"Dua sisi kegelapan, satu raga, dan satu candu yang mematikan: diriku."
Zaviar, penguasa dingin yang sebelumnya mati rasa, mendadak meledak gairahnya saat Arumi—sang macan bar-bar yang bertransmigrasi ke tubuh istrinya antagonis—menghapus riasan badutnya.
Perubahan drastis ini tak hanya membangkitkan Zaviar, tapi juga monster di dalamnya: Varian.
Varian, alter ego gelap, obsesif, dan haus gairah, bangkit tanpa kendali, matanya memancarkan kedalaman yang menakutkan dengan mata merahnya.
Terkunci di dalam sangkar emas kamar utama, Arumi terjebak dalam kecemburuan Calista istri kedua sekaligus pemeran utama wanita dan pusaran hukuman ganda: kelembutan menuntut Zaviar, dan keganasan tanpa lelah Varian. Keduanya menginginkannya dengan cara yang paling mengerikan.
Varian menyeringai gelap, manik merahnya mengunci pergerakan arumi. "Kau membuat monster dalam diriku terbangun, Sayang. Bersiaplah untuk tidak bisa berjalan besok pagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Usir Sang Masa Lalu
Arumi tertegun sejenak. Ia menatap Zaviar dengan pandangan yang sulit diartikan. Sisi Zaviar yang biasanya selalu rasional, patuh hukum, dan kaku kini benar-benar telah melompati batas kewajaran demi melindunginya. Keputusan Zaviar untuk menyiksa Calista di dalam sel isolasi membuktikan bahwa singa tidur di dalam diri sang Tuan Besar telah terusik sepenuhnya.
"Gila... Lu beneran patahin jari-jarinya?" tanya Arumi, meskipun nadanya sama sekali tidak menunjukkan rasa kasihan pada Calista. Baginya, wanita yang mencoba membunuhnya dengan bom layak mendapatkan neraka yang lebih kejam.
"Itu adalah harga yang harus ia bayar karena berani menyentuh milikku, Sayang. Dan untuk dokumen medis itu... semua salinan fisik dan digital yang dipegang oleh kaki tangannya di luar sana sudah dilenyapkan oleh tim IT dan agen pengacara kita. Siapa pun yang berani membocorkan satu kata tentang kondisiku ke media, perusahaan mereka akan bangkrut dan orangnya akan menghilang dari dunia ini besok pagi," lanjut Zaviar dengan mata obsidian yang berkilat penuh kepuasan yang dingin.
Arumi terdiam selama beberapa saat, mencerna semua informasi yang baru saja didengarnya. Ia harus mengakui bahwa tindakan brutal Zaviar kali ini benar-benar memuaskan insting barbarnya. "Bagus deh. Berarti satu curut udah kelar urusannya. Tinggal si pelayan pengkhianat itu kan? Danu namanya kalau gak salah."
Zaviar mengangguk perlahan. "Danu masih ditahan di ruang bawah tanah. Tim pengawal sedang mengondisikan tubuhnya agar siap menerima interogasi malam ini. Tapi... ada satu hal yang harus kau ketahui, Arumi." Zaviar menjeda kalimatnya, wajahnya kembali menegang dan memancarkan keseriusan yang pekat.
"Apaan?" tanya Arumi penasaran.
"Saat Mahendra memeriksa ponsel tersembunyi yang digunakan Calista untuk menghubungi orang dalam, mereka menemukan beberapa riwayat transaksi keuangan berskala besar. Uang suapan untuk Danu dan biaya pembelian bahan peledak bom tempo hari tidak berasal dari rekening pribadi Calista yang sudah aku bekukan," jelas Zaviar, matanya menyipit tajam.
Arumi langsung mengerti arah pembicaraan ini. "Maksud lu... ada bos besar lain di belakang si lampir itu? Ada investor luar yang mendanai aksi dia buat bunuh gue?"
"Benar. Ada pihak ketiga yang menggunakan ambisi dan kegilaan Calista untuk menyingkirkanmu, sekaligus ingin mengguncang posisiku di Ravindra Group dengan memanfaatkan rahasia DID milikku," desis Zaviar, rahangnya kembali mengeras menahan amarah yang mendidih. "Dan malam ini, di ruang bawah tanah, aku sendiri yang akan menguliti Danu sampai dia menyebutkan siapa nama bajingan yang berada di balik semua ini."
Arumi merasakan aliran adrenalinnya kembali berdesir mendengar adanya musuh baru yang mengincar nyawanya. Sifat pemberontak dan jiwa bertarung Macan Kemayorannya langsung bangkit seketika. "Gue ikut! Gue yang bakal patahin kaki tuh pelayan kalau dia berani bungkam!" cetus Arumi sembari mencoba menyibak selimutnya untuk turun dari kasur.
Namun, belum sempat kaki Arumi menyentuh lantai marmer, tangan besar Zaviar sudah mencengkeram pinggangnya dengan sentakan yang kuat, menarik tubuh lemas wanita itu kembali ke atas kasur sutra dan mengukungnya di bawah tubuh besarnya dalam sekejap mata.
Brak!
"Zaviar! Lu apa-apaan lagi sih, kampret?!" bentak Arumi, wajahnya memerah karena terkejut sekaligus kesal karena ruang geraknya kembali dikunci.
Zaviar menatap ke bawah, mengunci pandangan mata Arumi dengan intensitas gairah yang mendadak kembali membara di dalam manik obsidiannya. Sentakan adrenalin Arumi tadi rupanya kembali memicu stimulasi kelenjar hormonnya, membuat aroma manis murni yang khas dari kondisi galaktoreanya kembali menguar hebat, memenuhi indra penciuman Zaviar dengan keintiman yang memabukkan.
"Kau tidak akan pergi ke ruang bawah tanah mana pun malam ini, Sayang. Tubuhmu masih terlalu lemah, dan aroma tubuhmu ini... benar-benar membuatku gila," bisik Zaviar dengan suara bariton yang mendadak berubah menjadi serak, parau, dan penuh dengan vibrasi obsesi yang berbahaya.
Tangan besar Zaviar merayap masuk ke balik gaun tidur sutra Arumi, menyentuh kulit hangat istrinya yang kembali merembeskan cairan manis murni akibat lonjakan emosi tadi. Candu itu kembali menyala di dalam kepala sang Tuan Besar, merusak sistem saraf rasionalnya dalam hitungan detik.
"Z-Zaviar... kaku... lu jangan mulai lagi ya, bangsat! Tadi lu bilang demam gue baru turun!" protes Arumi, meskipun kedua tangannya perlahan justru naik dan melingkar di leher kokoh suaminya, merasa tertantang oleh dominasi kaku Zaviar yang mendadak berubah menjadi liar.
"Aku akan melakukannya dengan pelan, Sayang... tapi aku tidak akan membiarkanmu lepas malam ini," bisik Zaviar tepat di bibir Arumi sebelum kembali meraup bibir istrinya dengan ciuman yang menuntut kepatuhan mutlak, menenggelamkan sang Macan Kemayoran sekali lagi dalam lautan gairah posesif sang suami hingga malam kembali menjemput mereka dalam keheningan mansion Ravindra.
Ketika malam larut merayap menuju fajar, keheningan di kamar utama mansion Ravindra terus bergulir di bawah selimut sutra yang berantakan. Sentuhan yang awalnya diklaim pelan oleh Zaviar, lambat laun berubah menjadi pusaran gairah yang berulang tanpa jeda yang pasti. Bagi Arumi, tubuhnya yang baru saja pulih dari demam seolah dipaksa bekerja lembur menghadapi intensitas yang tak menyisakan ruang bernapas. Setiap kali ia mencoba memprotes dengan umatan khasnya, Zaviar akan membungkam bibirnya dengan ciuman yang lebih dalam, menuntut ketundukan mutlak dari sang Macan Kemayoran hingga malam benar-benar habis dikikis waktu.
Saat sinar matahari pagi yang tipis mulai merangsek masuk ke dalam celah-celah gorden beludru yang tebal, Arumi terbangun dengan erangan rendah yang lolos dari tenggorokannya. Kelopak matanya terasa berat, sementara kepalanya berdenyut pelan karena kurang tidur. Begitu ia menggerakkan tubuhnya, rasa kaku dan remuk langsung menjalar di setiap persendian, mulai dari pinggang hingga ke ujung kakinya.
"Brengsek... encok beneran gue," bisik Arumi serak sembari memegangi punggungnya.
Ia menoleh ke samping kanan, bersiap untuk mengumpat langsung pada pelaku yang membuat tubuhnya remuk. Namun, sisi ranjang di sebelahnya ternyata sudah kosong. Hanya ada bekas lekukan tubuh dan sisa aroma maskulin khas kayu gaharu dan daun mint milik Zaviar yang tertinggal pekat di atas bantal sutra. Arumi mengembuskan napas kasar. Ia bangkit perlahan dengan menahan rasa linu yang luar biasa, melilitkan selimut sutra ke tubuhnya yang penuh dengan mahakarya tanda merah keunguan, lalu melangkah setengah terseok-seok menuju kamar mandi mewah di sudut ruangan.
Guyuran air hangat di bawah pancuran sedikit membantu mengendurkan otot-ototnya yang menegang. Selama hampir tiga puluh menit di kamar mandi, Arumi memanfaatkan waktu untuk menyusun kembali ingatan semalam. Pikiran rasionalnya mulai bekerja. Meskipun tubuhnya dipaksa melayani hasrat posesif suaminya, telinganya sempat menangkap samar-samar suara derap langkah kaki di luar kamar menjelang subuh. Zaviar pasti benar-benar pergi ke ruang bawah tanah setelah memastikannya tertidur pulas. Interogasi terhadap Danu, si pelayan pengkhianat, pasti sudah selesai dilaksanakan tanpa keterlibatannya. Rasa penasaran tentang sosok 'bos besar' ketiga yang mendanai aksi bom Calista mulai menggelitik insting detektif jalanannya.
🤭🤭🤭🤭
lanjut kak...
ada judul baru kak???
hihihu