ulangi. Siapa yang menelpon kamu saat kita sedang di mobil waktu mengejar Bu Wicaksono?!” Suara Pak Argajaya lebih keras.
“Teman…” Heru masih menyebut demikian.
Pak Argajaya mengelus pegangan cambuk. Dia tersenyum kecil lalu mengayunkan cambuknya dengan kuat.
CETAARRR!
Cambuk bergetar lalu melecut punggung Heru.
“Aaargghh…!” Heru menjerit kesakitan.
“Nah, lumayan rasanya kan?." Pak Argajaya memutar-mutar cambuknya lagi. "Oke, pertanyaan selanjutnya. Apa kamu kenal dengan Bu Wicaksono?”
Heru menggeleng lemah. “Hhh… Enggak… saya enggak kenal…” Dia menjawab susah payah sambil meringis kesakitan menahan nyeri karena lecutan cambukan yang mendarat di pinggangnya.
“Oh. Jadi bukan kamu yang memberi tahu Bu Wicaksono supaya kabur?!”
“Memang bukan saya…” Suara Heru pelan.
“Oke kalau begitu…!”
Pak Argajaya kembali mengayunkan cambuknya. Cetaarrr…! Cambuk itu kembali melecut tubuh Heru.
Heru kembali menjerit kesakitan. Sam dan para anak buahnya sebenarnya kasihan melihat Heru. Tapi mereka diam saja tak bisa mencegah Boss mereka menyiksa Heru.
Pak Argajaya tertawa. “Ha ha ha…. Mungkin kau harus dibikin nyaris mati dulu baru mau memberi tahu rahasiamu. Baiklah, kalau memang kau memilih demikian, saya akan membuatmu sakit sampai nyaris mati..!”
*
Nerissa menjerit keras di pembaringan. Tubuhnya yang padat berotot menggeletar.
Jhon tersenyum melihat Nerissa demikian. Jhon menyeka peluh di kening Nerissa.
“Kau hebat, Jhon…. Thankyou.” Nerissa mengecup pipi Jhon. Ia memeluk erat pria yang baru saja menindihnya.
“Anda juga hebat, Lady…” Jhon senang dipuji majikannya dan balas memuji.
“Aku jadi lapar. Bisa tolong bilang pembantu buat menyiapkan sarapan pagi di pinggir kolam renang?” Nerissa menatap Jhon.
“Yup. Saya akan bilang ke Mbok Jum.” Jhon bangkit dari pembaringan. Ia masih tak berpakaian. Tubuh tegapnya terlihat menawan di mata Nerissa.
“Pakai dulu bajumu. Tutupi senjatamu.” Nerissa meremas bagian bawah pusar Jhon. “Nanti repot kalau Mbok Jum juga pengen merasakan kegagahanmu di ranjang!” Nerissa tersenyum. Ia merasa geli dengan kalimatnya sendiri.
Jhon tertawa. Dia tahu Nerissa hanya bercanda karena Mbok Jum adalah nenek tua keriput yang bekerja sebagai tukang masak di rumah besar itu.
Sekitar dua puluh menit kemudian Nerissa sudah mengenakan kimono handuk. Ia terlihat santai sarapan di tepi kolam renang rumahnya. Kakaknya Lia dan Bu Wicaksono ikut sarapan bersamanya. Tapi kedua perempuan ini berpakaian rapi dan sopan. Tidak seperti Nerissa yang di balik kimono handuknya hanya mengenakan beha dan celana dalam.
“Enak ini singkong gorengnya.” Nerissa mencomot singkong goreng di meja lalu dicocolkannya ke mayonais. Selain singkong goreng, di meja tersedia pula roti bakar, telur rebus, omelet keju alias telur dadar keju, aneka buah segar, jus, susu juga teh hangat.
“Kau terlalu lama di Amerika sampai lupa rasanya singkong.” Lia tertawa.
“Di Amerika kadang singkong dijual di super market. Tapi jarang sekali ada. Dan kalaupun ada harganya mahal.” Nerissa bicara sambil terus makan singkong goreng dengan nikmat. Cara makannya sangat cuek, gak ada jaim- jaimnya.
Bu Wicaksono ikut tertawa. “Saya malah hampir setiap hari makan singkong goreng karena tanaman ini yang banyak ditanam di kebun saya.” Ia menunjuk singkong goreng di meja. “Ini singkongnya tambah enak karena direbus dulu baru digoreng. Jadi rasanya lembut tapi renyah.”
“Kurang kerjaan juga habis direbus lalu digoreng lagi.” Nerissa ketawa.
Ketiganya sarapan dengan asik sambil tertawa-tawa.
Tiba-tiba Jhon muncul dari dalam rumah. Tentu saja Jhon sudah berpakaian lengkap. Ia menghampiri Nerissa.
“Ada yang aneh, Lady. Biasanya pagi-pagi Heru selalu laporan ke saya tentang kegiatan pak Argajaya. Tapi sudah jam segini dia belum melapor.”
“Oh ya?” Nerissa menjawab santai sambil masih asik makan singkong goreng.
Bu Wicaksono menatap Jhon. “Biasanya Heru juga nanyain kabar saya kalau pagi. Pagi ini dia sama sekali gak kirim pesan whats app ke saya. Cuma semalam aja dia sempat whats app waktu saya sudah tidur.”
“Mungkin pagi ini Heru sedang sibuk mengawal Argajaya pergi.” Lia berusaha menetralisir pembicaraan yang entah kenapa jadi serius.
“Enggak biasanya Heru begini… Ini pasti ada apa-apa.” Nerissa tiba-tiba berhenti makan singkong goreng. Wajahnya serius kala menatap ketiga orang di depannya.
“Nah. Saya baru ingat.” Timpal bu Wicaksono. “Semalam sudah lewat jam 11. Waktu saya sudah pulas tidur tau-tau Heru kirim pesan whats app ke saya. Ini pesannya baru saya lihat tadi subuh waktu mau sholat.”
Bu Wicaksono menunjukkan hand phone murahnya ke Nerissa.
Nerissa membaca pesan dari Heru ke Bu Wicaksono.
‘Tante jangan hubungi saya dulu. Tante tenang aja di rumah lady. Soalnya pak Argajaya curiga saya yang membuat Tante berhasil kabur.’
Nerissa mengamati jam terkirimnya pesan tersebut. “Pesan ini dikirim jam 11 lewat 53 menit. Sudah hampir tengah malam.”
“Enggak pernah Heru kirim pesan tengah malam kayak gini.” Sambung Bu Wicaksono. “Makanya saya heran.”
“Berarti Heru sudah ada feeling dari semalam. Dan bisa jadi sesuatu yang buruk terjadi pada Heru pagi ini!” Suara Nerissa berubah tegas. “Aku curiga Argajaya sudah tau kalau Heru adalah teman kita!”
“Bisa jadi.” Lia mengangguk. “Argajaya enggak bodoh. Dia pasti bisa menduga kalau salah satu anak buahnya berhianat. Dan dia akhirnya menemukan Heru!”
“Ya Allah, ponakanku…” Bu Wicaksono cemas.
Ia lantas mengingat. “Heru itu anak baik. Dulu waktu bapaknya sudah meninggal, Heru sering diajak Ibunya, yang adik saya, nginap di rumah saya di Cipanas. Heru senang sekali main dengan Rama anak saya karena tanah kami luas dan lebar. Makanya Heru benci waktu Pak Argajaya merampas tanah suami saya… Terus suami saya meninggal karena stres dan sakit-sakitan. Padahal Heru dekat sekali dengan suami saya yang sudah dia anggap bapaknya sendiri!”
“Oh, jadi itu latar belakangnya. Aku baru tau kenapa Heru jadi rajin sekali menolongmu Nerissa…” kata Lia. “Rupanya Heru adalah salah satu saksi kekejaman Argajaya ke Pak Wicaksono.”
Jhon menatap Nerissa. “Apa perlu kita cek hand phone Heru, Lady?”
Nerissa mengangguk. “Telpon Heru. Tapi jangan menggunakan hand phone kita. Pakai nomer telpon baru yang belum pernah dipakai.”
“Siap, Lady.” Jhon masuk ke dalam rumah.
Tak lama Jhon kembali dengan sebuah hand phone di tangannya. “Handphone ini menggunakan nomer perdana baru yang belum pernah dipakai.”
“Oke. Kamu telpon dia!” Nerissa menyuruh Jhon.
Jhon mengangguk. Lantas ia minta nomer telpon Heru yang kemudian disebutkan oleh Bu Wicaksono. Jhon pun menghubungi nomer tersebut.
Tak lama nomer hand phone Heru terhubung.
Nerissa dan ketiga perempuan menatap serius Jhon yang tengah menelpon.
Ternyata telpon Heru diangkat.
“Hallo, Heru. Kapan kita mancing lagi?” Jhon langsung bicara sok akrab seolah ia seorang teman akrab Heru.
“Maaf. Heru sedang sibuk.” Sebuah suara menyahut di seberang.
Lalu…. KLIK. Sambungan telpon terputus.
Jhon kaget.
“Kenapa? Ada apa dengan Heru?” Tanya Nerissa penasaran.
“Tadi yang menjawab bukan Heru. Tapi saya kenal suaranya!”
“Siapa yang menjawab?” Lia penasaran.
BERSAMBUNG……
kui si emak ganggu wae.
sak.e cah cah.. lgi panas panass.e diganggu.. gek Rasane wiiih Ra karuan.. sabaaar yaa narissa.🤭🤭
sambil nunggu Boss Barton Up lagi 🤗🤗🤗
emang dl gak pernah gituan gitu??