Sebuah trauma kelam di usia dua belas tahun mengubah hidup Lova sepenuhnya. Sejak kejadian mengerikan itu, ia menderita fobia akut yang membuatnya ketakutan setengah mati, bahkan hanya untuk sekadar berdekatan atau disentuh oleh seorang pria. Baginya, semua pria adalah ancaman.
Sampai akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Arnold, seorang psikiater genius dengan reputasi mentereng. Berbeda dengan pria lain, pembawaan Arnold yang sedikit gemulai justru memberikan rasa aman yang tak pernah Lova rasakan sebelumnya. Arnold menjadi satu-satunya pria di dunia ini yang bisa menyentuh kulit Lova tanpa memicu kepanikannya.
Demi menyembuhkan trauma Lova secara total dan sah di mata hukum, Arnold mendesak sebuah keputusan nekat: *Pernikahan Medis*.
Sebuah pernikahan yang menutupi alasan sebenarnya, menikahi wanita penuh trauma bahkan tak dicintai.
Bagaimana kedok psikiater pecinta lagu India ini? Apakah ia berhasil menyembuhkan Lova? Atau ia sendiri terjebak dalam rencana yang ditutup rapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Jebakan Gigolo
Lova di dalam kamar, mulai menyadari rumah ini begitu sepi. Biasanya, meski di dalam kamar, ia masih merasakan kehadiran pria itu di luar kamarnya. Namun, penthouse ini benar-benar hening. Tak ada desisan pelan lagu India. Tak ada dentingan gelas atau apa pun di luar sana.
Dengan cepat Lova mengusap mata bergerak lambat dan ragu turun dari ranjang. Sejenak, ia ingin kembali ke atas tempat tidur itu memilih tak peduli. Namun, keheningan ini sungguh terasa mencekam.
Lova menarik gagang pintu perlahan. Ternyata, lampu masih menyala terang benderang. Perlahan ia menyusuri koridor menuju ruang tengah dan dapur. Tak satu pun tanda-tanda keberadaan sang suami.
Lova memutar badan menuju ruang tamu. Juga tak ada siapa-siapa. Akhirnya, ia menuju pintu kamar Arnold yang tepat berada di depan pintu kamarnya.
tok
tok
tok
Perlahan ia mengetuk, takut Arnold merasa terganggu.
"Kak ..."
Tak ada sahutan. Hening yang mencekam terasa semakin membuatnya takut.
"Kak Arnold?"
"Kak..." panggil Lova lagi, suaranya terdengar cicit dan bergetar di tengah keheningan koridor penthouse yang sunyi. Ia menempelkan telinganya ke daun pintu kayu yang kokoh itu, mencoba menangkap suara sekecil apa pun dari dalam sana.
Mungkin suara helaan napas, gemerisik selimut, atau gerakan sekecil apa pun yang menandakan suaminya ada di dalam. Namun, hasilnya nihil. Kamar Arnold sama sepinya dengan ruangan lain di rumah ini.
Dengan tangan yang sedikit dingin dan gemetar, Lova memberanikan diri menekan gagang pintu kamar Arnold perlahan. Jantungnya berdegup kencang, bersiap jika pintu itu terkunci atau jika ia akan mengejutkan pria itu.
*Klek.*
Pintu tidak dikunci. Lova mendorongnya sedikit, membiarkan celah cahaya dari koridor menerangi sebagian isi kamar.
Kamar itu rapi, terlalu rapi. Tempat tidurnya masih tersusun sempurna tanpa kerutan sedikit pun. Tidak ada Arnold di sana. Wangi parfum khas maskulin berbaur aroma terapi yang biasa menguar dari tubuh pria itu pun terasa samar, seolah sang pemilik sudah pergi sejak lama.
Lova mundur satu langkah, perlahan menutup kembali pintu kamar tersebut. Dadanya terasa semakin sesak, bukan lagi karena sisa fobianya, melainkan oleh rasa asing yang mendadak mencekik lehernya.
Pria itu benar-benar pergi meninggalkannya. Arnold melaju membelah malam tanpa sepatah kata pun penjelasan, membiarkan Lova tenggelam dalam kehampaan di tempat yang asing ini.
Lova menyandarkan punggungnya di dinding koridor, menatap lurus ke arah ruang tengah yang terang benderang namun mati.
"Kenapa aku ditinggal sendiri tanpa pamit?" Lova terduduk lemas di atas sofa. Menyadari dirinya terperangkap dalam pernikahan dengan pria yang tak ia kenal sama sekali.
...****************...
Pada club malam sebelumnya, setelah cukup lama menunggu, akhirnya orang-orang yang tadi duduk menemani Arnold, turun ke dance floor untuk menari mengikuti alunan musik DJ.
"Mumpung lagi begini, kenapa gak kita uji aja?" ucap Teddy bangkit, merasa memiliki satu kesempatan yang harus segera ia manfaatkan.
Teddy melirik seluruh sisi club tersebut. Dan ia menemukan seorang target yang terlihat sendirian merenung. Teddy dan Leticya saling bertatapan, dan bibirnya menyemburkan senyum licik. Dengan satu anggukan, mereka mendekatinya.
"Hey, kau! Bisa mendekati orang itu?" Teddy menunjuk ke arah Arnold yang tampak duduk terkulai karena mabuk.
Orang itu sedikit tersentak. Namun, sejenak bibirnya tersenyum tipis. "Sebenarnya langganan gue bukan pria. Tapi, jika lu bisa bayar gue dengan mahal, akan gue lakuin."
Tanpa basa basi, Teddy mengeluarkan lembaran uang berwarna merah yang sangat tebal, membuat mata Leticya ikut terbelalak melihat jumlahnya. Lalu menyerahkan pada pemuda itu.
"Suka tak suka, gue hanya butuh lu dekatin dia!" perintah Teddy, dingin.
Pemuda itu mencium segepok uang itu dan beralih pada Arnold. Dengan langkah pasti mendekat dan duduk di samping Arnold.
"Hay, sendirian?" sapa pemuda yang bekerja sebagai pria bayaran itu.
Arnold membuka mata melirik orang yang tak dikenalnya itu. "Hmmff," lengusnya seolah tak peduli.
Di satu sisi, Teddy dan Leticya telah siap dengan kamera handphone-nya.
"Sendirian, Bang?" ucap pemuda bayaran itu.
"Hmmmf ... Siapa kau?" tanya Arnold mendelik.
"Aku lihat, kamu sendirian aja? Mau aku temani?"
Arnold berusaha memfokuskan pandangannya yang mengabur, menatap pemuda asing yang tiba-tiba bergeser semakin intim ke arahnya. Aroma parfum yang menyengat dari pemuda itu justru membuat kepala Arnold semakin berdenyut pening.
"Temani?" Arnold mendengus hambar, bibirnya tersenyum miring dengan sisa-sisa kesadaran yang hampir habis. "Gak usah ... menjauhlah! Kau salah target!"
Pemuda bayaran itu melirik sekilas ke arah pojok club, memastikan kamera ponsel Leticya sudah membidik ke arah mereka. Sesuai instruksi Teddy, pria itu sengaja mengulurkan tangannya, mencoba merangkul pundak tegap Arnold dengan gerakan yang sengaja dibuat terlihat mesra dari kejauhan.
"Jangan pusing-pusing dong, tampan. Sini cerita sama aku..." rayu pria itu sengaja mendekatkan wajahnya ke telinga Arnold.
Sementara di balik pilar, Leticya menahan napas puas sembari terus merekam momen tersebut. "Dapat! Sudut kemiringannya pas banget, Ted! Kalau video ini dikirim ke Lova, dia pasti langsung mikir suaminya lagi main gila sama cowok di club!" bisik Leticya dengan mata berbinar penuh kemenangan.
Teddy yang berdiri di sampingnya mengepalkan tangan kuat-kuat, matanya memancarkan kepuasan yang dingin.
'Nikmati malam terakhirmu sebagai pahlawan, Dokter Arnold. Besok pagi, Lova akan tahu pria menjijikkan seperti apa yang sudah dia nikahi,' batin Teddy bergejolak puas.
Namun, tepat saat pemuda bayaran itu hendak bersandar lebih intim di dada Arnold, pria itu tersentak. Bayangan wajah Lova yang menangis di dalam mobil tadi siang tiba-tiba melintas di benaknya, membuat dirinya sedikit tersadar dari pengaruh alkohol.
Dengan sisa tenaga yang ada, Arnold mendorong kasar pemuda itu hingga membuatnya terjatuh ke lantai.
"Heh! Jauh-jauh! Jangan pegang-pegang! Kau pikir saya suka lelaki!?" bentak Arnold refleks dengan nada yang meninggi, membuat pria bayaran itu langsung terkesiap mundur.
"Ampun ... ampun ...." ucap pemuda itu beranjak ke arah Teddy dan Leticya.
Arnold berusaha sepenuhnya untuk fokus dan mulai mengetahui dalang kedatangan gigolo itu.
*bersambung*
kalau memang kamu udah ga bisa sembuhin lova
lepas aja lah🥹
judulnya terapi cantik ku yg rupawan
itu aja Thor
gemulai mah... terlalu klise😍😍
jadi bayangin
aduuh ternoda dah pikiran aye cyiiin🤣🤣🫣
lova si udah mulai sembuh
ga terlalu perlu lu juga si...
tapi gimana yaaa???
keplak kali palanya biar balik normal🤣🤣
cyiin nya diilangin🫣🤣🤣
geplak lagi ninpake anduk
vote otw ka😍
kyk korban pelecehan
🫣🤣🤣🤣