NovelToon NovelToon
S2 Menikahi Mantan, Selamanya

S2 Menikahi Mantan, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Setelah semua yang mereka lewati, hidup Luna dan Isaac tidak sepenuhnya tenang.
Di balik hangatnya keluarga yang mereka bangun, muncul pertanyaan tentang masa depan—dan hal yang belum mereka miliki.
Perlahan, kecemasan tumbuh dalam diri Luna, membuatnya mulai meragukan hal yang dulu ia yakini.
Sementara Isaac tetap di tempat yang sama—setia dan bertahan, meski hubungannya terus diuji.
Di season kedua ini, mereka akan menghadapi konflik yang lebih dalam—tentang cinta, ketakutan, dan harapan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Akankah mereka tetap bertahan, atau justru kehilangan satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji di Bawah Langit Jakarta

Matahari pagi Jakarta mulai terasa menyengat kulit saat jarum jam hampir menyentuh angka sembilan. Di sebuah bangku taman yang dinaungi pohon mahoni besar, Isaac dan Luna kembali beristirahat untuk yang ketiga kalinya. Hampir satu jam mereka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki santai, berhenti sejenak saat Luna merasa napasnya sedikit berat, lalu melanjutkan langkah kembali. Isaac menggeser posisi duduknya agar bisa menjangkau punggung Luna. Dengan gerakan melingkar yang sangat lembut, ia mengusap area pinggang hingga punggung atas istrinya, mencoba mengalirkan rasa nyaman pada saraf-saraf yang tegang. Luna sendiri sibuk menyeka butiran keringat di dahi dan lehernya menggunakan sapu tangan kecil bermotif bunga.

"Masih pegal?" tanya Isaac, suaranya rendah dan penuh perhatian. Luna menggeleng pelan, wajahnya tampak memerah karena hawa panas, namun binar matanya justru terlihat sangat hidup. "Sudah jauh lebih baik, Mas. Udara pagi dan gerakan kaki ini benar-benar membuatku merasa lebih segar."

Tiba-tiba, Luna menoleh ke arah Isaac dengan raut wajah penuh semangat yang meledak-ledak. "Mas! Tiba-tiba aku terpikirkan sesuatu. Bagaimana kalau siang ini kita kembali ke mall yang kemarin? Kita belum sempat melihat-lihat baju bayi karena bertemu Joo dan Elena. Aku ingin beli perlengkapan bayi kembar kita, menonton film yang sedang viral itu, dan... aku juga butuh beberapa pasang baju baru." Luna meraih tangan Isaac, menggenggamnya dengan tatapan memohon yang sangat sulit ditampik. "Boleh ya? Kita pergi sekarang setelah mandi?"

Isaac terdiam sejenak, menatap istrinya dengan kening berkerut. "Luna, kita baru saja jalan kaki hampir satu jam. Kau yakin tenagamu masih cukup untuk mengeksplorasi mall raksasa itu lagi?" "Tenagaku sudah terisi kembali hanya dengan membayangkan belanja, Mas!" rayu Luna sembari mengguncang pelan lengan Isaac. Melihat antusiasme Luna yang begitu besar, pertahanan Isaac pun runtuh. Ia selalu luluh jika melihat istrinya sebahagia itu. "Baiklah, kita pergi. Tapi dengan syarat, sekarang kita kembali ke apartemen untuk bersiap-siap."

Perjalanan pulang menuju apartemen dilakukan dengan berjalan kaki kembali. Meski jaraknya tidak terlalu jauh, bagi Luna yang tengah mengandung bayi kembar, setiap meter terasa seperti perjuangan. Isaac yang berjalan di sampingnya tampak sangat waspada, tangannya selalu siap menyangga siku Luna. "Sayang, kakimu mulai berat? Mau aku gendong?" tanya Isaac untuk yang kelima kalinya.

Luna tertawa kecil sambil menepis pelan tangan Isaac. "Tidak, Mas! Malu, ini di luar. Banyak orang yang melihat. Aku masih bisa jalan sendiri, kok." "Kenapa harus malu? Aku suamimu, dan kau sedang membawa anak-anakku," balas Isaac santai, meski akhirnya ia tetap menuruti keinginan istrinya dan hanya terus menawarkan bantuan setiap kali langkah Luna melambat.

Begitu mereka menginjakkan kaki di dalam unit apartemen yang sejuk, Luna langsung menuju kamar mandi. Tubuhnya terasa lengket karena keringat, dan ia ingin segera merasa segar sebelum pergi berkencan. Isaac menunggu di ruang tengah sembari menyiapkan pakaian ganti. Setelah sekitar dua puluh menit, Luna keluar dengan wajah yang sudah bersih dan segar, mengenakan jubah mandi putih. Ia langsung menuju meja rias dan mulai memilah-milah pakaian dari lemari. Isaac kemudian bergantian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Tak butuh waktu lama bagi Isaac untuk mandi. Saat ia keluar dari kamar mandi, ia hanya mengenakan handuk putih yang melilit pinggang atletisnya, memamerkan bahu lebar dan dada bidangnya yang masih basah. Ia terkejut melihat Luna sudah duduk rapi di kursi meja rias, jemarinya lincah memulas berbagai produk kecantikan di wajahnya. "Cepat sekali kau bergerak, Luna," ujar Isaac sembari mendekat. Ia berdiri di belakang Luna, menatap pantulan istrinya di cermin. "Sayang, kalau boleh aku memberi saran... lebih baik kau tampil natural saja hari ini. Tidak perlu riasan tebal. Aku khawatir bahan kimia dalam kosmetik itu bisa mempengaruhi si kembar melalui kulitmu."

Luna menghentikan gerakan kuas blush on-nya. Ia menatap Isaac melalui cermin dengan tatapan yang sedikit sendu. "Aku hanya tidak ingin terlihat kusam, Mas. Jakarta ini penuh dengan wanita cantik yang dandanannya sempurna. Aku takut... aku takut kalau penampilanku membosankan, kau akan melirik wanita lain di luar sana."

Isaac tertegun. Ia tidak menyangka bahwa kekhawatiran semacam itu tersimpan di benak Luna. Tanpa memedulikan tubuhnya yang masih basah, Isaac berlutut di hadapan Luna, tepat di depan kursi rias tersebut. Ia meraih kedua tangan Luna, menggenggamnya dengan sangat erat namun penuh perasaan. Isaac mulai menciumi punggung tangan Luna berkali-kali, lalu membaliknya dan mengecup telapak tangannya dengan sangat lembut. Gerakan itu ia lakukan berulang-ulang, seolah ingin meyakinkan Luna melalui sentuhan fisiknya.

"Luna, dengarkan aku baik-baik," ujar Isaac sembari menatap mata Luna dengan kedalaman yang tak terukur. "Di dunia ini, mataku memang bisa melihat ribuan wanita yang kau anggap cantik. Tapi hatiku? Hatiku hanya punya satu ruang, dan itu sudah kau tempati sepenuhnya bersama bayi kembar kita." Luna terdiam, matanya mulai berkaca-kaca mendengar kesungguhan suara suaminya.

"Terserah kau mau menganggap wanita lain secantik apa pun, tapi di mataku, tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menandingimu. Kau adalah rumahku, Luna. Selamanya, bahkan sampai nafasku berhenti pun, kau akan tetap menjadi satu-satunya wanita yang ada di hatiku. Jadi, jangan pernah dandan karena rasa takut. Berdandanlah hanya jika itu membuatmu merasa bahagia."

Luna tersenyum haru, ia mengusap pipi Isaac yang basah karena sisa air mandi. "Mas... kau selalu tahu cara membuatku merasa menjadi wanita paling beruntung." "Karena kau memang pantas mendapatkannya," balas Isaac sembari mencium kening Luna dengan lama.

Suasana di kamar itu mendadak menjadi sangat hangat dan emosional. Isaac yang hanya mengenakan handuk, berlutut di depan istrinya yang sedang mengandung, memberikan janji kesetiaan yang lebih kuat dari baja. Rasa lelah dari jalan pagi tadi seolah menguap begitu saja, digantikan oleh kedamaian yang mendalam. Mereka tahu, perjalanan ke mall nanti bukan hanya sekadar untuk berbelanja, melainkan sebuah perayaan kecil atas cinta mereka yang terus bertumbuh seiring dengan detak jantung bayi kembar di rahim Luna.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!