Patah hati setelah memergoki kekasih yang begitu ia cintai berselingkuh di belakangnya, membuat Kanaya menyerah pada keadaan. Dengan hati yang masih terluka dan kecewa, ia akhirnya menerima perjodohan yang sejak lama telah direncanakan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria bernama Rafael. Seorang pria tampan namun dingin, tenang, dan sulit di tebak.
Bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah jalan pelarian untuk mengubur rasa sakit hatinya. Namun, siapa sangka dibalik sikap Rafael yang kaku dan tak perduli, tersimpan ketulusan yang perlahan mampu membuat hati Kanaya kembali percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor.H.y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Hari apes tak ada di kalender
Kanaya masih berdiri mematung ditempatnya. Wajahnya memanas mengingat kejadian semalam saat ia tanpa sadar dan tak tahu malu mengakuinya suami di depan Raditya. Dia kira mungkin Rafael akan melupakan kejadia itu. Padahal penampilannya saat itu jauh berbeda dengan dirinya yang sekarang.
"Astaga... Kenapa dia harus mengungkit kejadian semalam sih ?" gerutunya pelan.
Namun rasanya malunya perlahan berubah menjadi kesal.
"Tunggu dulu.. Dia tadi sengaja, ya ?" gumamnya curiga.
Dengan langkah cepat, Kanaya mengejar Rafael yang sudah berjalan masuk ke dalam rumah.
"Hei! Tunggu!" panggilnya.
Rafael tak mengidahkan panggilan itu, membuat Kanaya geram. Kanaya mempercepat langkahnya, lalu menghadang jalan Rafael.
Rafael berhenti, menatap gadis yang berdiri di depannya dengan sedikit menunduk. Karena memang Kanaya terlihat imut di bandingkan Rafael yang tinggi.
"Apa ?"
Kanaya menatap Rafael sedikit mendongak dengan tangan bersedekap di dada.
"Kamu sengaja menggodaku ya ?"
"Tidak."
"Bohong,"
"Terserah." Jawab Rafael singkat, sebelum kembali berjalan.
Kanaya berdecih kesal. Bagaimana bisa ada orang yang menjawab sesingkat itu.
"Ya ampun, kenapa aku harus di jodohkan dengan manusia sedingin kulkas dua pintu begini sih ?" gumamnya lirih, ia menghentakkan kakinya sebal. Sebelum berjalan masuk ke dalam rumah.
* *
Pagi hari yang cerah menyambut kampus dengan langit biru dan semilir angin yang sejuk. Namun semua itu tidak mampu memperbaiki suasana hati Kanaya.
Kanaya turun dari mobil dengan langkah gontai. Tas selempang yang menggantung di bahunya terasa lebih berat dari biasanya. Wajah cantiknya nampak murung, bibirnya mengerucut kesal mengingat kembali kejadian semalam.
Perjodohan.
Satu kata yang sejak tadi malam terus berputar di kepalanya.
"Gini banget nasibku.. Apa mungkin, waktu itu ada malaikat lewat pas aku lagi ngomong." gerutunya pelan sambil berjalan melewati gerbang kampus.
Kanaya menghembuskan napasnya panjang.
Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
"Eh.. Kaget tahu !"
Kanaya refleks menoleh dan mendapati Keisya berdiri di sampingnya sambil menahan tawa.
"Pagi-pagi udah cemberut aja Beb. Padahal bentar lagi mau nikah, harusnya seneng dong."
Kanaya melebarkan matanya, lalu menimpuk lengan Keisya cukup keras sampai ia mengaduh.
"Aw.. Sakit tau Beb, gini banget punya calon kakak ipar. Belum apa-apa udah kdrt duluan." gerutu Keisya, sembari mengusap lengannya.
"Diam nggak!" seru Kanaya sambil menengok kira dan kanan, takut di dengar orang lain karena suara Keisya yang cukup keras itu.
Kanaya langsung menghela napas panjang dan menjatuhkan tubuhnya ke bangku panjang taman kampus.
"Kenapa ? kamu nggak suka sama Kak Rafael ?" tanya Keisya, menyusul Kanaya duduk di sampingnya.
"Menurutmu ?" lirihnya menoleh sekilas lalu menatap ke depan, "Apa bagusnya dengan pria sedingin itu, baru aja putus sama Raditya yang sehangat itu. Terus ini malah ketemu kutub es ?" lanjutnya tak percaya.
Keisya terkekeh kecil, "Dingin-dingin penting dia ganteng, kaya, dan aku jamin dia setia. Nggak kaya yang onoh tu.."
Kanaya memincing menatap Keisya penuh selidik.
"Apa ?" tanya Keisya, saat menyadari tatapan sahabatnya itu.
"Kamu pasti tahu kan tentang perjodohan ini ?"
Keisya mengangguk pelan.
Kanaya melebarkan pandangannya, sempat ingin mengeluarkan kata-kata mutiara untuk sahabatnya itu karena tak pernah membahas apapun pada.
"Tadi pagi pas sarapan," lirih Keisya, membuat Kanaya mengernyitkan alis.
"Tadi pagi aku baru dengan saat Opa dan Bunda membahasnya. Sama seperti dirimu, aku juga kaget. Bisa-bisanya sahabatku ini sebentar lagi mau jadi kakak iparku," katanya, lalu memeluk Kanaya gemas dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Ih.. Apaan sih, lepas nggak.." Kanaya menepuk lengan Keisya.
Melihat wajah Kanaya masih masam, Keisya mengulas senyum lalu merangkul pundak Kanaya.
"Udah. Percaya deh sama kita, mungkin ini yang terbaik buat kalian. Ini juga bisa buat membuktikan pada Raditya mantan kamu yang breng**k itu. Kalau kamu bisa mendapatkan yang lebih dari dia. Buat dia nyesel Nay."
"Raditya bahkan nggak ada apa-apanya sama Kak Rafael. Dia ganteng, pengusaha sukses, baik lagi. Yah.. Walaupun katamu dingin, aku yakin kalau sama kamu yang hangat ini bisa membuat es batu di jatinya meleleh."
Kanaya menyimak baik kata-kata Keisya, yang menurutnya ada benarnya juga. Dia juga harus membuktikan, malau dia udah move on dari pria jahat itu.
"Hm.. Mungkin malam itu juga pertanda ya.." gumamnya lirih.
"Apanya Nay ?" tanya Keisya membuat Kanaya tersadar.
"Eh, itu.. Kita ke kantin dulu yuk. Makan seblak level 10 kayanya enak deh." katanya membuat mata Keisya membola.
"Yang bener aja Nay, pagi-pagi makan seblak level 10 apa nggak mules tuh perut." ucap Keisya, namun tak di hiraukan Kanaya.
Dia menarik tangan Keisya, berjalan menuju kantin kampus. Keisya pun tak menolak, dia mengikuti keinginan sahabatnya. Walaupun perutnya masih sedikit kenyang karena sebelum ke kampus dia sudah makan sarapan dirumah.
* *
Langit sudah mulai gelap ketika Kanaya meninggalkan area kampus. Jadwal yang padat sejak pagi membuat tubuhnya terasa lelah. Dengan satu tangan memegang setir dan sesekali menguap kecil, ia melajukan mobilnya menuju rumah.
Awalnya perjalanan berjalan normal. Namun saat melewati jalan yang cukup sepi dan jauh dari keramaian, mobil yang di kendarainya mendadak tersendat.
"Eh ?," Kanaya mengernyit.
Ia mencoba menginjak pedal gas sedikit lebih dalam, tetapi mobil justru kehilangan tenaga. Beberapa detik kemudian, mobil mati sepenuhnya.
Kanaya sontak panik.
"Jangan becanda deh.." gumamnya
Ia segera menepikan mobil sebisa mungkin di bahu jalan. Setelah itu, ia mencoba menyalakan mesin mobilnya kembali.
Sekali. Dua kali. Tiga kali. Tetap tidak menyala.
Kanaya menghembuskan napas frustasi lalu menjatuhkan kepalanya di setir.
"Kenapa apes banget si hari ini. Udah capek, pengen cepet pulang, malah mogok. Mana laper lagi." keluhnya pelan.
Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Jalanan cukup lengang. Hanya sesekali kendaraan melintas dengan kecepatan tinggi. Lampu yang berdiri berjajar justru membuat suasana terasa semakin sunyi.
perasaan tidak nyaman mulai merayapi hati.
Dengan cepat Kanaya meraih ponselnya. Ia membuka nama kontak, ingin menghubungi ayahnya. Namun siapa sangka, baru saja akan menekan tombil panggil, layar ponsel Kanaya kembali menggelap.
"Haissh.. Ponsel pake mati segala lagi." keluhnya frustasi. Ia kembali menjatuhkan kepalanya ke setir mobil.
"Hari apes memang tidak pernah ada di kalender.. Hufft.."
Tok.. Tok.. Tok..
Suara ketukan di pintu mobil membuat Kanaya mendongak kaget, saat tiba-tiba disana Raditya berdiri dengan senyum manis yang dulu mampu membuat Kanaya kecintaan. Namun tidak dengan sekarang, melihat senyumnya itu sekarang membuat dirinya merasa mual.
Melihat pintu tak kunjung dibuka. Raditya mencoba untuk mengetuk kembali. Sedetik, dua detik, tiga detik, akhirnya dengan malas Kanaya menurunkan kaca jendela mobilnya.
Senyum manis di perlihatkan Raditya, saat melihat bahwa benar Kanaya di dalam mobil tersebut.
"Jadi benar kamu Nay. Kenapa mobilnya ? Mogok ?" tanya Raditya lembut.
Kanaya memutar bola matanya malas. "Kalau nggak mogok, ngapain juga aku berhenti di tempat sepi kaya gini. Udah apes, eh ditambah apes lagi ketemu kamu disini."
"Kalau gitu, gimana kalau aku antar kamu pulang aja ?" tawar Raditya, berharap Kanaya setuju. "Mobil kamu biar nanti aku telpon bengkel untuk jemput sini," lanjutnya.
"Nggak. Makasih, tapi sorry.. nggak perlu." jawabnya sinis.
Raditya menghela napasnya saat mendengar jawaban ketus dari Kanaya.
"Ayolah Nay.. Lagian siapa yang akan menolong kamu di jalan sepi seperti ini selain aku. Kebetulan ada sesuatu yang harus aku bicarakan sama kamu."
"Udah deh, aku udah telpon seseorang tadi. Dia lagi otw kesini, jadi lebih baik kamu pergi dari sini." bohongnya, berharap Raditya segera pergi meninggalkan dirinya.
Namun Raditya pantang menyerah, ia membuka paksa pintu mobil Kanaya yang bodohnya belum sempat ia kunci dari dalam.
"Eh.. Ngapain kamu, jangan kurang ajar ya kamu dit." serunya, saat Raditya menarik tangan Kanaya kasar. Memaksa dirinya keluar.
Kanaya mencoba melepas tangan Raditya saat dirinya sudah keluar dari dalam mobil, lalu menampar wajah Raditya keras saat tangannya berhasil terlepas.
"Kamu sudah gila dit ?!" sentak Kanaya, tak terima sudah memaksanya seperti itu.
Raditya menyunggingkan senyumnya tipis, memegang pipi kirinya yang terasa kebas karena tamparan Kanaya yang cukup keras "Iya Nay, aku gila. Dan itu karena kamu." balasnya.
Lalu dengan cepat menarik tangan Kanaya kembali.
"Eh.. Nggak ! Tolong..!!"
"Tolong..!" seru Kanaya, saat tangannya kembali di tarik paksa oleh Raditya.
"Ya tuhan.. Siapapun tolong aku. Kalau laki-laki akan aku jadikan suami. Kalau perempuan aku jadikan saudara." gumamnya di dalam hati. Saat merasa sudah putus asa.
"Berhenti !"
"Lepaskan dia..!!!"
* * * *
skrng psah kmar,tar lma2 jg dia dtng sndri.....🤭🤭🤭...
yg ngsih btas spa,yg lmpar bntal spa...
tp gengsi buat ngaku sih.....
Aku udh mmpir....slm knal....
btw,gmna nih mlm prtmanya???
bkln perang atw sling adu punggung???atw yg 1 tdr d rnjang,yg 1 d sofa....🤣🤣🤣