NovelToon NovelToon
Putri Quraisy Dari Masa Depan

Putri Quraisy Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: MOEROUL

Maya Farida, mahasiswi Al-Azhar yang terobsesi pada sejarah Islam dan sains, meninggal dalam kecelakaan tragis tepat di hari kelulusannya di Kairo.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun kembali sebagai bayi perempuan bangsawan Quraisy di Mekah abad ke-6 puluhan tahun sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Di dunia yang belum mengenal Islam, Maya harus hidup sebagai Qatilah binti Naufal, putri dari keluarga elit Bani Asad yang berkuasa. Dengan pengetahuan modern yang tak seharusnya ada di zaman itu, ia perlahan mengubah kehidupan di sekitarnya melalui logika, sains, dan kecerdasannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2

BAB 2

Satu bulan berlalu sejak tragedi kecelakaan konyol itu.

Ya, sudah tiga puluh hari semenjak aku resmi menjadi tawanan di dalam tubuh super mini ini. Kerajaanku sekarang cuma sebatas dipan berlapis permadani tebal. Rutinitasku? Tidur, minum susu, buang air, diceboki pelayan, lalu diulang lagi.

Bosan? Jangan ditanya. Otakku yang biasanya terbiasa membaca lembaran literatur tebal sekarang rasanya tumpul karena kurang stimulasi.

Bagi kalian yang belum kenal, biar aku perkenalkan diri. Namaku Maya Farida binti Ibrahim. Di kehidupan sebelumnya, alhamdulillah, aku adalah mahasiswi jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam di Universitas Al-Azhar, Kairo. Aku bersyukur bisa menyelesaikan kuliahku dengan hasil yang sangat memuaskan berkat doa orang tuaku.

Tragedi itu terjadi tepat di hari kelulusanku. Selesai acara kumpul bareng dua teman kampusku yang juga dari Indonesia, aku mendapat telepon dari Abi. Beliau mengabarkan kalau beliau sudah mendarat di Mesir dan bahkan sudah duduk manis di sofa apartemen kontrakanku.

Abi bilang kita akan merayakan kelulusanku, jalan-jalan sebentar keliling Kairo, lalu setelah itu pulang ke Indonesia. Tentu saja aku kegirangan. Aku sudah sangat rindu rumah, rindu masakan Umi, dan rindu pelukan mereka berdua.

Sepanjang perjalanan pulang naik bus kota, aku senyum-senyum sendiri ngebayangin wajah sabar Abi yang lagi nungguin aku. Begitu bus berhenti tepat di depan gedung apartemenku, aku buru-buru turun. Saking senangnya membayangkan besok Abi bakal ngajak jalan-jalan ke mana dan nggak sabar buat ngasih pelukan ke mereka, aku menyeberang jalan tanpa lihat kanan dan kiri.

Lalu... BLAAAM!

Sebuah mobil melaju kencang dan merenggut semuanya. Cita-citaku, pelukan Abi, rindu Umi... semuanya gelap dalam sekejap.

Kadang kalau suasana rumah mulai sepi dan lampu-lampu minyak mulai diredupkan pelayan saat malam, dadaku masih terasa sesak mengingat mereka. Aku bahkan belum sempat benar-benar pulang.

Sebagai seorang muslimah, aku jelas tidak percaya konsep reinkarnasi murni. Apalagi yang alur waktunya mundur ribuan tahun ke belakang. Secara teologi, ini lebih pantas disebut lompatan dimensi atau apalah itu.

Awalnya, sedih dan sesal luar biasa menghantuiku. Belajar bertahun-tahun di negeri orang, tapi berujung mati muda.

Namun perlahan, aku mulai berusaha ikhlas. Allah pasti punya rencana lain yang jauh lebih besar.

Kenapa aku bisa seyakin itu?

Karena aku tidak terlempar ke masa lalu menjadi bayi acak tanpa nama.

Dan saat akhirnya aku sadar siapa diriku sekarang, bulu kudukku langsung merinding.

Qatilah binti Naufal.

Nama yang dulu cuma kubaca di kitab-kitab sirah.

Wanita yang dipercaya menjadi orang pertama yang menyadari tanda-tanda kelahiran Nabi Muhammad SAW. Wanita yang dalam catatan sejarah pernah mencegat dan mencoba melamar ayah Nabi, Abdullah, sebelum akhirnya mundur karena menyadari cahaya kenabian itu sudah berpindah.

Jujur, sampai sekarang aku masih belum tahu harus bersikap bagaimana menghadapi takdir sejarah sebesar itu.

Tapi di sisi lain, aku juga bersyukur ditempatkan di sini.

Keluargaku yang sekarang, Bani Asad, adalah klan bangsawan kelas atas di Mekah. Kami sangat berkecukupan.

Setiap kali aku digendong keliling rumah, aku selalu memperhatikan sekitarku. Rumah batu ini sangat luas. Lorong-lorongnya dipenuhi aroma gaharu dan kain mahal. Tidak ada suara mesin. Tidak ada listrik. Tidak ada dengungan kendaraan modern. Yang terdengar hanya langkah sandal kulit, suara pelayan, dan sesekali ringkikan unta dari kejauhan.

Malam di Mekah juga terasa aneh bagiku.

Terlalu sunyi.

Langitnya hitam pekat dan dipenuhi bintang sampai rasanya hampir tidak nyata.

Ayahku di kehidupan ini, Naufal bin Asad, sering terdengar sibuk menerima tamu di ruangan depan. Suaranya menggelegar dan tegas. Sementara ibuku, Hindun, selalu terlihat anggun mengatur belasan pelayan di area dalam rumah.

Lalu ada kakak laki-lakiku, Waraqah bin Naufal.

Ya, Waraqah yang kelak menjadi tokoh penting itu!

Di usianya yang masih remaja ini, dia memang sudah terlihat berbeda. Dia lebih suka menyendiri di sudut ruangan sambil membawa gulungan naskah, menjauhi keramaian pemuda Quraisy lain, entah kenapa dia begitu.

Melihat mereka semua, pikiranku jadi merayap ke mana-mana.

Kalau aku ini Qatilah dari Bani Asad, berarti aku adalah sepupu kandung dari Khadijah, istri Nabi Muhammad SAW.

Tapi tunggu dulu...

di tahun ini, Khadijah sudah lahir belum, ya?

Seingatku para sejarawan juga berbeda pendapat soal tahun pasti kelahirannya.

Tanpa sadar, tanganku yang montok terangkat, menopang dagu dengan gaya serius layaknya pemikir filsafat yang sedang memecahkan masalah besar. Alisku berkerut dalam, sibuk menggali kembali memori sejarah di kepalaku.

Tiba-tiba, langkah kaki terdengar mendekat.

Salah satu pelayan wanita yang ditugaskan merawatku berhenti tepat di samping dipan. Dia menatapku dengan mata melotot. Wajahnya kebingungan setengah mati melihat bayi berumur satu bulan berpose seperti orang dewasa yang sedang mikir berat.

Hening sesaat. Kami saling bertatapan dalam kecanggungan yang luar biasa.

"Innalillahi... ketahuan," batinku panik.

Aku buru-buru menjatuhkan tanganku, melebarkan mataku polos-polos, lalu memukul-mukul udara secara acak sambil mengeluarkan jurus andalan balita.

"Abuuu... baaa... pfffttt..."

Aku meniup ludahku sendiri sampai bergelembung di bibir.

Pelayan itu mengerjap beberapa kali, mengusap matanya, lalu tersenyum maklum. Dia pasti mikir dia cuma salah lihat. Dia mengusap kepalaku pelan sebelum berjalan pergi ke sudut ruangan untuk melipat kain bedong.

"Ya Allah... hampir aja jantungan," batinku menghela napas lega.

Mataku kembali menatap langit-langit ruangan.

"Kalau dipikir-pikir, cerita isekai yang dulu sering kutonton biasanya selalu dimulai dari kehidupan menyedihkan. Diremehkan, miskin, atau harus bertahan hidup dari nol."

Aku menggerakkan kaki kecilku pelan di atas kasur empuk.

"Tapi hidupku di sini malah aman, mewah, dan terjamin. Jadi... sebenarnya Allah sedang menyiapkan apa ya buatku di zaman ini?"

Belum kelar aku merenung, suara tawa keras dan menggelegar memecah keheningan ruangan.

Langkah kaki berat menghampiri dipanku.

Itu ayahku, Naufal bin Asad, dengan janggut tebalnya yang menakutkan tapi selalu tersenyum kalau melihatku.

"Ya binti as-saghira! Hal ishtaqti ila abiki?"

(Oh ini dia anakku yang paling imut! Sudah kangen Ayah belum?)

Tanpa aba-aba, sepasang tangan besarnya menangkap tubuh mungilku dan mengangkatku tinggi-tinggi ke udara. Dia mendekatkan wajahnya yang penuh janggut kasar itu ke pipiku, bersiap memberikan ciuman gemas andalannya.

Aku panik. Tangan mungilku meronta menahan pipinya, berusaha menolak ciuman dari pria raksasa berjenggot ini.

"Tidaaak! Ya Allah, jauhkan janggut tajam itu dariku!" teriakku dalam hati.

Tapi apalah daya otot bayi berumur sebulan. Yang keluar dari mulutku cuma ocehan protes yang tak jelas.

"Uuu... mwaaa... baaa!"

Detik berikutnya, aku menyerah. Aku membiarkan tubuhku terguncang-guncang dan diayun-ayunkan di udara oleh orang yang sekarang jadi ayahku ini. Sambil menahan geli gesekan janggutnya di pipiku, aku menatap kosong lurus ke depan dengan wajah sedatar tembok.

Nasib...

begini amat jadi bayi.

1
Sarah
Hahaha 😂
Sarah
Yaelah. 😂
Sarah
Aduh, jangan sampai dikira nyolong. 😭
Sarah
Emang di zaman kuno ada yang kayak gini? raksasa gitu...? Maksudku, kalau ini zaman Nabi Adam sih make-sense karena tingginya kakek moyang kita ini juga.... 😭
Tapi kalau ini zaman sebelum kelahiran nabi... manusianya kan udah pada pendek. 😭
Sarah: Iyasih, kalau misalnya kelahiran zaman purba awal banget, Goram dan Mila pasti pendek kehitungnya. Tapi karena ini zaman pra-kelahiran rasul, tinggi mereka jadi terhitung terlalu tinggi dan gak normal. 🙂
total 2 replies
Sarah
Dia pasti masih hidup, Qatilah. Seharusnya, Waraqah bin Naufal akan bertemu Rasulullah untuk menyatakan kenabiannya nanti bukan? Tapi kalau apakah kalian bisa bertemu lagi... entahlah.
Sarah
Sakit banget baca bab ini... lihat remaja sama anak kecil survive berdua. 😭😖
Sarah
Kudanya pasti Syahid. Karena mengantar orang yang akan membenarkan kenabian Rasulullah saw bersama adiknya untuk bertahan hidup.
Sarah
Tapi... penyerangan ini... memang tidak pernah Maya baca di sejarah kah? Apa ini sesuatu yang tidak tercatat? Sesuatu yang dia lupa? Atau... sesuatu yang berubah?
Sarah: Iyasih, aku aja baru tahu Waraqah bin Naufal itu punya saudari. Dan pada dicari, rupanya bener. Cuma minim info, cuma ada yang tentang menawarkan diri ke Abdullah. 🙂
total 2 replies
Sarah
Antara dia gak diculik tapi diselamatin, atau udah diculik tapi berhasil diselametin.
Sarah
Diculik kah?
Sarah
Susu manis emang udah ada yah di zaman itu?
Maya: ada tapi bukan pake gula melainkan madu
total 1 replies
Sarah
Wah... yang mengenali kenabian nabi itu bukan sih? Yang sepupunya Siti Khadijah? Apa aku salah ingat yah?
Maya: yup betul 😄
total 1 replies
Sarah
Ah... gak bisa bayangin perasaan Abi Uminya... 😭
Sarah
Menarik, isekai tapi ke arab dan MC-nya muslimah. Meskipun nyatanya kalau orang mati ya... kagak ada reinkarnasi yang ada ditanyain man robbuka langsung. Tapi yah... di dunia ini ’kan ada banyak yang tidak ketahui. Bisa aja cewek ini diberikan takdir yang agak... lain...? Pasti ada alasannya kenapa dia malah dilemparin ke masa lalu. Bagus, thor. Konsepnya menarik banget. 👍😂
Sarah: Namanya juga fiksi kak. Nikmati aja hiburan. 😂
total 2 replies
Protocetus
kok jadi Isekai min?
Maya: lebih tepatnya historical isekai
total 1 replies
Protocetus
Thor beneran pernah kuliah di Al Azhar?
Maya: enggak hehehe 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!