NovelToon NovelToon
SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:26.7k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

"Uangku adalah uang kita, tapi uangmu adalah uang keluargamu."

​Kalimat itu menjadi pahit yang Arumi telan setiap hari. Membesarkan dua anak yang beranjak dewasa sendirian di bawah atap yang sama dengan seorang suami, Arumi merasa seperti single parent berstatus menikah. Sementara sang suami tampil necis dan loyal di luar sana, Arumi harus berjuang dengan wajah kusam di depan laptop demi biaya sekolah anak-anak.

​Sampai kapan Arumi harus mengalah? Apakah pernikahan sepuluh tahun ini layak dipertahankan jika keberadaannya hanya dianggap sebagai 'mesin penghasil uang' yang tak berhak bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saldo Istri, Nafkah Suami

​Malam telah larut ketika mobil sedan hitam milik Pras berbelok kasar memasuki halaman rumah ibunya. Suara mesinnya terdengar semakin kasar, seolah-olah mencerminkan isi kepala pemiliknya yang sedang di ambang kehancuran. Pras mematikan mesin, namun jemarinya masih mencengkeram erat setir mobil yang terasa dingin. Dadanya naik-turun tidak beraturan. Bayangan tatapan mata Arumi yang begitu dingin, serta benteng pertahanan kokoh dari pria bernama Dimas sore tadi, terus berputar-putar di kepalanya bagai kaset rusak.

​Dengan langkah kaki yang terasa berat seolah tertimbun batu timbal, Pras menyeret tubuhnya keluar dari mobil. Ia membuka pintu rumah dengan kunci cadangan, berharap bisa menyelinap masuk ke dalam kamar tanpa harus berinteraksi dengan siapa pun. Namun, harapannya pupus seketika.

​Di ruang tamu yang lampunya dibiarkan menyala temaram, dua sosok wanita yang menjadi beban hidupnya selama ini sudah duduk menunggu dengan wajah penuh tuntutan. Mama Pras duduk menyilangkan kaki sembari mengipas-ngipas lehernya, sementara Rika sibuk memainkan ponsel dengan bibir cemberut.

​Begitu melihat presensi Pras masuk, Mama Pras langsung bangkit berdiri dari sofanya. "Pras! Akhirnya kamu pulang juga! Bagaimana? Kamu sudah ketemu si Arumi? Mana uangnya? Kamu bawa kan?!" rentetan pertanyaan itu langsung meluncur tanpa jeda dari mulut wanita paruh baya tersebut.

​Rika ikut meletakkan ponselnya dan menatap sang kakak dengan pandangan menuntut. "Iya, Mas! Dapat berapa ratus juta dari si Arumi? Kartu kreditku harus didepito besok pagi kalau tidak mau namaku cacat di bank! Cepetan mana uangnya, Mas?"

​Pras menghentikan langkahnya di tengah ruangan. Tatapan matanya kuyu, wajahnya pucat pasi, dan rahangnya mengeras. Ia bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arah ibu maupun adiknya. Rasa malu, takut, dan hina yang ia telan bulat-bulat di Gang Rejeki sore tadi membuat energinya terkuras habis. Ia merasa sangat muak mendengar kata uang yang terus-menerus keluar dari mulut kedua wanita parasit ini.

​"Pras! Mama bicara sama kamu ya! Kok malah diam saja seperti patung?!" bentak Mamanya mulai tidak sabar, melangkah mendekat untuk menarik lengan kemeja Pras yang sudah kusut.

​"Jangan ganggu Pras dulu, Ma. Pras capek," jawab Pras dengan nada suara yang teramat datar, dingin, dan serak. Dengan kasar namun tanpa tenaga, ia mengibaskan tangan ibunya dari lengannya.

​Tanpa memedulikan teriakan histeris Mamanya yang merasa tidak dihormati, Pras melanjutkan langkahnya menuju kamar tidur, lalu menutup pintu dengan bantingan keras. Brak! Ia mengunci pintu dari dalam, mengabaikan gedoran bertubi-tubi dan makian dari luar. Pras merebahkan tubuhnya di atas kasur tanpa berniat mengganti pakaian. Di dalam kegelapan kamar, ia hanya bisa menatap langit-langit dengan napas tertahan, merutuki nasibnya yang kini berada di ujung tanduk.

​Kehancuran Pras yang sesungguhnya baru benar-benar dimulai tepat pukul sebelas malam. Saat ia hampir memejamkan mata karena kelelahan mental, ponsel di dalam saku celananya bergetar hebat. Layar gawai itu menyala, menampilkan sebuah nama yang membuat seluruh bulu kuduk Pras berdiri seketika.

​Pak Gunawan – Atasan Kantor.

​Dengan tangan yang gemetar hebat, Pras menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya. "S-selamat malam, Pak Gunawan..." sapa Pras, suaranya tercekat di tenggorokan.

​"Prasetyo!" Suara bariton di seberang telepon tidak terdengar ramah sama sekali. Nada bicaranya sangat dingin, formal, dan dipenuhi oleh amarah yang diredam. "Besok pagi pukul delapan tepat, datang ke ruangan saya. Jangan terlambat satu menit pun."

​"Baik, Pak. Tapi... kalau boleh tahu ada masalah apa ya, Pak?" tanya Pras mencoba mencari peruntungan, meskipun keringat dingin sudah mulai membasahi punggungnya.

​"Tidak perlu banyak tanya di telepon. Tim audit internal perusahaan didampingi oleh divisi legalitas eksternal baru saja menyelesaikan laporan akhir kuartal malam ini. Dan nama kamu keluar sebagai penanggung jawab tunggal atas selisih dana kas operasional sebesar seratus lima puluh juta rupiah. Besok kita selesaikan semuanya di kantor. Selamat malam."

​Pip.

​Sambungan telepon diputus secara sepihak. Ponsel di tangan Pras perlahan merosot jatuh ke atas kasur. Wajahnya kini benar-benar kehilangan seluruh rona darahnya. Ancaman Dimas sore tadi di Gang Rejeki bukan gertakan sambal. Pria itu benar-benar menggunakan jaringan bisnis raksasanya untuk menekan manajemen kantor Pras agar mempercepat proses audit. Malam itu, Pras tidak bisa memejamkan mata sekejap pun. Kamarnya yang luas mendadak terasa seperti sel penjara yang dingin dan mencekam.

​Keesokan harinya, suasana meja makan di rumah keluarga Pras terasa sangat canggung. Sinar matahari pagi yang masuk melalui celah jendela sama sekali tidak membawa kehangatan. Pras duduk di kursinya dengan setelan kemeja kantor yang rapi, namun lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa disembunyikan. Ia hanya mengaduk-aduk nasi goreng di piringnya tanpa selera.

​Mama Pras yang duduk di kepala meja menatap anak lakinya dengan pandangan sinis dan penuh kekecewaan. Sejak semalam, ia menganggap Pras tidak berguna karena pulang dengan tangan hampa.

​"Pagi-pagi sudah pasang muka kusut begitu. Seperti orang tidak punya masa depan saja," sindir Mama Pras sembari menuangkan teh hangat ke cangkirnya dengan gerakan kasar. "Lagian kamu itu laki-laki kok lemah sekali, Pras. Cuma mendatangi mantan istri yang dasarnya cuma perempuan rendahan begitu saja tidak becus. Harusnya kamu gertak dia pakai nama anak-anak! Arumi itu pasti ketakutan kalau diancam kehilangan Bintang dan Langit. Tapi kamunya saja yang penakut, pulang-pulang malah mengunci diri di kamar."

​Rika yang sedang mengoles selai ke rotinya ikut menimpali dengan nada meremehkan. "Iya, Mas Pras tuh payah. Padahal kalau Mas Pras bisa bawa uang seratus juta saja dari si Arumi, ruko Mama aman, kartu kredit Rika aktif lagi. Sekarang kalau semuanya susah begini, Mas Pras mau tanggung jawab pakai apa? Pakai gaji Mas Pras yang cuma pas-pasan itu? Mana cukup!"

​Mendengar sindiran tajam bertubi-tubi dari ibu dan adiknya, Pras hanya bisa diam seribu bahasa. Lidahnya terasa kelu. Di dalam hatinya, ada rasa amarah yang bergejolak, namun rasa takut terhadap apa yang akan dihadapinya di kantor satu jam lagi jauh lebih mendominasi. Kedua wanita di depannya ini sama sekali tidak tahu bahwa Arumi yang sekarang bukan lagi Arumi yang bisa digertak. Mereka tidak tahu bahwa di belakang Arumi ada sosok raksasa bisnis seperti Dimas yang siap menghancurkan mereka kapan saja.

​Pras meletakkan sendoknya dengan pelan hingga menimbulkan bunyi dentingan halus. Ia bangkit berdiri, menyambar tas kerjanya tanpa menyentuh makanan itu lagi.

​"Pras berangkat kantor dulu," ucapnya pendek tanpa menoleh, lalu melangkah cepat keluar rumah sebelum ibunya sempat melontarkan omelan lebih jauh.

​Tepat pukul delapan pagi, Pras sudah berdiri di depan pintu ruangan Pak Gunawan. Jantungnya berdentum begitu keras, seolah-olah ingin melompat keluar dari dadanya. Setelah menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, ia mengetuk pintu dan melangkah masuk.

​Di dalam ruangan beralas karpet tebal itu, suasana terasa sangat formal dan tegang. Pak Gunawan tidak duduk sendirian. Di sebelah kirinya, sudah duduk seorang pria paruh baya berkacamata yang merupakan kepala divisi HRD, dan di sebelah kanannya ada seorang pria muda berstelan jas rapi yang memegang sebuah map dokumen tebal perwakilan hukum perusahaan.

​"Duduk, Prasetyo," ujar Pak Gunawan datar tanpa ekspresi, menunjuk kursi kosong di depan mejanya.

​Pras duduk dengan tubuh kaku. "Selamat pagi, Pak Gunawan, Pak Hendra..." sapa Pras, mencoba tersenyum ramah meski bibirnya bergetar.

​Pak Gunawan tidak membalas sapaan itu. Beliau langsung menggeser selembar kertas putih tipis namun bermakna sangat berat ke arah Pras. Di bagian atas kertas tersebut, tertulis dengan huruf tebal bergaris bawah: SURAT KEPUTUSAN PEMEČATAN TIDAK HORMAT.

​Deg.

​Dunia Pras rasanya runtuh seketika saat membaca judul surat tersebut. "P-Pak Gunawan... mohon maaf, apa tidak ada keringanan untuk saya? Saya berjanji akan mengembalikan uang kas itu secepatnya, Pak! Tolong jangan pecat saya secara tidak hormat, karir saya bisa hancur, Pak!" iba Pras dengan suara yang mulai serak, matanya menatap memohon.

​Pak Hendra dari divisi HRD membuka suara dengan nada tegas. "Keringanan? Prasetyo, tindakan penggelapan dana kas operasional sebesar seratus lima puluh juta yang kamu lakukan berturut-turut selama tiga bulan terakhir adalah pelanggaran berat dan tindak pidana. Perusahaan tidak memiliki ruang toleransi untuk karyawan yang tidak memiliki integritas seperti kamu."

​Pria berstelan jas di sebelah kanan sang pengacara perusahaan kemudian membuka map dokumennya dan menyodorkan selembar surat perjanjian bermaterai di depan Pras.

​"Tuan Prasetyo, berdasarkan instruksi dari jajaran direksi tertinggi yang menerima desakan legalitas eksternal dari mitra korporat kita, perusahaan memberikan Anda dua pilihan mutlak hari ini," ucap pengacara itu dengan nada suara yang sangat dingin dan tak terbantahkan. "Pilihan pertama, Anda menandatangani surat penyerahan aset ini, di mana mobil sedan hitam milik Anda resmi disita oleh perusahaan sebagai bentuk kompensasi instan untuk menutup kerugian dana seratus lima puluh juta rupiah yang Anda gelapkan."

​Pras membelalakkan matanya. "Disita?! Tapi Pak, mobil itu satu-satunya aset transportasi yang saya miliki! Nilai mobil itu kalau dijual sekarang bahkan tidak sampai seratus lima puluh juta!"

​"Kami sudah menghitung nilai penyusutan mobil Anda, dan nilainya berkisar di angka seratus tiga puluh juta rupiah. Sisa dua puluh jutanya harus Anda bayar tunai dalam waktu tiga hari," potong sang pengacara tanpa belas kasihan.

"Atau... jika Anda menolak menyerahkan aset mobil tersebut hari ini juga, kami dari tim legalitas perusahaan sudah menyiapkan berkas perkara lengkap untuk langsung membawa kasus ini ke jalur hukum pidana. Hari ini juga, surat laporan akan masuk ke kepolisian dan Anda akan langsung dijemput untuk ditahan atas pasal penggelapan dalam jabatan."

​Mendengar kata jalur hukum pidana dan ditahan, seluruh persendian di tubuh Pras mendadak lemas. Bayangan dirinya mengenakan rompi tahanan berwarna oranye, mendekam di dalam sel yang sempit dan pengap, langsung melintas di benaknya. Jika ia masuk penjara, tidak hanya karirnya yang hancur, namun ia juga tidak akan pernah bisa keluar dari lingkaran utang yang menjerat keluarganya.

​Pras menatap surat penyerahan aset di depannya dengan pandangan kosong. Air mata keputusasaan perlahan mulai menggenang di sudut matanya. Ego dan kesombongannya sebagai seorang pria yang dulu selalu menginjak-injak Arumi, kini benar-benar telah diinjak balik oleh kenyataan hidup yang teramat kejam. Ia tidak punya pilihan lain. Ia terjebak di dalam lubang hitam yang ia gali sendiri karena sifat kikir dan serakahnya selama ini.

​Dengan tangan yang gemetar hebat, Pras meraih pulpen di atas meja. Di bawah tatapan mata dingin dari ketiga pria di depannya, Pras menorehkan tanda tangannya di atas materai, resmi menyerahkan mobil sedan hitam kebanggaannya kepada perusahaan.

​"Terima kasih atas kerja samanya, Prasetyo. Sekarang, silakan bersihkan meja kerja kamu, serahkan kunci mobil beserta STNK-nya ke bagian logistik, dan Anda dilarang keras berada di area kantor ini lagi mulai pukul sembilan pagi," ucap Pak Gunawan dingin, mengakhiri pertemuan yang menjadi titik awal kehancuran total hidup Pras.

​Pras bangkit dari kursinya dengan tubuh limbung. Saat ia melangkah keluar dari ruangan tersebut dengan membawa surat pemecatannya, ia tahu bahwa neraka yang sesungguhnya baru saja dimulai. Ia pulang tanpa pekerjaan, tanpa mobil, dan harus menghadapi amukan serta tuntutan dari ibu dan adiknya yang parasit di rumah. Karma instan dari air mata Arumi yang tertumpah selama sepuluh tahun kini telah datang menagih bayarannya secara tunai dan tanpa ampun.

1
Arin
/Heart/
eka suprihatin
maaf ya..tokoh utama kan Prasetyo.. trus siapa Revan 🙏🙏
Arin
Makanya hidup sesuai kan dengan pendapat jangan di lebihkan. Jadinya rugi sendiri. Bergaya sok punya harta gak taunya...... Nikmati saja sekarang kehancuran keluarga mu karena perbuatan keluarga mu sendiri
Arieee
bagus, 👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Arieee
mantap👍👍👍👍👍👍👍
Arieee
mantap 👍👍👍👍👍
Uthie
pantas menempati kolong jembatan mereka 😌
Uthie
karma kontan 😏
Suanti
kapok sekeluarga tinggal di kolong jembatan jdi pengemis 😭😭😭
Arieee
bagus👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Arieee
wowwwwww mantap 👍👍👍👍👍👍
Suanti
syukurin sekeluarga jdi gembel 😭😭😭
Uthie
rasaiiiinnnnn 😝😆
Uthie
Sukurin 😝😆
Uthie
dasar laki mokondo 😡
Uthie
Maaf Thor Koreksi 🙏
nama mantan Suami Arumi adalah PRAS.. bukan nya REVAN 😁🙏
blcak areng: Terima kasih kak koreksinya mata kadang suka ngantukkan 🤭🤭
total 1 replies
Uthie
Kerennn 👍👍😍
brondong nya juga keren 👍😁
Arieee
mantap 🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍
Suanti
manta mentua, dan mantan suami. arumi klu dengar arumi mau menbangun usaha catering bsr2an langsung jantungan / stroke 🤭🤣🤣
Uthie
rasain tuhh mereka 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!