Sepuluh tahun lalu, Rani rela mengubur mimpinya menjadi dokter spesialis anak demi memilih cinta. Ia menikahi Roy, seorang duda dengan tiga anak, dan berusaha menjadi istri serta ibu tiri terbaik bagi keluarga yang kini menjadi dunianya.
Namun saat membuka mata di ranjang rumah sakit setelah percobaan bunuh diri yang nyaris merenggut nyawanya, Rani terkejut mendapati dirinya telah berusia tiga puluh sembilan tahun.
Bagi Rani, hari terakhir yang ia ingat adalah saat dirinya masih berusia dua puluh sembilan tahun, penuh ambisi, penuh mimpi, dan belum mengetahui seperti apa masa depannya.
Saat kembali ke rumah, bukannya menemukan keluarga yang mencintainya, Rani justru mendapati suami dan ketiga anak tirinya berdiri di sisi wanita lain. Mereka menuduhnya kejam, manipulatif, bahkan menjadi sumber penderitaan keluarga itu.
Akankah ia kembali menjadi wanita yang selama ini mengorbankan segalanya demi keluarga yang tak pernah memilihnya atau memilih dirinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Malam semakin larut, tetapi Rani masih belum juga memejamkan mata. Setelah memastikan Haikal benar-benar tertidur dengan embusan napas yang teratur, ia menyelimuti tubuh bocah itu hingga rapi. Barulah ia mengembuskan napas pelan. Inilah kesempatan yang sejak tadi ia tunggu.
Rani bangkit dari tempat tidur, lalu berjalan menuju pintu kamar. Malam ini ia berniat mencari tahu apa sebenarnya yang selama ini disembunyikan Roy darinya. Namun, baru saja pintu terbuka, langkahnya langsung terhenti. Di hadapannya, Roy berdiri tegak seolah memang sedang menunggunya.
"Apa yang Mas lakukan di sini?" tanya Rani dengan raut wajah terkejut.
Roy tidak langsung menjawab. Tatapannya justru mengarah lurus ke mata Rani. "Kamu sendiri mau melakukan apa?"
Pertanyaan itu membuat jantung Rani berdetak sedikit lebih cepat. Jangan-jangan Roy mengetahui niatnya? Namun, bagaimana mungkin? Ia bahkan belum sempat memberi tahu siapa pun. Mustahil pria itu bisa menebak isi kepalanya.
"Aku..." Rani berusaha mengendalikan raut wajahnya yang mulai canggung. "Aku hanya ingin mengambil air minum. Mas sendiri ngapain di sini tengah malam begini?"
Bukannya menjawab, Roy justru melangkah semakin dekat. Jarak mereka perlahan menyempit hingga hanya tersisa beberapa senti. Tanpa sadar, Rani menahan napas. Entah mengapa, meski usia Roy tak lagi muda, wibawa dan aura maskulin pria itu tetap mampu membuatnya salah tingkah.
Rani segera menggeleng pelan, memarahi dirinya sendiri. Apa yang sedang kupikirkan? Ia tidak boleh lagi terpengaruh oleh pria yang telah membuatnya kehilangan sepuluh tahun hidupnya.
"Aku ingin tidur di sini," ucap Roy datar sambil menggeser pelan bahu Rani agar memberinya jalan masuk.
Rani hanya bisa mematung. Tatapannya mengikuti langkah Roy yang berjalan masuk ke dalam kamar seolah itu adalah hal yang paling biasa. Keningnya langsung berkerut. Sejak ia kembali dengan kondisi hilang ingatan, ia melihat sendiri barang Roy tidak pernah ada di dalam satu kamar dengannya. Bahkan Roy memiliki kamar sendiri untuk tidur. Tapi sekarang dia bilang ingin tidur di kamarnya.
"Kenapa dia jadi aneh begitu?"
Rani memandangi Roy yang kini duduk santai di sofa, seolah benar-benar berniat menghabiskan malam di kamar itu. Dalam hati ia mengumpat pelan. Kenapa harus malam ini? Padahal ia sudah menunggu Haikal tertidur hanya agar bisa menyelinap ke ruang kerja Roy. Kini semua rencananya berantakan.
Roy melepas jam tangan dari pergelangan tangannya, lalu meletakkannya di atas meja kecil di samping sofa. Gerakannya tenang, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan keluar dari kamar.
"Mas benar-benar mau tidur di sini?" tanya Rani, masih berharap pria itu hanya bercanda.
"Iya."
"Kenapa?"
"Tidak ada alasan."
Jawaban singkat itu membuat Rani mendecak dalam hati. Pembohong. Ia yakin Roy sengaja melakukan ini. Entah karena mulai mencurigainya atau memang ingin mengawasi setiap gerak-geriknya. Sayangnya, semua itu baru sebatas dugaan. Ia tidak memiliki bukti apa pun.
Dengan perasaan kesal, ia berkata, "Haikal baru tidur jangan berbuat macam-macam padanya."
Hanya deheman yang didengar Rani yang akhirnya membuatnya kembali naik ke atas tempat tidur dan menarik selimut hingga sebatas dada. Meski memejamkan mata, ia sama sekali tidak berniat tidur.
Sesekali ia melirik ke arah Roy. Pria itu sudah memejamkan mata dengan satu tangan terlipat di atas dada, napasnya terdengar teratur hingga sulit ditebak apakah benar-benar sudah terlelap atau hanya berpura-pura.
Rani memilih menunggu. Lima belas menit berlalu, lalu berganti tiga puluh menit. Ketika jarum jam akhirnya menunjukkan hampir satu jam, suasana kamar semakin sunyi.
"Tidurlah aku tidak akan melakukan apapun pada Haikal," ujar Roy.
Rani tidak menjawab karena ia tahu berdebat dengan Roy akan membuat tenaganya semakin berkurang tanpa ada kemenangan apapun, meskipun ia bisa melawan tapi keadaan tidak akan menguntungkannya. Akhirnya ia memejamkan mata dan terlelap.
***
Keesokan harinya, Rani terbangun saat mendengar suara Haikal memanggilnya. Setelah membantu bocah itu duduk di kursi roda, ia baru menyadari rumah sudah terasa sepi. Roy dan ketiga putranya rupanya telah berangkat, hanya para pembantu yang masih sibuk menyelesaikan pekerjaan masing-masing.
Saat bersamaan, pikirannya kembali melayang pada rencana semalam yang gagal. Ia masih kesal karena tidak berhasil masuk ke ruang kerja Roy. Baru saja ia berniat menyusun rencana lain, ponselnya tiba-tiba berdering. Nama Sekar muncul di layar.
"Ran, kamu lagi ngapain? Kamu lihat FYP di aplikasi X?"
"Aplikasi X?" Rani mengernyit. "Sekar, kamu tahu aku baru kembali dari 'kematian'. Beberapa bagian ingatanku juga masih hilang. Memangnya aplikasi X itu apa?"
"Eh... iya juga," gumam Sekar, baru menyadari kekeliruannya. "Pokoknya sekarang foto kamu lagi viral, Ran. Di aplikasi X lagi ramai banget. Ketiga anak tirimu juga muncul dan bilang kalau kamu ibu yang kejam."
Rani justru terkekeh pelan. "Benarkah? Wah... zaman sekarang hebat juga, ya. Dalam sekejap aku bisa terkenal."
"Rani, plis, jangan bercanda dulu," ucap Sekar dengan nada panik. "Masalahnya sudah besar. Video itu menyebar cepat banget. Orang-orang sudah telanjur percaya kalau kamu sengaja menelantarkan Haikal."
Rani justru tetap tenang. Ia mengambil segelas air di atas meja, lalu duduk di samping Haikal yang sedang asyik memainkan mobil-mobilan kecil di atas meja makan.
"Terus?"
Sekar sampai terdiam beberapa detik.
"Terus?" ulangnya tidak percaya. "Ran, kamu ini lagi dihujat satu Indonesia!"
"Kalau memang satu Indonesia sedang membicarakanku, berarti mereka sudah membuatku terkenal tanpa perlu keluar biaya promosi." Rani tersenyum kecil. "Lumayan."
"Ya ampun, Rani!"
Tawa kecil lolos dari bibir Rani. "Sudahlah, jangan panik. Sekarang kirim videonya ke aku."
"Kamu serius masih bisa setenang itu?"
"Kalau aku ikut panik, memangnya videonya langsung hilang?"
Sekar menarik napas panjang. "Baik, aku kirim sekarang. Tapi kamu harus janji jangan emosi setelah melihatnya."
"Memangnya seburuk itu?"
"Lihat saja sendiri."
Sambungan telepon berakhir. Tak sampai beberapa detik kemudian, sebuah pesan masuk disusul beberapa tautan video.
Rani menekan salah satunya. Wajahnya langsung memenuhi layar ponsel. Foto dirinya disandingkan dengan foto Haikal yang duduk di kursi roda, sementara sebuah tulisan besar terpampang di bagian atas.
Ibu Tega! Anak Berkebutuhan Khusus Dibuang ke Rumah Sakit Jiwa.
Tatapan Rani perlahan berubah serius. Senyum tipis di bibirnya menghilang ketika video itu mulai diputar. Tak lama kemudian, wajah Aksan muncul di layar, disusul Arlan dan Arjun yang bergantian memberikan pernyataan.
Rani tidak mengatakan apa-apa. Ia menonton hingga detik terakhir tanpa menggeser sedikit pun layar ponselnya.
Setelah video selesai, ia justru tersenyum tipis. "Jadi... ini yang kalian siapkan." Sorot matanya perlahan menajam. "Kalau begitu, sekarang giliranku."
padahal anak sekarang pada pintar dan ngeyel kalau dikasih tau
up.. KK up....💪💪🥰
up KK.. up....
lanjuuttt KK....💪💪🥰