NovelToon NovelToon
Pergi Sakit Bertahan Sulit

Pergi Sakit Bertahan Sulit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Rahayu

Cinta adalah anugerah... tapi bagaimana jika cinta harus kamu berikan pada orang lain?

Aletta syavira levania dan Dilan Wijaya Kusuma saling mencintai sejak SMA – cinta yang tumbuh perlahan seperti bunga di musim hujan. Namun ketika sahabatnya Tamara Amelia Siregar mengaku jatuh cinta pada Dilan untuk pertama kalinya, Aletta membuat keputusan berat, melepaskan orang yang dicintainya demi menyenangkan sahabatnya.

"Dia butuh kesempatan, aku mohon Dilan, aku jaminan kamu akan lebih bahagia sama dia." Ucapnya dengan nada yang memelas sampai Dilan pun tak tega untuk menolaknya

Untuk memenuhi janjinya, Aletta mencari cinta baru melalui media sosial dan bertemu Jonathan Adista sanjaya. Sementara itu, Dilan dengan berat hati menjalin hubungan dengan Tamara. Di depan orang lain, semuanya terlihat sempurna – dua pasangan yang harmonis dan bahagia. Namun di balik senyum dan candaan, setiap tatapan Aletta dan Dilan menyimpan rasa rindu yang tak bisa disembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Sejak kepergian Jonathan dan Fahri sore tadi, rumah Aletta terasa sepi dan membosankan. Biasanya ia bisa menyibukkan diri dengan berbagai hal, tapi entah kenapa hari ini rasanya waktu berjalan begitu lambat.

Pikirannya terus melayang ke mana-mana, kadang teringat pada rasa bersalah yang masih mengganjal di hatinya. Untuk mengusir rasa bosan sekaligus mengurangi kegelisahannya, ia pun mengajak Diego untuk mengerjakan laporan hasil kegiatan PKL mereka bersama-sama di rumah Silvia.

"Woi, kalian nggak ada kerjaan lain ya? Kok mendadak rame-rame mau ngerjain laporan di sini?" sapa Silvia sambil tertawa lebar saat membukakan pintu pagar rumahnya. Meski begitu, wajahnya terlihat senang sekali melihat kedatangan teman-temannya.

"Bosan di rumah, Silvi. Lagian laporan ini kan tugas kelompok, jadi lebih enak dikerjain bareng-bareng kan?" jawab Aletta sambil tersenyum masuk ke halaman rumah Silvia.

Namun, saat Aletta masuk dan melihat keadaan rumah Silvia dengan lebih jelas, senyumnya perlahan memudar. Dia baru menyadari sesuatu yang belum pernah dia perhatikan sebelumnya.

Rumah Silvia terlihat sangat sederhana, bahkan bisa dibilang sangat sederhana sekali. Dindingnya terlihat sudah tua dan ada bagian yang mulai retak, lantainya terbuat dari semen yang sudah usang, dan perabotan di dalamnya pun sangat sedikit dan sederhana sekali. Ruang tamunya sempit, dan sepertinya seluruh anggota keluarga Silvia tinggal di rumah yang tidak terlalu luas itu.

Aletta tertegun sejenak. Dia baru sadar selama ini dia tidak pernah tahu kondisi ekonomi keluarga Silvia. Dia selalu melihat Silvia yang ceria, selalu tertawa, selalu semangat, dan selalu tampak rapi serta bersih ke mana pun mereka pergi. Dia tidak pernah menyangka bahwa kehidupan Silvia ternyata serba kekurangan dan sederhana sekali.

Namun, yang membuat Aletta semakin kagum adalah sikap Silvia sendiri. Gadis itu sama sekali tidak terlihat sedih, malu, atau mengeluh sedikit pun. Dia menyambut mereka dengan keramahan yang luar biasa, menyiapkan minuman dan makanan seadanya dengan senyum tulus di wajahnya.

"Mari diminum ya, maaf kalau cuma air teh hangat dan gorengan buatan Ibu. Anggap saja di rumah sendiri," kata Silvia ramah.

"Terima kasih banyak ya, Silvi... Maaf ya kita jadi merepotkan mana gak bawa makam lagi," ucap Aletta dengan nada lembut dan penuh rasa hormat.

"Eh, ngomong apa sih loh? Nggak merepotkan kok, malah gue seneng banget teman-teman mau main ke sini. Rumah gue emang kecil dan sederhana, tapi asal hati kita luas kan rasanya tetap nyaman dan bahagia," jawab Silvia santai sambil tersenyum lebar.

Di tengah obrolan dan kesibukan mengerjakan laporan, Aletta perlahan mengetahui kisah kehidupan Silvia yang sebenarnya. Ayahnya hanya bekerja sebagai buruh harian lepas dengan penghasilan yang tidak menentu, dan ibunya berjualan kue keliling untuk membantu perekonomian keluarga.

Meski demikian, Silvia dan kakanya tidak pernah mengeluh. Mereka selalu bersyukur dengan apa yang mereka miliki, selalu saling menyayangi, dan selalu berusaha sekuat tenaga untuk meraih cita-cita agar kehidupan mereka menjadi lebih baik di masa depan.

"Dulu aku sempat sedih dan iri melihat teman-teman yang hidupnya enak, rumahnya bagus, barang-barangnya lengkap. Tapi lama-lama gue sadar... Kekayaan dan kemewahan itu nggak menjamin kebahagiaan. Selama kita sehat, berkecukupan, dan dikelilingi orang-orang yang menyayangi kita, itu sudah harta yang paling mahal di dunia. Gue bersyukur sekali dengan hidup ini, karena gue punya orang tua yang hebat dan teman-teman yang baik seperti kalian," cerita Silvia dengan nada tulus dan penuh rasa syukur.

Mendengar itu, hati Aletta terasa tersentuh dan tergugah sangat dalam. Dia merasa seperti mendapatkan pelajaran hidup yang sangat berharga hari ini. Selama ini dia sering merasa kurang, sering mengeluh, atau merasa sedih karena hal-hal sepele. Padahal di luar sana masih banyak orang yang kehidupannya jauh lebih sulit darinya, tapi mereka tetap bisa tersenyum dan bersyukur dengan bahagia.

Aletta merasa sangat malu sekaligus sangat kagum pada Silvia. Dia belajar bahwa kebahagiaan itu datang dari hati yang puas dan bersyukur, bukan dari harta yang melimpah.

"Terima kasih banyak ya, Silvia... Loh mengajarkan gue hal yang sangat penting hari ini. Gue jadi sadar betapa beruntungnya gue, dan betapa bodohnya gue kalau masih sering mengeluh," kata Aletta tulus.

Silvia hanya tersenyum dan menepuk bahu temannya itu lembut. "Kita saling belajar ya, Al. Kita semua punya cobaan dan jalan hidup masing-masing kan?"

Waktu berlalu begitu cepat saat mereka sedang asyik mengobrol dan mengerjakan tugas. Tanpa terasa hari sudah mulai sore, dan langit di luar mulai terlihat gelap dan mendung pekat. Aletta dan Diego pun berpamitan untuk pulang karena hari semakin sore.

"Kami pulang dulu ya, Silvia, Makasih banyak atas semuanya. Sampai ketemu lagi," pamit Aletta sambil memeluk Silvia sebentar.

"Hati-hati di jalan ya semua! Nanti kalau ada waktu, main lagi ya," jawab Silvia melambaikan tangan.

Mereka berdua pun berangkat menaiki sepeda motornya. Namun, baru saja mereka menempuh perjalanan sekitar sepuluh menit, langit yang tadinya gelap tiba-tiba berubah menjadi sangat hitam dan mengerikan.

Angin bertiup kencang, meniup debu dan daun-daun kering berputar di jalanan. Tak lama kemudian, terdengar suara guntur yang menggelegar membelah langit, disusul kilat yang menyilaukan mata. Dan tidak berapa lama, air hujan turun dengan sangat deras, seolah langit sedang menumpahkan seluruh isinya ke bumi.

"Ya ampun! Hujannya deras banget, cepat kita berteduh dulu!" teriak Diego dari belakang karena suaranya hampir tidak terdengar oleh suara hujan dan angin yang keras.

Mereka pun segera mencari tempat berteduh. Di pinggir jalan itu, mereka melihat sebuah warung kecil penjual es kelapa muda. Warung itu terlihat sepi dan agak tua, atapnya terbuat dari daun rumbia dan dindingnya terbuat dari papan kayu. Karena tidak ada pilihan lain, mereka segera memarkirkan kendaraan mereka di sana dan berlari masuk ke bawah atap warung itu.

Suasana di sekitar mereka terasa sangat gelap dan mencekam. Langit yang hitam pekat membuat suasana menjadi seperti malam hari, padahal baru pukul empat sore.

Angin bertiup makin kencang, membuat atap warung itu berbunyi berderit ketakutan, dan pohon-pohon kelapa di sekitarnya bergoyang liar seolah mau tumbang. Suara guntur dan kilat terus bersahut-sahutan, membuat cahaya di sekitar mereka menyala dan padam secara bergantian dengan cepat.

"Ya Tuhan... menyeramkan banget suasananya ya," bisik Aletta sambil memeluk kedua lengannya erat-erat. Dia merasa agak takut melihat pemandangan yang mengerikan itu, terlebih lagi tempat itu terlihat sepi dan agak jauh dari pemukiman penduduk.

"Iya juga sih... Hujannya lebat banget, sepertinya bakal lama reda nih," jawab Diego sambil mengusap air hujan di wajahnya.

Di waktu yang bersamaan, di rumahnya, Jonathan terlihat gelisah sekali. Pikirannya terus memikirkan Aletta yang tadi pagi pamit akan pergi ke rumah Silvia bersama Diego.

Biasanya Aletta akan memberinya kabar atau menelepon jika sudah sampai atau akan pulang, tapi hari ini sudah sore dan dia belum mendengar kabar apa pun dari kekasihnya.

"Kenapa belum pulang juga ya? Hujannya kan deras banget sekarang... Jangan-jangan mereka terjebak di jalan atau terjadi sesuatu," batin Jonathan cemas tak karuan. Dia sudah mencoba menelepon berkali-kali, tapi nomor Aletta tidak bisa dihubungi karena jaringan yang buruk akibat hujan dan petir.

Tidak tahan lagi dengan rasa khawatirnya, Jonathan akhirnya memutuskan untuk menyusul dan menjemput Aletta. Dia segera menaiki sepeda motornya, mengenakan jas hujan, dan menerobos derasnya hujan demi memastikan keselamatan kekasihnya. Dia menyusuri jalanan yang biasa dilewati Aletta, matanya meneliti setiap sudut jalan berharap bisa melihat gadis itu.

Hingga akhirnya, dari kejauhan dia melihat sepeda motor terparkir di depan warung es kelapa itu. Jantungnya berdegup kencang, dia segera memarkirkan motornya dan berlari mendekat. Namun, saat dia sampai di sana dan melihat pemandangan di depannya, darahnya seolah mendidih dan hatinya terasa sangat perih dan kesal.

Di sana, dia melihat Aletta yang tampak kedinginan dan menggigil kedinginan. Dan di sampingnya, ada Diego yang sedang tersenyum lembut, sedang dengan santainya dan dengan sengaja mengenakan jaket tebal miliknya ke tubuh Aletta.

Tangan Diego seolah sengaja menyentuh bahu dan lengan Aletta saat memakaikan jaket itu, dan wajah Diego terlihat sangat senang seolah sedang mendapat kesempatan emas untuk mendekati gadis itu.

"Pakai ini dulu ya, biar kamu nggak kedinginan lagi," terdengar suara Diego yang lembut dan ramah.

"Terima kasih banyak ya, Diego... Loh baik sekali," jawab Aletta dengan nada polosnya, tidak menyadari apa yang sedang dilakukan Diego itu sebenarnya adalah cara dia mencari perhatian atau memanfaatkan momen itu.

Melihat itu, rasa cemburu dan amarah yang sudah lama disimpan di hati Jonathan akhirnya meledak. Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. Matanya menatap tajam ke arah Diego dan Aletta.

Dia merasa sakit sekali melihat kekasihnya dirawat, dijaga, dan didekati oleh laki-laki lain dengan cara yang terlihat begitu akrab dan mesra di matanya. Terlebih lagi dia tahu betul bahwa Diego menyukai Aletta dan selalu berusaha mendekatinya.

"Kalian di sini rupanya," kata Jonathan dengan suara dingin dan nada yang tidak bersahabat, membuat mereka berdua kaget dan menoleh ke arahnya seketika.

"Jo?! Kok kamu ada di sini?!" seru Aletta kaget sekaligus senang melihat kedatangan kekasihnya, meskipun dia bisa melihat wajah Jonathan yang tampak sangat marah dan kesal.

"Kenapa? Aku nggak boleh ke sini? Aku khawatir banget sama kamu, telepon nggak diangkat, nggak ada kabar. Ternyata kamu di sini lagi asyik-asyiknya ya," jawab Jonathan ketus, matanya masih menatap tajam ke arah Diego.

"Maaf, Jonathan... Tadi sinyalnya hilang semua karena hujan deras dan petir, makanya aku nggak bisa kabarin kamu," jelas Aletta dengan nada takut dan menunduk.

"Sudah ayo pulang! Hujannya sudah agak reda, nanti makin malam," perintah Jonathan singkat, lalu dia langsung menarik tangan Aletta menjauh dari Diego.

Sesampainya di rumah Aletta, suasana masih terasa tegang dan canggung antara mereka. Jonathan masih terlihat marah dan kesal, sementara Aletta terus berusaha menenangkannya dan meminta maaf. Namun, tiba-tiba Baskara, keluar dari dalam rumah dan menyambut kedatangan mereka.

"Eh, sudah pulang rupanya. Gimana perjalanan tadi? Hujannya deras sekali kan?" sapa Baskara ramah.

"Iya, ayah. Untung saja kami selamat sampai di rumah," jawab Aletta.

Lalu, Baskara menoleh ke arah Diego yang ikut mengantar mereka sampai ke depan rumah. Wajah Baskara terlihat berpikir sejenak, lalu dia berkata dengan nada tegas dan serius.

"Nak Diego... Bapak ada permintaan sama kamu ya. Mulai besok, Aletta kan sudah mulai bertugas di Puskesmas lagi kan? Jarak dari sini ke sana lumayan jauh dan jalannya agak sepi. Bapak khawatir kalau Aletta berangkat sendiri atau naik angkutan umum. Jadi Om minta tolong sama kamu, bisa tolong mengantar dan menjemput Aletta setiap hari ke sana dan pulangnya? Bapak percaya sama kamu, kamu anak yang baik dan sopan. Bapak tenang kalau Aletta bersama kamu," kata Baskara dengan tulus.

Mendengar permintaan itu, wajah Jonathan langsung pucat pasi. Rasanya seperti ada belati tajam yang menusuk tepat di jantungnya. Dia menatap Baskara dengan tidak percaya, lalu menatap Diego yang wajahnya langsung bersinar gembira dan tersenyum lebar mendengar tawaran itu.

"Tentu saja bisa, Om! Dengan senang hati saya melakukannya. Saya pasti akan menjaga dan mengantar Aletta dengan baik dan aman," jawab Diego antusias dan bangga sekali.

"Baguslah kalau begitu. Terima kasih banyak ya, Nak Diego," puji Pak Baskara senang.

Sementara itu, Meldi hanya bisa diam membatu. Dia ingin sekali bicara, ingin sekali bilang bahwa dialah pacar Aletta, dialah yang seharusnya mengantar dan menjemputnya, dialah yang berhak menjaganya.

Tapi dia sadar, dia tidak punya kendaraan sendiri yang bisa dipakai setiap hari, dan rumahnya agak jauh dari sini. Dia tidak bisa menolak permintaan Baskara, dia tidak bisa melarangnya, dan dia tidak bisa berbuat apa-apa selain diam dan menahan rasa sakit hati yang luar biasa di dadanya. Dia merasa sangat tidak berdaya dan tidak berguna di saat itu.

Dengan hati yang hancur, kesal, dan penuh rasa cemburu, Jonathan akhirnya berpamitan untuk pulang. Dia tidak sanggup berlama-lama berada di sana melihat Diego yang terlihat begitu bahagia dan puas.

Dia menaiki sepeda motornya dan melaju pulang dengan perasaan yang kacau balau. Pikiran dan perasaannya campur aduk menjadi satu.

Sampai di depan pagar rumahnya, Jonathan merasa ada yang aneh. Pintu rumah tidak terkunci rapat seperti biasanya, dan suasana rumah terasa sepi dan sunyi sekali. Dia masuk dengan langkah berat dan perlahan.

"Mah? Pah? Ada orang nggak?" panggilnya pelan, tapi tidak ada jawaban.

Saat dia masuk ke ruang tengah dan melirik ke arah kamar tidur orang tuanya, jantungnya seakan berhenti berdetak. Di lantai kamar itu, dia melihat sosok papahnya,Yuda, terbaring lemas di atas lantai keramik yang dingin. Tubuhnya kaku, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat dan sesak. Tidak ada Rinjani di sana, sepertinya dia sedang keluar rumah untuk urusan pekerjaan atau lain hal.

"Papah!!" teriak Jonathan histeris, rasa sedih dan kesalnya tadi seketika lenyap berganti dengan rasa panik dan ketakutan yang luar biasa. Dia segera berlari mendekat dan memegang bahu papahnya. "Papah, bangun papah! Apa yang terjadi sama papah?!"

Yuda membuka matanya perlahan dengan susah payah, menatap putra satu-satunya itu dengan pandangan yang lemah. "Jonathan"Jonathan... Papah..." suara Pak Yuda terdengar sangat lemah, serak, dan terputus-putus, seolah-olah setiap kata yang keluar membutuhkan tenaga yang luar biasa besar. Tangannya yang kurus dan dingin perlahan terangkat, mencoba meraih tangan putranya, namun jatuh kembali ke lantai karena ia tidak punya kekuatan lagi.

Darah Jonathan seolah berdesir hebat, seluruh tubuhnya gemetar ketakutan. Dia segera menjatuhkan diri berlutut di samping tubuh Yuda, memegang erat tangan yang terasa sedingin es itu. Air matanya langsung mengalir deras, membasahi pipinya yang masih terasa dingin terkena hujan tadi.

"Papah! Papah bertahan ya! Jangan bicara dulu, papah harus kuat! Jonathan bawa papah ke rumah sakit sekarang juga!" teriak Jonathan dengan suara yang pecah karena panik dan takut. Matanya menatap wajah Yuda yang terlihat sangat pucat, bibirnya membiru, dan napasnya terdengar berat serta pendek.

Jonathan tahu betul kondisi Yuda, penyakit ginjal yang dideritanya sudah lama, dan dokter sudah sering mengingatkan bahwa kondisinya sangat kritis dan butuh perawatan intensif. Tapi melihat Yuda terbaring tak berdaya seperti ini sendirian di rumah, hatinya terasa hancur berkeping-keping.

"Papah nggak apa-apa, Jonathan... Papah cuma merasa badan papah lemas sekali... Rasanya sakit di seluruh tubuh," bisik Pak Yuda pelan, matanya perlahan terpejam karena rasa sakit yang menyengat seluruh tubuhnya. "Maafkan papah ya, Nak... Papah menyusahkan kamu terus... Padahal kamu saja sudah banyak masalah..."

"Jangan bicara begitu, pah! Papah bukan menyusahkan aku! Papah adalah segalanya buat aku! Diam saja ya, jangan banyak bicara, simpan tenaga papah!" potong Jonathan cepat, dia berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang meskipun hatinya sedang hancur lebur.

Dia segera mengangkat tubuh papah nya dengan susah payah. Tubuh papah nya yang dulunya tegap dan kuat kini terasa ringan dan kurus kering, membuat hati Jonathan semakin perih.

Dengan napas yang memburu dan air mata yang terus mengalir, Jonathan memapah dan menggendong Yuda keluar dari rumah. "Tahan sedikit lagi ya, pah... Kita ke rumah sakit sekarang, nanti papah bakal sembuh, bakal sehat lagi," gumamnya berulang kali seolah menyemangati dirinya sendiri maupun ayahnya.

Dia menurunkan Yuda dengan hati-hati ke jok belakang sepeda motornya, lalu dia melesat memacu kendaraannya secepat mungkin menuju Rumah Sakit terdekat.

Di sepanjang perjalanan, pikiran dan perasaannya benar-benar kacau balau. Di satu sisi dia masih merasakan sakit hati yang luar biasa karena kejadian tadi—melihat Diego yang akrab dengan Aletta, mendengar keputusan Baskara yang meminta Diego mengantar jemput kekasihnya setiap hari, dan rasa tidak berdayanya sebagai seorang laki-laki yang seharusnya melindungi kekasihnya.

Namun di saat yang bersamaan, musibah menimpa keluarganya lagi. Yuda sakit parah, Rinjani yang jarang ada di rumah entah ke mana, dan dia harus menanggung semuanya sendirian lagi.

"Kenapa hidup gue begini terus ya Tuhan? Kenapa semuanya terasa berat sekali? Kenapa gue nggak pernah punya waktu untuk bahagia? Baru saja gue merasa sedikit tenang dan bahagia karena ada Aletta, masalah datang bertubi-tubi menimpa gue..." jerit hati Jonathan dalam tangisnya yang tertahan. Rasanya dia ingin sekali berteriak sekuat tenaga, rasanya dia ingin menyerah saja karena dia merasa tidak sanggup lagi memikul semua beban ini sendirian.

Sesampainya di Rumah Sakit, Jonathan langsung berteriak memanggil bantuan. "Tolong! Tolong papah saya! Cepat!"

Beberapa perawat dan dokter segera datang membawa tandu, memindahkan tubuh Yuda ke ruang gawat darurat dengan cepat. Jonathan hanya bisa berdiri di depan pintu ruangan itu, napasnya terengah-engah, keringat dingin bercampur air mata menetes membasahi wajahnya. Dia merosot duduk di kursi tunggu di depan ruang gawat darurat itu, memegang kepalanya yang terasa sangat pusing dan berat.

Dia mengambil ponselnya dengan tangan gemetar. Dia ingin sekali menelepon Rinjani, memberitahu apa yang terjadi. Tapi dia tahu betul Rinjani pasti sedang sibuk syuting atau pemotretan, pasti tidak akan mengangkat teleponnya, atau kalau pun diangkat hanya akan dijawab dengan tergesa-gesa dan dingin.

Akhirnya dia memutuskan untuk tidak menelepon Rinjani. Dia juga ingin sekali menelepon Aletta. Dia ingin mendengar suara gadis itu, ingin mendengar kata-kata penenang darinya, ingin sekali dipeluk dan diberi semangat.

Tapi saat dia melihat layar ponselnya, teringat kembali kejadian tadi sore, teringat kedekatan Aletta dengan Diego... Hatinya kembali terasa perih dan sakit.

"Untuk apa aku menelepon dia? Dia kan punya Diego sekarang. Dia punya orang lain yang bisa membuatnya bahagia, yang bisa menjaganya, yang bisa memberinya apa yang dia butuhkan. Sedangkan gue... Gue cuma laki-laki yang penuh masalah, miskin, lemah, dan nggak bisa ngasih apa-apa buat dia. Kalau gue cerita masalah ini, cuma bakal bikin dia susah dan pusing saja. Lagian... mungkin dia juga nggak terlalu peduli sama gue kayak gue peduli sama dia," batin Jonathan dengan getir dan rasa putus asa yang mendalam.

Akhirnya, dia mematikan ponselnya dan melemparkannya ke samping dengan kasar. Dia menangkupkan wajahnya ke kedua telapak tangannya dan menangis sejadi-jadinya di tempat yang sepi itu.

Menangisi nasibnya, menangisi Yuda, menangisi cintanya yang terasa begitu berat dan menyakitkan, dan menangisi hidupnya yang terasa begitu sepi dan sendirian.

Sementara itu, di rumahnya, Aletta sebenarnya sudah berulang kali mencoba menelepon dan mengirim pesan kepada Meldi. Dia merasa bersalah sekali dengan kejadian tadi, dia tahu Jonathan pasti sangat marah dan sakit hati.

Dia ingin sekali meminta maaf lagi, ingin menjelaskan bahwa dia sama sekali tidak bermaksud membuatnya cemburu, dan bahwa sikap Diego tadi hanyalah kesalahpahaman semata. Tapi semua panggilannya tidak pernah diangkat, dan pesannya tidak pernah dibaca. Aletta mulai merasa cemas dan gelisah, ada firasat buruk yang tiba-tiba muncul di hatinya.

Dia tidak tahu, bahwa saat ini orang yang paling dia cintai sedang hancur hatinya dan sedang menghadapi musibah berat sendirian di rumah sakit, dengan perasaan yang sangat terluka dan kecewa padanya.

~be to continuous~

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!