NovelToon NovelToon
ANAK HASIL PERSELINGKUHAN

ANAK HASIL PERSELINGKUHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Cerai / Penyesalan Suami
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: NeyNaa

Perselingkuhan di balas dengan selingkuh, hingga menghasilkan buah hati dalam hubungan terlarang!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NeyNaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saat Semua Pergi

Beberapa bulan terakhir, kehidupan Irwan berjalan semakin tidak menentu. Apa yang dulu ia banggakan sebagai hasil kerja keras bertahun-tahun kini perlahan runtuh di depan matanya. Usaha reklame yang pernah memberinya penghasilan besar tidak lagi berjalan seperti dulu.

Pelanggan lama satu per satu mulai menghilang. Beberapa memilih perusahaan lain yang dianggap lebih profesional. Sebagian lagi berhenti bekerja sama karena proyek yang terlambat selesai. Kesalahan yang dulu masih bisa ditutupi kini mulai berdampak besar pada kepercayaan pelanggan.

Awalnya Irwan masih berusaha meyakinkan dirinya bahwa keadaan akan membaik. Ia percaya ini hanya masa sulit yang sementara. Namun kenyataan berkata lain.

Suatu pagi, ia duduk sendirian di kantor kecilnya sambil menatap laporan keuangan yang tergeletak di atas meja. Angka-angka merah memenuhi hampir setiap halaman. Tagihan menumpuk. Pembayaran dari beberapa proyek tak kunjung masuk. Sementara biaya operasional terus berjalan.

Irwan mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa takut.

Takut kehilangan semuanya.

Takut menghadapi kenyataan yang selama ini berusaha ia hindari.

Di luar ruangan, suasana kantor terlihat jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Tidak ada lagi kesibukan yang dulu membuat tempat itu hidup. Beberapa meja kosong karena karyawan memilih mengundurkan diri. Mesin cetak besar yang biasanya bekerja hampir sepanjang hari kini lebih sering diam.

Keadaan semakin buruk ketika salah satu klien terbesar memutuskan membatalkan kontrak kerja sama.

Nilainya tidak kecil.

Kontrak itu sebenarnya menjadi harapan terakhir Irwan untuk menjaga usaha tetap berjalan.

Saat menerima kabar tersebut, ia hanya bisa terduduk lemas di kursinya.

Seolah seluruh tenaganya hilang begitu saja.

...****************...

Hari demi hari berlalu.

Irwan mulai menjual beberapa peralatan kantor untuk menutup utang yang mendesak. Namun jumlahnya tidak cukup. Masalah yang dihadapi terlalu besar.

Hingga akhirnya tiba saat yang paling ia takuti.

Usaha reklame yang ia bangun selama bertahun-tahun resmi berhenti beroperasi.

Bangkrut.

Satu kata yang terasa begitu menyakitkan.

Saat menggembok pintu kantor untuk terakhir kalinya, Irwan berdiri cukup lama di depan bangunan itu.

Di tempat itulah ia pernah bermimpi membangun masa depan.

Di tempat itulah ia pernah merasa menjadi seseorang yang berhasil.

Dan kini semuanya berakhir.

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada penghargaan.

Hanya kesunyian.

Malam itu, seperti biasa, Irwan mencoba mencari tempat pelarian yang selama ini selalu memberinya ketenangan.

Ia mengambil ponsel.

Membuka kontak Lastri.

Lalu menekan tombol panggil.

Namun panggilannya tidak terhubung.

Irwan mengernyit.

Mungkin sinyal buruk, pikirnya.

Ia mencoba lagi.

Tetap tidak bisa.

Beberapa pesan yang ia kirim juga hanya menunjukkan tanda terkirim tanpa balasan.

Awalnya ia tidak terlalu memikirkannya.

Namun sehari berlalu.

Lalu dua hari.

Lalu seminggu.

Lastri tetap tidak memberikan kabar.

Tidak ada pesan,telepon atau penjelasan.

Seolah perempuan itu menghilang dari hidupnya.

Irwan mulai gelisah.

Ia mencoba mendatangi tempat tinggal Lastri yang pernah ia kunjungi beberapa kali.

Namun sesampainya di sana, ia justru mendapat jawaban yang membuatnya terdiam.

"Mbak Lastri sudah pindah."

Irwan menatap ibu pemilik rumah kontrakan itu.

"Pindah?"

"Iya. Sudah beberapa hari lalu."

"Ke mana?"

Perempuan itu menggeleng.

"Nggak tahu."

Jantung Irwan terasa berdegup lebih cepat.

Ia mencoba mencari informasi dari beberapa orang yang mengenal Lastri. Namun hasilnya sama.

Tidak ada yang tahu.

Atau mungkin tidak ada yang mau memberi tahu.

Untuk pertama kalinya, Irwan menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah ia pikirkan.

Ia tidak benar-benar mengenal perempuan itu.

Ia hanya mengenal bagian-bagian yang ingin ditunjukkan Lastri kepadanya.

Dan sekarang, ketika keadaan hidupnya sedang berada di titik terendah, perempuan itu menghilang tanpa jejak.

Malam itu Irwan duduk sendirian di dalam mobil.

Ponselnya masih berada di tangan.

Layar percakapan dengan Lastri terbuka.

Pesan terakhir yang ia kirim beberapa hari lalu masih belum dibaca.

"Aku lagi banyak masalah. Aku butuh ngobrol."

Tidak ada balasan.

Tidak akan ada balasan.

Perlahan, sebuah kenyataan yang pahit mulai masuk ke dalam pikirannya.

Selama ini ia mengira Lastri adalah tempat pulang.

Tempat yang selalu memahami dirinya,tempat yang selalu ada ketika ia membutuhkan namun saat dirinya benar-benar jatuh, orang itu justru pergi.

Begitu saja.

Irwan memejamkan mata,dadanya terasa sesak,bukan hanya karena kehilangan usaha yang selama ini menjadi sumber penghidupannya. Bukan hanya karena utang yang mulai menghimpit dari segala arah.

Tetapi karena untuk pertama kalinya ia merasa benar-benar sendirian.

Sangat sendirian.

Dan di tengah kesunyian malam itu, bayangan tentang rumah yang selama ini ia abaikan perlahan muncul di benaknya.

Rumah tempat Sulis masih bertahan.

Rumah yang dulu selalu menunggunya pulang.

Rumah yang ia sakiti sedikit demi sedikit dengan pilihannya sendiri.

Namun untuk saat ini, Irwan belum memiliki keberanian untuk menghadapi semua itu.

Penyesalan itu datang perlahan, tetapi terasa sangat berat.

Irwan masih duduk di dalam mobilnya yang terparkir di pinggir jalan. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, namun ia sama sekali tidak berniat menyalakan mesin atau pulang. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa kehilangan arah.

Pikirannya kembali pada masa-masa ketika usaha reklamenya sedang berjaya. Saat itu teleponnya hampir tidak pernah berhenti berdering. Banyak klien datang menawarkan kerja sama. Uang mengalir dengan lancar. Ia merasa mampu memberikan apa saja untuk keluarganya.

Namun kesuksesan itu perlahan membuatnya berubah.

Ia menjadi lebih mudah marah.

Lebih mudah merasa benar.

Dan semakin jarang mendengarkan orang lain, termasuk Sulis.

Kini, saat semuanya hilang, kenangan-kenangan itu justru datang silih berganti. Ia teringat bagaimana Sulis dulu selalu menunggunya pulang dengan makanan hangat di meja makan. Ia teringat saat Dito dan Rara berlari menyambutnya setiap kali ia membuka pintu rumah. Bahkan hal-hal kecil yang dulu ia anggap biasa kini terasa sangat berharga.

Irwan menundukkan kepala.

Selama ini ia sibuk mengejar sesuatu yang dianggapnya sebagai kebahagiaan, sampai tidak menyadari bahwa kebahagiaan itu sebenarnya pernah ada di rumahnya sendiri.

Ponselnya kembali ia buka. Dengan harapan yang semakin tipis, ia mencoba menghubungi Lastri sekali lagi.

Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi.

Suara operator itu terdengar dingin dan membuat hatinya semakin kosong.

Tak lama kemudian, ia membuka media sosial Lastri. Akun yang biasa aktif kini tidak bisa ditemukan. Beberapa foto yang pernah tersimpan juga menghilang. Seolah perempuan itu sengaja menghapus semua jejaknya.

Irwan mengembuskan napas panjang.

Akhirnya ia mulai menerima kenyataan.

Lastri benar-benar pergi.

Bukan karena keadaan memaksa. Bukan karena tidak sempat memberi kabar. Melainkan karena memilih pergi.

Dan pilihan itu terasa seperti tamparan keras yang membangunkannya dari mimpi panjang.

Selama ini ia rela mempertaruhkan rumah tangganya demi seseorang yang ternyata tidak bertahan ketika hidupnya sedang runtuh.

Sementara Sulis, perempuan yang selama bertahun-tahun ia kecewakan, justru tetap bertahan meski berkali-kali disakiti.

Malam semakin larut. Irwan menatap langit gelap di atas sana. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia merasa takut menghadapi hari esok.

Karena kini tidak ada lagi usaha yang bisa dibanggakan.

Tidak ada lagi Lastri yang selalu menjadi tempat pelarian.

Yang tersisa hanyalah dirinya sendiri, bersama semua kesalahan yang selama ini berusaha ia hindari. Dan cepat atau lambat, ia tahu bahwa ia harus menghadapi akibat dari semuanya.

1
Yati Adek
dasar janda bolong wkwkwk
NeyNaa: wkwkwkw tenangin diri kak 🤣🤣
total 1 replies
Yati Adek
dasar janda gatal
Yati Adek
memang perempuangktau malu
NeyNaa: mksh ud mmpir kak 😄
total 1 replies
Neriya Naura
Si lakor kayaknya pke guna2, si iwan ampe segitunya, author matiin tu lakor, gatal bgt....
Si sulis juga demen bgt masih betah am tu laki...
NeyNaa: jgn emosi kak 🤭
total 1 replies
NeyNaa
ud buta sma cnta, efeknya amnesia 🤭
Lili Amalia
laki2 klau sdh mulai mengalami puber ke 2 atau apapun itu alasannya, TDK akan bisa mendengar nasihat dari siapapun.
kalau kata aku sih biar saja mreka ,dan s istri minta talak 3 dan cari cuan sebanyak banyaknya tuk menyenangkan diri sendiri dan anak. Ngapain bertahan dg laki2 tdk setia. najis .
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂: 🕺🏻💃🏻🤙🏻👍🏻
total 3 replies
Neriya Naura
Gak tau malu bgt 🤭
Neriya Naura
Ni si pastri gatel ya gak ketulungn, gatel+gak tau malu, si iwan juga silau bgt ama godaan janda🤭, lemah bgt imannya.
NeyNaa: tenangkan dirimu kak...🤭
total 1 replies
Neriya Naura
Cerita menarik, makin seru, si suami naksir janda gatel...
Neriya Naura
Si pastri gatel bgt sih.... 🤭
NeyNaa
seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!