NovelToon NovelToon
Si Cantik Milik Ketos Sadis

Si Cantik Milik Ketos Sadis

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Ketos / Diam-Diam Cinta
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: Filanina

Yasmin adalah definisi dari kepolosan yang berbahaya. Kecantikannya yang luar biasa justru menjadi magnet bagi perundungan di sekolah. Dia tidak butuh pahlawan berkuda putih; dia hanya butuh cara untuk bertahan hidup.

​Lalu hadirlah Vyan. Ketua OSIS sempurna dengan senyum ramah yang mematikan.

​Bagi Vyan, membalas dendam tidak perlu menggunakan otot. Dia tidak memukul, dia tidak berteriak. Dia hanya berbisik, menyusun skenario, dan menghancurkan reputasi musuhnya hingga mereka memohon ampun di bawah kakinya. Dia genius, dia bermuka dua, dan dia... sadis.

​Vyan telah memagari Yasmin dengan otoritasnya. Siapa pun yang berani menyentuh Yasmin, harus siap menghadapi "pelajaran" dari sang Ketua OSIS yang tidak mengenal kata maaf.

​Namun, di tengah perlindungan gelap itu, muncul Ray—sang atlet populer yang menawarkan kehangatan tulus, dan Dean—masa lalu yang kembali dengan sejuta rahasia.

​Apakah Vyan benar-benar mencintainya, atau Yasmin hanyalah pion dalam skenarionya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Filanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 Hati yang Patah

Zia melangkah ragu memasuki gudang, mengikuti punggung tegap Vyan. Ruangan itu pengap dan berantakan; tumpukan meja kursi rusak serta lemari-lemari tua yang pintunya menganga menciptakan suasana yang semakin menekan batin.

​"Kotor sekali. Barang-barang Keputrian disimpan di lemari ini, ya?" gumam Zia sambil menghampiri sebuah lemari di sudut. Langkahnya terhenti saat matanya menangkap sebuah benda yang sangat ia kenali. "Guci ini..."

​Vyan tersentak. Sesuatu yang ia simpan rapat-rapat mendadak terekspos. "Zia, lihat!" seru Vyan, mencoba mengalihkan perhatian. "Arsip-arsip Keputrian masih ada di sebelah sana."

​Zia sempat menoleh ke arah yang ditunjuk Vyan, namun hatinya tetap terpaku pada benda di dalam lemari. "Oh, guci ini ya?" ucap Vyan datar. Ia mengulurkan tangan, meraih guci tersebut.

​Tiba-tiba, Prang!

​Guci itu terlepas dari tangan Vyan, menghantam lantai beton dan pecah berkeping-keping di bawah kaki mereka. Zia tersentak kaget. Ia menunduk menatap pecahan keramik itu, lalu beralih menatap Vyan dengan tatapan tak percaya.

​"Kayaknya tangan gue licin," ucap Vyan tanpa ekspresi. "Tapi itu cuma guci jelek."

​Mereka berdua berjongkok bersamaan untuk memungut pecahannya. 'Apa maksudnya? Ini sih sengaja. Gue tahu ini sengaja. Guci ini...?' batin Zia berteriak. Ia memungut sebuah pecahan besar. "Ini guci ZiVy, ya?" tebaknya, meski ia sudah tahu jawabannya. Di pecahan itu, masih terlihat jelas goresan huruf "Vy".

​"Benar juga. Ini huruf Zi-nya," sahut Vyan sambil memperlihatkan pecahan lain yang ia pegang. "Bagaimanapun, ini cuma barang gagal."

​Zia mencoba menyatukan dua pecahan berbeda di tangannya. Tampaklah gambar seekor burung yang mulai retak. Zia teringat momen delapan bulan lalu. Saat itu, Agil mengejek buatan mereka karena bentuknya yang miring.

​"Guci miring begini, mending dibuang saja ya?" celetuk Agil kala itu.

​"Sembarangan lo ngomong!" balas Vyan riang. "Guci ini tetap bakal kita gambari karena ini bikinan gue sama Zia. Benar kan, Zi?"

​Zia tersenyum teringat betapa antusiasnya mereka saat itu. "Gimana kalau guci ini kita namai ZiVy? Karena pembuatnya Zia dan Vyan," usul Zia. Dan Vyan menyetujuinya dengan sorak gembira.

​Kini, melihat pecahan itu di tangan Vyan, Zia merasa sesak. 'Rupanya Vyan ingin menghancurkan kenangan itu.'

​"Beberapa tembikar bagus ada di ruang OSIS," ucap Vyan seraya berdiri, memutus nostalgia singkat itu. Zia ikut berdiri dan meletakkan pecahan guci tersebut di atas meja tua dengan tangan gemetar.

​"Vyan, waktu itu..." Zia memulai, tapi lidahnya mendadak kelu saat melihat tatapan dingin Vyan. Ia segera mengubah kalimatnya, "Waktu itu Keputrian bisa terkenal dan sukses. Apa sekarang kesuksesan itu bisa kembali ya?"

​"Tergantung usaha lo saja," jawab Vyan singkat.

​Zia terdiam. 'Nggak bisa. Gue nggak bisa membahas masa lalu dan meminta maaf lagi. Gue takut kalau membicarakannya, Vyan kembali marah.'

​"Oh ya, ini kuncinya. Lo mungkin mau lihat-lihat dulu. Gue pergi duluan. Ntar kembaliin sendiri kuncinya ke Pak Arsa." Vyan menyerahkan kunci itu lalu berbalik keluar.

​Zia hanya bisa menatap punggung itu menghilang di balik pintu. Pertahanannya runtuh. Air mata mulai membasahi pipinya. 'Dia pergi begitu saja. Nggak mungkin bisa kayak dulu lagi. Vyan... sekarang dia begitu dingin ke gue. Maafin gue, Vyan. Jangan perlakukan gue seperti ini.'

​Di luar, Vyan melangkah pergi dengan perasaan campur aduk. 'Mudah-mudahan dia tidak menyadarinya,' batinnya.

​Vyan teringat bagaimana ia dulu selalu memandangi dan memegang guci itu untuk mengobati rindunya pada Zia. Baru sebulan yang lalu ia memutuskan membuangnya ke gudang—tepat saat ia pertama kali bertemu Yasmin. Namun, meski sudah "dibuang", Vyan sering kali diam-diam datang ke gudang ini hanya untuk melihatnya.

​Vyan menerawang jauh. Gudang ini sebenarnya adalah bukti cintanya untuk Zia. Dulu, ia berjuang setengah mati membujuk guru dan kepala sekolah agar Keputrian punya ruangan sendiri. Ia sangat bahagia saat izin itu keluar, membayangkan betapa gembiranya Zia menerima kejutan darinya. Namun, malah dia sendiri yang mendapat kejutan dari Zia.

​Kini, ruangan yang dulu ia siapkan sebagai hadiah kemenangan cinta, justru menjadi tempat ia menghancurkan sisa-sisa kenangannya sendiri.

Zia masih menangis di gudang belakang. Dia teringat ketika dia kembali ke Cirebon. Pertemuannya dengan Edo tidak semenyenangkan yang dia kira sebelumnya. Bayangan Vyan tidak pernah mau pergi dari benaknya. Zia tersiksa dan membuat hubungannya dengan Edo semakin hambar. Edo menyadarinya dan akhirnya Zia berterus terang kalau perasaannya sudah berubah. Sekarang dia tidak bisa sesaat pun berhenti memikirkan Vyan.

Ternyata Edo tidak marah. Dia malah menyuruh Zia kembali ke Jakarta. Edo bilang, mungkin perasaannya ke Zia juga cuma perasaan waktu anak-anak. Edo tidak mau melihat wajah Zia yang selalu tersiksa di tempat itu.

Terdengar dering telepon. Zia segera mengangkatnya.

"Zia, gimana kabarnya di sana? Kamu berhasil menyatakan perasaanmu pada Vyan?"

Di tengah debu dan kesunyian gudang itu, suara Edo di seberang telepon terasa seperti embusan angin dari masa lalu yang kini benar-benar telah berlalu. Zia menyandarkan punggungnya pada lemari tua, membiarkan tubuhnya merosot hingga terduduk di lantai yang dingin.

​"Vyan sudah punya pacar..." Kalimat itu keluar dari bibir Zia dengan nada paling getas yang pernah ia miliki. Pengakuan itu terasa lebih nyata sekarang, setelah ia melihat langsung pecahan guci "ZiVy" di bawah kaki Vyan tadi.

​"Jadi, kamu menyesal kembali?" tanya Edo. Nada suaranya tenang, tipe ketenangan yang dulu membuat Zia merasa nyaman, namun kini terasa jauh.

​"Tidak. Tidak apa-apa. Di sini setidaknya aku bisa melihatnya," jawab Zia pelan. Ia menatap nanar ke arah tumpukan barang Keputrian. Benar apa yang dikatakannya; melihat Vyan yang dingin jauh lebih baik daripada tidak melihatnya sama sekali dalam kerinduan yang membunuh di Cirebon.

​"Baiklah kalau begitu. Aku hanya khawatir. Aku dan Yunita sudah jadian..."

​"Selamat ya!" Zia mencoba memberikan keceriaan dalam suaranya, dan anehnya, ia tulus. Kabar itu seolah melepaskan satu beban besar di pundaknya. Edo sudah melangkah maju. Edo sudah menemukan bahagianya. Kini tinggal ia sendiri yang masih terjebak di antara puing-kenangan.

​"Kamu... harus tetap mengatakannya. Tidak peduli dia sudah punya pacar sekalipun..."

​Zia terdiam. Air matanya kembali berlinang, jatuh membasahi seragamnya. Kalimat Edo barusan adalah sebuah dorongan sekaligus siksaan. Mengatakannya? Bagaimana ia bisa mengatakannya saat Vyan bahkan tidak sudi menatap matanya lebih dari sedetik? Bagaimana ia bisa mengaku cinta pada pria yang sekarang sedang sibuk melindungi gadis lain dengan penuh kasih?

​"Edo... dia sangat membenciku," bisik Zia hampir tak terdengar.

​"Benci itu hanya sisi lain dari cinta yang terluka, Zia. Kamu lebih tahu itu daripada aku," sahut Edo sebelum mengakhiri sambungan telepon.

​Zia menutup ponselnya dan mendekap lutut. Di gudang ini, delapan bulan lalu, ia menolak Vyan dengan tawa karena rasa takutnya sendiri. Dan sekarang, di tempat yang sama, ia harus menelan kenyataan bahwa Vyan telah memberikan seluruh "kesempurnaan" yang dulu ia takuti itu kepada Yasmin.

...****************...

Suasana di mall itu cukup ramai, namun Dean berjalan dengan langkah lebar dan terburu-buru, seolah-olah ia sedang mengejar sesuatu yang tak kasat mata. Di belakangnya, Reka mulai kewalahan. Langkahnya yang pendek dipaksa mengikuti kecepatan Dean hingga akhirnya ia menyerah dan berhenti.

​"Dean, tunggu!" seru Reka kesal.

​Dean menghentikan langkahnya dan menoleh. Reka segera menyusul dengan wajah cemberut dan napas yang sedikit memburu.

​"Kakiku sakit. Jangan cepat-cepat dong. Ini kan kencan," keluh Reka.

​"Maaf," ucap Dean singkat, nada suaranya datar tanpa emosi.

​Reka segera menggelayuti lengan Dean, mencoba mengembalikan suasana romantis yang ia dambakan. Mereka melangkah masuk ke dalam sebuah kafe yang cukup tenang. Namun, begitu mereka duduk, pikiran Dean tampak melayang jauh dari meja itu.

​"Gimana kabar Yasmin di kelas?" tanya Dean tiba-tiba.

​Reka menghela napas, mencoba menahan kekesalannya. "Baik. Apalagi setelah orang-orang tahu kalau dia sekarang pacarnya Kak Vyan," jawab Reka sambil memaksakan senyum, meski hatinya terasa perih menyadari Dean masih saja menanyakan gadis itu.

​"Ya, sepertinya memang begitu," gumam Dean.

​Pelayan datang mengantarkan pesanan mereka. Sepanjang sesi makan, keheningan yang canggung menyelimuti meja itu. Dean lebih banyak menunduk, mengaduk minumannya dengan pandangan kosong.

​"Kamu mikirin apa sih?" tanya Reka, sudah tidak tahan dengan sikap cuek Dean.

​"Nggak..."

​"Tapi Dean, dari tadi kayaknya pikiranmu nggak di sini. Padahal kita kan lagi kencan."

​"Iya. Ini masalah sekolah. Masalah ekskul Keputrian," Dean mulai mencari alasan. "Kak Zia ingin membuka kembali pendaftaran anggota baru dan menginginkan ruangan khusus, tapi Kak Vyan..."

​"Sudah deh. Jangan ngomongin masalah sekolah di sini," potong Reka cepat. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. "Lihat, sekarang hampir jam empat. Gimana kalau kita nonton dulu?"

​"Reka, akhir-akhir ini pelajaranku juga agak kacau karena banyak kegiatan OSIS."

​"Ah, masa! Dean kan pintar," Reka mencoba membujuk.

​"Sekarang ini..."

​"Kamu suka film apa?"

​"Aku nggak bisa ngatur waktu dengan baik, Reka."

​"Gimana kalau film Spiderman?"

​Dean meletakkan sendoknya. Ia menatap Reka dengan sorot mata yang dingin namun penuh beban. "Maaf Reka. Aku nggak punya banyak waktu buatmu. Kayaknya aku nggak bisa pacaran kalau begini. Aku nggak mau kegiatan di sekolah terganggu."

​Reka tertegun, hatinya mencelos. "Kalau memang lagi sibuk nggak apa-apa. Aku bisa menunggu."

​"Jangan," sergah Dean. "Aku nggak mau menjadi beban buatmu dengan membuatmu menunggu. Kamu bebas memilih siapa saja. Kita... sampai di sini saja."

​Dunia Reka seolah runtuh seketika. "Dean, kamu tega sekali! Jahat!" Reka menatap Dean dengan mata yang mulai memerah.

​Dean segera memalingkan muka. Ia tidak tahan melihat tatapan terluka itu, meski di dalam hati ia merasa ini adalah jalan satu-satunya. Ia sudah tidak memerlukan Reka lagi. Sekarang Yasmin sudah aman dalam perlindungan Vyan, ditambah lagi ada Tegar dan Dhini yang menjaga Yasmin di kelas. Kehadiran Reka sebagai "pengalih perhatian" sudah tidak ada fungsinya lagi.

​Air mata Reka mulai berjatuhan. Tanpa sepatah kata lagi, ia berdiri dan berlari keluar dari kafe itu. Dean tetap termenung di kursinya, menatap meja kosong di depannya dengan kesedihan yang janggal.

​'Maaf...' batin Dean. Ia tahu ia pengecut, tapi melepaskan Reka adalah caranya untuk kembali fokus pada kegelisahan hatinya sendiri—meski Yasmin kini sudah bukan miliknya lagi.

1
Cimol krispy
di sini korban sesungguhnya ya Yasmin. dia cuma di jadikan alat oleh Vyan untuk membalas sakit hatinya ke Zia. whatever kalau memang Vyan beneran suka ke Yasmin, yang jelas sekarang aku kesal sama Vyan. tingkah lakunya antagonis, tapi nyatanya dia protagonis nya, huhuhuhu
Filan: Dia adalah masalah bagi dirinya sendiri ☺
total 1 replies
Cimol krispy
kalian berharap apa, Yasmin dan Zia jambak²an kah🤭
Cimol krispy
Pinter banget emang di Vyan ini memanfaatkan keadaan
Cimol krispy
Mulai playing victim
☠️⃝ MULIANA ѕ⍣⃝✰
yasmin kamu memang bodoh. tapi, kali ini aku akui kamu benar-benar sangat amat bodoh /Proud/
☠️⃝ MULIANA ѕ⍣⃝✰
gak suka sama vyan /Sob/ kasihan yasmin
Miu.Nuha
yaa sesadis itu ternyata Vyan...
kalau gk ad yg nyadarin bisa keblalasan tuh...
Filan: kita siksa aja ya di akhir si Vyan biar dapat balasan setimpal gitu 🤣
total 1 replies
Miu.Nuha
lah, tiba2 menang /Sweat/
gk ada angin gk ada ujan, masuk sekolah pun enggak... aneh betul...
Filan: Iya...
total 3 replies
Miu.Nuha
nangis dulu deh Ray, move on belakangan 😆
Miu.Nuha
mungkin Agil adalah saksi kedekatan vyan dn Zia 🤔🤔 ,, gimana Gil? siapa yg belencek?
Miu.Nuha
kencan apa main 🤭
Miu.Nuha
emang zia cinta sama vyan /Drowsy//Drowsy//Drowsy/
Xlyzy
wkwkwk gimana gimana rasa nya sesak ga tuh hati🤭
Xlyzy
gimana gimana kaget kn kok bisa🤭
Xlyzy
wah mana aci masak masuk jurang ngajak ngajak
Three Flowers
Yasmin jadi tercemar dong namanya...gak marah tuh?
Three Flowers
salting di depan ayang
Three Flowers
waduh bu Dinda beneran jatuh cinta
Three Flowers
jangan jatuh cinta, Bund
Three Flowers
untung pak Yoga peka😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!