Arka tidak pernah menyangka pernikahannya akan runtuh karena sebuah ponsel tersembunyi.
Istrinya yang lembut dan sempurna ternyata menyimpan kehidupan lain yang tidak pernah ia ketahui.
Chat tengah malam. Nama asing. Dan kebohongan kecil yang perlahan berubah menjadi mimpi buruk.
Namun semakin Arka mencari kebenaran… semakin ia sadar bahwa semua orang di sekitarnya menyimpan rahasia.
Karena terkadang— orang yang tidur di sampingmu belum tentu orang yang benar-benar kamu kenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
BAB 31: FOTO LAMA
"Di dalam tumpukan debu masa lalu, di balik lemari yang terkunci rapat dan laci yang selalu disembunyikan, tersimpan selembar kertas tebal yang menjadi saksi bisu segalanya. Sebuah foto yang dulu sering kulihat tergantung di dinding rumah kami, namun kini terasa begitu asing. Di dalamnya ada wajah yang sama, senyum yang sama, tapi nama, tempat, dan seluruh kisah di baliknya... ternyata berbeda dunia. Foto lama itu bukan sekadar kenangan. Itu adalah bukti paling nyata bahwa wanita yang tidur di sampingku selama dua tahun... tidak pernah benar-benar ada."
Keheningan masih menyelimuti ruangan itu, berat dan menyakitkan, seolah udara di dalamnya pun sudah jenuh dengan kebohongan dan pengakuan yang bertubi-tubi. Arka masih duduk terpaku, matanya menatap kosong ke arah Claire yang kini terkulai lemas di sofa, sementara Adrian menunduk dalam, tak berani lagi menatap siapa pun. Namun di tengah kekacauan perasaan itu, satu pertanyaan besar masih menggantung tajam di benak Arka, pertanyaan yang belum terjawab sepenuhnya meskipun segala rahasia sudah dibongkar.
Siapa sebenarnya wanita ini?
Arka perlahan bangkit berdiri. Kakinya terasa berat, seolah ada beban besar yang mengikat setiap langkahnya. Ia berjalan perlahan menuju tas tangan wanita itu, tas kecil berwarna hitam yang selalu dibawa ke mana saja, yang selalu diletakkan di sisi tempat tidur, yang selalu dijaga ketat seolah isinya adalah nyawanya sendiri. Selama dua tahun, Arka tidak pernah berani menyentuhnya. Ia percaya, ia menghargai privasi istrinya. Ia pikir di dalamnya hanya ada barang-barang perempuan biasa: riasan, dompet, kunci, atau tisu.
Tapi malam ini, ia tahu... di situlah tersimpan kunci dari semua misteri ini.
Claire mendongak, matanya membelalak saat menyadari ke mana arah pandangan dan langkah Arka. Ia mencoba bangkit, ingin mencegah, ingin mengambil benda itu, tapi kakinya lemas, tubuhnya gemetar hebat, dan ia hanya bisa jatuh kembali ke sandaran sofa, menangis tanpa suara.
"Mas... jangan... tolong jangan..." pinta Claire lirih, suaranya hampir tak terdengar. "Di sana... di sana tidak ada apa-apa..."
Arka tidak menjawab. Tangannya gemetar sedikit saat ia meraih tas itu, membuka ritsletingnya yang halus. Ia tidak lagi melihat wanita itu sebagai istrinya, sebagai Elena Wijaya yang lembut dan sederhana. Ia melihatnya sebagai teka-teki yang harus diselesaikan sampai ke akar paling dalam. Ia mengeluarkan isi tas itu satu per satu dengan gerakan lambat dan hati-hati. Dompet kecil, cermin saku, lipstik, tisu, selembar uang... benda-benda biasa yang memang seharusnya ada di sana.
Namun di bagian terdalam, di saku tersembunyi yang tertutup resleting rahasia, jari Arka menyentuh sesuatu yang keras dan pipih, terbungkus kain beludru hitam.
Saat benda itu ditarik keluar, napas Arka tertahan seketika.
Itu adalah sebuah album foto kecil, ukurannya tidak lebih besar dari telapak tangan orang dewasa, sampulnya sudah agak usang dan warnanya memudar, seolah sudah dibawa ke mana-mana selama bertahun-tahun, dibuka dan ditutup berkali-kali dengan rasa rindu atau rasa sakit.
Arka menatap Claire lekat-lekat. Wanita itu menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis tersedu-sedu, seolah tahu bahwa benteng pertahanan terakhirnya akan runtuh sekarang juga.
"Di dalam sini... ada jawabannya, kan?" tanya Arka pelan, suaranya kering dan parau. "Di sini tersimpan siapa kamu sebenarnya."
Tanpa menunggu jawaban, Arka membuka sampul album itu. Halaman pertama, yang terbuat dari kertas tebal dan kasar, menampakkan selembar foto berwarna yang sudah mulai menguning di pinggirannya. Kualitas cetakannya agak kasar, gaya pakaian dan latar belakangnya menunjukkan bahwa foto itu diambil sekitar lima atau enam tahun yang lalu.
Dan saat Arka menatap gambar di sana, jantungnya berdegup kencang seolah mau melompat keluar dari rongga dada.
Wajah itu... wajah yang sangat ia kenal. Wajah yang ia cium setiap pagi, wajah yang ia tatap setiap hari, wajah yang ia impikan setiap malam. Bentuk mata yang tajam namun indah, hidung yang mancung, bibir yang selalu melengkung manis, dan lesung pipi di sisi kanan yang hanya muncul saat ia tertawa tulus. Itu wajah istrinya. Itu wajah wanita yang bernama Elena Wijaya.
Tapi di bawah foto itu, tertulis tulisan tangan yang miring dan tegas, tinta hitam yang sudah mulai pudar namun masih terbaca jelas:
Claire Nathania – Surabaya, 2020
Darah Arka terasa berhenti mengalir. Kepalanya berputar hebat. Surabaya? Elena selalu bilang ia lahir dan besar di Jakarta, bahwa ia tidak pernah tinggal di kota lain, bahwa keluarganya menetap di ibu kota sejak dulu. Tidak ada satu pun cerita tentang Surabaya. Tidak ada satu pun kenangan tentang kota itu.
Dan nama itu... Claire Nathania.
Jadi benar. Nama itu bukan sekadar nama samaran, bukan sekadar nama lama yang pernah dipakai sebentar. Itu adalah nama aslinya. Nama yang tertera di foto ini, nama yang melekat padanya di masa lalu, nama yang ia kubur dalam-dalam dan ganti dengan nama Elena Wijaya.
Arka membalik halaman berikutnya. Dan di sana, kenyataan pahit itu terbentang makin luas, makin jelas, makin menghancurkan.
Foto-foto lain muncul berderet. Ada foto wanita yang sama—Claire Nathania—berdiri di depan sebuah rumah besar bergaya kolonial, dengan papan nama di gerbang depan yang tertulis jelas: Rumah Kediaman Keluarga Wijaya. Ada foto wanita itu berpakaian wisuda, ada foto saat sedang berlibur di pantai, ada foto sedang berdiri berdua dengan seorang wanita tua yang wajahnya mirip sekali dengannya—ibunya—dan seorang pria paruh baya yang berwibawa—ayahnya.
Namun ada satu hal yang mengerikan dan sekaligus menjelaskan segalanya.
Di setiap foto, di setiap tulisan keterangan di bawahnya, di setiap tempat dan tanggal... tidak pernah tertulis nama Elena. Semuanya Claire. Semuanya Surabaya.
Dan di foto paling akhir, yang tergeletak longgar di ujung halaman, ada foto berdua. Claire Nathania muda, cantik dan berani, berdiri berdekatan dengan seorang pria muda yang berwajah tampan namun dingin dan sombong. Pria itu tersenyum bangga, merangkul bahu Claire erat-erat. Di bawah foto itu, tulisan tangan yang sama: Claire & Adrian – Sahabat Sejati, 2021.
Arka menatap Adrian yang masih tertunduk di seberang sana. Pria itu perlahan mengangkat wajahnya, matanya merah dan penuh kepahitan, menatap foto itu dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara rindu, rasa bersalah, dan keputusasaan.
"Jadi semuanya bermula di Surabaya..." gumam Arka pelan, suaranya bergetar menahan amarah dan rasa sakit yang makin dalam. "Kalian berdua berasal dari sana. Kalian tumbuh di sana bersama keluarga Wijaya. Kalian sudah saling kenal bertahun-tahun sebelum aku ada di sini."
Arka menoleh kembali ke arah Claire. Wanita itu kini menurunkan tangannya dari wajah, menatap foto-foto lama itu dengan mata yang berkaca-kaca, seolah sedang melihat kembali sisa-sisa hidupnya yang telah ia buang jauh-jauh.
"Siapa Elena Wijaya yang sebenarnya, Le?" tanya Arka tajam namun lirih. "Di mana dia? Apakah dia pernah ada? Atau nama itu hanya kamu ciptakan begitu saja untuk menutupi jejak Claire Nathania dari Surabaya ini?"
Claire menggeleng pelan, air mata menetes deras kembali membasahi pipinya. Ia menarik napas panjang, terisak, lalu berbicara dengan suara yang pecah namun perlahan mulai jujur, seolah beban paling berat baru saja jatuh dari pundaknya.
"Elena... Elena itu nyata, Mas..." jawab Claire lirih, matanya terpaku pada foto-foto lama di tangan Arka. "Dia sepupuku. Anak tunggal dari kakak ayahku. Kami sama-sama tumbuh di Surabaya. Kami sering bermain bersama. Kami sangat mirip, Mas. Orang-orang sering salah mengira kami saudara kembar. Tapi Elena... Elena berbeda. Dia lembut, dia pemalu, dia polos, dia tidak pernah menyakiti siapa pun. Dia mewarisi seluruh harta keluarga Wijaya karena ayahnya adalah anak tertua."
Claire berhenti sejenak, menelan ludah yang terasa pahit. Adrian di seberang sana menutup matanya rapat-rapat, seolah tak sanggup mendengar kelanjutan cerita itu.
"Aku iri padanya, Mas... Aku iri sekali. Dia punya segalanya. Nama baik, kekayaan, kasih sayang orang tua. Sedangkan aku... aku hanya anak bungsu yang dianggap tidak penting, yang hidupnya selalu dibanding-bandingkan dengannya. Adrian... Adrian adalah teman masa kecil kami. Dia dekat denganku, tapi dia juga mengincar kekayaan keluarga Wijaya. Dia bilang padaku: 'Kenapa Elena yang dapat semuanya, padahal kau lebih cerdas, lebih berani, lebih pantas?'"
Claire menatap Arka dengan pandangan yang hancur lebur.
"Lima tahun lalu, terjadi kebakaran besar di rumah keluarga Wijaya di Surabaya. Semua orang mengira Elena dan orang tuanya tewas terbakar. Jenazah mereka tidak bisa dikenali lagi. Semua harta warisan... lenyap begitu saja, atau tersangkut masalah hukum yang rumit."
Claire tersenyum miris, senyum yang mengerikan namun penuh kepedihan.
"Tapi kenyataannya... Elena dan orang tuanya sudah lama pergi. Mereka tahu rencana buruk kami. Mereka kabur ke luar negeri, meninggalkan segalanya demi keselamatan nyawa. Dan kami... aku dan Adrian... kami yang mengatur kebakaran itu. Kami yang menyebarkan berita kematian mereka. Dan saat semua orang percaya Elena Wijaya sudah tiada... aku datang ke Jakarta. Aku mengurus dokumen baru. Aku mengambil nama Elena. Aku mengambil identitasnya. Aku menjadi dia."
Arka diam terpaku, album foto itu masih tergenggam erat di tangannya. Potongan teka-teki itu akhirnya lengkap.
Wanita yang ia nikahi, wanita yang ia cintai, wanita yang ia kira yatim piatu dan sederhana... adalah Claire Nathania dari Surabaya. Wanita yang penuh ambisi, penuh iri hati, dan bersekongkol dengan Adrian untuk mengambil alih segala sesuatu yang bukan miliknya.
Foto lama itu adalah saksi bisu. Foto lama itu membuktikan bahwa dua tahun ini, Arka tidak pernah hidup bersama Elena Wijaya. Elena hanyalah topeng. Elena hanyalah nama samaran. Elena hanyalah karakter yang diciptakan dari rasa iri dan kejahatan.
Yang ada di samping Arka selama ini hanyalah Claire. Claire dari Surabaya. Claire yang membawa masa lalu gelap. Claire yang selalu terhubung dengan Adrian. Claire yang tidur di sampingnya, tapi jiwanya selalu ada di tempat lain, di waktu lain, di kehidupan lain yang penuh dosa.
"Surabaya..." bisik Arka pelan, nama kota itu terasa berat dan kotor di lidahnya. "Semua asal-usulmu ada di sana. Semua awal kejahatan kalian ada di sana. Dan aku... aku hanya alat yang kalian pilih di sini, di Jakarta, untuk menyempurnakan sandiwara kalian."
Arka menatap foto wajah wanita muda yang tersenyum ceria di dalam album itu. Senyum yang sama persis dengan yang ia kenal. Senyum Claire Nathania sebelum dunia dan kejahatan mengubahnya menjadi monster yang menyedihkan.
"Foto lama ini..." lanjut Arka, suaranya dingin dan penuh penghakiman. "Ini bukan hanya kenangan, Le. Ini adalah bukti bahwa kamu bukan siapa-siapa yang kamu klaim selama ini. Bahwa nama Elena yang aku sebut ribuan kali setiap hari... adalah nama orang lain. Adalah nama gadis yang kamu curi hidupnya, masa depannya, dan bahkan wajahnya."
Claire tidak menjawab lagi. Ia hanya menangis, terkulai dalam keputusasaan, sadar bahwa masa lalunya yang ia kubur sedemikian dalam kini terangkat kembali ke permukaan, terbongkar sepenuhnya oleh selembar foto sederhana yang selama ini selalu ia bawa dan ia jaga, karena itu satu-satunya sisa dari dirinya yang asli.
Di ruangan itu, nama samaran itu akhirnya runtuh.
Di ruangan itu, identitas asli akhirnya berdiri tegak.
Dia bukan Elena.
Dia adalah Claire Nathania.
Dan dia berasal dari Surabaya.
Dan dari masa lalu di kota itulah, segala kejahatan, segala kebohongan, dan segala penderitaan Arka... bermula.
— BERSAMBUNG.......